SEPEDAku memasuki halaman rumah, aku menaruhnya di bawah pohon rambutan yang tak berbuah, daunnya rimbun membuat pelataran rumahku teduh. Begitu sampai aku sudah disambut oleh pria paruh baya alias ayah yang sedang memegang balok berasap bersama dengan segelas kopi hitam.
“Assalamu’alaikum, Hana pulang bu!” teriakku begitu melepas sepatu.
“Wa’alaiakumussalam” sahutnya dari dalam, sepertinya ibu berada di dapur.
Aku berjalan masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian, kemudian menemui ibu di dapur.
“Perasaan ibu saja atau memang jam pulang kamu beda dari yang lain, Han? Ibu sering lihat Nabila pulangnya lebih awal lho daripada kamu. Kamu nggak mampir ke tempat yang aneh-aneh, kan?" bukanya saat aku mulai menyuapkan nasi untuk mengurangi lambung yang mulai perih.
"Bu, memangnya perbedaan waktu pulang Hana sama Nabila berapa jam? Seharian? Atau dua puluh empat jam?"
Sedikit-sedikit Nabila. Memangnya parameter anak yang baik itu Nabila!
"Ya, nggak segitunya juga. Tapi, lebih baik pulang lebih cepet kan. Jadi, bisa bantu-bantu ibu di rumah" ibu menuangkan air putih ke gelasku yang hampir kosong.
Aku menyumpalkan nasi kasar. Mengunyah seadanya kemudian menelannya cepat-cepat.
Seperti ibu pada umumnya, ibuku senang membandingkan anaknya dengan anak oranglain. Kata ibu, kalau tidak bisa lebih baik, setidaknya prestasiku harus sama baiknya dengan Nabila. Nabila yang ranking satu, Nabila yang meraih juara satu UN sekabupaten atau Nabila yang pandai mengaji. Kalau begitu kenapa tidak Nabila saja yang menjadi anaknya?
“Hana sudah selesai makan, bu” aku merapikan piring-piring dan mengangkutnya ke wastafel sink, untuk dicuci.
“Sore ini kamu di rumah aja, kan?” katanya seolah-olah anaknya ini sering tidak berada dirumah.
Padahal ibu jelas tahu aku selalu mendekam di kamar, paling jauh aku hanya pergi ke saung belakang rumah, memandangi persawahan milik tetangga.
“Kenapa bu?” aku menaruh piring-piring yang selesai dicuci ke rak untuk ditiriskan.
“Ibu mau minta tolong, antarkan pesanan kue Bu Santi ya”
“Ya, sudah. Nanti sore Hana antarkan. Itu saja kan?” Aku mendengar pintu depan terbuka, ayah masuk.
“Bu, rokok habis” kata Ayah.
Apa maksudnya mengatakan itu? Oh, jangan bilang uang hasil jualan ibu mau minta dibelikan rokok!
“Ya, terus kenapa, Yah?” Ibu menyahut dengan sinis, memulai adu mulut.
Aku mundur perlahan. Inilah sebabnya rasa ingin pulang ku ke rumah sangat kecil, dirumah selalu terjadi ketegangan.
Dari pada saling mengencangkan urat leher, lebih baik diam dan mengalah. Aku sudah terlalu lelah mendengar kata-k********r ayah jika sudah mulai membuka ceramahnya yang tak pernah mengayaumi.
“Belikan rokok” sahut Ayah.
Dia tak pernah paham soal kondisi keuangan. Apa dia pikir listrik, air dan bahan pokok sehari-hari dapur turun dari langit secara cuma-cuma?
“Rokok! Rokok terus! Istirahat dulu lah Yah. Uangnya nggak ada” Ibu mulai naik pitam, suaranya menembus dinding triplek kamarku.
Harusnya ayah sadar dengan ucapan ibu yang teramat lugas. Kurasa anak SD pun mengerti kalau saat ini tidak ada kesempatan untuk memenuhi kebutuhan sekunder macam rokok kreteknya itu. Bahkan uang sekolah yang termasuk kebutuhan primerku saja harus menunggak beberapa bulan.
Suasana di dapur seketika hening, ibu berjalan menuju kamarku dalam keadaan raut wajah yang kusut.
Aku mengerti betul kegusarwn hati ibu, karena akupun sama jengkelnya dengan sikap ayah yang bertingkah seperti bocah umur lima tahun, menolak paham akan situasi.
“Dikira Ibu punya penghasilan apa. Di dapur aja udah bener-bener kering, seada-adanya. Itupun kadang Ayahmu ngelunjak, mau dibikinkan inilah! Itulah!” Ibu mendumel sendiri.
“Sudah lah, Bu. Kaya yang baru sekali ini aja. Ibu tahu sendiri, Ayah itu sehari aja nggak ngerokok bakalan betingkah kaya orang kebakaran jenggot atau tiba-tiba jadi kaya orang paling lesu sedunia. Makin diladeni, makin panjang ceramahnya” ujarku menyiramkan bensin ke bara api.
"Lagipula, Ayah itu juga suaminya Ibu, Lho" kataku menegaskan kata bagian 'suami'.
Ibu justru tertawa mendengar ungkapanku yang terkesan hiperbola, padahal aku sedang serius.
“Soal pesanan tadi, sejak kapan ibu nerima pesanan kue? Bukannya selama ini selalu ngerasaa nggak PD, ya?” aku berbaring menghadap Ibu.
“Bu Santi yang maksa. Pas ibu bilang kuenya kadang-kadang nggak enak, atau kadang-kadang bantet. Katanya nggak masalah. Ibu juga jadi nggak enak nolaknya, katanya lagi kerepotan banget di rumah”
“Memangnya buat apa kuenya?”
“Ya, dimakan lah Han. Masa buat umpan ikan”
“Enggak, maksudnya dimakan sendiri atau ada acara apa gitu? Hana lihat, lumayan banyak lho yang ibu bikin tadi”
“Oh, itu keluarganya dari luarkota mau berkunjung”
“Bukannya justru karena ada tamu dari jauh bakalan datang, harusnya nyediain kue yang jelas-jelas enak ya. Maksud Hana, kok bisa sih Bu Santi percaya gitu aja sama masakan ibu, terlebih ibu sudah bilang hasilnya nggak bisa diprediksi”
“Ya, ibu juga sama bingungnya. Karena dengar cerita dari beliau, ibu masaknya juga jadi terbebani, takut nggak enak”
“Tapi tadi hasilnya enak, kan?” aku ikut khawatir, pasalnya aku yang akan mengantarnya, salah-salah aku yang kena semprot.
“Insyaallah, nggak mengecewakan” ujar Ibu membuatku lega.
Sehabis ashar aku langsung berangkat menuju rumah Bu Santi. Ayah yang kembali berada di pelataran rumah menegurku,
“Mau kemana?” tanyanya penasaran.
Dengan malas kujawab, “Rumah Bu Santi” aku tak ingin berlama-lama disekitar ayah, cepat-cepat kubawa sepeda pergi sebelum akhirnya dia membuka suara lagi.
“Pulangnya mampir ke warung Bu Astuti, ambilkan rokok buat Ayah” aku menghela nafas berat lalu berbalik.
“Uangnya?” kataku sembari menengadahkan tangan.
“Bilang, tambahkan ke daftar hutang Ayah” ujarnya kembali menatap lurus ke depan tanpa menghiraukan ekspresi keberatan yang kutampilkan.
Aku tidak berani menolaknya, terakhir kali membantahnya wajahku hampir kena tampar lantaran adu argumen dengannya.
‘Sudah pintar menggurui orangtua ya sekarang’ kata ayah waktu itu.
Rasa nyerinya masih terasa hingga sekarang, sebagian jiwaku merasa takut, sebagiannya lagi teramat benci.
Kukayuh sepeda meninggalkan rumah. Hatiku masih saja menggerutui sikap ayah yang entah masih bisa dikatakan kepala keluarga yang baik atau tidak.
Dia lebih terasa seperti pemimpin dalam skala kecil, dengan rezimnya yang kejam. Tanya saja, tidak ada yang bahagia dengan kepemimpinannya itu.
Tidak lama sepedaku sudah berada di pekarangan rumah Bu Santi. Aku memarkirkan sepeda didepan rumahnya yang terlihat sepi.
“Assalamu’alaikum Bu Santi” panggilku sambil mengetuk pintu rumahnya.
Aku mendengar suara derap langkah yang terdengar samar-samar, “Wa’alaikumussalam. Hana, nganterin pesanan Ibu?” dia sudah bisa menebak kedatangan ku rupanya. Aku menyerahkan beberapa kantung plastik yang tadi kubawa.
“Berapa totalnya? Biar langsung ibu bayar” dia membuka dompet besarnya yang terlihat mewah dengan ornament metalik berwarna gold.
“Totalnya tujuh puluh lima ribu Bu. Kata Ibu disana ada lebihan tepungnya juga” tunjukku pada kantung plastik yang tadi kuserahkan.
“Duh repot-repot, padahal nggak perlu dikembalikan juga nggak papa” ujarnya sembari menyerahkan sejumlah uang padaku.
“Makasih banyak, ya Hana sudah nganterin ke rumah Ibu. Mau masuk dulu nggak ke dalam? Di dalam juga ada Nabila” tawarnya ramah.
Bu Astuti itu orangtuanya Nabila. Beliau hanya tinggal berdua dengan Nabila di rumah sebesar ini. Suaminya sudah lama sekali tidak pernah pulang kampung halaman, kata warga suami beliau bekerja di luarkota.
“Nggak, makasih banyak, Bu. Hana langsung pamit pulang aja, mari Bu!” kataku kemudian melenggang pergi.
Di perjalanan pulang aku terus memikirkan bagaimana caranya membawakan rokok ayah tanpa mendapat sindiran tajam oleh Bu Astuti.
Sempat terbesit di pikiranku untuk membelanjakan uang hasil pesanan kue tadi. Tapi aku tidak berani membelanjakannya tanpa seizin ibu.
Lama aku berdiri di depan warung itu, tanpa niatan untuk memanggil pemilik warung ataupun maju masuk ke dalam sana. Beberapa kali ku lihat pembeli keluar masuk dari warungnya yang cukup lengkap. Aku meneguk ludah, mau sampai kapan berdiri disini?
“Bu!” panggilku begitu memasuki warungnya yang memang terbuka lebar.
“Mau beli apa, Hana?” tanyanya ramah.
Aku kebingungan mengucapkan kalimat apa yang harus kukeluarkan. Terakhir kali sudah diperingatkan untuk segera melunasi hutang ayah hingga akhir bulan ini. Belum sampai hutang itu lunas Ayah sudah menyuruh berhutang lagi. Gali lubang tutup lubang, agaknya begitulah prinsip hidup Ayahal sekarang.
Begitu melihatku yang tak kunjung bersuara, Bu Astuti menghela nafas pelan kemudian menebak maksud kedatanganku, “Rokok Ayahmu lagi?”
Jleb, tepat sasaran. Padahal yang berhutang adalah ayah, anehnya justru aku yang merasa tidak karuan. Mungkin Bu Astuti pun sudah muak mendengar kalimat yang sama keluar dariku.
“Maaf, Bu” kataku sembari menerima sebungkus rokok kretek darinya sambil menunduk malu, rasanya bulir air mataku hampir keluar.
“Bukan kamu yang seharusnya minta maaf. Bilangin sama Ayahmu, kalau akhir bulan ini belum lunas, Ibu nggak bisa nerima hutang dulu” pesannya tegas.
Aku mengangguk, “Iya, nanti disampaikan, Bu. Terimakasih banyak” kemudian mengantongi sebungkus rokok tadi ke dalam jaket biru kusamku.
Entah mengapa harga diriku sekarang benar-benar terkoyak seluruhnya. Aku hampir tidak ada bedanya dengan pengemis yang ada dijalan-jalan sana.
Bedanya aku tidak menadahkan tangan langsung pada orang-orang, melainkan terus meminta belas kasihan Bu Astuti dengan cara menambah catatan hutang di warungnya.
***