BUKAN PAMER KEBAHAGIAAN

1747 Kata

Ayana kembali datang ke kantor, tentu saja dengan banyak catatan pesan dari suaminya Gedung itu menjulang angkuh, namun tak lagi memiliki makna yang sama seperti dulu. Setiap langkah menuju pintu utama terasa seperti menapaki lorong waktu, menelusuri masa lalu yang pernah melukainya, kini dengan posisi yang sepenuhnya berbeda. Dia datang bukan sebagai istri yang ditinggalkan, melainkan sebagai pemilik perusahaan. Ayana menarik napas panjang sebelum masuk. Perutnya yang mulai sedikit membulat membuat langkahnya lebih berhati-hati. Tangannya refleks menyentuh perut itu, seolah memastikan bahwa dia tidak sendirian menghadapi semua ini. Orang kepercayaan Lucas—kini orang kepercayaannya—menyambutnya di lobi. Pria itu bernama Rafael, sosok tenang dengan mata tajam dan tutur kata sopan tapi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN