NAFAS ku tersengal diujung tenggorokan begitu berhasil mencapai putaran ketiga. Lambaian tangan Kiara dan Bilqis dari bawah pohon menghentikan rencanaku yang ingin melipir ke tempat lain. Dia bersama tiga gadis lainnya sudah menyerah begitu mendapati posisi matahari yang hampir mencapai garis equator.
Agaknya jam olahraga perlu direstrukturisasi lagi. Teriknya benar-benar sudah tidak masuk akal untuk berolahraga. Bukannya sehat malah-malah membuat sekarat.
“Semangat betul olahraganya” komentar Kiara, aku bergabung dengan gadis-gadis lainnya. Beberapa diantaranya tengah memegangi kipas portable.
Aku tersenyum hambar. Tak mungkin ku beberkan alasan dibalik itu semua adalah karena sidang dadakan dari ayah.
FLASHBACK (sebelum berangkat sekolah)
“Makan yang banyak” sodornya nasi goreng. Asapnya mengepul tepat di depan wajahku.
Ya, pagi ini aku diseret paksa ibu untuk ikut sarapan bersamanya. Dia mengancam tidak akan memberi izin pergi sekolah jika menolak. Akhir-akhir ini dia hobi mengancamku karena alasan sepele.
Malas-malasan kuangkat sendok untuk mendistribusikan nasi goreng ke mulut.
Ibu membuka pertanyaan lagi, “Ibu sering lihat kamu begadang. Banyak banget ya tugas sekolah?” ada kengerian didalam suaranya.
Aku mengangkat bahu, memberikan jawaban ambigu.
“Bukannya karena latihan soal olimpiade?” todong ibu.
Gerakan tanganku terhenti kemudian menatapnya, “Ibu geledah kamar, Hana?” tanyaku sedikit tidak terima. Meskipun anaknya, aku juga berhak punya privasi kan di rumah ini?
“Meja kamu berantakan. Ada banyak kertas, kebetulan soal-soal itu ada disana” jelasnya,
“Kenapa nggak cerita sama ibu, Hana?” tanyanya lembut.
“Cerita apa?” ayah yang tiba-tiba bergabung dimeja makan membuatku kehilangan selera.
“Ini lho, Yah. Hana dipilih sekolah buat ikut olimpiade” umum ibu bangga.
Mimik wajah ayah tidak berubah sama sekali, lalu berkomentar “Paling-paling sudah kalah diseleksi pertama”
DEG.
Pasokan udara disekitarku mendadak menghilang, mataku ikut memanas.
“Lagipun buat apa belajar sampai begadang? Ayah udah bilang kan, secukupnya aja. Kamu tuh terlalu ngejar duniawi. Lebih baik belajar ilmu agama, berpahala”
‘Iya, ayah aku tahu. Tapi, kenyataannya sekarang anakmu sudah berada di sekolah negeri. Tidak bisakah untuk menerima kemudian bersyukur saja?’ sahutku dalam hati.
Aku melepas sendok dengan kasar, “Sudah kenyang. Hana berangkat. Assalamu’alaikum” ucapku tanpa menyalami ibu ataupun ayah.
‘Inilah sebabnya, Bu, Hana tidak pernah mau cerita. Tidak akan ada yang berubah juga, kan?’ kataku dalam hati.
Seketika air mata yang sempat tertahan tumpah ruah disepanjang jalan.
***
“BTW. Udah pada tahu, belum” buka Fatya dengan badannya yang sedikit mencondong, gestur tubuhnya bertingkah seperti agen informan. Matanya melirik waspada.
“Tahu, apa?” sahut Shofia buru-buru. Spontan badannya ikut merapat disusul oleh aku, Bilqis dan Kiara.
Fatya merendahkan suaranya dramatis, “Ini Rahasia, ya” serunya membuat kami mengangguk patuh macam boneka goyang.
“Pak Dani pacaran sama Mila” infonya sambil memperhatikan ekspresi kami satu-persatu.
“Mila kelas XII IPS 3 itu? Wah, gila!” celetuk Shofia terkejut.
“Kata siapa? Emang ada buktinya?” sahut Bilqis skeptis, tak mau termakan gosip.
“Tau, nih. Kalo salah bisa jadi fitnah lho, Fat” tuduh Alba dengan kipas portable yang mengarah ke wajahnya.
Fatya tak terima, “Nah, kan. Ketinggalan berita. Tuh, guru-guru dikantor ama anak kelas XII pada heboh juga”.
“Kamu sendiri tahu darimana infonya?” sahutku ikut penasaran.
“Ya, ada lah, temenku kan banyak. Makanya gaul. Jangan ansos” sindirnya membuat senyuman Shofia terbit beserta deretan giginya. Aku merengut masam.
“Pantesan, Pak Dani lebih milih nongkrong dikantin Bu Salamah ketimbang ngajarin kita. Secara lewatin kelas IPS, kan? Ada pemandangan menarik rupanua. Pinter juga Pak Dani nyuri kesempatan” sahut Alba antusias.
“Nggak pinter gajadi guru dia” sahut Fatya gemas. Kami tertawa nyaring.
“Skandal terheboh nih buat taraf perakademikan” tambah Fatya.
“Jangan-jangan nilai penjaskesnya dikasih cuma-cuma” sahut Shofia, si gila nilai menggigiti jari.
“Effortless banget ya. Gak kaya kita, rakyat jelata musti panas-panasan” roasting Kiara, sinis.
“Kalo kata aku wajar, sih. Standar Mila kan beda, anak kepsek sekolah tetangga dia mah. Gak main dia ama kasta kita” tukas Alba. Memancing tawa kami pecah.
“Berarti Pak Dani punya tujuan terselubung dong. Deketin anak kepsek?” selidik Shofia serius.
“Nggak ngaruh juga si. Kan beda sekolah” sahut Alba.
“Katanya bukan sekali ini doang Pak Dani deketin murid. Tahun lalu juga ada yang dia tandain. Tapi gak berhasil” tambah Fatya menggebu, matanya berapi-api.
“Siapa? Siapa?” tanya Kiara dan lainnya, tak sabar.
“Putri. Gak tahu dan gak kenal juga yang mana orangnya. Cuman katanya, dulu dia primadona sekolah” jelas Fatya.
“Bentar, kalaunya orang yang kita maksud sama, kayanya aku kenal deh. Soalnya ada juga cewek deket rumahku alumni sini, namanya juga Putri. Cantik dia mah. Putih mulus, sipit-sipit kaya seleb korea” tambah Alba.
“Dih, Pak Dani seleranya mainstream banget, yang cantik-cantik” Komentar Bilqis.
“Bukan cuman Pak Dani, kayanya semua cowok kaya gitu” tuduh Kiara, membuat kami mengangguk setuju.
“Enak kali, ya punya pacar satu sekolah. Gak repot curigaan pacar kamu lagi nongkrong ama siapa” curhat Alba, berandai-andai.
“Baper! Baper!” Shofia menoyor bahu Alba yang perlahan menyender padanya.
Lagi, kami cekikikan.
“Kalo kamu, Hana? Tertarik pacaran sama cowok satu sekolah?” tanya Bilqis disusul dengan rasa penasaran yang lain.
Kenapa tiba-tiba tanya aku?
Aku menggeleng. Mereka mengangguk paham.
“Udah ketebak, sih” Shofia tersenyum meremehkan.
“Hana tipe milih jalan yang lurus kali” tebak Alba, positif thinking.
Fatya tertawa terbahak-bahak.
“Tapi, waktu di kafe kemarin kayanya ada cowok yang naksir kamu deh” umum Kiara tiba-tiba.
Aku memberikan ekspresi meragukan insting Kiara, kalau ditafsirkan: (Memanya ada?)
“Tuh, kan. Denial. Pasti gak pernah pacaran” tuduhnya. Mengundang cekikikan Shofia dan yang lain.
“Emang harus?” sahutku tak peduli.
“Cowok yang mana, sih. Kok aku gak lihat” Bilqis penasaran.
“Itu lho cowok kaos kuning soft” Kiara memberi clue.
“Sempet nanyain Hana waktu mesan minum di kasir” tambahnya.
“Oh, ya? Ih, ganteng lho, Han” Bilqis mengguncang lenganku bersemangat.
Tiba-tiba, dari arah yang tak diduga melayang bola futsal dan sialnya mendarat tepat di kepalaku. Refleks Kiara berteriak. Tanganku memegang bagian kepala yang terhantam bola tadi. Sementara mataku mengerjap-ngerjap, kaget. Wajah teman-teman yang lain meringis, prihatin.
Aku mencari dalang dibalik tragedi ini, dan kutemukan Zade berlari, “Sorry! Sorry!” ujarnya kemudian mengambil bola yang sudah menggelinding ke balik pohon. Aku mengepalkan tangan, masih tak ikhlas.
Dia berbalik, “Oh, iya. Jangan kebanyakan gosip” tegur Zade tak suka, sebelum akhirnya kembali bergabung ketengah lapangan.
“Apaan coba? Ngeselin banget” gerutu Kiara.
“Gak kebayang sih kalo jadi Hana, diganggu Zade mulu” komentar Fatya diiringi ringisan wajahnya.
“Iya. Waktu Bahasa inggris kemarin juga, kan? Satisfaying banget, gila! Pas Hana bilang suaranya kaya semut” sahut Bilqis.
Mereka semua tertawa, kecuali aku--masih merasa kesal karena kejadian bola tadi.
“Kamu kenal Zade udah lama, Han?” tanya Kiara.
“Gak. Baru di kelas ini malah” sahutku.
“Kok aneh, ya. Gelagatnya kaya cuman gangguin kamu terus” komentar Fatya.
“Kamu ngiri, Fat?” tuduh Shofia
“Ish, apa coba” ujarnya bergidik ngeri. Disusul tawa kami yang kali ini menggema lagi.
Hari ini entah mengapa suasana sekolah tidak sesuram dulu. Dan sudah berapa kali pula aku tertawa. Lama sekali aku tidak pernah terlibat dalam pembicaraan panjang seperti ini. Memiliki teman untuk membahas berbagai hal tidak penting, rasanya tidak buruk juga.
***