SEMARAH-marahnya anak, tetap saja letak surga itu diridho orangtua. Kali ini, ibu berdalih tidak akan memberi ridho jika aku berangkat olimpiade tanpa sarapan bersamanya.
Kadang muncul perasaan jengkel, karena ibu dengan mudah melupakan kejadian beberapa hari lalu di meja makan. Saat ayah, tidak pernah peduli apalagi mendukung urusan akademik ku.
Tadi malam ibu mampir ke kamar setelah menerobos pintu tanpa permisi. Membawakan secangkir teh hangat saat aku masih belajar.
Dan malam itu dia berhasil mengantongi informasi jadwal olimpiadeku dilaksanakan. Dan yang kusesalkan, ibu menguak berita itu di meja makan pagi ini.
Agaknya ibu berniat untuk membangun kembali keharmonisan hubungan antara ayah dan anak yang lama punah.
Hening mengisi meja makan. Ibu membuka suara.
“Kata Hana hari ini ya seleksi olimpiadenya? Semangat ya” tutur ibu hati-hati.
Diam-diam mataku ikut memperhatikan reaksi ayah.
Dia tidak bergeming.
‘Hah, memangnya apa yang kuharapkan darinya?’
Dia menenggak minuman, kemudian berbicara, “Kalau lolos, kamu dapat apa? Uang?” tanya ayah dengan nada skeptis.
Aku menatapnya terheran. Kupikir jika ayah peduli setidaknya keluar do’a atau kalimat dukungan untuk anaknha hari ini. Nyatanya, justru pertanyaan mengenai ‘hasil’ yang kuterima.
Bukankah pertanyaannya ini terasa tidak sinkron dengan petuahnya kemarin-kemarin; jangan terlalu mengejar urusan duniawi katanya, kenapa disini dia yang seperti sedang menjilat ludahnya sendiri?
“Nggak tahu” ungkapku jujur.
“Kalau gak dapat apa-apa lebih baik gak usah ikut. Buang-buang waktu” nasehatnya.
Ibu memegang tanganku, dia sedikit penepuk bagian punggungnya. Pandangan yang semula tertuju ke piring beralih padanya. Ibu memberikan sedikit kode melalui mata, seolah berkata; tidak apa-apa, jangan dipikirkan.
Ayah menyingkir dari meja makan setelah menghabiskan sarapan. Dan tanpa ucapan barang sepatah kata.
Apa sesulit itu mengatakan ‘Semangat’ atau ‘Semoga berhasil’ padaku?
Lagi, hari itupun aku berangkat tanpa mencium punggung tangannya dan bahkan tanpa ucapan salam.
“Hana berangkat dulu. Assalamu’alaikum” ucapku pada ibu
“Wa’alaikumussalam. Hati-hati. Semangat ya buat olimpiadenya” hanya ibu mengantarku ke depan pintu. Aku tersenyum hampa melihat ayah yang menyalakan rokok didekat jendela dengan santai.
Aku tidak ingat, kapan terakhir kali ayah bersikap hangat padaku. Hingga sekarang tak pernah lagi kurindukan sosoknya yang demikian. Meski begitu, kenapa rasanya masih sangat menyakitkan saat dia mengacuhkan keberadaanku.
***
“Kamu kenapa? Sakit? Wajahmu pucat” tanya Pak Yahya begitu bertemu.
Aku bersama peserta lainnya menunggu di depan ruang kompetisi. “Oh, ya? Nggak sakit, kok” tanganku masih membuka catatan rumus yang kubuat minimalis.
“Nggak perlu belajar lagi. Udah cukup” ujarnya kemudian merampas catatan kecil milik ku.
Aku ingin merebutnya kembali, tapi catatan itu sudah masuk ke dalam saku baju Pak Yahya.
“Main game aja, gimana?” tawarnya.
Sepertinya telingaku benar-benar bermasalah. Aku menatap Pak Yahya dengan tampang bodoh.
“Gimana Pak? Kayanya tadi Hana salah denger” ucapku masih tak yakin.
“Game apa yang biasa kamu mainin? Freefire? Mobile legend, bisa?” tanyanya tak menghiraukan pertanyaanku.
Aku semakin melongo. Kemana perginya Pak Yahya yang selalu memesaniku untuk mengingat pelajarannya?
Pria seumuran ayah itu tertawa, “Gak ada, ya?” tanyanya sedikit kecewa.
Aku mengangkat bahu, tidak tertarik.
“Begini, belajar disela waktu lomba itu udah gak efektif lagi, Han. Daripada tegang, lebih baik melakukan hal yang bisa bikin kamu tenang. Biar waktu ngerjain soal nanti, kamu bisa lebih santai dan fokus” jelasnya.
Aku mengangguk, mengiyakan.
Lihat, bahkan guru yang tidak memiliki hubungan darah maupun tali kekeluargaan saja bisa lebih perhatian padaku yang hanya muridnya. Benar-benar miris.
