“Oh.. itu.. Tak terpikirkan olehku,” kata Dafa. CID mendesah singkat. “Apa aku bisa bertemu dengan Zidan? Dia.. ada di sini, kan?” “Untuk saat ini, dia tidak ada. Mungkin sekitar 1 jam lagi—dia datang. Karena, ada jadwal shooting.” “Aku bisa minta nomornya?” “Baiklah.” Dafa menarik keluar ponsel , dari dalam saku celananya. Saat akan mencari nomor Zidan, ponselnya berdering. Asisten produser meneleponnya. “Halo. Ada apa? Aku masih ada tamu.” “Pak.. kau harus kembali ke studio 4 sekarang.” “Studio 4? Apa jadwal tayang kita di ajukan?” “Tidak. Ada seseorang yang menelepon ke nomor acara kita. Dia mengaku sebagai penculik Farah.” Dafa terbelalak. “Aku ke sana sekarang. Jangan sampai, dia menutup teleponnya.” “Baik, pak.” Dafa segera menutup telepon. Dan, mengantongi ponselnya. “

