Bertemu dengan Sasha

1337 Kata
Setelah akad nikah, Arabella langsung menghambur bundanya. Bunda yang tak kuasa menahan rasa haru dan sedihnya memeluk Arabella sambil menangis. “Anak Bunda sekarang sudah dewasa, Bunda harap kamu dan Yudis menjadi keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah,” ucap Bunda. Ara hanya sesenggukan menahan rasa sesaknya. Bunda tahunya dia dan Yudis pacaran, karena laki-laki itu mengaku pada bundanya sebagai pacarnya. Sudah tentu bundanya akan percaya kalau Yudis menikahi Arabella karena cinta. Padahal itu semua hanya rekayasa dan permainan dari Yudis.  Ara menghapus air matanya yang mengalir. Dia mencoba menguatkan dirinya agar dia bisa kuat menjalani pernikahan kontrak ini sampai dia selamat jiwa raga. Dia sudah tidak sabar ingin segera menyelesaikan semuanya agar hidupnya bisa segera bebas. Keinginan Ara yang sederha. Dia ingin hidup tenang dan nyaman bersama bundanya tanpa lilitan hutang almarhum ayahnya dulu. Begitu hutang itu selesai dan lunas. Dirinya bisa bebas dan tidak dibebani dan digentayangi oleh para debt collector. Dan Arabella hanya bisa berdoa, semoga satu tahun itu cepat berlalu. Arabella kemudian melepas pelukannya dari Bunda. Kakek Damian menghampiri Arabella untuk memberikan selamat dan restu padanya. “Ara, semoga kau bisa bisa hidup bahagia dengan cucuku. Tolong jaga dia! Meski dia orangnya keras kepala dan sering menyebalkan, sebenarnya dia punya hati yang hangat dan perhatian!” ucap Kakek Damian pelan di telinga Arabella. Mendengar permintaan Kakek Damian, Ara mencoba untuk meninggalkan kesan yang baik sesuai perjanjiannya dengan Mas Yudis. Kalau dia harus bersikap manis dan menjadi istri penurut di depan kakeknya. “Baik Kek,” jawab Ara sambil tersenyum. Kakek Damian kemudian tersenyum senang mendengar jawaban Arabella. Tampak jelas wajah Kakek Damian memancarkan wajah tenang dan bahagia. Arabella kemudian mencari sosok Yudis. Setelah akad nikah tadi, dia tidak melihatnya. Bahkan Theo pun tidak ada. Arabella kemudian berjalan di antara para tamu untuk mencari Yudis.  Dia ingin menanyakan sesuatu padanya. Arabella meninggalkan bundanya yang tengah berbincang dengan Kakek Damian. Arabella sedikit mengangkat kain batik kebayanya dan berjalan naik tangga menuju lantai atas. Mungkin Yudis dan Theo berada di sana. Susah payah Ara sampai ke lantai atas dengan baju kebayanya itu. Ara ingin menemui Yudis agar dia bisa ganti kebayanya dengan pakaian yang nyaman. Arabella kemudian mencari-cari mereka di setiap sudut lantai dua. Arabella tidak menemukan mereka. Ada satu tempat yang belum Ara lihat. Yaitu balkon. Perlahan Ara kemudian berjalan menuju sana. Belum sampai di depan pintu balkon. Ara mendengar sayup-sayup ada suara percakapan. Baru saja Ara hendak melangkahkan kakinya untuk mendekat. Tiba-tiba tangannya ditarik  seseorang dan di seret seseorang. Kyaaaa. Mulut Arabella langsung dibekap. Ara kemudian membelalakkan matanya ketika mengetahui siapa orang yang menarik tangan dan membekap mulutnya. ‘Bangte!’ “Jangan kesana!” ucap Theo pelan masih membekap mulut Ara. Arabella kesal karena dia terkejut dengan perlakuan Theo padanya. Dengan kasar Ara kemudian melepaskan tangan Theo yang membungkam mulutnya. “Ada apa sih, kenapa aku enggak boleh ke sana. Aku lagi nyari Mas Yudis,” ucap Arabella dengan nada protes. Tidak terima kalau dia ditarik dan diseret Theo. “Yudis sedang berbicara dengan seseorang. Jangan diganggu!” ucap Theo sedikit gelagapan menatap sorot mata Arabella yang tajam ke arahnya. Dia merasa jantungnya kembali terpanah. “Sama siapa?” tanya Arabella malah penasaran. Yudis bertemu dan bicara dengan siapa. Kenapa Theo melarangnya pergi ke sana. “Kamu enggak usah mau tahu urusan Yudis!” Theo memberi peringatan pada Arabella yang penasaran. Arabella langsung merengut. Dia menjadi teringat poin-poin perjanjian kontraknya dengan Yudis. Salah satunya memang jangan sampai mencampuri urusan pribadi Yudis. “Setidaknya aku tau orang yang sedang bicara denganya. Dan aku enggak bakalan penasaran juga. Ini kan hari di mana dia menikahi anak gadis orang. Kenapa dia bertemu rahasia-rahasiaan segala?” jawab Arabella kesal. “Ckkk, kenapa kamu penasaran? Kamu kan Cuma menikah kontrak dengannya?” ucap Theo. Jleb. Ara langsung tersadar posisinya. Ya, itu benar. Dia hanya menikah kontrak dengan Yudis. Jadi dia tidak berhak tahu apa yang sedang dibicarakan Yudis dengan orang yang tidak Ara tahu siapa. “Kalau begitu. Aku balik ke kamar saja. Sepertinya percuma aku bertanya juga padanya sekarang. Dia tidak bisa diganggu.” Arabella kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Theo. Wajah Ara terlihat begitu kecewa. Padahal dia hanya meminta izin agar bisa cepat ganti pakaian. Acara sudah selesai, dan para tamu juga sudah mulai meninggalkan rumah. Theo memandang Arabella yang berjalan pelan menggunakan selop menuju kamar yang ditempatinya semalam. Setelah melihat Arabella pergi, Theo kemudian kembali ke tempatnya semula. Dia berjaga-jaga ketika Yudis sedang berbicara dengan seseorang di balkon. Yudis memerintahnya agar jangan sampai ada yang tahu kalau dia sedang berbicara dan bertemu dengan seseorang di sana. Sasha. Mendadak gadis itu tadi hadir ke rumah. Yudis langsung membawa Sasha ke balkon.   *** *** Yudis menatap wajah Sasha yang terlihat marah itu. Hatinya cukup puas melihat reaksi Sasha yang marah padanya. Sasha marah padanya karena dia menikah mendadak dengan seorang gadis yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Sasha. “Yud, kok bisa sih kamu menikah ngedadak kayak gini. Kamu enggak berbuat sesuatu yang aneh kan?” tanya Sasha dengan sorot mata penuh selidik. “Maksudmu?” tanya Yudis pura-pura. “Kamu enggak hamilin dia kan?” tanya Sasha membuat Yudis tertawa keras. “Kok malah ketawa. Jadi bener ya, kata teman-teman dekat kamu. Kamu menikahi gadis yang masih kuliah gara-gara hamilin dia?” Sasha sangat kesal sepertinya. “Kalau iya kenapa. Kok kamu marah. Kamu lagi di Singapura aja, buru-buru datang ke sini hanya untuk mengatakan itu?” tanya Yudis kemudian tersenyum kecut. Yudis ingin tahu, perasaan Sasha sebenarnya. “Yud, apa kamu kecewa dan marah sama aku?” tanya Sasha. Yudis menarik sudut bibirnya ke atas merespon pertanyaan Sasha yang menurutnya sangat tidak perasaan. Untuk apa dia bertanya itu. Bukankah memang benar dia sudah membuatnya kecewa dan marah karena tanpa sepengetahuannya dia menjalin hubungan asmara dengan orang lain. Padahal, selama ini Sasha tahu seperti apa dia mendekatinya selama sepuluh tahun ini. Yudis mencoba bersabar demi karir Sasha. Yudis menghargai keputusan Sasha yang ingin mengejar karir dulu tanpa terikat dengan hubungan asmara atau percintaan. Dan kejadian di Lombok waktu itu. Membuat Yudis tidak bisa menerimanya. Sasha berpacaran dengan laki-laki lain. Selama sepuluh tahun dia menanti, tapi Sasha malah sudah menyerahkan hatinya pada laki-laki lain. Siapa yang tidak terluka dengan itu? “Tidak perlu kamu tanya lagi Sha, kamu sudah tahu apa jawaban dari pertanyaanmu itu!” jawab Yudis mencoba bersikap tenang. “Yud!” Sasha memegang lengan kekar Yudis. Meminta Yudis untuk menjawabnya sekali lagi. “Yang sudah ya sudah Sha. Tidak usah dibahas lagi. Kamu sudah punya kekasih. Dan aku juga sudah menikah. Jadi, tidak perlu kita bahas tentang kita lagi!” “Tapi Yud, apa kau mencintai gadis itu?” tanya Sasha penasaran. Tangannya masih memegang erat lengan Yudis. Sasha menangkap sorot mata Yudis yang berbeda ketika Sasha menyentuhnya. Sasha merasa kalau Yudis menikahi gadis itu dengan terpaksa. Mana mungkin Yudis mendadak menikahinya tanpa dia mencintainya. Tiga minggu yang lalu Yudis masih mengejarnya ke Lombok dan berniat melamarnya. Jadi dengan waktu secepat itu, tidak mungkin Yudis berubah. Sasha masih tidak percaya dan tidak rela kalau Yudis menikah. Karena jika Yudis menikah, itu artinya Sasha tidak akan lagi mendapat perhatian lebih dari Yudis. Selama ini, Yudis begitu banyak memberinya perhatian dan dukungan padanya. Dia tidak mau kalau Yudis menikah dengan gadis lain. Karena Sasha memang berharap banyak pada Yudis. Namun kejadian di Lombok itu, ada hal yang membuat Yudis kecewa dan marah. Sasha ingin menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Namun sebelum dia menceritakan yang sebenarnya. Yudis menikahi gadis itu. “Tentu saja. Butuh waktu yang singkat untuk mencintai gadis itu,” jawab Yudis sambil melepaskan tangan Sasha dari tangannya. Sasha kecewa mendengar jawaban Yudis. Tadinya, dia berharap Yudis akan terus terang dan jujur padanya kalau dirinya masih mencintainya. Dan Sasha akan menceritakan semuanya pada Yudis. Tentang laki-laki itu dan tentang masalah apa yang sedang dia hadapi. “Pulanglah! Aku harus menemui istriku di dalam,” ucap Yudis mengusir Sasha dengan halus. Wajah Sasha tertunduk mendengar itu. Yudis sempat melihat mata Sasha yang berkaca-kaca. Tapi sekejap dia pun memalingkan wajahnya dari Sasha. Yudis tidak ingin Sasha melihat raut sedihnya. Dia tidak ingin Sasha mengetahui kalau dirinya sedang berbohong saat ini. Perlahan Sasha pun melangkah pergi dari balkon. Dia melihat Theo berdiri berjaga di depan pintu. Sasha menatap wajah Theo dengan sorot mata kecewa. Lima detik kemudian, Sasha pun meninggalkan mereka di balkon.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN