“Ayana,” kata Lucas, suaranya rendah namun mantap. “Aku tidak datang membawa janji bahwa aku sempurna. Aku datang karena aku mencintaimu dengan segala kurangku. Aku menginginkanmu, menjagamu, bersamamu selamanya.” Tangannya gemetar saat mengeluarkan cincin dari saku celana. “Aku ingin menikah denganmu,” lanjutnya. “Bukan karena takut kehilangan, bukan karena cemburu, tapi karena aku memilihmu. Setiap hari. Dengan sadar.” Air mata Ayana jatuh tanpa bisa dicegah. “Aku tidak akan memaksamu,” tambah Lucas. “Jika kau butuh waktu, aku akan menunggu. Jika kau menolak, aku akan menghormatinya seperti waktu itu.” Ayana menutup mulutnya, bahunya bergetar. “Aku tidak butuh waktu,” katanya akhirnya, suaranya parau. “Aku sudah terlalu lama menunggu kau berkata seperti ini. Kau melamarku lagi.” A