Pemberitahuan untuk segera memasuki ruangan menggema melalui speaker yang terpasang dibeberapa sudut koridor. Mengharuskanku berpamitan dengan Pak Yahya. Beliau tersenyum, mempersilakanku masuk.
“Semangat!” tangannya terangkat menekuk sikunya.
Aku tersenyum.
Andai, sikap ramahnya itu sedikit saja diberikan pada ayah. Mungkin- ….
Lagi-lagi aku berhayal.
Aku mengambil tempat duduk dibarisan tengah. Kertas soal sudah tersedia disetiap meja. Kira-kira berapa banyak soal yang bisa kukerjakan?
Di sudut barisan paling depan sebelah kanan pintu kutemukan murid boarding school, sekolah unggulan. Tahun lalu, sekolah itu menyabet semua juara diolimpiade sains. Menjengkelkan. Satu sisi, ada ketidakpercayaan diri, sementara disisi lain aku juga tidak ingin mengecewakan Pak Yahya.
“Silakan dibuka lembar soalnya. Waktu kalian dimulai dari sekarang. Jangan lupa untuk mengisi nama di halaman depan” pesan pengawas olimpiade yang berada di depan. Kemudian memainkan gawainya.
Empat puluh lima menit untuk menjawab soal lima puluh butir pilihan ganda dengan sempurna adalah kemustahilan. Kalau mau dibagi rata, itu berarti satu soal hanya mendapat waktu nol koma sembilan menit atau setara dengan lima puluh empat detik. Sudah pasti tidak cukup!
Strategi Pak Yahya aku hanya perlu mengerjakan semua pertanyaan yang ku yakini benar. Sisanya? Jawab saja secara random.
‘Jangan biarkan satu nomorpun kosong selagi soal itu tidak memiliki skor minus’ kalimat itu selalu terngiang di kepala, membuatku berulang kali mengecek lembar jawaban agar tidak satu nomor terlewat.
Kepalaku mulai terasa berat. Pengawas berjalan untuk mengingatkan sebentar lagi waktu habis.
“Waktu kalian tersisa satu menit lagi” ingatnya.
Aku semakin tergesa-gesa untuk mengisi jawaban yang ternyata masih banyak kosong.
“Kalau sudah selesai, kalian boleh keluar ruangan. Lembar soalnya tinggalkan di atas meja” instruksi pengawas. Dia mencapai mejaku untuk memunguti lembar jawaban yang ditinggal keluar pemiliknya. Jantungku memompa tidak stabil.
“Sepuluh, sembilan, delapan, ….” pengawas menghitung mundur.
Aku kelimpungan.
“Waktu habis. Silakan meninggalkan ruangan” ujarnya.
Hembusan nafas lega keluar, aku berhasil mengisi jawaban kosong yang berjumlah lebih dari separuhnya.
Aku berjalan keluar ruangan dan kutemukan Pak Yahya tengah duduk di kursi pagi tadi. Dia sedang berbicara dengan peserta bidang lain.
“Gimana, Hana?” tanyanya begitu mendapatiku.
“Tadi ada soal yang familiar tapi juga bikin bingung” ujarku masih penasaran.
“Kaya gimana soalnya” tanyanya.
“Apa, ya, tadi. Oh, Tentang asam-basa. Itu harusnya pakai rumus yang mana, Pak? Bunyi soalnya, Larutan X dengan konsentransi 7-log10-1 ditambahkan aquades sebanyak 1ml, berapa pH larutan tersebut?” ungkapku.
Guru lain yang berada di depanku ikut mengamati interaksi kami.
“Oh, itu kamu cuman perlu pakai rumus pengenceran, Hana. Pakai perbandingan MV1=MV2” jelasnya.
“Masa? Semudah, itu?” ujar
ku tak percaya. Kupikir jawabannya akan lebih rumit dari penjelasannya.
Pak Yahya mengangguk, “Terus tadi kamu jawab apa?”
“Karena Konsentrasinya 7-log10-1, jadi, Hana simpulkan jenis larutannya netral. Lalu, di campurkan aquades, maka larutannya berubah sifat menjadi basa. Tapi pilihan jawaban pH yang bersifat basa cuman ada satu, dan nilainya 10” ungkapku malu.
Pak Yahya tertawa, “Jadi kamu pilih 10? Harusnya kamu pilih jawaban yang paling dekat dengan angka netral. Karena sifat larutan itu gak bakalan berubah meskipun dicairkan, Hana” ujarnya santai.
Dia tidak menyalahkan ataupun kecewa denganku meskipun sudah mengerjakan soal asal-asalan.
“Yah, salah dong berarti?” aku menyayangkan jenis soal yang mudah ku sia-siakan.
“Gak papa. Kali aja jawaban yang lain banyak yang benar” ucap Pak Yahya optimis.
“Kalo, nggak? Gimana?” tanyaku pesimis.
“Ya, tahun depan coba lagi” sahutnya tak mempermasalahkan.
“Tapi kan, tahun depan Hana sudah kelas XII, udah gak bisa Pak!” aku merengek
“Oh, iya ya” ujarnya kemudian tertawa.
***