Arabella melirik Theo dari kaca besar di depannya. Asisten Mas Yudis itu terlihat sibuk membolak-balik majalah di kursi tunggu.
‘Kenapa harus di make up segala sih?’ dengus Arabella kesal dengan perintah Mas Yudis yang dadakan itu.
“Mbak bisa diem enggak kepalanya, soalnya nanti saya bikin alis nya panjang sebelah!” seru orang yang sedang mendandaninya protes karena Arabella tidak mau diam.
“Jangan tebel-tebel dong Mbak, aku enggak mau mukaku jadi aneh!” ucap Arabella merasa risih. Dia tidak pernah di make up over sebelumnya.
“Enggak kok Mbak, emangnya Mbak enggak mau kelihatan lebih cantik?” tanya pegawai salon itu dengan wajah yang menahan kesal karena Arabella sepertinya sangat susah untuk didandani.
Theo yang mendengar keributan antara Arabella dengan pegawai salon mau tidak mau harus menghampiri mereka.
“Ada apa ini?” tanya Theo mencoba menengahi mereka.
“Ini Mas, si Mbak-nya enggak mau diem di makeup –nya,” adu pegawai salon itu pada Theo.
Theo kemudian melihat wajah Arabella yang baru setengah dirias itu. Menatap kedua mata Arabella yang bulat dengan sorot mata memohon agar dia tidak usah didandani.
“Kalau kau tidak mengikuti ini, apa kau mau Yudis marah padamu dan dia akan lebih sering mempersulitmu nanti!” ancam Theo pada Arabella yang sekarang langsung berubah menurut.
“Bagus, kau harus ikuti apa yang diperintahkannya, mengerti?” ucap Theo pada Arabella dengan tatapan penuh intimidasi.
Arabella hanya merengut kesal mendengar ucapan Theo yang memakai nada ancaman padanya. Melihat Arabella yang mulai kooperatif, Theo memberi kode pada pegawai salon untuk mempercepat pekerjaaannya.
Theo kemudian kembali ke tempat duduknya sambil mengawasi semuanya. Dia tidak mau kalau semuanya menjadi kacau. Sempat dia tersenyum menahan tawa ketika melihat Arabella yang terlihat tidak biasa didandani. Kadang dia mendehem untuk mengingatkan Arabella agar bisa lebih tenang saat di mave up over.
Satu jam kemudian, Arabella sudah selesai di make up. Arabella kemudian menghadap Theo menunjukkan wajahnya yang baru selesai dipoles itu. Theo pun cukup terkejut dengan hasilnya. Aslinya Arabella memang sudah cantik, tapi setelah dimake up dia terlihat lebih berkali lipat cantiknya.
Theo menggaruk-garuk dagunya dengan kedua jarinya. “Wajah sudah oke, sekarang tinggal mencari pakaian yang pas dan cocok dengannya,” gumam Theo.
“Hei, aku harus memanggilmu apa?” tanya Arabella dengan wajah yang judes. Dia merasa perlu mendapatkan panggilan yang enak untuk asisten calon suami kontraknya itu.
Theo kemudian menjawabnya dengan cepat dan pendek, “Bang Theo!”
“Pffhhh.”
Arabella terdengar menahan tawa.
“Tadinya aku mau manggil Om atau Bapak saja,” jawab Arabella dengan santai.
“Apa, Om, Bapak. Apa kau pikir kau anak SD?” tanya Theo tersinggung karena Arabella seperti menganggapnya terlalu tua dan terlalu jauh selisih usianya. Sesuai dengan informasi yang dia dapat Arabella berusia 20 tahun. Dan itu artinya hanya selisih delapan tahun dengannya.
“Ah kau ini gampang tersinggung sekali seperti bosmu itu. Baiklah aku akan memanggilmu Abang,” jawab Arabella yang tentu saja membuat Theo semakin terkejut dengan sifat Arabella yang suka ceplas ceplos dan terlihat bicara santai meskipun dia sedang berbicara dengan orang yang lebih tua dengannya.
“Setelah ini, kemana kita Bangte?” tanya Arabella.
“Apa, Bangte. Kenapa kamu memanggilku dengan singkatan seperti itu?” tanya Theo tambah terkejut dengan ucapan Arabella yang terlalu santai padanya.
“Biar gampang dan lebih akrab, lagipula aku sekarang harus terbiasa bertemu denganmu setiap hari. Akan lebih baik kalau aku harus membiasakan diri dengan panggilan akrab,” jawab Arabella sambil mengangkat kedua alisnya.
Theo kemudian tersenyum melihat sikap Arabella yang mencoba akrab padanya.
“Baiklah terserah kamu saja!” Theo kemudian berbalik dan segera menyerahkan sebuah kartu debet pada pegawai salon itu untuk membayar semua jasanya.
Arabella kemudian menunggu Theo selesai mengurusi pembayarannya sambil berdiri di depan cermin besar menatap perubahan wajahnya yang penuh dengan make up.
“Ikut aku sekarang juga!” ucap Theo segera berjalan keluar salon. Arabella yang merasa sangat tidak nyaman dengan riasan di wajah. Dengan langkah yang sedikit menunduk karena malu dan tidak percaya diri karena begitu banyak orang yang menatapnya. Semua orang sangat terkagum dengan kecantikan Arabella, tapi Arabella sendiri merasa kalau semua tatapan padanya adalah tatapan aneh karena dia terlalu menor.
Arabella mencoba mengikuti langkah kaki Theo menuju mobil.
“Masuklah di kursi belakang!” perintah Theo pada Arabella.
Namun Arabella lebih memilih duduk di sebelah Theo daripada duduk di belakang. Theo hanya memandang Arabella dengan wajah yang heran karena sepertinya Arabella bukan orang yang mudah untuk bekerja sama.
“Kalau aku duduk di kursi belakang, aku seperti naik taksi saja,” jawab Arabella cuek lalu segera mencoba memasang sabuk pengamannya.
Theo menarik napas disusul dengan menggelengkan kepala melihat tingkah Arabella yang cuek sekali padanya.
“Ayo jalan Bangte!” seru Arabella memberi aba-aba.
Theo pun segera menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju butik langganan Sasha. Entah apa yang ada di pikiran Yudis, memerintah dirinya untuk mengajak Arabella ke salon dan butik langganan Sasha.
Sampai di butik, Arabella langsung diajak Theo menuju ruang khusus yang biasa dipakai untuk pelanggan VIP. Arabella yang tidak pernah masuk butik semewah ini hanya bisa melongo dan merasa takjub melihat deretan-deretan baju yang harganya fantastis. Bayangkan saja harga satu baju bisa ada yang seharga rumah kontrakannya selama satu tahun.
Arabella hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat itu semua. Theo segera mengingatkan Arabella untuk segera memilih salah satu baju agar mereka berdua bisa segera menyusul Yudis ke tempat janji pertemuannya dengan kakeknya.
“Tapi Bangte, ini terlalu mahal untuk dipakai,” jawab Arabella masih belum bisa menerima kenyataan kalau dia sekarang menjadi orang yang akan terbiasa dengan itu semua.
Melihat gelagat Arabella yang sepertinya akan lama untuk memilih dress yang akan dipakainya untuk pertemuan itu. Theo akhirnya membantunya memilih, dia segera berjalan menyusuri deretan pakaian yang dipajang. Dan setelah melihat-lihat beberapa dress yang sekiranya cocok dipakai oleh Arabella. Pilihan Theo jatuh pada dress berwarna merah muda yang akan terihat serasi dengan kulit dan wajah Arabella saat ini.
“Cepat ganti dan pakai ini!” ucap Theo sambil menyerahkan dress itu pada Arabella.
Arabella kemudian segera mencek label harga dress itu dan dia terlihat shock begitu melihat harganya.
“I-ini …”
“Cepat pakai jangan banyak komentar, nanti kita akan terlambat!” seru Theo yang sudah mulai kehabisan akal menghadapi Arabella yang terlalu banyak berpikir dan penuh pertimbangan.
Arabella kemudian merengut mendengar seruan Theo yang sedikit membuatnya kesal.
Arabella kemudian langsung menuju kamar ganti. Dan segera memakai dress yang dipilih Theo untuknya. Arabella memakainya dengan sangat hati-hati karena takut dress yang harganya hampir dua digit itu menjadi rusak.
“Pasti uang Mas Yudis banyak banget, dia ngasih uang dua miliyar dan belum lagi dia udah lunasin hutang almarhum ayah,” gumam Arabella sambil mencoba kembali menaikkan resleting dress yang dibelakangnya. Tapi dia kesulitan karena tiba-tiba rambutnya menghalangi dan tersangkut resleting.
“Waduh, gimana ini. Bisa-bisa bajunya jadi rusak.” Arabella panik kalau nanti bajunya rusak karena dia paksa untuk menutup sementara kedua tangannya tidak bisa menjangkau rambutnya yang tersangkut di resleting.
“Nona Ara! Kenapa kau lama sekali ganti bajunya. Apa kau ketiduran di dalam?” tanya Theo mengetuk pintu bilik kamar gantinya.
“T-tolong aku Bangte!” ucap Arabella panik. Dia langsung membuka slot kunci kamar gantinya dan membuka pintu kamar gantinya.
Otak Arabella yang tidak bisa berpikir cepat kalau dia baru saja membuka kesempatan seorang laki-laki untuk melihat sebagian punggungnya yang terbuka. Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana bisa menyelamatkan baju mahal itu. Dia tidak peduli dengan wajah shock Theo melihat Arabella memperlihatkan punggung putih mulusnya.
“Bangte, tolong aku!Rambutku tersangkut,” ucap Arabella membelakangi Theo berharap Theo bisa segera membantunya untuk melepaskan rambutnya yang tersangkut itu.
Theo menahan salivanya karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang karena dia baru melihat punggung wanita sedekat ini.
“Bangte, jangan lupa kau harus merem!” seru Arabella baru setengah sadar sepertinya.
Theo langsung memejamkan matanya saat dia mencoba melepaskan rambut Ara yang tersangkut. Tapi aroma wangi tubuh Arabella membuat Theo tidak tahan untuk membuka matanya kembali. Theo kemudian membuka matanya untuk menutup resleting dress Arabella tanpa gadis itu mengetahuinya.