RASANYA seperti de javu saat Zade lagi-lagi menaruh- tidak kali ini dia melemparkan sebungkus roti ke mejaku kemudian bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Aku tidak bisa bersuara karena sekarang Pak Abian sedang mendemonstrasikan detik-detik proklamasi dengan khidmat.
Apa sekarang saatnya menerima kebaikan darinya, tanpa menaruh curiga jika dia sedang mengharapkan balasan dariku?
Aku sangat meyakini bahwa ‘tidak ada makan siang gratis di dunia ini’ karena itu sangat sulit bagiku menerima bantuan oranglain tanpa panjang pikir.
Masalahnya keadaanku sekarang berada difase kritis. Aku sama sekali tidak bisa fokus mendengarkan penjelasan dari Pak Abian. Disisi lain juga khawatir kalau-kalau ditunjuk ‘lagi’ untuk menjawab pertanyaan darinya yang tiba-tiba.
Perlahan namun pasti tanganku meraih roti yang ada tepat di depan wajah. Zade masih fokus dengan buku catatannya, sesekali memperhatikan Pak Abian yang sedang menulis di papan tulis. Dihitungan ketiga aku berhasil menggigit roti selai coklat setelah mengoyak sebagian bungkusnya di bawah meja.
Belum sempat aku menelan roti itu, tanpa aba-aba Pak Abian berbalik. Jantungku hampir keluar dari tempatnya. Dan secara otomatis gerakan mengunyah dari gigiku terpaksa berhenti.
Aku tidak ketahuan, kan?
Pak Abian membuka tasnya kemudian mencari-cari sesuatu dari dalam sana. Lantaa kembali berbalik menghadap papan tulis begitu berhasil menemukan benda yang dicarinya, yaitu spidol merah dan menandai beberapa part penting menurutnya. Aku yang melihat kesempatan itu dengan terburu-buru menelan roti yang sudah siap untuk dicerna lambung.
Pak Abian itu tipe guru jaman dulu. Dia sama sekali tidak bisa mentolerir ketidak tertiban para siswa. Termasuk makan-makan didalam kelasnya. Pernah satu rumor beredar, kalau salah satu murid ketahuan tidur pada jam pelajarannya, tanpa segan dia melemparkan spidol hingga mengenai kepala siswa untuk membangunkannya. Karena itu juga, Pak Abian menjadi guru yang paling disegani atau lebih tepatnya ditakuti oleh para siswa.
Aku berhasil menghabiskan separuh dari roti yang diberikan Zade dengan perasaan cemas. Berkatnya kenaikkan asam lambungku berhasil ditekan. Ku lihat Pak Abian kembali ke kursinya. Dia membolak-balik bukunya. Kemudian menatap seluruh siswa satu persatu. Saat ini duduk dimanapun tidak akan bisa melindungimu dari telunjuk tangannya yang keramat.
“Rasyid, ulangi penjelasan bapak tadi” membuat punggung seluruh siswa menjengit, entah karena terkejut atau menghembuskan nafas lega karena tidak ditunjuk.
Rasyid menggaruk kepalanya, kebingungan mencari tulisan yang baru saja dijelaskan. Dia melirik ke samping, meminta pertolongan. Namun, tak ada satupun yang berani membuka suara.
“BPUPKI adalah Badan-“ Rasyid membaca ragu-ragu. Itupun dia ‘membaca’nya bukan menjelaskan! Belum sempat Rasyid menyelesaikan kalimatnya Pak Abian memotong.
Dia tersenyum masam, “Shofia, betul itu yang tadi bapak jelaskan?” tanyanya dengan nada sinis. Shofia menggeleng.
“Nah, selama penjelasan bapak tadi kamu kemana saja, Rasyid? Cuci mukamu kalau ngantuk!” Rayid menunduk.
“Bapak paling tidak suka, ya, kalau ada siswa yang tidur di kelas bapak. Itu sama saja tidak menghargai guru di depan. Kalian ini, baru SMA sudah seperti ini. Belum tahu saja kalau diperguruan tinggi. Habis kalian dikasih nilai E!” Pak Abian mulai marah.
Ah, sifatnya ini mengingatkanku dengan Ayah. Minta dihormati tapi lupa caranya menghargai. Minimal introspeksi dirilah, apa yang sekiranya membuat kami-para siswa mengantuk.
Akhirnya sisa jam pelajaran hari ini ditutup dengan omelannya yang panjang soal karakter anak muda jaman sekarang yang merosot jauh dibandingkan jamannya dulu.
Aku bersiap menyampirkan tas ke punggung. Kali ini, aku tidak menunggu lautan siswa bubar dari tempatnya untuk bisa pulang. Karena sekarang roti yang tadinya kuhabiskan separuhnya ternyata hanya bisa menunda beberapa menit saja.
“Makasih” kata Zade yang tiba-tiba muncul menyejajari langkahku.
Aku menatapnya heran kemudian wajahku terasa menghangat begitu menyadari sesuatu,
‘Jadi, Zade melihat ku makan roti itu di kelas?’
“Makasih” ulangku pelan
“Apa?” katanya nyaring, dia berhenti melangkah
“Nggak papa” sahutku
Dia tersenyum, “Kayanya tadi aku dengar sesuatu yang baik”
“Nggak ada tuh” aku melajukan langkah untuk mendahuluinya, namun kakiku justru terseret kebelakang akibat tarikan tangannya pada ranselku.
Aku berhenti lalu berbalik untuk mengancamnya dengan tatapan mata yang melotot. Peringatanku berhasil, dia mengangkat kedua tangannya.
“Bukan aku” ujarnya panik kemudian menarik ayat disisinya,
“Ayat” tunjuknya pada laki-laki yang seragamnya entah hilang kemana dan menyisakan kaos biru.
“Hai, manis” sapanya membuat mataku berputar.
Anehnya, reaksiku barusan mengundang gelak tawa dari Zade. Apakah situasi sekarang ini lucu baginya? Baru saja aku berpikir kalau laki-laki hyperaktif itu lumayan baik, tapi sepertinya sikap husnudzan itu hanyalah pemikiran sia-sia. Zade tetaplah Zade, bocah laki-laki yang menyebalkan.
Aku menyerah kemudian berbalik, menghentikan situasi yang tidak menguntungkanku. Untuk apa meladeni mereka dengan emosi? Itu hanya membuang-buang energi. Aku menarik nafas kasar sebelum akhirnya beranjak pergi.
“HEI!” teriak Ayat spontan sambil berlari mendahuluiku. Aku menatapnya heran.
“MINGGIR-MINGGIR, Bidadari mau lewat” ujarnya menyisihkan para siswa untuk menepi, memberikanku akses jalan yang lebih luas kemudian mempersilakanku berjalan.
OH, MY GOD! Drama apalagi ini?
Sebagian siswa menatap Ayat kesal karena sudah menganggunya. Namun, sebagiannya lagi menyambut hal memalukan itu dengan sorakan menggoda, seolah bangga dengan aksi Ayat yang dianggap ‘gentleman’.
Sedangkan aku? Merasa horror dengan kondisi saat ini. Aku yang sangat benci dengan banyak perhatian tertuju seperti ini hanya bisa kabur, berlari sekencang yang ku bisa agar mencapai parkiran lebih cepat. Meninggalkan hal gila yang dibuat Ayat.
Ya, tuhan apa aku bisa pindah sekolah sekarang juga? Ini benar-benar memalukan.
Setelah mengayuh sepeda dengan terengah-engah berhasil membuatku tiba dirumah lebih cepat dari biasanya. Ibu terheran-heran melihatku yang sudah duduk di kursi meja makan tanpa melepas seragam, kecuali hijab yang tadinya berhasil kulempar sembarangan ke dalam kamar.
“Pelan-pelan makannya, Hana” ibu menegurku saat terserang cegukan karena pasokan oksigen dan makanan balap-membalap masuk melalui tenggorokan dan saluran pernapasan. Aku baru menyadarinya setelah makanan yang ku kunyah tiba-tiba sulit untuk ditelan.
Aku menyodorkan gelas minum, meminta tolong untuk diisikan air pada ibu. Dengan cekatan ibu menuangkan air putih ke gelasku sambil geleng-geleng.
“Mau kemana sih buru-buru gitu” dia bertanya
“Nggak kemana-mana kok, cuman kelaparan” sahutku yang masih menyuapkan nasi yang tersisa dipiring.
“Oh, iya. Uang bulanan yang ibu kasih masih ada kan? Dihemat, ya Hana. Ibu kayanya bakalan telat ngasih uang bulanan kamu” pesannya tiba-tiba.
Apa kabar rencana akhir minggu ini? Kalau uangnya kepakai semua, bulan depan jajan pakai apa? Masa puasa lagi?
“Sebagai gantinya kalau ibu sudah dapat gajian, nanti ibu kasih bonus buat kesabaran anak ibu” ujarnya sembari tersenyum.
“Ibu kerja? Kerja apa?” kali ini aku yang dibuat keheranan dengan berita yang dibawa ibu.
“Yah, bantu-bantu di kebun tetangga, lumayan lah buat nambah-nambah” jelas ibu. Aku hanya mengangguk pelan.
Sebenarnya aku tidak tega melihat ibu yang harus turun tangan menggantikan Ayah untuk mencari nafkah. Tapi, mau melarangpun aku tidak punya solusi yang lebih baik. Serba salah.
Kenapa hidup rasanya hanya seperti mengisi perut lalu menunggu waktunya mati?
Posisiku disini hanya seperti beban untuk ibu. Karena itu, cita-citaku saat ini hanya ingin cepat lulus dan segera bekerja untuk membantu ibu memenuhi kebutuhan sehari-hari, lalu membiarkan ibu bersantai tanpa perlu mengkhawatirkan uang.
Apa itu sulit untuk dikabulkan, Tuhan?
***