Hal Memalukan

1160 Kata
“GIMANA? Sudah paham?” Pak Yahya baru saja menjelaskan penyelesaian soal yang tidak kumengerti untuk kedua kalinya. Kali ini aku hanya meringis tidak enak lantaran masih tidak mengerti. “Bagian mananya yang masih belum ngerti?” ulangnya dengan sabar. “Ini lho pak, gimana cara membedakan kalau hasil akhirnya bakalan ngelepas hidrogennya atau malah OHnya” “Ya, kalau itu kamu memang harus hafalin ini dulu, Hana. Jenis soal yang ini agak tricky memang, harus ekstra teliti” beliau menunjuk tabel aturan kimia karbon. Aku mengangguk, mengiyakan perkataan Pak Yahya. “Kalau gitu, latihan hari ini sampai sini dulu. Nanti sambil dicoba juga dirumah. Biar cepet ingat” “Baik, pak” “Habis ini kamu masuk pelajaran apalagi?” “Sejarah pak” kataku sembari membereskan kertas-kertas yang digunakan sebagai coret-coret latihan hari ini kemudian menjepitnya menggunakan penjepit kertas ukuran besar. “Alhamdulillah” sahutnya. “Kok alhamdulillah?” “Iya, kalo masuk materi matematika atau fisika, bisa keluar asap dari kepala kamu. Bapak jadi merasa bersalah karena sudah salah pilih hari” ujarnya lantas terkekeh sendiri. Aku tersenyum. “Eh, Zade? Ngapain?” tegurnya begitu kepala Zade menyembul dari balik pintu yang terbuka lebar. “Nggak papa.” Dia melihat kearahku sebentar. Aneh. Hari ini tingkahnya sangat aneh dari biasanya. Sejak pagi dia sudah terlalu banyak bicara. FLASHBACK Baru saja bokongku menyentuh kursi, suara Zade dari depan pintu membuatku menghela nafas. Dia berjalan ke arahku, aku menatapnya dengan malas. “Tadi malam tidur jam berapa?” Sekarang dia sudah menempati kursinya Bilqis. Kenapa waktu tidurku menjadi hal penting untuk ditanyakan olehnya? Dan lagi kenapa dia jadi sering mampir kedepan mejaku dulu sebelum pergi ke kursinya! “Nggak tahu. Nggak lihat jam” sahutku malas-malasan. Aku mengeluarkan beberapa buku paket kimia dan latihan soal kimia untuk kubawa ke laboratorium pagi ini. Hari ini jadwalku latihan untuk persiapan OSN. “Latihan lagi, ya?” tanyanya yang masih berada di depanku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaannya. “Susah?” aku menatapnya sebentar, dia terlihat penasaran. “Apanya?” “Soalnya lah. Apalagi?” “Sorry, Zade. Ini kursi aku” interupsi Bilqis yang ternyata sudah berdiri di hadapan kami. “Bentar dulu. Kamu duduk di kursi lain aja” usulnya. Wajah Bilqis merengut tak suka. “Gak bisa. Aku mau bahas tugas nih sama Hana” sahut Bilqis tak mau kalah. Zade menatapku sebentar, kemudian bangkit. “Kenapa dia?” tanya Bilqis yang berhasil merebut kembali kursinya. “Nggak tau” sahut yang juga keheranan dengan sikap Zade. “Eh, iya tugas Bahasa inggris, minggu depan sudah harus dipresentasiin nih. Kita kumpul dimana nanti buat ngerjain tugasnya?” bukanya begitu berhasil merebut tempat duduknya. “Terserah aja. Aku ngikut kalian” kataku diplomasi. “Kafe mau, nggak?” tawarnya yang membuatku terdiam sebentar lalu bersikap seperti biasanya. “Kata Kiara ada kafe yang baru buka. Tempatnya cozy sama instagramable” jelasnya antusias. Ya, Tuhan. Sepertinya aku lupa dengan gaya hidupnya Bilqis yang cukup fashionable dengan sweater atau hoodienya yang sering gonta ganti. Dan fatalnya lagi aku sudah mengatakan kata ‘terserah’ padanya. Mana kutahu kalau pilihannya akan jatuh ke tempat-tempat anak gaul biasanya nongkrong? Menyentuh pelatarannya saja belum pernah, apa kabar dompetku nanti? “Mau?” tawarnya yang masih belum mengambil keputusan. Aku menatapnya ragu. Mana mungkin aku menolak tawaran Bilqis setelah melihat ekspresi mukanya yang menunjukkan ‘AKU SANGAT INGIN KESANA’. Aku menghela nafas lalu bertanya, “Kapan?” barangkali masih ada waktu untuk menabung pikirku menenangkan diri. “Akhir pekan ini, hari