Bertemu Dengan Kakek Damian

1259 Kata
Arabella masuk ke dalam ruangan privat di sebuah restoran dengan Yudis berjalan di sampingnya. Ara menjadi gugup seketika ketika tiba-tiba hari ini dia harus bertemu dengan pemilik Endaru Grup. Ara merasa kalau dirinya saat ini sedang bermimpi. “Hei, ku ingatkan sekali lagi, bersikaplah manis padaku di depan Kakekku!” bisik Yudis pelan di telinga Arabella. Tentu saja. Ara akan bersikap manis padanya selama dia tidak menghindari dan tidak melanggar batasan yang sudah disepakati bersama. Seorang laki-laki tua berdiri datang menyambut. Begitu Yudis dan Ara datang. Arabella terkesiap begitu Damian, Kakeknya Yudis menyambut dan memeluknya seperti orang yang sudah lama dia nantikan. “Arabella, kau sudah tumbuh dewasa dan cantik!” Damian melepaskan pelukannya. Arabella tersenyum kikuk menanggapinya. Dia merasa ini terlalu aneh untuknya. “Yudis, bagaimana, kau juga berubah pikiran kan. Begitu melihat langsung wajah Ara?” “Ah, enggak juga Kek.” Yudis tidak mau bahas lebih lanjut. Dia langsung menarik kursi dan segera duduk. “Ckkck, kau ini!” Damian terlihat sedikit marah dan kesal karena Yudis rupanya masih terlihat tidak menunjukkan rasa ketertarikannya pada Arabella. “Ya sudah, kamu duduk dulu Ara!” Arabella kemudian duduk di samping Yudis yang sedang menuang wine ke gelasnya. Ia terlihat canggung karena sepertinya Kakek Damian akan terus menggodanya. Sebelum mereka memulai perbincangan serius. Damian meminta mereka untuk memesan dulu makanan yang akan mereka santap malam ini. Arabella yang pernah sekali pun makan di restoran mewah terlihat bingung melihat daftar menu yang ada di tangannya. Sementara Yudis dan Kakek Damian sudah menyebutkan menu yang mereka inginkan pada pelayan restoran yang sedang menunggu dengan sabar di samping meja mereka. Arabella masih membaca satu per satu menu yang menurutnya sangat panjang per satu menu makanannya. Dari tulisan dan bahasanya sepertinya ini adalah restoran makanan Eropa. Dan Arabella buta sama sekali dengan nama makanan khas Eropa itu. “Ara, kau mau pesan apa?” tanya Damian heran menatap wajah Arabella yang begitu tegang. Damian tidak tahu, kalau Ara sangat tidak biasa dengan makanan restoran. Bahkan Damian mengira, kalau ayahnya Sanjaya pasti sudah sering mengajak Arabella ke restoran Eropa. Seingatnya, Sanjaya sangat senang sekali makanan Eropa. Sudah barang tentu Arabella setidaknya sering dibawa ke restoran. Yudis yang paham karena Arabella yang kesulitan memilih menu, akhirnya dia membantu Arabella untuk memesan makanan. “Biar aku yang akan memilih menunya. “ Yudis kemudian terlihat kembali menatap daftar menunya. Wajah Yudis terlihat aneh, entah tersenyum atau menyembunyikan rasa ingin tertawanya. Dan itu membuat Arabella menjadi curiga. ‘Jangan-jangan dia akan memesan yang aneh-aneh yang enggak mungkin bisa aku makan?’ gumam Arabella dalam hati. “Aku pesan satu Foie Gras untuknya!” “Baik Tuan.” “Tu-tunggu dulu, aku akan pesan sendiri,” jawab Arabella. Dia curiga kalau Yudis akan mengerjainnya dengan memesan makanan yang aneh-aneh. “Kau mau pesan sendiri, ya sudah silakan!” Yudis terlihat kecewa karena Arabella tidak mempercayainya. “Aku pesan menu yang sama dengan Mas Yudis!” ucap Arabella pintar. Dia tidak usah menyebutkan nama menu yang susah diucapkannya itu. Toh, yang dipesan Yudis pasti enak. Yudis terlihat shock mendengar Arabella yang ikut memesan apa yang dia pesan pada pelayan. “Kau yakin?” tanya Yudis. “Tentu saja,” jawab Arabella dengan tatapan yakin.   Damian dan Yudis pun hanya tersenyum kecut. Sementara Arabella menjadi tenang setelah memesan menu. Dia tidak mungkin salah memilih. Sambil menunggu pesanan mereka datang. Kakek Damian pun bertanya-tanya seputar kehidupan Arabella. “Kau masih kuliah?” tanya Kakek Damian. “Iya,” jawab Arabella mencoba bersikap santai dan apa adanya di depan Damian. “Apa kau siap menikah dengan Yudis, usia Kakek semakin tua. Rasanya kalau menunggu kau sampai lulus kuliah, itu tidak mungkin.” Ada nadi sedih di balik perkataan Damian pada Arabella. Yudis pun terlihat khawatir melihat kondisi Damian yang memang sudah sering sakit-sakitan. Ujung mata Arabella menangkap Yudis yang tengah mencoba mengalihkan pandangannya ke sudut yang lain. Arabella tahu kalau Yudis hanya memanfaatkan kondisi kakeknya yang sudah tua itu. Menuruti permintaan kakeknya yang ingin segera menikah. Arabella menatap wajah Kakek Damian yang terlihat sedang serius. Ada satu hal yang memang mengganjal hatinya sekarang. “Kakek, kenapa Kakek sangat ingin Mas Yudis menikahiku?” tanya Arabella. Yudis menoleh ke arah Arabella. Dia tidak mengira kalau Arabella kan menanyakan hal itu pada kakeknya. Damian menarik napasnya sebelum dia menjawab pertanyaan Arabella itu. “Kakek berhutang banyak pada papamu. Dan Kakek sangat menyesal di saat papamu kesulitan. Aku tidak bisa membantunya. Untuk itu biarkan Yudis dan Kakek yang menjagamu,” jawab Kakek Damian. “Apa hanya dengan menikahkan aku dengan Mas Yudis jalan satu-satunya?” tanya Arabella. Damian mengangguk. “Dengan cara seperti ini, Kakek bisa tenang kalau harus meninggalkan dunia.” “Kakek, jangan bicara seperti itu!” Arabella menepis semua perkataan  negatif Damian. “Apa kau bersedia menikah dengan Yudis?” tanya Damian tidak menghiraukan raut wajah Arabella yang masih bingung dengan ucapannya. Sementara Yudis menatap tajam pada Arabella yang tidak segera menjawab pertanyaan kakeknya itu. Arabella menarik napas panjang. Karena dia memang sudah menandatangani kontrak dengan Mas Yudis. Praktis Arabella tidak akan bisa menolak dan lari dari masalah ini. “A-aku ….” Ah kenapa Arabella seperti berat untuk mengucapkan “iya” atau “tidak”. Yudis terlihat sudah mulai gusar karena melihat gelagat Arabella yang sepertinya malah menjadi ragu. Damian kemudian mencoba tersenyum dan tertawa melihat cucunya dan Arabella yang terlihat masing-masing dengan raut wajah yang bertolak belakang. “Ara, cepat jawab pertanyaan Kakek dengan benar!” sahut Yudis tidak sabaran. Dia ingin segera mendapatkan ketenangan dan kepastian dari kakeknya begitu dia mendengar jawaban Arabella. “Kok rasanya sekarang Yudis yang terlihat ngebet pengen cepat kepastian menikah,” sahut kakek seraya terkekeh menatap Yudis yang malah menggaruk-garuk keningnya karena menjadi salah tingkah. Arabella berusaha untuk menenangkan dirinya sebelum dia berani bersuara kembali. Hati kecilnya memang sangat menolak rencana pernikahan ini. Namun Arabella mengingat betapa susahnya dia selama ini menghindari para penagih hutang. Hidupnya dengan Bunda tidak tentram dengan bayangan debt collector yang garang-garang. “M-mungkin Ara bukan gadis yang bisa menjadi menantu yang baik di keluarga Kakek, tapi setidaknya Ara akan berusaha sebaik mungkin. Mohon dimaklum kalau Ara belum dewasa.” Damian tersenyum mendengar jawaban Arabella. Dan Yudis pun terlihat bernapas lega. Akan tetapi tidak bagi Ara. Dia baru saja menyalakan sebatang dinamit untuk penerang gelapnya yang siap meledak di tangannya dan melukai tangannya. Dengan dinamit itu dia bisa melihat dalam gelap, tapi sumbu dinamit itu baru saja perlahan menyala dan siap meledak kapan saja. Mungkin itulah yang dirasakan Arabella. Dia baru saja menyetujui pernikahan itu. Dan itu artinya masalah hutang ayahnya sudah selesai, namun dia harus bersiap mengantisipasi akibatnya. Dan itu sudah terpampang jelas di depannya. Yudis adalah lelaki licik yang menghalalkan cara demi mengelabui kakeknya. Dan bodohnya, Arabella harus menjadi komplotannya. Demi apa, demi materi dan uang yang mereka inginkan. Bedanya Ara melakukan itu demi hidup nyaman dengan bundanya. Sementara Yudis, dia hanya orang yang serakah yang tidak ingin hak warisannya hilang. “Kalau begitu, Kakek akan menemui Bundamu untuk membicarakan rencana pernikahan kalian secepatnya!” “A-apa. Secepat ini?” Arabella gemetaran. Tapi belum sempat Arabella melanjutkan. Pesanan mereka akhirnya datang. Damian kemudian meminta semuanya untuk menikmati makanannya dulu. Arabella tertegun begitu melihat hidangannya di depannya. Yudis tak kuasa menahan tawanya melihat reaksi Arabella menatap menu makanan di depannya. “Cuisses de Grenouilles.” Yudis menyebutkan nama makanannya yang juga dipesan Arabella. Arabella sendiri yang memutuskan untuk menyamakan menu pesanannya. “Namanya aja yang keren, tapi ini goreng kaki katak?”  Arabella tidak sanggup melihatnya lagi. Kenapa Yudis memesan makanan aneh itu. Yudis dan Kakek Damian pun tertawa melihat reaksi Arabella yang terlihat mual. Yudis kemudian langsung mengangkat piring di depan Arabella dan memanggil pelayan yang standbye di sana. “Bawa ini dan ganti dengan seporsi Beef Steak saja!” “Baik Tuan.” Arabella mendesis karena dia salah mengira. Kemudian dia melirik Yudis yang tengah menahan tawanya sambil mengiris sajian katak swipkee  di depannya. Uuueeeek. Arabella mencoba menahan rasa mualnya. ‘Apa Mas Yudis mencoba mengerjaiku lagi?’      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN