Romeo kemudian membuka pintu ruangan kerja papanya. Sebelum pintu itu terbuka dengan lebar, Romeo mencoba menarik napas dan mengambil napas banyak-banyak sebelum dia masuk ke dalam. Seolah di dalam sana dia akan kesulitan mendapat oksigen untuk bernapas. Romeo melihat papa-nya yang sedang duduk di meja kerjanya. Meskipun di rumah sepertinya pekerjaannya sebagai pemimpin perusahaan tidak pernah habis-habisnya. Romeo kemudian berjalan santai dan duduk di sofa. Tak begitu peduli dia dengan sambutan papa-nya. Meskipun sudah lama dia tidak bertemu dengan papanya. Tidak sedikitpun Romeo merasa rindu padanya. “Akhirnya kau bisa datang juga kemari. Menyeretmu datang ke rumah ternyata hal yang paling sulit daripada mengundang pejabat pemerintahan ke rumah. Apa kau seorang Presiden Amerika Ser

