SEISI kelas ricuh, menarik kursi untuk membentuk kelompok sebelum akhirnya mendapat instruksi baru dari Bu Neneng.
Terlalu banyak membuang-buang waktu. Bukankah lebih efisien jika mereka hanya membawa badan lalu bertukar tempat?
Pemandangan itu mengusik fokusku yang sedang menenangkan diri. Ya, hari ini tugas bahasa inggris akan dipresentasikan. Bu Neneng menyerahkan beberapa lembar kertas penilaian pada masing-masing kelompok.
Menyimak kemudian menilai presentasi kelompok lain adalah hal mudah. Jika kamu tidak suka, kamu bisa memberikan nilai paling rendah untuk mereka. Jika suka, kamu bisa memberi nilai yang baik, tentu saja tidak ada nilai sempurna untuk kelompok lain.
Disinilah ajang sikut-sikutan kalian diperlihatkan. Dan sebagai syarat, mari lupakan ikatan pertemanan, jika tidak ingin sakit hati tentunya.
Iya, anak-anak ini seegois itu. Karena itu juga Bu Neneng sampai menekan bagian pelipis kepalanya. Nampaknya Bu Neneng sudah salah strategi, idenya ini lebih terlihat seperti senjata makan tuan. Bermaksud membuat kelas jadi praktis malah berubah menjadi adu jontos.
Baru saja kelompok Zade kembali ke kursinya, dia sudah menyorobot kertas penilaian yang ada padaku.
“Heh, apa ini? Satu poin untuk intonasi? Kamu nggak salah?” katanya menaikkan suaranya.
Kepanikan menghinggapiku, tatapan anak-anak tiba-tiba tertuju pada komentar Zade.
“Kenapa? Emang bener kan suaramu pelan kaya semut, hampir nggak ada suara sama sekali” sahutku mencoba tak gentar. Beberapa diantara kelompok lain menahan tawanya.
Kulihat Bu Neneng tersenyum dari meja depan. Dia tidak mendukung Zade ataupun aku sama sekali. Dia memilih menjadi pihak netral, tidak langsung menghakimi. Karena hal ini rasa kagumku padanya semakin bertambah.
Zade kembali ke kursinya dengan raut kesal. Sepertinya dia tidak terima dengan penilaian individu yang kuberikan. But, I don’t care.
“Oke, selanjutnya kelompok empat. Silakan maju ke depan untuk mempresentasikan tugasnya”
Bilqis berjalan lebih dulu, disusul Kiara kemudian aku. Bilqis bertugas sebagai moderator dan menyerahkan bagian penjelasan pertama pada Kiara.
Penjelasan bagian pertama dibawakannya dengan lancar, tegas dan jelas. Dan hal yang paling membuatku terkesima adalah dia menerangkan bagiannya dengan percaya diri.
Kiara menyebutkan namaku untuk melanjutkan bagian kedua. Aku memandangi seisi kelas, seluruh aktifitas yang tak terlihat dari mejaku kini terpampang jelas saat berdiri didepan.
‘Kamu sudah latihan tiap hari, hari ini pun kamu pasti bisa! Baiklah, here we go!’ monologku dalam hati.
Aku memulai presentasi perlahan-lahan, sesekali kuberanikan menatap balik mata teman-teman.
Hei, ternyata tidak seburuk itu!
Mulutku bergerak dengan mantap, dan aku masih bisa mendengar degup jantung ku. Tapi perasaan ini berbeda dengan menuliskan PR kimia waktu, ini lebih seperti perasaan semangat!
Aku menjadi lebih percaya diri saat teman-teman menyimak baik-baik kalimat demi kalimat yang kusampaikan. Hingga sebuah interupsi dari Zade membuat presentasiku terhenti.
“Kurang nyaring!” suaranya lantang, diwajahnya muncul smirk licik, membuatku mengepalkan jari-jari.
Fine!
Aku menarik nafas, kemudian melantangkan suara lagi. Presentasiku berlanjut dengan lancar hingga selesai tanpa gangguan. Dan sepanjang itupula Zade bungkam, aku tersenyum menang.
“Penjabarannya sudah bagus, ya. Untuk pelafalannya pun sudah cukup baik. Tepuk tangan dulu untuk kelompok empat. Silakan kembali ke tempat” komentar Bu Neneng positif.
Seketika itupula riuh tepuk tangan mengiringi langkah kami menuju kursi terasa menyenangkan. Kali ini aku berhasil mengatasi ketakutanku berbicara di depan teman sekelas.
‘Good job, Hana’ pujiku sendiri.
Tepat setelah kelompok terakhir mendapatkan komentar dari Bu Neneng, lonceng istirahat berbunyi. Jam pelajaran bahasa inggris berakhir.
Hari ini berbeda, bukan hanya karena tugas presentasi yang berhasil kutaklukkan. Tapi, karena dampak setelahnya. Anak-anak kelas, khususnya mereka yang memiliki dua kromosom X mendadak merapat ke mejaku. Mengajak kekantin bersama, diantaranya ada yang menanyakan cara agar bisa mengerjakan tugas bahasa inggris sebaik kelompok kami.
Situasi ini membingungkan. Aku terlalu terbiasa menyendiri hingga situasi normal seperti ini membuatku sulit bernafas.
“Kalian duluan aja” tolakku halus.
“Bilang aja kalo kamu gak mau temenan sama kita” ujar Shofia yang tiba-tiba bersuara dengan ketus.
Teman-teman yang lain saling menatap, menunggu pernyataanku.
“Ng-nggak. Bukan-,”
“Gak salah maksudnya?” lagi.
Kenapa hari ini dia bersikap begitu menjengkelkan, sih?
“Kamu sibuk ya, Hana?” tanya Bilqis yang juga berharap aku ikut ke kantin bersamanya.
“Aku lihat kok kamu sama kelompokmu main di kafe. Masa ke kantin bareng kita gak mau?” masih Shofia dengan kesinisannya.
Astaga kenapa urusan ke kantin bisa menjadi serumit ini?
“Aku harus ke perpus. Ada buku yang mau aku cari buat latihan nanti siang. Maaf, ya temen-temen” jelasku seramah mungkin.
Tanpa ba bi bu aku langsung melenyapkan diri dari hadapan mereka, dan tidak sempat mendengar bantahannya.
Suasana aneh macam apa itu? Sekalipun tidak pernah aku bermimpi menjadi anak populer seperti tadi-,
Sebentar? Memangnya kejadian tadi sudah bisa dianggap populer, ya? aku tertawa geli dengan pemikiran absurdku sendiri.
Aroma buku menguar ketika pintu perpustakaan terbuka. Aku mengangguk saat berpapasan tatap dengan penjaga. Dia tidak bergerak dari tempatnya.
Untunglah, jam istirahat tidak membuat perpustakaan tutup. Jika tidak, dimana lagi kutemukan tempat penampungan paling nyaman seperti ini?
Lantai licin mengkilap, wangi, AC kencang, jangan lupakan series komiknya yang banyak dan air putih gratis. Bahkan jika beruntung aku bisa tidur siang di sudut perpustakaan ini!
Misi puasa jajanku berlanjut hingga hari ini. Ya, ini bayaran sehari nangkring di kafe baru itu. Anggaran uang jajan sebulan lebih cepat habis karena kudonasikan untuk minuman dan desset yang enak itu. Dan akhirnya aku mengerti istilah 'ada barang ada harga'.
Kali ini aku berjalan menelusuri rak-rak komik. Mengambil beberapa dan membawanya ke sudut perpustakaan.
Sesekali aku berdeham untuk menetralkan suara cekikikan yang sempat terlepas. Khawatir kalau pengunjung perpustakaan kabur karena mengira pasien rumah sakit jiwa tengah lepas.
“Hei, ketemu lagi” sapa Arsyan.
“Boleh gabung?” izinnya.
Kenapa harus disini? Padahal masih banyak kursi kosong.
Meski demikian, kepalaku tetap mengangguk, mempersilakan.
Siapa aku yang berhak melarangnya?
“Baca buku sendirian tuh bikin cepet ngantuk. Gak ganggu kamu, kan?” katanya lagi.
“Nggak, kok. Asal Kakak nggak berisik aja” sahutku tanpa mengalihkan pandangan dari komik bergenre isekai.
“Kalo berisik? Bakalan kamu usir?” pancingnya.
“Nggak, lah. Kan perpustakaannya bukan punyaku” aku mencoba bercanda,
“Tapi ….” Aku sengaja menggantung, dia menunggu kalimatku selanjutnya.
“Ibu penjaga yang disana bakalan nendang Kakak. Kalau parah, besar kemungkinan gak dibolehin ke perpustakaan lagi dalam jangka waktu tertentu” ujar ku omong kosong. Dia mengangguk takzim.
Mana ada aturan seperti itu. Yah, sesekali jahil tidak apa-apa, kan?
“Tadi sudah sampai mana ya balon dialognya k****a?” monologku sendiri sambil tersenyum lega. Akhirnya dia menutup mulutnya dan berhenti mengajakku bicara.
Arsyan membuka buku catatannya. Terlihat sangat berwarni-warni untuk seukuran anak laki-laki kalem sepertinya. Aku sempat mengintip melalui ekor mata. Banyak sekali tertempel sticky note disana.
Saudara-saudara, ternyata dia bukan tipe anak yang mengandalkan IQ turunan saja, tapi juga rajin belajar. Hal itu kusimpulkan dari banyaknya catatan kecil pada sticky notenya yang membuatku sakit mata.
Dia membolak balik halamannya-,
Hei, pemandangan janggal apa itu? Kenapa sticky note kuning gonjreng ada disana? Bukan masalah warnanya, tapi kartun yang tergambar disana. Bukannya itu kartun yang kugambar di laboratorium waktu itu?
Mendadak aku kehilangan minat untuk melanjutkan komik yang sedang k****a.
Jadi, dia pemilik gambar Patrick itu? Kukira sticky note itu menghilang karena Lab sudah dibersihkan.
“Kenapa? Aneh, ya catatannya rame” tanyanya.
Aisss... Pakai acara keciduk merhatiin pula!
“Hah? Nggak. Kreatif, kok” sahutku canggung.
Kenapa mesti disimpan sih sticky notenya?
***