“Bagaimana Senna? Apa dia sudah tertangkap?” tanya CID, pada Mad, yang tengah memotong apel. “Belum. Tapi, kami sedang melacak plat nomor mobil yang menjemputnya di depan kantor polisi.” “Dia dijemput seseorang?” “Yeah.” Mad mengulurkan tangannya yang menggenggam sepotong apel. “Buka mulutmu.” Mad membuka mulutnya sambil berkata “AK”. CID nyengir. Sambil mengernyitkan dahi. “Jangan lakukan itu dengan wajah garang mu. Membuatku geli saja.” Mad meletakkan apel dan pisau di meja kecil sebelahnya. Membuka kuncir rambutnya. Dan, menata rambutnya ke samping. Lalu, memasang wajah genit. “Kalau tampilan ku begini, bagaimana? Apa.. aku terlihat cantik?” Mad mengedipkan mata dengan cepat. “Untung saja, aku sakit. Jika tidak, aku sudah membanting mu ke lantai.” “Yeah. Untungnya. Tuhan masih me

