Seseorang membunyikan bel rumah, ketika Grace memasak di dapur. Grace mematikan kompor dan berjalan mendekati pintu.
"Kau datang?" sapa Grace.
Adalah Leo yang hampir setiap pagi hari datang, setelah tahu, kalau Senna tengah di skorsing dari kampus. Leo tersenyum. Dan, kemudian masuk ke dalam rumah. Lalu, segera menuju dapur. Grace, kembali menyalakan kompor dan mulai memasak. Seperti hari-hari kemarin, Leo membuat roti lapis untuk Senna.
"Kau sepertinya benar-benar menyukai Senna," kata Grace, sembari mengaduk sup.
"Anak gadis Anda membuat saya tergila-gila," jawab Leo, sambil memberi mayones pada roti.
"Ibumu tahu, kan? Kau datang ke sini?"
"Iya.”
"Ah, iya.. Apa pekerjaan ayahmu? Apa, kalian memiliki perusahaan sendiri?"
“Sama seperti kalian.”
“Huh?”
“Ayahku.. Juga memiliki sebuah perusahaan kosmetik. Tapi, di Thailand.”
“Aaah.. Begitu.”
“Ya.”
“Pasti perusahaannya besar, ya? Kapan-kapan, perkenalkan aku pada ayahmu, ya?”
Leo bergeming. Matanya membeku.
"Leo? Kenapa diam saja ?" Grace bertanya, sambil meletakkan mangkuk berisi sup ayam, di atas meja.
"Ayah.. Sudah meninggal ketika saya masih umur 10 tahun."
Grace terhenyak. Duduk di samping Leo.
"Astaga.. Takdir apa ini? Ayah Senna juga meninggal ketika Senna masih umur 10 tahun."
"Ah, sungguh? Aneh sekali, bagaimana bisa kebetulan seperti ini.”
"Benar sekali. Sangat kebetulan. Ayah Senna, meninggal dalam kecelakaan mobil. Kalau boleh tahu, ayahmu meninggal karena apa?"
"Dia menderita sakit parah.”
Grace menghela napas berat. Menggenggam tangan Leo.
"Pasti berat sekali untukmu dan ibumu. Maaf, Leo.. seharusnya aku tidak bertanya.”
“Tidak apa-apa.” Leo tersenyum.
"Tunggu sebentar, ya.. Aku akan membangunkan Senna."
"Tidak perlu, Sa-"
"Kau akan pulang setelah membuat ini?”
Leo mengangguk. Grace tersenyum dan menggeleng heran. Memang, rutinitas Leo adalah begitu. Dia sering pergi ke rumah Senna untuk membuatkan teman barunya itu roti lapis. Setelahnya, akan pulang. Tanpa bertemu dengan Senna.
S I
Grace adalah sosok ibu modern. Dia tidak pernah melarang Senna pergi ke mana pun. Dia juga tidak pernah marah jika Senna pulang larut malam. Kecuali, masalah laki-laki . Dia akan super ketat dalam memilih pria mana pun yang akan mendekati Senna. Karena, Senna anak satu-satunya. Grace tidak ingin dia jatuh ke tangan yang salah. Grace, seorang wanita yang sangat berani .Dia tidak pernah peduli, orang-orang bergosip tentang dia. Meskipun, ia terlihat arogan, tapi Grace memiliki hati yang baik.
Setiap bulannya, ia selalu menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk beberapa panti asuhan. Kadang-kadang, ia juga menjadi relawan sosial.
Grace sangat peduli dengan penampilannya. Terkadang, dia pergi ke salon bersama Senna. Yah, sekalipun Senna hanya duduk diam saja. Dia, tidak suka jika tubuhnya disentuh orang lain.
Grace juga pergi ke tempat kebugaran untuk menjaga agar tubuhnya tetap ramping dan seksi.
Saat ini pukul 09.00 pagi. Grace sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Hari ini, ia memilih untuk menggulung rambutnya. Memakai dress slim fit dengan panjang selutut. Berwarna hitam. Dengan kerah putih.
Di detik selanjutnya, ponselnya berdering. Grace mengambilnya dari nakas. Dan, segera mengerutkan kening. Nomor baru meneleponnya.
"Halo."
"Apakah benar ini dengan Grace Rosemary?"
"Ya. Siapa ini?"
"Saya Detektif CID dari kepolisian Jakarta Pusat. Apa, Anda ada waktu?"
"Ah, iya. Kita bisa bertemu di kantor. Tapi.. Ada masalah apa, ya?”
“Nanti, saya akan menjelaskannya ketika bertemu.”
S I
CID, El dan Grace duduk berhadapan. Terpisah meja kaca panjang. Di ruangan Grace.
"Ada apa, tiba-tiba Anda menelepon saya?" tanya Grace.
CID berdeham, sebelum bicara.
"Saya ingin menanyakan sesuatu tentang kecelakaan yang menimpa Steve Dartan—suami Anda ."
Grace mengerutkan kening.
"Kasus itu sudah 9 tahun yang lalu. Mengapa Anda mengungkitnya lagi? Bukankah, kasus itu sudah ditutup? Polisi mengatakan itu adalah murni sebuah kecelakaan.”
"CID.. Aku akan pergi berkeliling mencari informasi,” bisik El.
CID hanya mengangguk. El berjalan keluar kemudian.
"Memang, kasus ini sudah di tutup karena mereka berpikir, ini hanya sebuah kecelakaan biasa. Tapi, tidak dengan saya. Saya rasa, ada yang menyabotase mobil suami Pak Steve."
Grace melebarkan mata. “Apa maksud anda?”
CID menarik keluar beberapa lembar foto dari map cokelat, yang sejak tadi di bawanya. Di letakkan di atas meja. Grace segera melihatnya.
"Ini adalah hasil dari olah TKP pada saat itu.”
Grace memperhatikan dengan seksama foto-foto itu.
"Saya masih tidak mengerti, di bagian mana yang membuat anda curiga, jika mobil mendiang suami saya di sabotase?”
CID mengambil salah satu foto yang menunjukkan kerangka dan komponen dekat roda mobil. Gambar dalam foto tidak begitu jelas. Karena hampir semua bagian mobil terbakar.
"Anda lihat ini?” tunjuk CID. “Lihat lebih teliti, bagian yang saya lingkari merah ini. Ini namanya selang rem. Jika, selang rem ini bocor sedikit saja, maka rem tidak akan berfungsi. Dan, anda perhatikan detilnya. Ini bukan hanya goresan biasa. Tapi, ini sengaja di potong sedikit oleh seseorang.”
Grace terperangah mendengar penjelasan dari CID. Sementara itu, di depan ruangan Grace, El terlihat mendekati sekretaris Grace.
"Hai.. Kau tahu, ketika aku masih kecil, ibuku pernah bercerita jika bidadari itu benar adanya. Dan, aku tidak pernah percaya akan hal itu. Tapi.. hari ini aku membuktikan sendiri. Jika.. Bidadari itu memang ada. Dia.. Ada di depanku sekarang,” rayu El. Mengedipkan satu mata. Membuat sekretaris itu tersipu malu.
"Kau, seorang detektif?"
"Yap, bisa dikatakan seperti itu."
"Bagian apa?”
"Bagian dari kehidupanmu."
Pipi sekretaris itu semakin merona karena malu.
"Ma- maaf, tapi saya tidak ingin kasus ini dibuka kembali,” kata Grace.
"Kenapa? " tanya CID, mengerutkan kening.
"Saya hanya ingin percaya.. jika kejadian itu hanya kecelakaan biasa. Saya mau, suami saya tenang di sana."
"Tapi .. apa, anda tidak ingin tahu siapa yang membunuh suami anda? Suami anda sudah mati dengan cara yang tidak adil."
Grace berdiri seketika.
"Saya tidak akan pernah membuka kasus ini kembali. Saya sibuk sekarang. Silakan anda pergi."
Grace memalingkan muka. Sementara CID mendesah kesal. Keluar dari ruangan setelah itu.
"Kau sudah selesai ?" tanya El.
CID menjawab dengan anggukan.
" Ayo pergi,"ajak CID.
"Sebentar, boleh aku tahu nomormu?" tanya sekretaris Grace.
"Lain kali saja," El membalas dengan senyum. Dan mengedipkan mata.
Kemudian, mereka berdua berjalan pergi .
"Apa kau mendapatkan cukup informasi?" tanya CID.
"Semua aku rekam di ponselku," jawab El.
"Kerja bagus."
S I
Selama Senna tidak pergi ke kampus, Leo sering mengajaknya keluar. Meski, dengan paksaan. Karena, Senna sering kali menolak ajakannya. Pun dengan Billy yang juga sering menghubunginya. Bahkan beberapa hari lalu, Senna mengunjungi Jad—saudara Billy. Seiring berjalannya waktu, Senna semakin dekat dengan mereka berdua.
Pukul 16.00 saat ini. Senna menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan. Untuk mengambil ponsel yang sejak tadi berdering di meja sebelah tempat tidur saja ia malas. Sementara itu, di depan rumah Senna.. Leo mondar-mandir sejak tadi. Dengan ponsel menempel pada telinga kanannya.
"Kenapa dia tidak menjawab teleponku?" gumam Leo.
Leo melongokkan kepalanya pada pagar.
"SENNA ROSEMARY! CEPAT KELUAR!" teriaknya, memanggil. Menatap jendela kamar Senna.
Dari tempatnya berdiri, memang kamar Senna yang berada di lantai atas terlihat.
Senna yang terkejut, segera bangkit dan duduk di tempat tidur.
"Siapa itu?" gumamnya.
Leo berulang kali meneriakkan kata-kata yang sama. Hingga akhirnya, Senna bergeser dari tempat tidur dan mendekati jendela kamar. Lalu, membuka korden. Ia mengernyitkan dahi melihat Leo, yang mengenakan kemeja putih berdiri di depan rumah. Begitu tahu Senna ada di jendela, Leo menatapnya dan melambaikan tangan. Sementara Senna , hanya menatapnya heran.
Leo menggoyangkan ponselnya. Mengisyaratkan, ia akan menelepon Senna.
Senna segera berlari mengambil ponsel, kemudian kembali ke jendela.
"Leo? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau teriak-teriak seperti itu?"
"Maaf, sejak tadi aku menelepon mu.. tapi, kau tak menjawabnya."
"Oh.. ada apa memang?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu. Kau jangan beranjak dari jendelamu, paham?"
Leo kemudian menutup telepon dan mengambil kertas manila berwarna putih, yang sudah di bawanya sejak tadi. Berjalan mundur. Dan, membentangkan kertasnya.
"Aku tahu, perkenalan kita tidak cukup panjang, tapi percayalah, perkenalan ini jauh lebih lama dari yang kau pikirkan."
"Saat aku di sekitarmu, aku merasa nyaman. Bagiku.. kau seperti bidadari cantik yang di utus Tuhan untuk menjaga dan membuatku bahagia."
"Awalnya, aku cukup senang hanya bisa menjadi temanmu, tapi seiring berjalannya waktu, aku menjadi serakah karena ingin memilikimu sepenuhnya."
"Aku mulai merasa cemburu, jika kau dekat dengan pria lain."
"Aku ingin tawamu, ceritamu, sedih mu— kau bagi hanya denganku."
"Dan.. aku ingin hatimu."
Senna mulai merasa gugup, membaca satu per satu kertas yang berjumlah 7 lembar tersebut. Di tunjukkan satu-satu oleh Leo. Irama jantungnya tidak lagi sesuai melodi. Untuk pertama kalinya. Apalagi, saat membaca kertas yang terakhir.
"SENNA ROSEMARY.. Will you be my girlfriend?"
Leo meneleponnya kembali. Senna mengangkatnya dengan tetap menatap Leo.
"Aku mencintaimu," kata Leo.
Senna tak mampu mengeluarkan satu kata pun, seakan mulutnya terkunci. Senna menutup telepon begitu saja. Menarik korden ke samping. Sehingga, ia tak dapat melihat Leo lagi.
"Aku akan terus menunggu di sini sampai aku tahu apa jawabanmu! Aku.. akan menunggumu." Leo berteriak.
Senna menghela napas pendek. Lalu, keluar dari kamar. Pergi ke lantai bawah.
Di meja makan, Grace sedang mengupas apel. Senna mendekatinya. Mengambil sepotong apel.
"Siapa yang teriak-teriak di depan rumah?" tanya Grace. Masih melakukan kegiatannya.
"Leo," jawab Senna, sembari mengunyah apel.
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan?"
Senna mengangkat kedua bahunya.
"Kau tidak mencintainya?"
"Entahlah. Aku bingung dengan perasaanku. Semuanya terlalu cepat."
"Apa kau takut ia seperti Tara?"
Senna tak merespon.
"Senna.. sampai kapan kau akan seperti ini?"
Grace meletakkan pisau dan apel di atas piring. Lalu, memandang Senna.
"Leo.. laki-laki yang baik. Dia, sangat mencintaimu," kata Grace.
"Ibu tahu dari mana?"
"Setiap pagi, ia datang kemari. Hanya untuk membuatkan mu sarapan."
Senna mengerutkan kening.
"Ke sini? Membuat sarapan untukku? Kapan?"
"Kau ingat sarapan roti berbentuk hati pagi ini?"
Senna mengangguk.
"Leo yang membuatnya. Bagaimana bisa ibu ada waktu untuk membuat roti seperti itu."
"Dia yang membuatnya? Sungguh?"
"Apa ibu terlihat sedang berbohong?" Grace mendecakkan lidah.
"Leo juga sering membantu pekerjaan ibu. Ibu yakin, dia tidak seperti Tara. Kau jangan pernah menyia-nyiakan dia. Orang seperti itu.. hanya ada beberapa di antara ribuan orang di dunia," jelas Senna. "Cepat temui dia," tambah Grace.
Namun, Senna bergeming. Tidak menjawab apa pun. Grace mendesah singkat.
"Setidaknya, kau harus mencoba. Jangan terus berlarut-larut pada masa lalu."
Senna masih diam.
"Senna! Temui dia! Terima atau tolak cintanya! Kau harus memutuskan. Jangan membuatnya menunggu seperti itu."
Senna mendorong keluar udara melalui mulutnya. Memasukkan sisa apel pada mulutnya. Lalu, berjalan keluar. Menggeser pagar. Leo masih berdiri di depan rumah.
"Will you?" katanya Leo mengulurkan tangan yang membawa seikat bunga mawar.
"Kenapa kau seperti ini? Aku tidak bisa menjalin hubungan untuk saat ini."
"Kenapa? Karena masa lalu mu dulu? Senna.. aku berbeda dengan dia. Aku tidak akan mengkhianatimu."
"Leo.. kau tahu, kan? Apa masalahku di kampus? Aku tidak bisa berhenti memikirkan hal itu. Jadi, bagaimana bisa aku menerima cintamu. Sedangkan, masalahku saja belum aku selesaikan. Di samping itu.. aku.. tidak mencintaimu. Maaf."
Leo menghela napas panjang. "Sungguh? Sedikit pun, kau tidak ada rasa denganku?"
Kini giliran Senna yang menghela napas. "Maafkan aku, Leo."
Leo tersenyum kecil. "Asal kau tahu, Senna. Aku.. tidak akan menyerah begitu saja."
S I
CID sedang mempelajari berkas kasus Steve Dartan di kantor. Meskipun Grace menolak untuk membuka kasus ini lagi, tapi CID tetap bersikukuh untuk menyelidiki kasus ini . Tim D.S ( Death Squad ) memiliki ruang khusus yang tidak bisa dimiliki oleh tim detektif lain. Ruangan yang ber-AC. Akses internet. Mesin pembuat kopi. Lemari es. Bahkan lemari yang penuh dengan kudapan.
Seperti biasa, Mad sedang tidur di sofa . CID memutar rekaman pembicaraan antara El dan sekretaris Grace.
"Kau sudah lama menjadi sekretaris Grace?"
" Sekitar 6 tahun."
"Apa kau tahu tentang kecelakaan suaminya?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak tahu. Semua orang di sini tahu betul ceritanya."
"Bisa kau ceritakan padaku?"
" Yang aku tahu, Pak Steve meninggal dalam kecelakaan mobil."
"Hanya itu?"
"Ya."
"Apa dia tidak memiliki musuh dalam pekerjaannya?"
"Ti-tidak ada."
"Hei.. apa kau yakin?"
"I-iya."
"Tapi.. aku yakin kau menyembunyikan sesuatu. Kau yakin tak ingin memberitahuku, sayang?" rayu El.
"Ta-tapi jangan memberitahu siapa pun, jika kau mendapatkan informasi dariku."
"Aku mengerti."
"Pak Steve memiliki teman bernama Albert. Dia juga memiliki sebuah perusahaan kosmetik. Hubungan mereka sangat baik, sampai suatu hari mereka bersaing untuk sebuah proyek dan pada akhirnya hubungan mereka menjadi tak baik."
"Ah, seperti itu."
"Lalu.. sebelum insiden itu, Pak Steve mengunjungi rumah temannya itu. Sepulangnya dari sana, kecelakaan itu terjadi."
CID melebarkan mata mendengarnya.
"Paine, aku ingin kau mengumpulkan semua rekaman kamera pengawas jalan di Jakarta Pusat!"
"Untuk apa?"
"Aku sedang menyelidiki kasus. Rekaman 9 tahun yang lalu. Kau paham?"
"Apa? Kau gila? 9 tahun yang lalu, mana ada kamera pengawas di Jakarta?"
"Ah, kau benar. Kalau begitu, cari apa pun informasi tentang kecelakaan pada tahun 2002."
"Oh, CID.. Kau, sungguh s**t sekali! Kenapa kau harus merepotkan diri seperti ini?!"
"Hei, ini tugas kita."
"Aku tahu.. Tapi, kasus tahun 2002 itu adalah saat kita masih pelatihan. Itu bukan tugas kita."
"Itu kasus pertamaku, Paine. Dan, sampai sekarang, aku masih belum bisa tenang memikirkan hal itu. Bantu aku kali ini, ya?"
"Memangnya, aku pernah tidak membantumu?!"
"Hehe, terima kasih, Paine. Lalu, Kau, El.. selidiki pria bernama Albert—CEO perusahaan kosmetik."
"Okay. Siap."
"Dan, kau Mad?"
Mad menatap CID di sela-sela jaket yang menutupi wajahnya.
"Ck. Tidur saja yang pulas" kata CID. Sambil menghela napas pasrah. "Eh, tapi.. tunggu dulu.. Rosemary.. Sepertinya, aku tidak asing dengan nama itu. Aku pernah bertemu dengannya sebelum itu, aku rasa.. Tapi, di mana ya?"
"Mungkin, ada seseorang yang kau kenal namanya sama," pungkas Paine.
"Rosemary.. hanya di bagian itu, aku merasa sering mendengarnya."
**
Pukul 21.45. Senna berada di dapur saat ini. Membuka lemari es. Mengambil sebotol besar air putih. Di bawanya ke meja makan. Dan, menuangnya pada gelas. Lalu, meminumnya dengan sekali teguk. Yang segera di muntah kan lagi. Karena, melihat bayangan hitam di depannya. Terpisah meja makan.
Bau bunga lilac menyeruak kemudian.