Kampus W

2275 Kata
Ini adalah hari ke-29 Senna di skorsing. Terkadang, ia masih ikut ke kantor Grace. Kadang-kadang, ia lolos karena kesibukan Grace. Seperti saat ini, ia hanya rebahan di kamarnya. Bermain ponsel. Entah permainan apa yang di mainkan. Di detik selanjutnya, ponsel Senna berdering. Tertulis ‘Paman detektif’ menelepon. “Halo, paman. Ada apa?” “Senna, kau di mana sekarang? Kuliah?” “Tidak. Aku di rumah. Kenapa?” “Tentang pembunuh sianida itu. Kami, menangkap tersangkanya.” “Sungguh?” “Ya. Tapi, ada 2 tersangka yang mengaku sudah membunuh pemilik toko buku itu.” “Apa maksud paman?” “Pagi tadi.. Ada seseorang yang menyerahkan diri. Kami segera menginterogasinya. Namun, tak lama setelah itu ada lagi yang datang. Dia, juga mengaku sebagai pembunuhnya. Aku membutuhkan bantuan mu, Senna.” “Baiklah, paman. Aku akan ke sana.” “Biar El yang menjemputmu.” “Tidak usah. Aku berangkat sendiri saja.” “Baiklah. Aku tunggu.” ** Senna sudah berada di kantor polisi. Memperhatikan dua orang tersangka yang duduk di ruang interogasi. Laki-laki. Dan, perempuan. Di sisi lain ruangan yang kecil. Dan, tembok yang tergantikan kaca satu sisi. Dari kaca itulah, Senna melihat para tersangka. Di sebelahnya ada CID, El, Paine, dan Mad. “Jadi, dia detektif kecilmu?” tanya Paine, yang memang tak pernah bertemu dengan Senna. “Ya. Kemampuannya seperti anjing pelacak. Bahkan, lebih dari itu. Dia sangat hebat.” Mad mendengus. “Kau ini mengada-ada saja.” “Kau lihat saja nanti.” “Kenapa tiba-tiba ada 2 tersangka?” tanya Senna. “Entahlah. Mereka kakak beradik. Awalnya, adik perempuannya itu yang menyerahkan diri. Lalu, kakaknya datang. Aku yakin, memang salah satu dari mereka pelakunya. Tapi, karena alibi mereka sama-sama meyakinkan. Dan, persis dengan olah TKP—akhirnya, aku bingung.” “Paman, tapi.. Aku sedikit kesulitan untuk mencium aromanya.” “Huh? Kenapa? Kau kehilangan kemampuanmu?” “Tidak. Tapi, aroma bunga lilac yang berhari-hari sudah tercium ini ,agak kuat.” “Bunga lilac?” tanya Mad. Kemudian mengendus-endus. “Aku tidak mencium bau apapun.” “Aku juga,” tambah Paine. “Hanya Senna yang bisa menciumnya,” jelas El. “Heh? Kenapa bisa begitu?” tanya Mad. “Nanti saja penjelasannya. Jadi, maksudmu seseorang akan terbunuh?” tanya El. “Ya. Tapi, aku belum tahu siapa itu. Bayangan kematiannya masih samar.” “Okay. Ini gila. Apa kalian sedang mengerjai ku dan Paine?” “Mad.. Diam dulu,” pinta El. “Tapi, Senna.. Kau masih bisa mengusahakannya, kan?” tanya CID. “Akan aku coba.” Setelahnya, CID dan Senna masuk ruang interogasi. Sisanya, menyaksikan di ruangan sebelumnya. CID duduk di hadapan mereka. Sementara Senna, berdiri di tengah keduanya. Sedikit membungkukkan badan. Mengendus keduanya. Lalu, duduk di sebelah CID. “Bagaimana?” tanya CID. Berbisik. “Keduanya sama beraroma almond pahit.” Senna ikut berbisik. “Lalu, apa yang harus kita lakukan.” “Aku ada ide,” kata Senna. “Bisa kalian letakkan tangan di atas meja,” lanjut Senna. Keduanya saling tatap. Menggerakkan tangannya ke atas meja. Senna segera memeriksanya satu persatu. Tangan si gadis putih bersih. Tangan si kakak terdapat beberapa ruam merah yang menyebar. Senna menatap CID yang mengernyitkan kening dengan tatapan bingung. “Lihat tangannya,” pinta Senna. CID memperhatikan dengan seksama kedua tangan tersangka. Lalu, melebarkan mata. Mengerti apa yang di maksud Senna. “Toni.. Kau, kan pelakunya?” Laki-laki yang di panggil Toni menundukkan kepala. Mendesah singkat. Sementara si adik mulai gugup. Menangis. “Tidak. Bukan dia. Tapi, aku! Sungguh aku yang melakukannya.” “Kau pasti kesal karena perlakuan buruknya terhadapmu, kan?” tanya Senna pada gadis itu. “Senna.. Bagaimana kau tahu?” tanya CID. “Dia pekerja di toko buku itu. Pernah suatu hari, saat aku ke sana— aku tak sengaja melihat paman pemilik toko meraba-raba tubuhnya. Dan, gadis itu terlihat takut.” CID mengangguk mengerti. “Kau sakit hati karena adikmu di perlakukan seperti itu—karena, itu kau membunuhnya?” “Dia pantas mati! Pria sampah seperti itu, tidak pantas hidup,” kata Toni. Sang adik menangis. “Kenapa kau membunuhnya?! KENAPA?!” pekik sang adik. “Bagaimana dengan anak dan istrimu?! Kasihan mereka.” “Aku tidak bisa membiarkanmu menderita sendiri, Lila. Aku sudah berjanji pada mendiang ibu.. Untuk menjagamu. Meski, hidupku taruhannya.” “Tapi, bukan berarti kau harus membunuhnya. Negara kita punya hukum. Laporkan dia. Kau tak perlu merusak hidupmu sendiri,” kata Senna. Kasus sianida pun sudah terungkap. CID dan tim bisa sedikit bernapas lega. "Kau cerdas sekali, Senna. Bagaimana kau bisa berpikir melihat telapak tangannya? Aku tidak berpikir ke arah itu," kata CID. Keduanya, ada di depan kantor saat ini. "Aku sempat membaca di internet. Jika bubuk sianida itu bisa membuat kulit gatal-gatal dan menimbulkan ruam. Saat dia membuka salah satu sarung tangannya, tentu kulitnya akan bersentuhan dengan sisa bubuk sianida yang menempel pada sarung tangannya." "Bagaimana? Kau ingin bergabung di timku?" Senna menyunggingkan senyum. S I Masa penangguhan Senna, hari ini sudah selesai. Saat ini, Senna bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Mengenakan baju tanpa lengan berwarna hijau. Celana hitam. Tak lupa, jaket hitamnya. Ransel dengan warna selaras dengan jaketnya. Melenggang santai ke depan rumah, setelah memakai sepatu kets putihnya. “Selamat pagi.” Sapaan itu didengarnya, begitu ia keluar dari pagar. “Huh, Leo? Ke-kenapa kau di sini?” “Tentu saja, untuk menjemput calon kekasihku ini.” Leo berjalan santai ke arah Senna. Melepas kacamata hitamnya. “Bicara apa kau ini. Aku bisa naik bis. Kau pergi saja.” Senna berjalan ke arah lain. Leo segera memegang lengan Senna. “Setidaknya, jangan tolak ajakan ku yang satu ini. Ayolah, aku sudah jauh-jauh datang kemari.” Senna mendesah singkat. Menengok ke belakang. “Hanya untuk kali ini saja. Lain kali, jangan kau lakukan lagi.” “Siap!” Leo segera berlari kecil. Mendekati mobil. “Jangan membuka pintu mobil untukku. Aku bisa sendiri.” Leo pun mengurungkan niatnya. Berjalan mundur. Dan, mendesah penuh kecewa. S I Leo dan Senna sudah tiba di kampus. Keduanya berjalan bersama di koridor saat ini. “Bagaimana kalau kita sarapan di kantin dulu?” ajak Leo. “Aku sudah sarapan.” “Oh, Senna. Please. Aku tidak suka makan sendirian.” Leo memasang wajah memelas. Senna mendesah singkat. “Ayo cepat.” “Tapi, aku ke kamar mandi dulu, ya? Kau pergi ke sana dulu.” “Ya.” Senna pergi ke kantin lebih dulu. Duduk di meja paling tengah. Hanya tempat itu yang kosong. Di detik selanjutnya, setumpuk buku di letakkan di depannya. Senna segera mendongak. “Billy? Apa ini?” "Itu catatan kuliah selama kau di skorsing. Aku sudah menyalinnya untukmu.” “Untukku?” Billy mengangguk. “O-oh.. Terima kasih, Billy. Pasti merepotkan.” “Tidak. Santai saja.” “Kau mau sarapan?” “Tidak. Aku hanya mengantarkan Leo saja.” “Leo? Anak baru itu?” “Iya.” “Kau dekat dengannya, rupanya.” “Tidak juga.” “Baiklah, kalau begitu. Aku pergi dulu, ya.” “Mau kemana?” “Aku ada kuliah pagi hari ini.” “Ah, iya.” “Sampai jumpa nanti.” Senna menjawab dengan anggukan. Sementara Leo yang melihat keduanya dari kejauhan, merasa cemburu. Setelah Billy pergi. Leo mendekat. “Kau sudah memesan makanan?” tanya Leo. “Tidak. Aku sudah sarapan di rumah.” “Kalau begitu, aku pesankan minum, ya?” “Ti-“ Senna belum selesai dengan kalimatnya, Leo keburu pergi. Bersamaan dengan Clara datang. “Senna!” Senna menengok ke samping, melihat Clara berjalan dan tersenyum padanya. Namun, Senna tertegun melihat Clara. Berdiri. “Hei, ada apa? Kau seperti melihat hantu saja.” Senna tak merespon. Masih terus memandang Clara. Lebih tepatnya, melihat bayangan kematian Clara di belakangnya. Seluruh badannya hitam, seperti habis terbakar. “Bagaimana ini..” kata Senna. “Apanya yang bagaimana?” “Clara.. Apa, kau mengganti parfum mu?” “Parfum ku? Ah, iya.. Aku mencoba aroma baru. Bunga lilac.” Senna mendesah gugup. Wajahnya pucat seketika. Kembali duduk. “Senna.. Kau baik-baik saja?” Senna hanya menunduk diam. Tak lama, Leo datang membawa dua gelas jus alpukat. “Ada apa?” tanya Leo. “Entahlah. Wajahnya tiba-tiba pucat.” Leo bergegas meletakkan gelas di atas meja. Menyentuh bahu Senna. “Kau baik-baik saja?” “O-oh, iya. Hanya sedikit pusing saja.” “Mau aku antar pulang?” “Tidak usah.” “Sungguh?” “Ya. Kalian duduk saja.” Leo duduk di sebelah kiri Senna. Sedangkan Clara, duduk di depan mereka. “Sungguh, kau tidak apa-apa?” tanya Clara. Senna mengangguk. “Mungkin karena, aku tak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini.” “Karena hal itu?” “Ya. Aku harus membersihkan namaku. Agar, hidupku bisa tenang.” “Jangan terlalu kau pikirkan, Senna. Semuanya akan lupa dengan masalah itu, lama kelamaan,” kata Leo. “Leo benar. Semua hanya butuh waktu.” Senna hanya diam. “Senna.. Kau habiskan saja jus mu dulu. Aku ada urusan sebentar,” kata Leo. Senna hanya mengangguk. “Hei, kau pacaran dengan anak baru itu?” “Clara.. Mulai sekarang, kau jangan berkeliaran sendiri, ya?” “Huh? Kenapa memang?” “Turuti saja kata-kataku. Kalau ada hal yang mencurigakan.. Kau harus meneleponku. Kau paham?” “Hei.. Kau menakuti ku saja. Katakan.. Ada apa?” Senna menatap cemas sahabatnya itu. Sementara Clara menyadari keanehan sikap temannya itu. “Senna.. Kau, kan tak bisa mencium aroma apa pun.. Apa—kau melihat bayangan kematian ku?” “Clara.. Aku akan menolong mu. Aku akan mencegah hal itu terjadi.” Clara menyunggingkan senyum. “Ah.. Jadi benar, kau melihatnya.” “Clara.. Hal itu belum terjadi. Karena itu, kau harus terus dekat denganku.” Clara tersenyum. “Jangan khawatir.. Kemarin, aku sudah di ramal. Katanya, aku akan berusia panjang.” Senna mendesah singkat. “Aku berharap, kata-kata peramal itu benar.” “Pasti. Peramal itu sudah terkenal di mana-mana.” Senna tersenyum kecil. “Senna, aku ke kamar kecil dulu, ya?” “Biar aku temani.” “Hei, tidak usah. Kau di sini saja.” “Tapi, Clara-“ “Percaya padaku. Hari ini.. Bukan hari kematian ku.” Clara tersenyum dan berjalan pergi. "Hei .. Kau sudah dengar kabar? Katanya, ada seseorang yang tahu siapa pembunuh Tara dan kekasihnya,” kata seorang gadis, yang mejanya ada di sebelah meja Senna. "Sungguh? Siapa memang?” sahut gadis lain. “Billy. Laki-laki yang menolong Senna tempo hari.” “Apa? Kau yakin? Billy yang tampan itu? Hei, kau tak mengada-ada, kan?” “Untuk apa aku mengarang itu? Dia juga tertangkap kamera pengawas di koridor, dekat ruang kosong itu.” Degup jantung Senna berpacu lebih cepat, mendengar itu. Segera berdiri. Dan, pergi dari tempat itu. Mencari Billy. "Tak mungkin.. tak mungkin Billy pembunuhnya. Aku yakin pasti bukan dia,” kata Senna dalam hati. Senna terus berlari, menyusuri kampus. Menilik beberapa ruangan. Mungkin saja, ada Billy di dalamnya. Mungkin saja, Billy sudah mendengar beritanya, dan merasa terpuruk. Senna terus meyakinkan diri sendiri. Jika bukan Billy pelakunya. Dia mengatakan sedang ada di kantin, waktu kejadian itu terjadi. Senna ingat betul, kata-kata Billy itu. Saat melewati ruangan rektorat, Senna memperlambat langkahnya. Melibat beberapa mahasiswa, berkerumun di depan ruangan, yang pintunya sedang terbuka. Senna berjalan mendekat. "Ada apa?” tanya Senna, pada salah satu mahasiswa. "Rektor sudah menemukan pembunuhnya.” “Billy Hudson! Mahasiswa yang mengambil jurusan Ekonomi.” Senna terhenyak. Ia membelah kerumunan. Berdiri paling depan. Melihat Billy tengah berdiri, membelakanginya. Menghadap rektor. "Billy Hudson! Akui saja. Kau pembunuhnya! Kau tak bisa mengelak lagi. Bukti rekaman kamera pengawas ini, sudah tak bisa kau elak lagi.” Billy mendesah kesal. "Harus berapa kali saya katakan? Bukan saya pembunuhnya!" seru Billy. "Lantas, mengapa kau saat itu berada di ruang kosong?" tanya Dosen yang sedang berdiri di samping Rektor. "Saat itu, saya akan pergi ke kamar mandi. Ketika, melewati ruangan kosong itu, saya mendengar teriakan. Saya melihat di balik jendela, ada seseorang yang berpakaian hitam, tengah menusuk Cecilia hingga tewas. Saya berusaha mendobrak pintu. Namun, saat pintu sudah terbuka, pembunuh itu, sudah melompat keluar melalui jendela yang ada di sisi lain ruangan. Seharusnya, kalau kalian melihat rekaman itu, kalian akan tahu jika saya berusaha mendobrak pintu.” “Apa ada saksi mata, saat kau melakukan itu?” “Huh?” “Apa ada saksi mata?” Billy mendengus. “Pak! Anda, kan bisa melihat rekaman kamera pengawas itu!” “Tidak ada hal itu di rekamannya. Lagi pula, jika pintu itu terkunci, bagaimana Tara dan Cecilia bisa masuk ke dalam. Kecuali, pembunuh itu memiliki kunci ruangan. Alibi mu tidak cukup kuat Billy, kaulah pembunuhnya!" Billy mendengus. “Sungguh, kalian akan melakukan hal busuk seperti ini? Berapa banyak, kasus kematian mahasiswa yang kalian tutup-tutupi selama ini? Dan, kalian sekarang justru menuduhku, yang hanya karena aku tertangkap kamera pengawas itu?” “Billy.. Untuk itu, kau di keluarkan dari kampus! Dan, silakan meninggalkan kampus sekarang juga.” Billy menyeringai. “Ya. Anggap saja aku pembunuhnya. Lihat saja.. Aku akan kembali. Dan, menghancurkan kampus ini!” Billy berbalik. Dan, terkejut melihat Senna ada di dekat pintu. Billy tak menyapanya. Ia berjalan keluar. Senna mengikutinya. "Billy.. Benar kau yang membunuh mereka?” Langkah Billy terhenti. Berbalik badan. Menghadap Senna. Kau tak percaya padaku?” “Kenapa kau membohongiku?” “Kapan aku membohongimu?” “Aku pernah bertanya padamu. Ada di mana kau saat Tara dan Cecilia terbunuh. Katamu, kau ada di kantin bersama Clara.” Billy mendesah panjang. “Masih terlalu rumit, untuk menjelaskannya padamu sekarang.” Senna mendengus. “Berarti benar, kan? Kau pelakunya? Kau membohongiku selama ini! Kau berpura-pura baik padaku!” “Terserah kau dan pemikiran mu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN