Ukuranmu ...

1270 Kata
Theo mencoba untuk menjauhkan segala pikiran mesumnya. Dia segera menarik resleting dress itu dengan cepat.Setelah itu dia buru-buru keluar dari tempat itu. Dia tidak mau otaknya menjalar kemana-mana lagi. “Terimakasih Bangte!” ucap Arabella kemudian langsung menutup pintu kamar ganti. Dia merasa kalau dia adalah gadis bodoh yang tanpa harga diri menarik seorang laki-laki untuk melihat auratnya. Arabella menepuk-nepuk pipinya sebagai pelampiasan kesalnya karena dia sangat bodoh hanya demi menyelematkan dress mahal ini. Arabella kemudian menatap pantulan tubunya di kaca. Dia merasa takjub melihat perubahan dirinya itu. Dia merasa kalau dirinya sudah berubah menjadi seorang gadis yang berbeda. “Hei Nona, apa kau berniat untuk tetap tinggal di sana?” terdengar suaran teriakan Theo kembali memecah lamunan Arabella yang sedang menatap pantulan wajahnya.   Arabella kemudian keluar dari kamar ganti dan melihat punggung Theo di depannya. Dia sedang berdiri sambil memegang ponselnya di telinga. “Kau sudah selesai?” tanya Theo kemudian melirik sekilas ke arah Arabella yang tengah berdiri di sampingnya. Tanpa memperhatikan lebih jauh lagi Theo pun segera melangkah dan memberi kode para Arabella untuk segera pergi dari butik. Theo tidak ingin terpanah lebih dalam lagi oleh penampilan baru dari Arabella. Theo sudah merasa ada hal yang tidak beres sejak Arabella tadi memanggilnya dan meminta bantuan padanya. Theo kemudian segera masuk ke dalam mobil dan disusul oleh Arabella. Kemudian sebelum Theo menyalakan mobilnya dia kemudian meraih sebuah kotak yang dia simpan di kursi belakang. “Pakai ini!” ucap Theo memberikan kotak itu pada Arabella. “Apa ini?” tanya Arabella menerima kotak itu dan memangkunya di atas pangkuannya. “Sepatu untukmu. Pakailah!” Theo kemudian men-starter mobilnya dan segera meninggalkan pelataran parkiran butik itu. Sementara Arabella kemudian membuka kotak itu dan menjajal sepatunya. “Kenapa bisa pas sekali nomornya,” ucap Arabella sangat aneh karena Theo memberinya sepatu dengan ukurannya yang sangat pas. Padahal dia belum sama sekali memberi tahu mengenai ukuran sepatu. “Kenapa Bangte tahu sekali dengan nomor sepatuku?” tanya Arabella takjub. “Hmmm, jangankan nomor sepatumu, nomor BH mu saja aku tahu,” jawab Theo sambil berusaha menyembunyikan senyumnya. “A-apa, bagaimana bisa kau tahu itu semua?” tanya Arabella kaget dan merasa malu kalau ada seorang laki-laki yang tahu ukuran-ukuran itu. “Tentu saja aku cari tahu, siapa lagi kalau aku tidak tanya sama Bunda-mu,” jawab Theo dengan santai tanpa melihat perubahan ekspresi malu dari Arabella. “Dasar Bunda pakai membocorkan rahasiaku. Memangnya kenapa sampai kau bisa menanyakan hal seperti itu sama Bunda?” tanya Arabella ingin tahu. “Karena itu adalah perintah dari Pak Yudis,” jawab Theo sambil terus berkonsentrasi penuh ke arah jalanan. “Apa, dia sampai minta hal seperti itu segala?” tanya Arabella merasa terkejut mendengar itu semua. Arabella menjadi malu dan lebih banyak diam selama di perjalanan. Dia canggung sekali jika sampai Theo dan Yudis mengetahui ukuran miliknya saat ini. Ah, sebagai seorang wanita kalau seperti ini, ingin rasanya dia menghilang. Pastinya, ukurannya yang jauh dari standar kecantikan wanita ideal. Melihat gelagat diam Arabella, Theo menjadi sedikit tenang dan tidak terganggu. Dengan begini dia bisa lebih konsen dan tidak perlu bersusah payah mengobrol dengan Arabella. Akhirnya mereka pun sampai di tempat. Sebuah bangunan restoran yang mewah dan elit. Arabella dan Theo turun dari mobil. Seorang karyawan restoran dengan ramah  menyambut mereka. Arabella terlihat kesusahan karena dia harus memakai sepatu dengan heels yang membuatnya kerepotan untuk berjalan sempurna bak model. Arabella kemudian melihat ada Yudis di ujung koridor menuju ruangan privat restoran. Arabella melihat Yudis nampak gagah dengan setelan jas berwarna hitam dengan dasi berwarna biru  tua. Sangat cocok dengan perawakan Yudis yang tinggi dan juga tampan. Sesaat, Arabella memang terpukau dengan ketampanan dan kegagahan Yudis saat ini. Namun Arabella harus segera menyingkirkan rasa kagumnya itu begitu Yudis menyambutnya dengan wajah masam. “Kalian lama sekali, aku sampai jamuran berdiri di sini!” seru Yudis yang protes karena mereka terlambat datang. “Maaf Pak Yudis,” jawab Theo sambil menundukkan kepala dan mencondongkan sedikit tubuhnya sebagai permohonan maafnya. Melihat Theo yang begitu patuh dan royal pada Yudis membuat Arabella menjadi iba. Karena dia, Theo harus minta maaf dan menundukkan kepalanya di depan Yudis. “Dasar tidak sabaran,” decak Arabella pelan namun terdengar jelas oleh Yudis. “Apa kau bilang barusan?” tanya Yudis mendelikkan matanya di depan wajah Arabella. “Apa kau mau berdebat di sini terus?” tanya Arabella mencoba mengalihkan perhatian Yudis yang saat ini sedang marah. Yudis kemudian mendengus kesal karena mood-nya hari ini sedang kacau. “Kalau begitu, tugas saya mengantarkan Nona Arabella sudah selesai Pak, saya pamit dulu!” ucap Theo berpamitan pada Yudis. “Ya sudah terimakasih Theo, kau boleh pulang!” jawab Yudis sedikit melunak. Arabella melipat kedua tangannya di depan tubuhnya. Dia memperhatikan Theo yang berjalan meninggalkan mereka berdua. “Sampai jumpa lagi Bangte!” seru Arabella sambil melambaikan tangannya ke arah Theo meskipun Theo tidak menggubris dan membalas lambaian tangannya. “Bangte, kenapa kau memanggilnya dengan Bangte?” tanya Yudis heran. Karena mereka baru bertemu sehari dan mereka terlihat akrab. “Itu singkatan dari Bang Theo. Aku manggilnya Bangte,” jawab Arabella dengan wajah yang tidak peduli kalau tadi dia sempat kesal dengan Yudis. “Oh, jadi kamu manggil dia Abang toh, terus kamu panggil aku apa?” tanya Yudis sambil melirik Ara yang sebenarnya dia juga sedikit takjub dengan perubahan penampilan Arabella. “Om Yudis,” jawab Arabella santai kemudian berjalan mendahului Yudis masuk ke dalam ruangan. “Apa, kau panggil dia Abang sementara kau panggil aku dengan sebutan Om?” tanya Yudis protes dengan jawaban Arabella. Arabella malas menjawabnya. Langkah Arabella terhenti ketika tangannya ditarik paksa Yudis. “Tunggu sebentar!” Yudis kemudian menarik tangan Arabella dan tubuhnya memutar sampai akhirnya tubuh Arabella menabrak tubuh Yudis, Yudis mencium aroma tubuh Arabella yang wangi dan segar. Sementara Arabella merasa tidak nyaman karena anggota tubuhnya menempel di tubuh Yudis. Arabella segera mendorong tubuh Yudis untuk menjauh darinya kemudian menyilangkan tangannya di depan tubuhnya. Yudis yang melihat reaksi Ara seperti itu menjadi terkekeh. “Kenapa kau?” tanya Yudis tak bisa menyembunyikan tawanya melihat wajah pucat Ara. “Kenapa kau seperti itu, apa kau coba menjelaskan betapa ratanya dadamu yang kecil itu?” tanya Yudis sangat tidak sopan. Ara menjadi kehilangan pita suaranya karena Yudis terang-terangan memaparkan kalau ukuran payudaranya yang kecil. Wajahnya berubah menjadi merah seperti kepiting rebus mendengar Yudis yang sungguh sangat tidak ethis berbicara seperti itu di depannya. Ini sudah menjadi kasus body shaming. Namun buka Arabella kalau dia tidak berhasil membuat serangan balik pada orang yang sudah membuatnya kesal. “Kau bisa bicara sesuka hatimu saat ini Mas. Tapi kau tidak tahu ukuranku sebenarnya kan?” tanya Ara dengan sorot mata yang tidak mau terlihat lemah. Yudis terkejut mendengar jawaban Ara dengan sorot mata tajam. “M-maksudmu, aku salah mengira ukuran dalamanmu?” tanya Yudis dengan suara setengah mengejek. “Aku berani bertaruh, kalau ukuran yang Mas Yudis pikir jauh berbeda dengan kenyataannya,” jawab Ara tidak mau kalah. “Apa malah jauh lebih kec-.” Kalimat Yudis terpotong dengan ucapan Arabella. “Jangan coba-coba untuk merendahkanku. Aku tahu aku ini hanya dimanfaatkan oleh Mas. Tapi nasib Mas Yudis juga bergantung di tanganku. Apa aku harus berterus terang pada kakek Mas itu?” Yudis menjadi berbalik panik ketika Arabella mulai berjalan menuju ke dalam ruangan. Buru-buru Yudis menyusul dan kembali menarik tangan Arabella. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu marah. Ok-oke, aku tidak akan bahas mengenai itu lagi. Aku janji!” ucap Yudis berusaha membujuk Arabella agar tidak marah dan tidak membocorkan rahasia mereka berdua tentang kontrak itu. “Jadi, sesuai dengan perjanjian yang sudah kita tandatangani dan kita sepakati bersama. Aku akan mencoba mengikuti semuanya. Asalkan Mas tidak mencoba merendahkanku lagi seperti tadi!” ucap Arabella dengan sorot mata yang menekan. “B-baiklah, maafkan aku!” Arabella mendesis karena belum apa-apa, Yudis dan Theo sudah membuat hati Arabella seperti gadis yang tidak spesial. Buktinya mereka terlalu merendahkan seperti dirinya tidak punya harga diri sama sekali. “Oke, permintaan maaf Mas aku terima.” Ara merasa menang karena Yudis meminta maaf duluan. Yudis tersenyum dengan sedikit dipaksakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN