PAGI ini hujan lebih awal menyapa, membawa segala rahmat tuhan turun. Harusnya aku senang, karena salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa terjadi sekarang. Tapi, bagian menyebalkannya adalah aku berada di tengah guyuran air bah, tak terkira lebatnya. Kakiku berusaha keras mengayuh sepeda untuk mencapai gedung sekolah lantaran angin kencang datang dari arah berlawanan.
Apa harusnya kugunakan saja waktu mustajab ini untuk berdo’a agar hujannya segera reda? Ah, jangan. Sepertinya do’a itu akan terdengar aneh oleh para malaikat.
Seragam tadi malam yang sudah kusetrika dengan rapi, bahkan saking licinnya lalatpun bisa tergelincir. Namun hal itu tidak lagi berguna, karena seragamku sudah berubah menjadi kumuh nan kumal ditambah percikkan tanah oleh jalanan becek. Sempurna sudah cosplayku sebagai gelandangan hari ini.
Sialnya lagi, aku bahkan tidak membawa jaket ataupun baju olahraga untuk mengganti seragamku yang basah. Buku jari memutih, bibir membiru, badan menggigil, aku kedinginan. Aku sudah tidak sanggup kalau harus menghadang angin yang sedang menggila diluar sana hanya untuk mengeringkan pakaian basah ini.
Begitu masuk, kutemukan makhluk hyperaktif sedang duduk sendirian di kursinya sambil bersedekap ke dalam kantong jaket, dia terlihat begitu tenang sekaligus janggal dari sudut pandangku.
Kemana perginya orang-orang? Jangan-jangan mereka meliburkan diri karena hujan.
Zade menatapku.
‘Plis, kali ini aja, abaikan aku’ mohonku dalam hati.
“Hola!” sapanya tersenyum. Lalu menempati tempat duduk Bilqis.
“Kirain aku bakalan sendirian hari ini. Udah sempet kepikiran mau bolos. Tapi, gak jadi” bebernya.
Sungguh, aku tidak tertarik sama sekali dengan ceritanya.
Jam dinding kelas menunjukkan pukul delapan lewat. Tapi lonceng jam pertama belum dibunyikan. Apa guru-guru juga belum datang?
Perlahan tapi pasti, anak-anak mulai berdatangan. Yah, meskipun lebih banyak siswa yang mengambil jatah liburnya hari ini.
Hujan masih berlanjut, karenanya anak-anak berkeliaran, tak bisa diam. Anak kelas sebelah bahkan menyelonong masuk. Ah, kepalaku sakit.
“Halo manis” sapa Ayat ikut bergabung. Dia menarik kursi orang lain lalu mengurung tempat duduk ku.
Tak bisakah lain kali saja kalian menggangguku? Pikirku dalam hati.
Tanganku memijat pelipis, tak menghiraukan sapaannya.
“Wuis, sombong amat” ujar Ayat. Tangannya bertumpu ke mejaku.
“Nggak ada tempat lain ya selain disini buat nongkrong kalian? Nggak modal banget” ucapku dingin. Lalu bersender ke kursi.
“Why you gotta be so rude” komentar ayat sambil bernyanyi. Disusul tawa dari Zade.
“Bisa pindah ke meja lain?” mereka tidak bergeming.
“Tahu, nggak, kamu galak-galak kaya gini makin cantik. Makin mirip sama Bu Amalia” cerocos Ayat.
“Oke, kalo gitu aku yang pindah” aku berdiri dan mendorong kursi ayat kasar. Ayat terperangah dengan kekuatanku, yang berhasil menggesernya beberapa inci.
Sementara Zade berusaha menahan pergelangan tanganku, “Astaga, tangan kamu udah kaya es batu. Dingin banget, Gila!” jerit Zade.
“Kamu, gapapa? Wajahmu pucat lho” tanya Zade, aku menarik paksa tanganku, tapi justru semakin digenggamnya.
Apa tindakan ini sudah bisa kategorikan sebagai pelecehan seksual?
“Widiw, bisa aja nih bocah modusnya” komentar ayat heboh, tak membantu sama sekali.
“Lepas!” teriak ku marah.
Semakin gencar usahaku untuk lepas, genggaman tangannya justru semakin kuat dan berubah menjadi cengkraman.
Teman-teman yang lain tak ada yang membantuku sama sekali.
“TANGANKU SAKIT, ZADE!” akhirnya tangannyaku angkat, mulutku menganga menampilkan gigi-gigi yang siap mengunyah tangannya jika tak kunjung melepas.
“I-iiyaa, nih, nih, kulepas, kan?” Zade kelimpungan.
Aku memalingkan muka. Lalu menyembunyikan tanganku ke bawah ketiak. Zade, sialan!
“Hei, mau kemana?” tahan Zade lagi begitu melihatku yang berdiri.
“APA URUSANNYA SAMA KAMU?” sahutku sangar.
“Sabar, sabar, Bu. Kita gak gigit, kok” Ayat mengangkat kedua tangannya.
“Segitu gak maunya kamu deketan ama kita? Padahal kami berdua gak ngapa-ngapain, lho”
What? Apa katanya barusan? Tanganku barusan apa dong namanya kalo bukan di apa-apain?
“Kalian berisik!” sahutku ketus.
“Minggir!” teriak ku pada Ayat. Ayat melirik ke arah Zade, meminta pendapatnya.
“Kamu duduk aja disini. Biar kami yang pindah” ujarnya mengalah.
Harusnya dari awal kalian begitu!
Apa harus dengan kekerasan dulu baru mereka mengerti?
“Oh, iya. Nih, kamu aja yang pake” katanya sebelum pindah. Dia melemparkan jaket hitam putihnya padaku.
“Apa, sih? Gak mau” lemparku balik tak menghiraukannya.
“Pake atau kami duduk disitu lagi?” ancamnya membuatku bungkam.
“Cepet! Dipake” perintahnya.
Apa ini? Kenapa dia yang sewot! Meski begitu, aku tetap memakainya. Yah, lumayan hangat sih.
“Nah gitu, dong. Kan, enak kalo nurut” ujarnya kemudian tersenyum bangga.
Iewwww…. Menjijikan!
Kelas akhirnya dimulai pukul sebelas pagi, sepertinya guru-guru baru berdatangan sesaat setelah hujan mereda.
Kemunculan matahari membuat langit menjadi cerah, suhu didalam kelas perlahan menghangat, anehnya badanku masih menggigil.
Mataku terkantuk beberapa kali hingga pelajaran matematika berakhir, tidak bisa konsentrasi sama sekali. Kepalaku juga semakin berdenyut. Ada apa denganku hari ini?
Aku menelungkupkan kepala ke atas meja. Samar-samar keributan di kelas menghilang dari indera pendengaranku. Hingga goyangan bahu mengejutkanku.
“Han! Hana, Bangun” seseorang memanggilku.
“Oh, aku ketiduran” mataku menyapu sekeliling.
Kemana perginya ummat penghuni kelas ini?
“Sudah waktunya pulang” jelas Fatya yang siap dengan tas selempangnya.
“Kamu, gapapa? Badan kamu panas banget” tambahnya, wajahnya terlihat khawatir.
“Hah? Kenapa gak ada yang bangunin aku?” buru-buru kubereskan buku catatan ke dalam tas.
“Zade ngelarang kami bangunin kamu, bahkan ribut aja dimarahi ama dia. Sumpah ngeselin banget” jelasnya.
“Terus mapel PKK, gimana?” aku mengusap wajah, pias. Bisa-bisanya aku tertidur selama ini.
“Tenang. Kelas PKK kosong, Bu Intan gak masuk” jelasnya.
Aku menghembuskan nafas, lega.
“Syukurlah” ucapku,
“BTW, makasih udah dibangunin” ucap ku tulus.
“No, problem. Eh, aku duluan ya, Han” pamit Fatya begitu melihat jam tangannya.
“Iya, hati-hati” pesanku padanya. Fatya mengangguk.
Tidak lama setelah itu aku menyusul Fatya, berjalan di lorong kelas tidak bertenaga. Tanganku bersedekap ke dalam kantong besar yang ada dibagian perut-,
ASTAGA! Jaket Zade belum kukembalikan.
Mataku celingak-celinguk, mencari sosok bocah hyperaktif. Jangan-jangan dia sudah pulang? Masa jaketnya kubawa pulang?
Kutemukan Zade yang sudah jauh berjalan di lapangan sekolah bersama teman-temannya. Aku berlari kemudian berteriak,
“ZADE! JAKET!” teriak ku disela hengalan nafas tidak teratur.
“ZADE!” teriak ku lagi sekencang mungkin.
Dia berbalik lalu melambaikan tangan ke udara.
“JAKET KAMU!” segera kulepas jaketnya dan kubawa berlari ke arahnya yang terus berjalan meninggalkan sekolah.
“BAWA PULANG! JANGAN LUPA DICUCIIN!” sahutnya berteriak.
Kalimat terakhirnya menghentikan kejaranku.
Heh, menyusahkan saja! Padahal siapa yang nyuruh pake jaketnya tadi pagi?
***