Manusia Hyperaktif

1239 Kata
MATA ku hampir saja keluar dari tempatnya saat mendengar Zade menyebutkan namaku begitu Pak Yahya menawarkan siapa yang ingin menuliskan jawaban tugas minggu lalu di papan tulis. Aku tidak pernah tahu kalau laki-laki hyperaktif itu begitu pendendam. “Ya, Hana, maju ke depan, tuliskan jawaban kamu” Pak Yahya mempersilakanku. Aku mendelik tajam pada Zade. Dia dengan santainya tersenyum padaku lalu menyemangati dari kursinya. Langkahku terasa berat, ditambah tatapan seisi kelas yang membuatku seperti makhluk asing, terintimidasi. Banyak sekali kekhawatiran yang bermunculan di kepala saat berada di depan, apa tulisanku miring? Atau apa resleting rok ku terbuka? Hingga bisaku dengar desisan kecil teman-teman dari belakang. Dengan gemetar kuselesaikan jawaban yang sudah kukerjakan tadi malam. “Sudah pak” kataku saat berhasil menyelesaikan tulisan lalu mengembalikan spidol ke atas meja. “Ya, sekarang jelaskan jawabanmu kepada teman-teman yang lain” tambah Pak Yahya masih dari kursinya. Apa sekarang telingaku mendadak bermasalah? Bukankah perintahnya tadi hanya menuliskan jawaban saja? Kenapa tiba-tiba disuruh menjelaskan juga? Lagipula bukankah jawaban yang ku tuliskan sudah sangat jelas? Bahkan saat ini aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Aku mulai panik. Seisi kelas menatapku khawatir lantaran tak kunjung membuka suara. Tenggorokanku tercekat, aku tidak mempersiapkan apapun, akhirnya aku menunduk. “Saya, tidak bisa pak” kataku pelan. “Ya, sudah. Kembali ke kursimu. Biar bapak yang jelaskan” ujarnya lembut tanpa tuntutan, mengambil alih seluruh perhatian yang tadinya tertuju padaku. Aku kembali ke tempat duduk dengan perasaan kecewa pada diri sendiri. Kenapa harus sebegitu takutnya untuk sekedar menjelaskan apa yang kutuliskan? Rasanya malu sekali. Sedangkan disisi barisan lain, ada Zade yang terus-menerus memanggilku. Aku meliriknya datar. “Maaf” ujarnya sambil menangkupkan kedua tangannya. Harus ku apakan anak itu? Dia yang membuatku berada di posisi ini! Aku menghela nafas sebelum akhirnya kembali memperhatikan penjelasan Pak Yahya di depan tanpa memedulikan permintaan maafnya. Apa drama ini berakhir begitu saja? Tidak. Akibat sikap acuhku tadi, sepanjang jam pelajaran dia terus-menerus menggangguku. Dia membuat berbagai alibi hanya untuk bisa mendekat ke mejaku. Mulai dari dilemparkannya pulpen hingga melayang ke atas mejaku, padahal jarak meja kami lumayan berjauhan atau dia akan berpura-pura meminjam tip-X milik ku, padahal aku yakin tidak ada yang bisa dihapus dari catatannya karena memang tidak ada yang ditulis disana! “Wassalamu’alaikum wr. wb.” Pak Yahya akhirnya menutup kelas pada hari itu. Tanpa basa-basi Zade mendatangi meja ku, “Han” panggilnya. Anak-anak yang lain tidak terlalu memperhatikan kami, mereka sudah seperti cacing kepanasan, berlarian keluar kelas begitu mendengar lonceng istirahat kedua berbunyi. “Kenapa?” tanyaku ketus. “Maafin aku ya” mukanya memelas. “Untuk apa? Memangnya kamu punya salah?” aku bertanya lagi dengan nada sinis. Sengaja, agar dia semakin merasa bersalah. “Nggg…. Beneran, tadi itu niatnya bercanda. Aku juga nggak tahu kamu bakalan disuruh ngejelasin. Kamu tahu sendiri, aku belum ngerjain PR sama sekali” “Oh, maksudnya, aku jadi tumbal buat nutupin ketelodaran kamu?” simpulku santai. “Nggak gitu, Hana” Zade mulai panik dengan tuduhanku yang blak-blakan. “Lalu, apa?” tanyaku membuatnya semakin terpojok. “Intinya yang tadi diluar prediksi dan aku bener-bener minta maaf” “Dan hak aku juga dong buat nggak maafin kamu?” “Gak bisa ya, kamu suruh aku ngelakuin apa gitu biar bisa dimaafin. Plis” lobinya agar aku tertarik. “Oke, mulai sekarang kamu jauh-jauh dari aku. Kalo perlu pindah tempat duduk sekalian ke ujung sana” tunjukku kesebelah barisan kiri. “Kalau itu nggak bisa, aku sudah terlanjur nyaman di kursi yang sekarang” ujarnya yang sudah tiba-tiba duduk di depanku, pemilik kursinya entah pergi kemana. Sekarang aku yang tidak nyaman. Melihatnya yang tidak ada tanda-tanda bangkit dari hadapanku, akhirnya aku yang berinisiatif untuk keluar dari kelas. “Mau kemana?” dia mendongak menatapku bingung. “Keluar, mau sholat” aku bangkit dan berjalan menuju pintu kelas. “Yuk, bareng” ujarnya yang sudah berdiri dan menghampiriku dengan sumringah. “Apa sih, cringe banget” ucapku tak suka. Menyebalkan sekali melihatnya yang bersikap sok kenal dan sok akrab seperti ini, seolah masalah tadi tidak pernah terjadi. Dia mengikutiku, membuat kami berjalan bersisian. Beberapa siswa yang berselisihan dan yang sedang nongkrong di depan kelasnya terperangah melihat kami. “Oi, Zade! Kemana?” panggil Ayat. Namanya Hidayat, tercetak jelas di name tag d**a sebelah kirinya. Tapi, kelakuannya seperti orang yang tidak pernah mendapat hidayah. Dia, sudah lama terkenal, namanya sering dipanggil melalui speaker sekolah yang nyaringnya sebelas dua belas dengan toa masjid. Biasanya untuk absen bertatap muka dengan guru BK, entah karena ketahuan bolos, datang terlambat, atau karena memakai atribut yang tidak lengkap. Sekarang saja, kemeja putihnya terbuka lebar menampilkan kaos hitam bergambar tengkorak. “Mushola” ujar Zade nyengir tak jelas. “Dih, insaf kamu?” ejeknya meragukan. “Gak gitu, meskipun berbuat maksiat ibadah harus tetap jalan, bro” Sahut Zade lagi kemudian tertawa cekikikan dengan teman speciesnya. “Ikutan gih” ajaknya “Nanti lah, nunggu bunyi azan” sahut Ayat kemudian melirik ke arah ku. “Siapa tuh? Cewek baru lagi?” Ayat mulai penasaran. Aku terkejut dengan pernyataan Ayat, kalau dia saja bisa berpikir demikian, bukan mustahil teman-teman yang lain berpikir seperti itu juga, kan? Padahal setengah hari ini aku sudah cukup kesal dengan ulah Zade, ditambah dengan dugaan Ayat yang tidak berdasar membuatku semakin mendidih. “Nggak!” “Bukan!” ujar kami berbarengan. “Ciyee bisa kompak gitu” godanya membuat emosiku memuncak, aku pergi meninggalkan mereka dengan raut yang tidak lagi bisa dikondisikan. “Ternyata dia bisa juga masang ekspresi selain muka datar” ujar Zade cekikikan kemudian mengejarku “Han, tungguin. Katanya mau bareng!” begitu mendengar teriakannya aku langsung berlari. Anehnya dia justru ikut berlari dibelakangku, dan terjadilah aksi kejar-kejaran yang tidak berfaedah. *** Rumah itu tempat pulang, tapi entah mengapa aku justru enggan pulang. Betapa rasa iriku memuncak setiap kali melihat teman-teman yang begitu terburu-buru ingin pulang ke rumah. Aku sengaja keluar kelas paling akhir, agar tidak berjejalan diantara lautan siswa. Padahal baru lima menit setelah lonceng berbunyi, koridor sekolah sudah sepi. Hanya beberapa ruangan yang masih terdapat beberapa siswa, sepertinya mereka sedang bersiap-siap untuk ekskul sore. “Padahal tadi jalannya santai, tau-tau sudah sampai parkiran” gumamku yang sudah berdiri di depan sepeda. Kondisinya benar-benar naas, sepedaku tergeletak di tanah, tidak ada satupun dari mereka yang membenarkan posisinya. “Kenapa sih mereka pada rusuh mau pulang, kaya rumahnya mau kabur aja” gerutuku, sambil membetulkan sepeda pada posisi seharusnya. “Kirain udah pada pulang, ternyata masih ada orang” tegur seseorang, Arsyan! “Eh, si olimpiade kimia?” tunjuknya tepat di depan wajahku. “Duluan kak” kataku sambil mengangguk sopan. “Iya, kan kamu yang tadi pagi di Lab?” tanyanya antusias. Kursi bagian penumpang sepedaku ditahannya. “Iya, kak. Ada apa ya?” tanyaku gemas sambil mengelap bulir-bulir peluh yang bermunculan. “Kalo ada yang nggak kamu ngerti, kamu boleh tanya aku, itu pesan Pak Yahya tadi siang waktu aku ke kantor” ujarnya tersenyum. “Memangnya tahun lalu kakak dikirim sebagai perwakilan OSN kimia?” tanyaku skeptis. “Iya” ujarnya lagi, kulihat tangannya masih belum berpindah. Mau sampai kapan dia memegangi sepedaku? “Oh, iya” kataku singkat, ingin segera mengakhiri pembicaraan, sekarang ini matahari sedang terik-teriknya. “Anu, kak, saya sudah boleh pergi, kan?” kataku hati-hati. “Eh, iya, maaf maaf” ucapnya seolah sadar apa yang dilakukannya. “Duluan kak” ucapku berpamitan sambil mengayuh pelan. “Iya, hati-hati” ujarnya lagi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN