Berulah Lagi

1075 Kata
DERING handphone beberapa kali berbunyi saat ku tinggal mengisi daya. Dua belas jam lebih aku terbaring didalam selimut tebal. Tanpa tahu kabar apapun mengenai sekolah. Aku terpaksa merangkak keluar dari gulungan katun yang menjaga badanku dari rasa dingin. Meriang, tidak keren sama sekali. Bahkan aku tidak berani menuliskan surat untuk izin sakit hari ini. Persetan dengan jatah libur yang berkurang satu hari. Ku temukan pesan dari Kiara dan Bilqis, disusul dengan spam dari Zade. Baru saja tanganku mengetikkan balasan, panggilan dari Zade masuk. Layar handphoneku memunculkan dua pilihan, centang hijau atau silang merah. Aku mengklik silang merah. Siapa dia berani-beraninya menelponku malam-malam! ‘Kamu kenapa gak datang kesekolah?’ ‘Jaketku masih ada di kamu, lho’ ‘Itu jaket kesayanganku. Jangan sampai hilang’ ‘Hana!’ 'Kamu gak kenapa-kenapa, kan?' Kurang lebih begitu isi pesannya. Selebihnya ada tiga panggilan tak terjawab dari Zade. 'Kenapa? Kamu kangen?' balasku merasakan kejijikan pada kalimat yang ku tulis. Hapus. Hapus. Aku membalas pesannya tanpa pertanyaan 'kangen' dibelakangnya. Detik berikutnya, pesan Zade masuk. "Sekolah gak ada kamu ternyata berasa sepi" 'Zade ada masalah apa sih sama aku?' Pipiku tiba-tiba memanas, "Kayanya perlu paracetamol lagi deh" gumamku setelah memegang kepala dan pipiku sendiri lalu membuka persediaan kotak obat dikamar. Aku masih perlu istirahat. *** Sepandai-pandainya tupai jatuh akhirnya melompat juga. Terbalik? Iya! Pengibaratan itu menggambarkan persentase peluangku lulus seleksi olimpiade kimia kemarin. Sangat minim dan mustahil. Tapi baru saja Pak Yahya datang memberi informasi bahwa aku harus bersiap untuk melaju ke babak nasional. Dan kabar tersebut berhasil membuat geger seisi kelas. Tanganku mendadak tremor berlebih dan detak jantung berdetak diluar kebiasaan. Terlalu cepat hingga membuatku merasakan jelas bagaimana darah mengalir ke otakku. "Wuisss... Selamat kang tidur," Ucap Zade pertama kali dari tempat duduknya. Apa katanya? Belum sempat memprotes gelar baru yang diberikan Zade, aku kembali mendapat ucapan selamat dari yang lain. "Katanya ngerjain seadanya, tapi kok juara? Ini sih namanya kamu jenius" "Ga ngerti juga kenapa bisa gini" Kataku terburu-buru kemudian menyusul Pak Yahya yang berjalan menuju Laboratorium. "Pak! Pak! Tunggu sebentar," Panggilku "Kenapa Hana?" Tanya beliau "Kok bisa Hana lolos? Bapak gak salah lihat nama?" "Ada-ada saja kamu ini. Memangnya ada berapa Hana yang mewakili sekolah kita?" Pak Yahya justru membalikkan pertanyaanku. Aku tergagu, sudah jelas hanya satu orang dan orang itu adalah aku. "Kenapa? kamu gak seneng?" Tebaknya heran. Panik, "Lebih ke masih gak percaya aja, ini beneran ya? Masalahnya kemarin itu kayanya paling berapa soal sih yang bener-bener ke jawab," Berusaha memberikan penjelasan logis. Pak Yahya tertawa, "Ya berarti siswa lain lebih sedikit lagi jawaban yang benernya ketimbang kamu," Sahut beliau sederhana. "Udah ya move on dari yang kemarin, fokus yang ada di depan aja. Hari ini bapak mau ajarin kamu praktik titrasi asam basa." Ucapnya sembari berjalan masuk ke dalam laboratorium yang masih ada anak kelas XII. "Nah ini alat-alat titrasinya sudah bapak rangkaikan. Sisanya kamu coba selesaikan perhitungannya pakai rumus yang sudah bapak ajarkan. Untuk cara penggunaannya kamu cukup ikuti prosedur dari modul ini," Jelasnya Pak Yahya kembali ke depan kelas untuk menutup pembelajaran. Sementara itu aku mulai membaca modul dan menyelesaikan perhitungan. Meskipun sudah sering ku temui murid kelas XII di Laboratorium saat belajar, bukan berarti aku sudah biasa-biasa saja untuk di amati banyak pasang mata seperti sekarang ini. Ya, mereka kompak bergerombol mengelilingi meja praktik ku. Seakan menunggu atraksi menyenangkan. Meski begitu tanganku tetap bergerak membawa labu erlenmayer ke bawah titran. Sementara tangan kanan memutar kran titran secara perlahan, tangan kiriku memutar labu erlenmayer agar bercampur, dan mata ku fokus mengamati perubahan yang terjadi. Lain hal dengan otak dan jantungku, mereka masih sibuk bertarung untuk membuatku tetap tenang dibawah atensi yang tinggi. "Wah keren nih," komentar salah satunya. "Kamu lolos ke babak nasional ya? Wah selamat Hana," Aku hanya mengangguk begitu mendapati ucapan selamat dari mereka. Namun tiba-tiba salah seorang diantara mereka menyelak kerumunan dan mendekat ke arahku kemudian berbisik, "Gugup, ya? Tangan kamu gemetar," Aku terkesiap dan langsung menatapnya, "Aku sudah yakin kamu pasti lolos. Selamat, ya" tambahnya diiringi cengiran tak biasa. "Eh awas itu warnanya mulai berubah" tunjuk Arsyan pada labu erlenmayer. Buru-buru kuhentikan kran pada titran dan warnanya belum berubah sepenuhnya. Warna pink fuschia itu masih samar-samar muncul lalu menghilang. "Nah itu artinya titrasinya masih belum selesai," Pak Yahya muncul menyingkirkan kerumunan anak-anak dan mengusir mereka keluar. Aku bernapas lega. Akhirnya bisa belajar dengan tenang. "Tambah lagi Hana larutan titrannya, tapi perlahan aja. Kalau sudah segini harus hati-hati, dia hanya perlu beberapa tetes lagi sampai titik eqivalennya tercapai. Kalau kelebihan, hasilnya gak akurat lagi." Jelas beliau yang kubalasi dengan anggukan. *** Pelajaran tambahan itu berakhir tepat jam istirahat kedua sekaligus waktunya sholat zuhur. Aku membereskan catatan belajar dan keluar. Namun tiba-tiba Arsyan muncul dengan wajah dan rambutnya yang basah. 'Dia mandi?' "Hai!" Sapanyanya ceria. "Oh-Hai," Sahutku kikuk-tak terbiasa. "Kemarin kamu gak masuk sekolah. Sakit?" Lagi, dia dengan sesuka hatinya mencegatku melewatinya. Aku mengangguk tersenyum menanggapi pertanyaan yang kurasa bukan kewajibanku untuk memberitahukan kebenaran padanya. Memangnya dia wali kelasku? Lagipula tahu darimana dia kemarin aku tidak hadir? Dia cenayang? "Biasanya kamu selalu ada di perpus waktu jam istirahat. Karena kemarin kamu gadatang jadi kupikir kamu sakit," Tambahnya seolah tahu isi pikiranku. 'Pasti bener nih anak punya indra ke enam' "Iya, flu dikit. Lemah banget ya," Sahutku terkekeh. "Gak kok. Pasti kamu emang kecapekan. Makanya belajar secukupnya aja. Jangan terlalu diporsir. Yah, meskipun emang tekanan sih karena udah lolos Olimp. Btw sekali lagi selamat ya" "Makin beban deh kalo diselamatin sama mantan juara Olimp" Sindirku halus. Arsyan justru tertawa. Tawa Arsyan terpotong saat Zade tiba-tiba muncul bersama gerombolan teman-temannya yang entah darimana. "Sholat-sholat woyy.. Sesungguhnya sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar," Suaranya sengaja dilantangkan. Arsyan tersenyum mendengarnya, "Ya udah kalo gitu Han. Semangat, ya," Ucapnya sebelum pergi. Sedangkan Zade dengan sengaja memisahkan diri dari teman-temannya dan berdiri tak jauh dariku. "Ciyee di semangatin gebetan. Inget, kalo berduaan orang ketiganya setan," Petuahnya so menggurui. "Kamu kan setannya," Balasku ketus. "Sembarangan!" Ujarnya tak terima. "Eh iya, Jaketku mana? Berapa hari gak di kembaliin" Tagihnya. Sumpah, ada ya manusia kaya gini. "Di kelas. Ntar aku balikin," Sahutku malas. "Eh, eh.. mau kemana tuh? Gak sholat?" Lagi dia bersuara membuat kepalaku yang sudah panas menjadi mendidih. "Zade si paling sholih luarbiasa asal kamu tahu, kalo perempuan itu punya masa cuti buat gak sholat. Sekali lagi kamu pancing emosi aku, habis kamu!" Peringatku menahan geram. Seketika wajah Zade pias. Kulihat telinganya memerah. "A-ah gitu. Ma.. Maaf aku gak tau. Kalo gitu aku pergi ke mushola dulu" sahutnya tergagap. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN