“Bu Lina! Tahan dirimu,” kata John. “Lina? Wanita lemah itu? Dia tidak ada di sini!” kata Lina. Sambil terus mencekik leher Reza. Mengerahkan seluruh tenaganya. Mata Reza hampir menutup. Ia sudah kehabisan napas. John segera menuju mejanya. Mengambil jarum suntik baru. Serta sebotol kecil cairan yang di masukkan pada tabung jarum suntik. Lalu, berlari ke arah Lina. Kemudian, menyuntik lengan Lina. “Detektif CID.. mundur lah.” “Tapi-“ “Aku memasukkan obat penenang tadi. Sebentar lagi, tubuhnya akan lemas.” Satu. Dua. Tiga. Lina terhuyung ke belakang. Menggelengkan kepala berulang. CID kembali mendekati Reza, yang napasnya tersengal. Badannya sudah lemas. Sementara Lina, tertelungkup di lantai. Dengan mata yang sayu. Sementara itu, di salah satu rumah di Jakarta Pusat—seorang pemud