minggu, bisa?” Hari ini hari rabu, itu berarti masih ada waktu tiga hari lagi! Kalau berhemat selama beberapa hari, aku bisa ikut mereka. Aku mengangguk, “Bisa” sahutku dengan mantap. Eh, tapi berapa harga makanan dan minuman dikafe? “Oke deh, nanti aku kabarin Kiara. Pasti dia seneng” sahutnya riang. *** “Anak Olimp tuh beda, ya. Saat yang lain pada nyerbu kantin, dia malah nongkrong di perpus” seseorang tiba-tiba sudah duduk dihadapanku sambil membuka-buka buku. Aku menatapnya, terkejut. Arsyan! “Nggak ke kantin?” tanyanya lagi yang sudah menutup bukunya lalu menaruh kesamping kanannya. ‘Nggak, lagi ngehemat uang jajan buat nongkrong ke kafe minggu ini!’ Mana mungkin aku membeberkan alasanku yang terdengar menyedihkan ini. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaannya. Dia mengangguk seakan berkata “Oh” secara tidak langsung. “Kakak juga beda. Jam istirahat juga di perpus” sahutku melihatnya yang menandai beberapa daftar isi pada buku paket itu dengan tanda bintang. “Iya, nih. Habis mapel Bahasa indo, disuruh buat baca-baca soal UN di perpus. Sekalian, nyari buku-buku UN buat mapel lain” “Maret ya OSNnya?” dia bertanya “Iya, Kak. Udah deket. Makanya Pak Yahya makin banyak ngasih PR” Arsyan tertawa mendengar keluhanku. “Pak Yahya kejar tayang banget, ya” “Dulu kakak masuk tiga besar?” dia mengangguk “Juara satu?” tebak ku lagi Dia menatapku kemudian mengangguk lagi, tanpa sadar mulutku menganga karena takjub dengan keberhasilannya. Dan dalam satu waktu, kenyataan yang kudengar barusan juga berhasil membuat ku tersadar bahwa aku tidak akan bisa mengikuti jejaknya. Sudah pasti Pak Yahya akan kecewa! Seolah tahu apa yang sedang kupikirkan, dia kembali bersuara “Jangan dibikin beban. Kerjain sebisa kamu aja. Pak Yahya nggak bakalan nuntut kamu harus juara kok. Lakuin yang terbaik, supaya kamu nggak ada penyesalan” terangnya dengan santai. “Dulu Pak Yahya bilang begitu juga ke aku” tambahnya membuatku mengangguk-angguk. ‘Tapi kan tetap aja, spek isi kepala kita beda, kak!’ komentarku dalam hati. “Bahas OSN jadi laper, ya. Mau ikut ke kantin, nggak?” tawarnya yang sudah membereskan buku yang akan dipinjamnya. Aku menggeleng, “Nggak, makasih” kataku kemudian kembali membolak-balik halaman buku yang sebenarnya tidak k****a. Sejujurnya aku hanya kabur agar memiliki alasan untuk tidak pergi ke kantin. Setidaknya, alasan ini terdengar jauh lebih keren daripada jujur tentang keadaanku. Memangnya apa yang akan terjadi jika mereka tahu tentang kondisiku yang sebenarnya? Yang ada aku hanya akan mendapati tatapan kasihan dan ekspresi wajah tidak enak dari anak-anak kelas. Aku menelungkupkan kepalaku dan memegangi perut yang mulai berbunyi. ‘Oh, ayo lah, bertahan lah beberapa jam lagi. Sebentar lagi waktunya pulang kok’ monologku dalam kepala, mengendalikan perut agar tidak mengeluarkan suara. “Disini rupanya” gumam seseorang. “Ngapain? Belajar lagi? Rajin banget” komentarnya tak henti-henti. Aku mengangkat kepala, dan kutemukan wajah menyebalkan itu lagi. “Kenapa? Apa sekarang belajar diperpustakaan dilarang?” “Nggak” Zade menarik kursi disebelahku. “Kalo jam istirahat tuh digunain buat istirahat. Bukannya belajar. Nggak usah sok ambis lah” nasehatnya yang memancing emosi. Aku mengepalkan tangan, “Tahu apa sih kamu ….” Saat jari telunjukku mengarah tepat di depan wajahnya, tiba-tiba suara aneh yang berasal dari perutku berbunyi nyaring. Kulihat Zade menutup mulutnya, menahan diri agar tidak tertawa. Wajahku memanas. Dengan sigap aku melarikan diri dari hadapannya. Ya, Tuhan! Apa engkau sedang mengutukku karena sering menyimpan jengkel pada ayah? Aaarrgghhhh… memalukan! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN