tumbuh rasa cinta

1554 Kata
seperti Bunga yang mekar di pagi hari, seperti embun yang menyejukkan hati, begitulah Alice dan rianty saat ini, mereka memulai aktifitas di pagi hari dengan semangat dan keyakinan, paras cantik dan segar membuat mata lelaki mana pun enggan berpaling bila sudah menatapnya.. mereka sudah disibukan dengan segala tumpukan dokumen, Alice mulai menyiapkan jadwal rapat dan pertemuan di luar kantor untuk bos nya yang kini menjadi kekasihnya, tangannya sibuk dengan komputer sesekali menerima panggilan masuk dr klien, dia juga harus menyerahkan dokumen dari tiap divisi yang membutuhkan tanda tangan bosnya itu. seperti kata orang-orang, hari Senin adalah hari yang sibuk. "pagi beautiful" sapa Raka kepada Alice "pagi pak Raka" Alice yang masih sibuk dengan komputernya. "bagaimana makan malam romantis kalian?" tanya Raka sambil duduk sedikit di meja Alice dan melipat tangannya kedepan. "jangan ganggu aku dengan pertanyaan mu itu pak raka, aku sangat sibuk hari ini." jawab Alice masih tetap fokus dengan komputernya. "baiklah-baiklah, lusa aku dan Calvin akan berangkat ke Jepang, sebaiknya kau tidak merindukannya." ledek raka itu membuat Alice berhenti dari kegiatannya langsung menatap Raka "oke aku pergi, aku tak akan mengganggumu, lebih baik aku mengganggu calon istriku" Alice meliriknya tajam dan menghembuskan nafasnya kasar. "aku lupa tentang jadwal keberangkatan Calvin ke Jepang, Calvin juga belum menyuruhku mempersiapkan dokumen yang akan di bawa, kenapa jadi lemes gini sih, bukannya udah biasa ditinggal bolak balik keluar negeri." batin Alice. tok tok tok. Alice mengetuk pintu ruangan bosnya, dari dalam terdengar suara mempersilahkan ia masuk. "ini dokumen pengajuan dari tiap divisi yang harus bapak tanda tangani" menyodorkan map ke arah Calvin, "dan ini jadwal meeting di kantor dan pertemuan dengan klien di luar kantor." ucap alice tegas dan penuh semangat. Calvin terlihat sendang membaca dokumen yang Alice berikan. "saat sedang seriuspun dia tetap terlihat tampan, wangi maskulin tubuhnya benar-benar memabukan" batin Alice.. "terimakasih, kau bisa kembali dan melanjutkan pekerjaanmu, aku akan memanggilmu lagi saat semuanya selesai aku tanda tangani" ucap Calvin tegas dan masih menatap dokumen-dokumen yang ia pegang. "baik pak" Alice langsung berbalik badan meninggalkan ruangan itu, belum sampai keluar tiba-tiba Calvin memanggil nya.. "siapkan juga berkas-berkas kerjasama dengan Handoko corp, lusa aku dan Raka akan menemui mereka di Jepang." ucap Calvin dengan menatap Alice, pandangan merekapun bertemu "baik pak" jawab Alice disertai anggukan dan langsung beranjak menuju mejanya. begitulah Calvin dia akan serius dan propesional dalam pekerjaan, di luar kantor mungkin dia kekasih Alice, tapi di dalam kantor dia tetap bos yang harus di hormati. seperti biasanya kantin selalu ramai saat jam makan siang, Alice dan rianty menikmati makan siangnya sambil mengobrol. "bagaimana? apa kau akan menyetujui perjodohan itu?" tanya Alice sambil meminum es jeruk yang ia pesan. "entahlah, aku belum bisa berfikir untuk saat ini." "hei jangan terlalu lama, kau tau Raka dan bos dingin itu akan terbang ke Jepang untuk urusan pekerjaan" ucap alice meyakinkan sahabatnya itu.. "benarkah?" jawab rianty lesu.. "ikuti saja kata hatimu, aku tau Raka pasti sudah membuat keputusan nya dan meyakinkan mu" Alice menatap rianty.. "Hai ladies?" tiba-tiba Raka menghampiri dan duduk di samping rianty sontak membuat jantung rianty berdetak kencang ada perasaan yang sulit dijelaskan. "apa kalian tidak memesan makanan untuk ku?" tanya Raka dengan nada lebay. "ku pikir kau makan siang diluar bersama Calvin".. jawab Alice, terlihat rianty masih menikmati suapan demi suapan kedalam mulutnya, tiba-tiba Raka menarik tangan rianty dan memasukan sendok berisi makanan yang ia pegang kedalam mulutnya. "Raka! apaan sih!" rianty menoleh ke arah Raka. "aku hanya minta di suapi calon istriku" Raka mencubit pipi rianty "duh aku ngerasa jadi nyamuk! aku duluan ya, kalian lanjut aja makan sepiring berdua biar romantis" ledek Alice lalu pergi meninggalkan mereka berdua. "mau aku pesankan makanan" tanya rianty kepada Raka. "nggak, ini aja cukup." Raka membuka mulutnya berharap rianty menyuapinya, rianty menggeleng kepala langsung menyuapi Raka, Raka dan rianty tidak peduli banyak pasang mata yang melihat dan mulai membicarakan mereka, terlihat tatapan wanita-wanita di kantin begitu menakutkan kecewa dengan kedekatan Raka dan rianty, tak heran karena ketampanan Raka tak kalah saing dengan bos nya, banyak wanita yang menyukai Raka di kantor. "nanti pulang bareng ya?" ajak Raka.. "aku bawa mobil" jawab rianty singkat "aku gak bawa mobil, makanya aku ngajak kamu pulang bareng." oceh Raka dan menatap rianty dengan tatapan penuh cinta. rianty juga menatap Raka tak mengeluarkan satu katapun, Raka yang di hadapannya ini berubah menjadi kekasih idaman beda dari biasanya yang hanya bersikap layaknya sahabat. sepertinya rianty sudah mulai menambahkan cinta pada hubungan mereka. ~~~~~~~~~~ hari keberangkatan Calvin dan Raka ke Jepang pun tiba, alice mengantarkan bos dan asistennya itu kebandara. "ku serahkan urusan disini kepadamu" Calvin mengelus rambut Alice. "baik" jawab Alice singkat, tidak seperti biasanya kali ini dia merasa tak rela, padahal ini bukan kali pertama mengantar bosnya itu sampai bandara. Raka terlihat sudah jalan terlebih dahulu meninggalkan Calvin bersama Alice, selain tak suka ucapan perpisahan raka sengaja memberikan waktu Calvin dan alice berdua. Calvin mengecup bibir Alice singkat dan berbalik meninggalkannya Calvin jg tak suka ucapan perpisahan makanya dia langsung pergi meninggalkan Alice tanpa berkata apapun lagi. stelah kepergian Calvin dan Raka Alice kembali kekantor dan tak larut dalam kesedihan. ini hanyalah urusan pekerjaan, buat apa aku sedih karena kepergiannya... gumam Alice. setelah 7jam penerbangan, Calvin dan Raka tiba di Tokyo, mereka langsung menuju The Aoyama Grand hotel untuk beristirahat. terlihat Calvin sibuk dengan laptopnya padahal ia Baru saja sampai hotel, Raka sibuk menata barang bawaannya. " apa kau ingin makan, aku akan memesankan makanan" tawar Raka kepada bosnya itu.. "iya" jawab calvin singkat. "atau kau ingin makan di luar, sekalian mencari udara segar?" ajak Raka.. "tidak, aku sibuk mempersiapkan segalanya untuk pertemuan dengan Handoko corp besok, aku tak ingin ada kesalahan sedikitpun," jawab Calvin masih menatap laptopnya itu. "baiklah, aku akan pesan makanan." Raka bergegas mengambil ponsel nya. matahari mulai menampakan sinarnya di balik tirai kamar Calvin dan Raka, ya mereka hanya memesan satu kamar, bila urusan pekerjaan selesai dan berjalan lancar mereka akan langsung kembali ke indonesia. "ayo kita selesaikan pekerjaan ini, aku tak ingin berlama lama dsini" ucap Calvin sambil mengikat dasinya. Raka terkekeh geli, "ada apa denganmu pak bos?, kau bukan orang yang tidak sabaran seperti ini," "aku tak bisa lama-lama jauh dari sekertarisku, aku merindukannya, semalam tak sempat mengabarinya, pagi ini juga dia tak menghubungiku, she is driving me crazy." ucap Calvin penuh penekanan. Raka hanya menggelengkan kepalanya. Ichiran - Shibuya Branch (Tokyo) adalah restoran yang di pilih untuk pertemuan mereka, Raka dan Calvin tiba di restoran, mereka langsung melangkah masuk kedalam ruangan yang sudah di sediakan Rafael Handoko yang tak lain adalah CEO Handoko corp. tenyata Rafael sudah di sampai terlebih dahulu bersama gadis cantik yaitu asisten pribadinya yang bernama Mia. "maaf membuatmu menunggu" Calvin mengulurkan tangannya. "no problem" jawab Rafael membalas uluran yg tangan Calvin. mereka langsung berdiskusi, sesekali kedua belah pihak saling menjelaskan sebelum akhirnya menandatangani kerja Sama tersebut. Calvin menghela nafasnya lega. ini sebanding dengan keputusannya berangkat ke Jepang padahal bisa saja ia menyuruh Raka seperti biasanya sebagai perwakilan perusahaan, karena Rafael sendiri yang menginginkan Calvin hadir dalam pertemuan itu, mau tak mau Calvin mengiyakan, ini proyek besar dia tak akan melewatkan kesempatan. "terimakasih sudah hadir dalam pertemuan ini Mr Calvin" Rafael mengulurkan tangan "sama-sama" mereka berjabat tangan. "mampirlah ke club' milikiku, akan ku biarkan kalian minum gratis sepuasnya, di sana juga banyak wanita cantik dan sexy, anggap saja hadiah dariku untuk kerjasama kita." "terimakasih atas tawaran anda Mr Rafael, maaf sekali kami tidak bisa mampir,kami harus berkemas karena besok akan kembali ke Indonesia." jawab Calvin sopan. "baiklah, aku mengerti kesibukan seorang Calvin Radiawan.". mereka meninggalkan restoran dengan mobil masing-masing, Calvin dan Raka memilih kembali ke hotel dan berkemas. di tempat berbeda Alice telah selesai dengan ritual mandinya, beberapa hari ini begitu melelahkan karena semua tanggung jawab pekerjaan di limpahkan kepadanya, ia mengecek ponselnya entah sudah yang ke berapa kali, beharap ada notif dari kekasihnya itu, ia harus menelan kecewa karena Calvin memang tak menghubunginya. "benar-benar sulit di pahami, kalau sudah urusan pekerjaan sifat dinginnya terasa menusuk sampai ke tulang, mungkin dia sedang sibuk, oh bos ku yang tampan aku merindukanmu, aku tak bisa menghubungimu, takut mengganggu perkejaan mu disana, apa yang harus di lakukan wanita malang ini, gumam Alice prustasi. pagi hari di kantor seperti biasa rianty menyempatkan diri menemui Alice untuk berbincang sebelum memulai aktifitas mereka. "apa Raka menghubungi kamu?" tanya Alice kepada rianty "nggak" jawab rianty singkat sambil memakan cemilan nya.. "kok kamu kelihatan santai aja, apa gak kangen?" Alice meledek rianty. "no, aku akan tetap bersikap seperti biasa, aku tak ingin terbebani dengan hal-hal kaya gini" jawab rianty tegas. "apa cuma aku yang kangen Calvin?" Alice merebahkan kepalanya di meja. "lebay" ledek rianty. "aku gak lebay, ini pure aku rasakan saat jauh dari orang yang aku sayangi, kamu belum menaruh perasaan cinta dan sayang dalam hubungan mu dengan Raka, jadi kamu akan tetap bersikap biasa saja saat jauh dari dia" ucap Alice lesu. "kamu salah Alice, aku sudah menaruh cintaku untuk hubungan ini, aku berusaha melupakan kekhawatiran ku karena jauh dari Raka, aku mencoba mengibur diriku dengan bersikap biasa saja, jauh dalam lubuk hatiku aku sangat merindukannya, aku hanya tak ingin menjadi egois dan marah-marah karena dia tak memberi kabar padaku, sebisa mungkin aku ingin mengerti keadaannya dan berfikir positif, aku yakin kau pun melakukan hal yang sama dengan ku." keluh rianty dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN