Malam harinya. Arabella tidak bisa tidur, dia mondar-mandir di dalam kamarnya. Bundanya sudah sejam lalu terlelap di atas tempat tidur.
Arabella gelisah, karena sampai saat ini Romeo belum membalas satu pun pesan darinya. Ara semakin yakin kalau Romeo marah padanya. Arabella tidak ingin Romeo sampai marah padanya. Dan dia juga tidak mau kalau Romeo akan menghindarinya.
“Ara, kau belum tidur?” tanya Bunda tiba-tiba terbangun dan melihat Ara yang sedang mondar-mandir di kamar.
“Eh Bun, kenapa Bunda terbangun?” tanya Ara kemudian mendekat ke tepi ranjang.
“Apa kamu sedang gugup besok mau akad nikah?” tanya Bunda yang mengira kegelisahan Ara saat ini adalah dirinya yang besok mau melangsungkan akad nikah.
“Oh itu, emmm sebenernya. Iya Ara gugup Bunda. Besok Ara akan menjadi istri orang.”
Bunda kemudian menarik tubuh Arabella dan memeluk putri semata wayangnya itu. Membelai rambut Ara denga lembut.
“Anak Bunda sudah dewasa. Besok kamu akan menjadi milik orang,” ucap Bunda tiba-tiba sedih.
Mendengar ucapan bunda seperti itu. Hati Arabella tiba-tiba menjadi melankolis. Apa ini sudah menjadi takdir hidupnya? Apa ini sudah menjadi nasib Ara menjadi istri kontrak, sementara ibunya tidak tahu apa pun. Perlahan air mata Ara mengalir, bukan karena besok dia akan berpisah dengan bundanya sebagai istri dan menantu orang. Dia menangisi nasibnya harus menikah dengan cara seperti ini, dan bundanya tidak tahu kalau pernikahan ini hanya pernikahan palsu.
“Bunda harap, kamu bisa menjadi istri yang solehah dan baik untuk suamimu. Turuti semua perintahnya dan layani dia dengan baik!” nasihat bunda.
Arabella mendengar itu seolah bundanya bukan melepas dirinya sebagai pengantin. Tapi rasanya kalau dia sedang dilepas untuk menjadi seorang suruhan atau pembantu.
“Kok Bunda terdengar seperti melepas Ara jadi pembantunya Mas Yudis aja?” protes Ara kemudian melepaskan pelukannnya.
“Bukan begitu, memang seorang istri harus bisa melayani suaminya dengan baik lahir dan batin!”
“Maksud ibu?” tanya Ara polos.
“Ah, tidak ibu jelaskan juga, biarkan kamu nanti paham dan mengerti sendiri,” jawab Bunda menahan untuk tidak tersenyum di depan putrinya yang memang masih polos. Jangan menikah, pacaran saja sepertinya Ara belum pernah.
Ara hanya menarik napas panjang. Dia tidak ingin membahas panjang mengenai apa yang disinggung bundanya. Sekarang pikirannya bukan pada pernikahannya besok. Dia masih belum tenang karena sahabatnya Romeo belum memberinya kabar.
Hatinya sekarang yang menjadi tidak tenang, karena puluhan chat sudah dia kirimkan pada Romeo. Tapi tidak satu pun yang dibalas. Arabella menjadi curiga kalau Romeo memang sengaja melakukan itu karena dia sangat marah padanya.
“Ara, sudah cepat tidur! Besok kau harus bangun tidur untuk dirias jadi pengantin,” ucap bundanya meminta dirinya untuk segera tidur.
Ara kemudian beranjak ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya di samping bundanya. Malam ini mungkin malam terakhir dia tidur dengan bundanya. Karena mulai besok Ara akan menjalani perannya sebagai istri kontrak Mas Yudis.
*** ***
Besok paginya, Ara sudah memakai kebaya putih cantik dan dirias dengan make up artist yang sudah didatangkan langsung ke kediaman kakek Damian.
Akad nikah itu hanya dihadiri oleh beberapa kerabat dan kolega Kakek Damian, dan beberapa sahabat terdekat Yudis. Sementara dari pihak keluarga Ara, hanya bundanya sendiri dan seharusnya Romeo juga hadir. Ara tidak mendapat kabar kepastian dari Romeo kalau dia akan hadir di acara akad nikahnya.
Arabella merasa dengan hadirnya Romeo di acara ini, akan memberinya kekuatan dan semangat. Dia tidak mempunyai orang dan keluarga lain. Jadi wajar saja kalau Ara sangat menyayangkan kalau peristiwa ini, dia tidak mempunyai orang-orang yang bisa menguatkan dirinya. Kalau dirinya akan melepas masa lajang dan waktu kebebasannya.
Karena waktu akad nikah akan segera dilangsungkan. Ara kemudian dibimbing bunda untuk segera turun ke lantai bawah. Tempat di mana acara akad nikah itu akan dilangsungkan. Semua mata tertuju ke arah pengantin wanita yang cantik itu. Dengan balutan kebaya berwarna putih dan nampak pas dan serasi di tubuh Ara yang terbilang cukup ideal. Ara nampak seperti seorang model baju pengantin. Riasan wajahnya yang natural namun cukup membuat wajah Ara nampak terlihat cantik dari biasanya.
Kakek Damian sangat memuji kecantikan Arabella begitu dirinya sampai di lantai bawah. Ara hanya tersenyum kecut merespon pujian Kakek Damian.
Seluruh pandangan Arabella dia edarkan ke sekelilingnya. Dia mencari sosok Romeo. Dan rupanya memang Romeo tidak hadir dalam acara akad nikahnya. Ara tidak peduli dengan sorot mata tertegun Yudis yang baru pertama kali melihat Ara berbalut kebaya pengantin. Kedua matanya tak bisa berkedip menatap Arabella. Tanpa melihat sedikit pun pada Yudis, Ara segera duduk di samping Yudis.
Ara tetap menengok kiri dan kanannya. Berharap ada orang terdekatnya selain bunda tentunya yang hadir dalam acara itu.
Ara kemudian mendengar seseorang sebagai MC akad nikah itu memulai prosesi akad nikah. Arabella kemudian melihat Theo yang duduk di samping Kakek Damian. Arabella kemudian melempar senyum ke arah Theo. Entah kenapa Ara merasa kalau Theo akan menjadi orang yang bisa dia percaya dan diminta bantuannya selama dia menjadi istri Yudis.
Theo yang mendapat senyuman dari Arabella, mencoba untuk menenangkan hatinya. Entah kenapa, saat dia melihat Ara yang menjadi pengantin itu terlihat cantik dan tersenyum manis penuh hangat padanya. Theo merasakan kalau ada busur panah yang menancap di hati dan jantungnya.
Dia melihat kalau Arabella adalah wanita tercantik dan wanita pertama yang membuat dirinya merasakan ada sesuatu perasaan aneh dan asing dalam dirinya.
Theo kemudian mencoba menormalkan syarafnya dan napasnya agar bisa lebih tenang untuk mengikuti prosesi akad nikah ini sampai selesai.
“Saya terima nikahnya Arabella Astianingsih binti Sanjaya dengan mas kawin emas 150 gram emas dibayar tunai!”
Dan kalimat sakti itu pun terdengar lantang dengan satu tarikan napas. Yudis cukup tenang dan berwibawa ketika dia mengucapkan ijab qabul itu. Bagi Arabella, kalimat ijab qabul itu adalah kalimat ijab qabul untuk mensahkan dirinya menjadi korban ambisiusnya.
“Gimana saksi, SAH?” tanya penghulu.
“SAH.”
“SAH.”
Mendengar kata “sah” itu membuat Arabella menjadi merinding. Sekarang dia sah menjadi seorang istri. Saat Arabella diharuskan untuk menatap wajah Yudis dan mencium tangannya sebagai imamnya dan pemimpin rumah tangganya, Arabella perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap wajah orang yang sudah mengontraknya.
Yudis tersenyum menampilkan seringai jahatnya di depan Arabella. Membuat Arabella menjadi kesal dengan wajah jahat itu. Namun seringai jahat Yudis itu hanya terlihat sebagai laki-laki dewasa yang kebetulan berwajah tampan.
Arabella terpaksa mengangkat tangan kanan Yudis dan mencium tangannya karena mengikuti arahan MC yang memimpin prosesi akad nikah itu sampai selesai.
Dan di saat MC mengintruksikan untuk pengantin pria mencium kening sang istri, Arabella sangat terkejut. Dia tidak siap. Apa-apaan itu? Kenapa harus ada acara cium kening istri segala?
Arabella keberatan. Karena pada dasarnya, pernikahan ini hanya kontrak yang tentunya Arabella tidak berharap ada kontak fisik apa pun dengannya.
Namun secara tidak terduga, Yudis menarik kedua bahu Arabella untuk menghadap ke arahnya. Dan ..
Cup
Yudis mendaratkan bibirnya di kening Arabella. Terasa hangat dan aneh seketika yang Arabella rasakan. Untuk pertama kalinya ada seorang laki-laki menyentuhnya. Meskipun itu adalah kecupan di keningnya, itu berhasil membuatnya merinding seketika.
“Untuk kecupan-kecupan lainnya, nanti silahkan diteruskan secara pribadi oleh pasangan pengantin ini di ruang privasi. Hehehe!”
Ucapan bercanda dari sang MC tentu saja membuat wajah Arabella memerah karena malu. Untuk dicium kening saja dia merasakan merinding dan aneh. Dia merasakan aliran darahnya bercampur energi listrik. Karena dia merasa seperti terkena setrum arus listrik saat bibir Yudis mendarat di keningnya.
Arabella kemudian menatap wajah Yudis yang juga terlihat merah. Sekilas Arabella menatap bibir Mas Yudis yang sudah menyentuhnya untuk pertama kali. Bibir Mas Yudis itu tipis dan terlihat menggoda, serasi dengan wajah Mas Yudis terlihat putih mulus dan terawat. Arabella curiga kalau Mas Yudis memakai skincare karena wajahnya terlihat tanpa cacat dan mulus.
Melihat Arabella yang sedang menatap wajahnya, Yudis pun melirik Arabella. Dan dengan segera Arabella pun memalingkan wajahnya karena dia tertangkap basah sedang memperhatikan wajahnya. Dia tidak mau kalau Mas Yudis menganggap kalau dirinya tertarik dan menyukainya.