bc

Finding Happines

book_age16+
10
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
sensitive
powerful
self-improved
student
drama
bxg
lighthearted
highschool
first love
like
intro-logo
Uraian

Kehadiran ku disini serba salah. Dinding pembatas antara surga dan neraka terasa begitu tipis. Jika dengan menuruti perkataan ayah termasuk bakti seorang anak. Lalu, bagaimana jika dengan tindakan tersebut malah membuat ayah makin dekat dengan pintu ajalnya? Perubahan sikap yang signifikan membuat ku muak untuk sekedar bertatap muka diatas meja makan. Aku memilih tidak sarapan lantas pergi ke sekolah kemudian mengucap salam dalam hati. Setiap hari, dalam do’a, aku terus meminta agar diberikan rasa ikhlas untuk setiap makian yang ku dengar dari ayah. Hati anak mana yang tidak akan terluka jika diperlakukan seperti anak buah, bukannya dikasihi seperti darah daging sendiri? Katanya seorang hamba tidak akan diberi cobaan melewati batasnya, lantas mengapa diri ku diberi ujian terus menerus seakan tiada batas? Ku harap ini bukan azab yang bersembunyi dibalik kata cobaan.

Note : Update 1 minggu sekali

chap-preview
Pratinjau gratis
Manusia Transparan
JIKA kematian adalah sebuah takdir bagi setiap yang bernyawa, bukan berarti menjemput maut itu halal dilakukan. Aku selalu berpikir bagaimana mungkin menghisap sebungkus tembakau sekaligus dalam sehari dapat memperpanjang jangka hidup seseorang? Jika kandungannya saja penuh dengan racun. Sering kudapati di sepanjang penjuru jalan, di dalam angkutan umum bahkan di dalam rumah yang jelas-jelas berisi anak-anak. Mereka dengan bara menyala di ujung bibirnya, tanpa rasa bersalah menabur asap beracun. Seolah sengaja mengundang malaikat izrail berkunjung lebih cepat, jahatnya lagi mereka turut menyeret sanak keluarganya. Mirisnya ayahku sendiri termasuk ke dalam kata ‘mereka’ yang sering kubicarakan. Masalah ini seringkali membuatku bingung, batasan antara bakti dan durhaka terasa begitu tipis. Saat aku menolak membelikan rokok tembakaunya, dia selalu mengumpat, marah-marah. Padahal jelas niatku ingin melihatnya hidup lebih panjang agar bisa menyaksikan anaknya ini menjadi orang sukses, mampu berdiri dengan kaki sendiri dan membiarkannya bersandar, mengandalkan putri satu-satunya--dengan maksud membalas jasanya yang mungkin tidak akan sebanding. Kadangkala sikap emosionalnya yang berlebihan juga membuatku bertanya-tanya “apakah rokok memang sebagus itu untuk ketenangan jiwanya?” Katakanlah nikotin memang bagus untuk memacu produksi endorfin, tapi mengapa ayahku justru berubah menjadi orang lain saat kehabisan balok tembakau itu. Kalau seperti ini bukankah jelas sekali, bahwa dampak baiknya jauh lebih sedikit dibandingkan dampak buruknya! Sulit sekali menyadarkan orang yang terlanjur candu, semuanya terlihat buram dari kacamatanya. Seperti saat ini, dia sengaja pergi ke balkon depan rumah sehabis makan malam, menghidupkan bara api diujung mulutnya. Aku hanya menggelengkan kepala melihatnya. Memangnya makan saja tidak cukup ya untuk mengenyangkan perutnya? “Han, sudah malam. Besok lagi saja belajarnya, waktunya tidur” tegur ibu saat menengok masuk ke dalam kamarku yang masih menyala. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Pantas saja ibu menegur. Menguraikan hasil reaksi asam karboksilat dengan alkohol menjadi ester saja perlu waktu berjam-jam. Bagaimana mungkin bisa lolos seleksi OSN yang menyuguhkan 50 soal dalam waktu empat puluh lima menit? Aku menghela nafas berat. Sampai setahun belakangan aku sukses mendalami peran sebagai siswa transparan. Kehidupan sekolahku berjalan lancar tanpa gangguan. Tapi, semenjak namaku menggema ke penjuru sekolah beberapa hari lalu, beberapa orang di kelas mulai menyadari keberadaanku. Bagaimana ini? Aku takut kehidupan sekolahku yang tenang akan terancam. Perlahan aku terlelap dengan pikiran riuh tanpa penyelesaian. *** Pukul tujuh pagi aku sudah siap untuk berangkat sekolah, ibu masih sibuk bergelut di atas meja, dan ayah? As always, duduk manis di depan televisi cembung dengan layar dipenuhi rintik semut. Ah, tidak kali ini beliau mengetuk-ngetuk bagian belakangnya lagi agar bisa menyala. Kuharap televisi itu segera mati total saja, agar ayah tidak lagi menjelma menjadi tukang ceramah, menggurui perihal bakti pada orangtua. “Makan dulu, Han!” teriak ibu begitu melihatku keluar kamar memakai seragam lengkap dengan ransel. “Nggak lapar” sahutku sedikit berteriak kemudian berangkat menggunakan sepeda setelah berpamitan dari dalam hati. Sudah menjadi kebiasaanku berangkat pagi-pagi sekali. Alasannya karena jalanan masih sepi, serasa menjadi penguasa jalan. Selain itu, aku juga menyukai aromanya yang masih di selimuti embun pagi. Mengayuh sepeda dengan santai sambil menikmati udara bersih bertransmigrasi ke sudut-sudut alveolus, anggap saja pembersihan paru-paru gratis. “Sudah kuduga” gumamku senang begitu membuka pintu kelas yang masih kosong. “Menduga apa?” seseorang tiba-tiba muncul dari belakang kemudian berjalan masuk ke dalam kelas. Hei, sejak kapan dia ada di belakangku? Dan sejak kapan dia datang sepagi ini? Bukankah biasanya dia selalu datang tepat saat lonceng berbunyi? Dia-Zade, cengengesan menatapku yang masih berdiri lemah di depan pintu. ‘Ck, dasar perusak suasana!’ pikirku. “Han, kamu udah ngerjaian PR Kimia, belum?” tanyanya mulai rusuh membuka-buka buku paket. Aku menatapnya malas kemudian menelungkupkan kepala ke meja. Menghiraukannya sama saja dengan menyerahkan ketenangan kehidupan sekolahku. Satu-satunya cara agar tidak merusak rencana awalku adalah dengan menghindarinya sejauh mungkin. Aku memejamkan mata, mengacuhkan panggilannya yang berulang, berharap dia menyerah dengan sendirinya. Anehnya aku justru mendengar derap langkah yang mendekat dan suara benturan antara kursi dan meja yang keras. Mau tak mau akhirnya aku membuka mata. Sialan! Zade sudah berada di depanku. “Minggu lalu kamu dipanggil ke kantor buat ikut OSN kimia, kan?” ujarnya membuka pembicaraan, di tangannya sudah terdapat buku PR kimia dan pulpen. Aku bergeming, menatapnya datar, “Lalu?” tanyaku. “Kali ini aja, plis, contekin aku, mau ya?” Zade memohon. Oh, jadi ini alasannya datang pagi ke sekolah? Alih-alih megerjakan PR, dia dengan tebal mukanya meminta contekan padaku? Aku menghela nafas berat lalu menyandarkan bahu ke kursi. “Pertama, aku belum terpilih ikut OSN kimia. Kedua, apa untungnya ngasih contekan ke kamu?” tanyaku serius. “Menolong teman itu berpahala. Kalo kamu ngerasa pahala aja nggak cukup, jam istirahat pertama aku traktir deh. Gimana?” tawarnya. Berpahala katanya? Sejak kapan perbuatan curang justru berbuah pahala? “Nggak tertarik” sahutku kemudian kembali merebahkan kepala ke atas meja. “Han, ayolah!” bujuknya sekali lagi. Aku tetap pada pendirianku, tidak akan memberinya contekan. “Zade!” panggil teman-teman yang mulai berdatangan. Mereka menatap kami aneh. “Ngapain kamu mojok disana? Berduaan pula?” Rifan mendekat ke arah kami. “Beneran nggak mau?” tanyanya lagi padaku menghiraukan Rifan, membuat Rifan semakin penasaran. “Kalian lagi ngomongin apaan sih?” Rifan kebingungan melihat kami bergantian. Aku hanya mengangkat bahu. Setelah melihat reaksiku yang masih kukuh tidak memberinya contekan, akhirnya dia menyerah. “Oke” ujarnya dengan nada kesal. “Kantin, yuk!” dia merangkul Rifan kemudian mengajaknya pergi. “Kamu tadi ngomongin apa sama Hana? Sejak kapan kalian jadi dekat?” tanya Rifan, suaranya masih terdengar hingga ke dalam kelas. “Bukan apa-apa” sahut Zade samar-samar. Rasanya aneh, itu kali pertamaku berbicara banyak dengannya. Padahal selama beberapa bulan ini aku bahkan tidak memiliki teman bicara di kelas. Aku baru akan berinteraksi dengan teman-teman yang lain hanya pada saat tugas kelompok. Perlahan kursi yang tadinya kosong mulai terisi oleh pemiliknya. Jam pertama dimulai dengan pelajaran fisika, bu Tias memasuki kelas tepat waktu. Tidak sampai setengah jam pelajaran, suara ketukan dari balik pintu memecah gema suara Bu Tias yang melengking. “Ada apa, pak?” tanya Bu Tias. Kepala laki-laki paruh baya menyembul dari balik pintu, “Boleh pinjam Hananya sebentar, Bu?” ucap Pak Yahya. Semua orang menatapku. Entah iri karena terbebas dari pelajaran yang akan membuatmu menguap setiap detiknya. Atau justru mempertanyakan kemampuanku yang mendadak terpilih menjadi salah satu kandidat OSN. Sementara aku? lebih merasa terbebani karena harus meninggalkan pelajaran. “Iya, silakan” sahutnya. “Langsung ke Lab aja ya, Han” pesan Pak Yahya padaku saat perhatian seisi kelas masih tertuju padaku. Akhirnya dengan terpaksa aku menutup buku catatan fisika yang separuhnya masih kosong, kemudian beralih mengeluarkan seperangkat buku paket yang beberapa hari lalu sempat dipinjamkan Pak Yahya. “Psst, emang dia jago kimia, ya?” samar-samar kudengar pertanyaan itu saat berjalan keluar kelas. “Mungkin?” sahut yang lain tak tertarik. Aku berjalan menuju laboratorium dan menemui banyak pasang mata asing saat membuka pintunya. WHAT THE HELL! Apa aku salah ruangan? Kenapa isinya dipenuhi oleh siswa kelas XII? “Langsung masuk, Han” suruh Pak Yahya yang baru saja keluar dari ruang penyimpanan alat dan bahan-bahan kimia. “Tunggu di belakang dulu sebentar” tambahnya begitu melihatku yang kebingungan harus menunggunya dimana. Aku ikut memperhatikan materi kelas XII dari kursi belakang. Terlalu rumit, melihat senyawa karbon dengan rantainya yang begitu panjang sudah membuat kepalaku pusing. See? Aku bukan anak yang jenius. Harusnya bukan aku yang berada disini! Pak Yahya berjalan menuju ke arahku ketika kelas XII sedang mengerjakan latihan soal, “Mulai hari ini kita belajar untuk OSNnya di lab saja” ujarnya. Aku mengangguk, “Yang lain pada kemana pak? Bukannya masih ada satu orang lagi ya kandidat OSN kimia?” tanyaku. “Eh iya, bapak belum bilang, dari hasil tes minggu lalu kamu terpilih untuk mewakili sekolah” ujarnya menjelaskan. “HAH?” Sontak beberapa kaka kelas yang berada didekat kami menoleh ke arahku. Aku membekap mulut. Bagaimana tidak terkejut, pasalnya pada saat tes aku hanya mengerjakan beberapa soal, selebihnya kukerjakan asal-asalan! Pak Yahya tersenyum, “Tunggu sebentar disini, saya tutup pembelajaran dulu. Setelah itu baru kita mulai latihan soalnya” ujarnya berlalu meninggalkanku yang masih terkejut dengan berita yang disampaikannya. “Baik semuanya, pembelajaran hari ini kita sudahi lebih awal. Karena setelah ini bapak harus mengajari Hana untuk persiapan OSN. Sebelum keluar lab, rapikan dulu meja dan jangan sampai ada sampah atau barang yang ketinggalan” pesan Pak Yahya yang mengundang euforia tersendiri bagi para siswa. “Eh, iya Arsyan!” panggil pak Yahya pada mantan ketua osis. “Kenapa pak?” tanyanya, dia kembali masuk ke dalam laboratorium. “Tugas tadi, nanti kamu kumpulkan ke ruangan bapak” perintah pak Yahya. “Lho.. Saya kira tugas tadi nggak dikumpulin pak” ujarnya cengengesan. “Bapak berubah pikiran. Sebelum istirahat pertama harus sudah ada di atas meja bapak, ya!” “Iya, nanti saya kumpulkan” sahutnya patuh. “Tahun ini perwakilan kimia dari kelas mana pak?” tanya Arsyan, tiba-tiba penasaran. “XI IPA 1, kenapa?” tanya bapak Yahya. “Si juara umum?” tanyanya takjub kearahku Aku menggeleng, cemas. “Sudah, keluar kamu” usir pak Yahya. “Sst! Sst! Semangat ya” ujarnya kemudian berlari saat mendapat tatapan sengit dari pak Yahya. Satu jam kami mempelajari latihan soal OSN yang sudah dicetak pak Yahya. Hanya beberapa soal saja yang sempat dijelaskannya, itupun sudah memenuhi lima halaman bolak balik kertas HVS. Dan yang kupahami? Hanya satu soal. Tiap kali pak Yahya mencoba memberikan contoh soal serupa, aku selalu ‘mandek’ di tengah-tengah jalan. Padahal baru saja dijelaskan, rasanya mendadak seperti orang bodoh. “Sisanya nanti kita bahas di pertemuan berikutnya” pesannya setelah terpaksa mengakhiri latihan karena lonceng istirahat berbunyi. Sebagaimana isi kepalaku yang ingin kabur ke kantin, kupikir Pak Yahya juga akan melakukan hal yang serupa. Namun, tebakanku meleset. Ketimbang mengganjal perut, beliau lebih memilih mengemasi kit senyawa karbon yang belum sempat dirapikan. Padahal jika dihitung-hitung, jelas pekerjaannya berkali lipat lebih melelahkan daripada aku yang hanya manut dan mangguk menyimak penjelasannya sedari tadi. Melihat pemandangan itu, hati mana yang tega meninggalkan beliau sendirian? Aku dengan sedikit nyawa yang tersisa ikut merapikan kursi dan memunguti sampah yang disembunyikan siswa di laci-laci meja. Hingga saat kakiku berada di barisan keempat, kutemukan kertas note kecil berwarna kuning. Benda itu terlihat kentara diantara lantai keramik putih. Kertas itu semakin menarik karena terdapat lukisan tokoh kartun bintang laut. Ya, tokoh itu adalah Patrick. Mendadak jiwa seniku terpanggil. Secara spontan kutambahkan gambar disana, Spongebob dengan celana kotak. Dan sedikit kububuhkan pesan disana, "Hei, bukankah tokoh Spongebob jauh lebih masuk akal untuk mengisi kertas ini?” tulisku tersenyum sendiri. Aku menaruh kertas itu lagi kebawah laci, tempat terdekat dimana kertas itu kutemukan. Lalu beranjak pergi begitu semuanya terlihat rapi. Huh, perutku sangat lapar! ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook