Death Squad

2251 Kata
Mobil sedan berhenti di halaman rumah mewah. Bisa disebut ini adalah sebuah mansion. Seorang pria paruh paya yang memakai kaus polo putih terlihat di balik kemudi. Di kursi sebelahnya ada Senna semasa kecil. Steve—ayah Senna melepas sabuk pengaman. “Senna, tunggu di sini sebentar, ya.” “Katanya, kita mau ke taman ria? Kenapa di sini?” “Ayah, ada urusan pekerjaan sebentar. Setelah ini, kita pergi ke taman ria, ya?” “Iya, yah.” Steve turun. Berjalan mendekati pintu. Menekan bel yang ada di samping pintu. Tak lama, seorang pekerja rumah tangga, membuka pintu. "Silakan masuk, tuan Albert sudah menunggu Anda. Steve berjalan masuk. Di ruang tamu sudah ada pria yang bernama Albert duduk di sofa. "Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Steve, sembari duduk. "Proyek itu.. tidak bisakah kau berikan untukku?” "Albert.. Sadarlah. Akulah, pemenangnya. Aku, memenangkan tender itu dengan hasil kerja kerasku. Kau, tahu aku, kan? Aku.. orang yang tidak pernah menyerah pada apa pun." Sementara di balik tembok, tak jauh dari ruang tamu, seorang wanita dan anak laki-laki yang usianya sama dengan Senna, mengintip Steve dan Albert. "Meskipun, aku teman terbaikmu?" "Pekerjaan adalah pekerjaan. Teman adalah teman. Mereka tidak pernah saling berkaitan . Selain itu, kenapa kau memohon seperti ini? Perusahaan mu sudah sukses. Kau, juga memenangkan banyak tender beberapa bulan yang lalu. Sekarang giliran ku. Suatu hari nanti, akan tiba giliran mu lagi,” jelas Steve. “Sudah tak ada lagi yang di bahas, kan? Aku, pergi dulu.” Steve berdiri. "Steve.. Perusahaan ku pailit. Pekerja bagian keuangan, membawa pergi semua uangku. Dan, beberapa minggu yang lalu, aku meminjam uang pada bank. Untuk, membayar upah pekerja yang lain. Tapi, aku tidak bisa membayar bank, Steve. Seluruh aset ku akan di ambil oleh pihak bank.” “Oh, aku ikut prihatin, kawan.” “Karena itu, bantu aku. Biarkan, aku yang mengambil alih tender itu. Atau.. Kau, bisa meminjamkan aku sejumlah uang.” "Maaf, Albert. Itu, tidak ada hubungannya denganku.” Albert berdiri. Raut wajahnya tampak kesal. "Bukannya, kita teman?! Apa, kau tidak ingin membantuku?!" Steve mendengus. "Seperti yang aku katakan tadi, Albert. Pekerjaan dan sebuah pertemanan.. tidak bisa, di jadikan satu.” Albert geram. Bernapas cepat. " Kau.. sungguh akan berbuat sekejam itu? Kau, tak ingat? Saat, kondisimu belum sesukses ini? Siapa yang membantumu, kalau bukan aku!” "Maaf, aku harus pergi." Ketika Steve berbalik badan, Albert segera berlari ke arahnya. Memeluk lutut Steve dan sujud di kakinya. Sementara, anak Albert menangis, menyaksikan ayahnya di rendahkan seperti itu. Lalu, berjalan pergi dari tempat itu. "Steve.. aku mohon. Setidaknya, lihat anak dan istriku. Bagaimana, nasib mereka. HAnya kau, yang bisa membantu kami.” Bahu Albert berguncang hebat. "Hentikan! Kau, jangan melakukan hal yang menyedihkan seperti ini!” Albert bergeming. Tangisannya membuat tubuhnya lemas. Steve membungkukkan badan. Mendorong Albert, hingga ia terjatuh ke belakang. Istri albert yang sejak tadi hanya mengawasi mereka, kemudian berlari mendekati Steve dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Albert. "Aku mohon, Steve. Bantu kami. Hanya, kau satu-satunya harapan kami." Istri Albert menangis. "Aku, tidak bisa membantumu!" seru Steve, mendorongnya. Albert mengepalkan tangan dan menitikkan air mata. Berdiri. "Jangan, pernah menghubungiku lagi. Persahabatan kita.. berakhir di sini!" Steve berdeham. Lalu, berjalan keluar dari rumah. Meninggalkan Albert dan istrinya yang saling berpelukan menangis. Meratapi apa yang telah terjadi pada mereka. ** Di dalam mobil, Steve merasa kesal dengan Albert. Namun, tak dapat di tunjukkan pada Senna. “Ayah.. sedang marah?” “Oh, tidak, Senna. Ayah, baik-baik saja.” “Sekarang, kita pergi ke taman ria?” “Iya.” Senna berteriak kegirangan. Tak lama setelah itu, ia ketiduran. Karena, bangun terlalu pagi. Jalanan yang lurus tanpa belok. Mulai naik turun. Memang, daerah rumah Albert dekat dengan puncak. Tak ada yang aneh di awal. Hingga, pada satu turunan jalan. Rem mobil tiba-tiba tidak berfungsi. Steve mulai gugup. Senna yang baru saja terbangun hanya menatap wajah Steve, yang sudah mulai pucat. "Ayah sakit?" "Senna... Kau sudah pakai sabuk pengaman mu, kan?!" "Ya, sudah." "Dengarkan, Ayah.. Mobil ini akan segera menabrak dan terguling. Jadi, saat mobil ini sudah berhenti.. Kau harus segera keluar dari mobil. Apa pun yang terjadi. Jangan hiraukan Ayah. Kau mengerti?" Senna mulai menangis. "Kita akan mati?" "Tidak.. Tidak. Ayah, tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Mobil semakin tidak terkendali. Belok ke sana-kemari. Dan pada akhirnya, mobil menabrak pembatas jalan. Berputar-putar. Kembali menabrak pembatas di sisi lain. Dan berhenti. Kaca mobil berserakan dimana-mana. Asap keluar dari kap mobil yang terbuka. Badan mobil bentuknya sudah tidak karuan. Wajah Senna terdiam menempel pada Dasboard mobil. Sedangkan Steve berlumuran darah. Bersandar pada kursi. Keduanya tak sadarkan diri untuk beberapa waktu. Tidak ada bantuan. Tidak ada mobil lewat. Sepi. "A-ayah..." Senna mulai tersadar. Mengangkat kepalanya sekuat tenaga. Hidungnya bengkok. Dia menangis menatap Ayahnya. "Ayah... Jangan mati." Senna mengguncang tubuh Steve. Steve menggeram kesakitan. "Senna... Kau baik-baik saja?" tanya Steve, dengan tetap pada posisinya. Senna hanya mengangguk. Tangisannya menjadi. "Berhenti menangis. Cepat lepaskan sabuk pengaman mu. Dan, segera keluar dari mobil." "Ayo.. Keluar bersama-sama, Yah.." "Tidak bisa.. Ayah tidak bisa bergerak. Kau keluar saja dulu. Nanti cari bantuan." "Tidak. Aku tidak mau meninggalkan Ayah." "Ayah tidak akan meninggalkanmu. Percayalah." Api kecil tiba-tiba keluar dari kap mobil. Steve membelalakkan mata. "Senna! Cepat keluar! Cepat!" "TIDAK! AKU TIDAK MAU!" "Senna! K-kau ingat? Saat kita bermain tangkap Penjahat? Saat itu, Ibu yang menjadi penjahat, kan? Dan Ibu menyandera Ayah. Lalu, yang Senna lakukan apa?" "Menyelamatkan Ayah." "Bagaimana caranya?" "Panggil bibi untuk minta bantuan." "Benar! Ini sama dengan permainan itu. Senna cukup keluar dari mobil. Dan, lari lah sejauh mungkin. Cari bantuan. Dengan begitu kita bisa selamat. Kau bisa, kan?" Senna mengangguk gugup. Melepaskan sabuk pengaman. Dan membuka pintu mobil. Api mulai membesar. Percikan-percikan seolah mobil akan meledak, sudah terjadi. "Senna! Begitu keluar dari mobil.. Kau harus berlari sekencang mungkin! Dan, jangan menengok ke belakang. Kau mengerti?" Senna mengangguk dengan tangisan. Dia sudah di luar mobil. Dan, berlari kencang seperti perintah Steve. Satu. Dua. Tiga. Mobil meledak. Senna berhenti menangis untuk sesaat. Dan menengok. "AYAH!!" Dia kembali berlari ke arah mobil. Ledakan kedua terjadi. Tubuh kecil Senna melayang ke belakang. Dan jatuh menghantam tanah. Dia tak sadarkan diri. ** Tingkat kejahatan di Jakarta tahun ini mengalami peningkatan yang sangat pesat . Pembunuhan dan Pencurian menjadi peringkat pertama di tahun ini. Dan, itu membuat Detektif juga Polisi tidak bisa tidur dalam damai. Gedung kepolisian di Jakarta Pusat terlihat ramai seperti biasa. Banyak mobil Polisi terparkir dan orang-orang yang masuk dan keluar dari gedung . "Bagaimana dengan kasus pembunuhan yang terjadi di dekat jalan tol kemarin?" kata, salah satu Detektif. "Tertangkap. Pelaku itu di interogasi Detektif CID," jawab Detektif lain. "Tamat riwayat pembunuh itu." Sementara itu, di ruang interogasi , terlihat CID sedang duduk berhadapan dengan seorang pria yang wajahnya penuh memar. Dengan tatapan yang tajam , CID melemparkan pertanyaan "Sampai kapan kau akan tutup mulut?" Pria itu tidak menjawab. Hanya menunduk. Lalu, CID berdiri. Melenggang santai ke arah pria tersebut. "Kau, tidak tahu siapa aku? Tidak tahu apa julukan ku?" CID duduk di meja tepat di depan pria itu, dengan tangan dilipat di d**a. "D.S. Kau, tahu apa maksudnya itu?" Laki-laki itu tersenyum remeh dan menggeleng. CID memajukan setengah badannya dan berbisik. "Death Squad— yang berarti pasukan kematian." Pria itu menelan ludah berat. CID menyeringai. "CID, apa.. dia masih tidak mau mengakuinya?” tanya El, masuk ke dalam ruangan. El adalah seorang Detektif yang sangat pintar dalam mencari informasi tentang pelaku. Karena ketampanannya, dan, juga kecerdasannya- dia begitu sangat mudah untuk meminta keterangan orang-orang di sekitar tempat kejadian. Dia, juga adalah anggota Team D.S. Dan CID adalah ketua D.S. Dia terkenal terampil dalam investigasi dan memojokkan pelaku dengan kata-kata yang tajam. Juga, memiliki naluri yang tajam dalam menghadapi kasus. Dia, akan segera mengetahui itu adalah pembunuhan atau murni kecelakaan. Sehingga, selama 7 tahun ini, CID tidak pernah gagal dalam kasusnya. "Belum. Apakah kita perlu untuk mengikat dan memasukkannya ke dalam kolam renang? Atau, kita harus menguburnya hidup-hidup?" CID sengaja menakuti. Pria itu membelalakkan matanya dan berkeringat dingin. "Aku, sudah mengumpulkan data," kata El, melemparkan sebuah folder di atas meja. El tersenyum pada pria itu. "Kau.. adalah seorang mahasiswa di universitas W. Kau, baru saja memenangkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Singapura. Jadi, mengapa kau membunuhnya? Bukankah dia pacarmu?" "Aku, tidak membunuhnya! Berapa kali aku harus mengatakan! Itu hanya kecelakaan saja!" Pria itu membentak. CID dan El mendesah kesal dan saling bertukar pandang. "Jadi, bagaimana kau bisa keluar dari mobil? Dan, mengapa kau berhenti dekat jalan tol?! Kau, jangan menipuku b******k!" CID mulai emosi. "Apa, aku perlu memanggil Mad?" tanya El. CID mengangguk. Mad juga seorang detektif dan anggota dari D.S. Nama aslinya adalah Bryson. Dia, dipanggil seperti itu karena sangat temperamental. Mad memiliki wajah sengit tapi keren. CID dan El memiliki gaya rambut yang rapi, berbeda dengan gaya rambut acak-acakan Mad dan memiliki ciri khas tersendiri. Kumis tipis yang menghiasi antara bibir dan hidung. "Kau, akan mati setelah ini,” cetus CID. CID mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang. "Apa, kau sudah berhasil mendapatkan hasil dashcam di dalam mobil?" "Tunggu sebentar." "Hei, Paine! Tidak, biasanya kau begini! Kau, biasanya hanya membutuhkan waktu 30 menit. Terakhir kali, kau masuk ke sistem perusahaan hanya membutuhkan waktu 10 menit." "CID! Kau tahu, dashcam ini hampir seluruhnya terbakar! Memori-nya sangat sulit terbaca pada komputer. Sabarlah." "Cepat. Kita tidak punya waktu." CID mengakhiri pembicaraan. Paine sangat pandai membobol sistem atau dapat disebut sebagai IT ( informasi dan teknologi ) . Dia juga bagian dari Team D.S. Paine juga tidak tampan, tapi, dia memiliki wajah yang lembut seperti seorang gadis. Kadang-kadang, ia juga menyamar dengan memakai pakaian dan wig perempuan. Sementara itu, di sebuah ruangan di dalam gedung Polisi, seorang laki-laki tidur di sofa . Dia adalah Mad . Mad tidak banyak memiliki andil dalam anggota D.S. Tapi, begitu dia bertindak, maka tersangka tidak akan dapat bergerak sedikit pun . El datang ke ruangan dan membangunkan Mad. Salah satu yang membuat Mad marah adalah ketika terganggu istirahatnya. "Ah! Kau, tahu ini adalah waktuku untuk tidur!" bentak Mad, tetap pada posisinya. "Dia masih tidak mau mengakui jika membunuh wanita itu." Segera Mad bangun, duduk di sofa . "Apa? Dia membunuh seorang wanita? Laki-laki b******k! Belum pernah merasakan tinjuku!" pungkas Mad, emosi. Dan yang kedua, yang paling dibenci Mad adalah orang-orang yang menyakiti wanita . Mad berjalan cepat, dengan tatapan memburu menuju ruang interogasi. Dia meraih tongkat hitam di atas meja. Salah satu alat yang biasanya digunakan oleh Detektif dan polisi dalam memburu tersangka. Mad membuka pintu dengan tendangan. "Kau datang?" sapa CID. Tapi, Mad mengabaikannya. Dua matanya menatap langsung ke arah tersangka. Dia, memperpanjang tongkat dan mengayukan nya di atas meja. Pria itu terkejut. "Kau, masih tidak mau bicara? Apakah, kau ingin alat ini membuatmu berbicara?" "Apa, boleh seorang petugas menyakiti warga sipil?” "Kami di izinkan untuk melakukan apa saja pada seseorang yang sudah melakukan kejahatan. Terutama pada pria breng*sek sepertimu! Beraninya, kau membunuh makhluk yang paling lemah di galaksi ini!" “Oh, bicaramu terlalu lebay,” kata CID. "Aku, tidak membunuhnya." Pria itu berdalih. Mengertakkan gigi. Mad menyeringai. "Kau, akan mati hari ini!" Mad mengayunkan tongkatnya. Pria itu bangkit dan berlari ke sudut ruangan. Mad kemudian mendekati dan memukul kaki tersangka dengan kencang. Pria itu meraung kesakitan. Tapi, Mad mengabaikannya dan masih memukulnya. Setelah menerima beberapa pukulan, pria itu akhirnya buka mulut. "Baik! Baik! Hentikan! Ya! Aku, membunuhnya!" Dengan napas tersengal, Mad berbalik dan berjalan ke arah CID. " Giliran mu." CID tersenyum dan melirik Mad. ** Malam baru saja menjelang. Setelah melakukan tugas masing-masing, empat dari mereka berkumpul untuk makan malam di sebuah restoran kecil, di depan kantor mereka. Death Squad sudah sangat terkenal di seluruh kota Jakarta. Mereka sering mengisi acara di beberapa stasiun televisi. Pengagum mereka banyak. Wanita apalagi. Jadi, tergila-gila oleh 4 Detektif tersebut. "Bagaimana, dengan kasus pembunuhan di jalan tol?" tanya Paine. "Berkat Mad—dia mengakui semuanya,” jawab El. Sementara Mad tidak berkomentar, hanya terus makan. "Setelah, aku mendengarkan percakapan mereka melalui rekaman dashcam tersebut, orang itu sebenarnya baik. Dia hanya kesal karena wanita itu memandang rendah dirinya. "Orang seperti itu, kau katakan baik? Hei, sebelum ia membakar mobil, ia menganiaya kekasihnya. Dia, mencekik pacarnya hingga tak sadarkan diri. Kemudian, memotong urat nadinya dan menikam seluruh tubuhnya dengan pecahan kaca dan mengukir tanda di dahi korban," jelas El. "Tanda? Tanda apa?" tanya Paine. El meletakkan sendok dan menyeka mulutnya dengan tisu. "Kau, pernah melihat film layar lebar tentang pembunuh berantai? Atau, pembunuh psikopat?" Paine mengangguk. "Biasanya , si pembunuh meninggalkan jejak dengan mengukirkan nya tanda pada bagian tertentu dari tubuh korban. Tersangka ini juga seperti itu. Dia meninggalkan tanda pada dahi dengan bentuk segitiga." "Apa, ia seorang pembunuh berantai?" "Tidak. Jika, dilihat motif dan latar belakang tersangka— dia, tidak pernah melakukan hal itu.Tapi.. ada sesuatu yang aneh ketika aku bertanya mengapa dia meninggalkan tanda." "Apa itu?" "Dia mengatakan, hanya meniru pembunuhan di kampusnya. Namun, setelah aku menyelidiki kasus pembunuhan tidak pernah ada di kampusnya." "Orang-orang di dunia ini semakin gila," kata Mad. Paine kemudian melihat CID yang tidak menyentuh makanannya sama sekali. Dan, hanya melamun. "CID? Apa, yang sedang kau pikirkan?" CID membuyarkan lamunannya. "Karena, kejadian ini aku teringat kecelakaan mobil yang terjadi 9 tahun yang lalu. Ketika, kita masih training." "Ah! CEO dari perusahaan kosmetik?" pungkas Paine. CID mengangguk. "Mengapa, kau masih memikirkan hal itu? Sudah, jelas itu murni kecelakaan," kata El. "Tidak, ada sesuatu yang aneh. Aku, yakin itu adalah pembunuhan. Naluri ku mengatakan seperti itu," jelas CID. El , nanti carikan file itu untukku," pinta CID. "Astaga.. aku lembur lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN