Setiap hubungan pasti mengalami pasang surut. Begitu juga hubungan Yoongi dan Jihan. Baru saja hubungan mereka terhitung tiga bulan masalah sudah menghampiri keduanya.
Bagi Jihan sih hal sepele, tapi justru hal itu yang membuat Yoongi tersulut api cemburu. Biang keroknya sudah pasti Park Jimin. Iya, siapa lagi memang? Jimin yang tanpa Yoongi duga-duga bersikap biasa saja saat pertama kali Jihan memberi tahu bahwa dia dan Yoongi mulai berpacaran.
Sebenarnya saat itu Yoongi benar-benar bersyukur, tapi sekarang dia malah berpikir kenapa saat itu Jimin tidak mengamuk dan menghancurkan barang-barang atau menghantam wajahnya dan membawa Jihan kabur saja? toh kalau begitu kan setidaknya Jihan akan marah pada Jimin dan pria itu tidak akan mengikuti kemanapun dia dan Jihan pergi.
Yoongi selalu bilang pada Jihan untuk menjaga jarak dengan Jimin.
"Jangan terlalu lengket dengannya, aku tidak suka," katanya.
"Tapi dia itu kan sahabatku," sahut Jihan.
"Dulu kita juga begitu, tapi lihat kita sekarang!" tegas Yoongi.
"Yoongi, tidak begitu. Aku dan Jimin sudah saling mengenal sejak kecil, kamiㅡ"
"Kalian sudah seperti saudara," potong Yoongi. "Iya, aku tau kau berpikir seperti itu. Tapi bagaimana dengan Jimin? Apakah menurutmu dia berpikiran sama denganmu? Jangan terlalu naif Ji, Jimin juga laki-laki!"
"Kau hanya cemburu berlebihan, Min Yoongi."
Yoongi mengalihkan pandangan dari Jihan. "Sudahlah. Aku tidak ingin membicarakan ini lagi!" Setelah mengatakan itu Yoongi pun pergi meninggalkan Jihan begitu saja.
Jihan hanya bisa menghela napas pasrah dan berkata, "Dasar cemburuan" sambil menggeleng. Dia tidak menyadari bahwa sedari tadi ada presensi lain yang berdiri tidak jauh dari tempat dia berdiri sambil mengulum senyum.
"Teruslah bertengkar. Itu akan jadi peluang untukku," gumamnya.
___
Jihan tak kunjung bergerak dari halaman gedung studio milik Yoongi dan hanya diam berdiri menatap dengan miris. Berakhir menghela napas dan menutup mata.
"Ayolah Yoong Jihan. Tidak masalah untuk mengalah sekali-kali," ucapnya pada diri sendiri.
Dia melangkah masuk dan terpaksa harus berhenti ketika melihat Yoongi sedang mengobrol dengan seorang wanita. Mereka terlihat mengobrol begitu akrab dan begitu hangat. Dia akhirnya mendekat untuk mendengar lebih jelas apa yang keduanya bicarakan.
"Noona tenang saja. Ini akan berjalan dengan baik," ucap Yoongi.
"Baiklah. Aku akan percayakan semuanya padamu. Uri Yoongi, fighting!" sahut wanita itu. (Yoongiku, semangat!)
"U-uri Yoongi?!" bisik Jihan. Merasa tidak dapat lagi hanya diam dan melihat, Jihan pun melangkah maju mendekat pada mereka.
"Ada apa ini?" tanyanya. Yoongi langsung memasang wajah terkejut begitu melihat kedatangan Jihan. "Kenapa kau di sini?" tanya Yoongi balik. Jihan tercengang mendengarnya.
"Yoongi, dia siapa?" sahut wanita itu.
Jihan meraih lengan Yoongi dan menggandengnya. "Aku pacar Yoongi." Wanita itu terlihat terkejut, tapi berusaha menutupinya dengan senyum.
"Oh, wow aku tidak tahu Yoongi sudah punya pacar." Dia lalu mengulurkan tangannya. "Aku Suran. Shin Suran."
Jihan menerima uluran tangan Suran. "Yoon Jihan dan apa hubunganmu dengan pacarku?"
Yoongi kemudian melepas gandengan Jihan pada lengannya. "Suran Noona dan aku sedang mengerjakan sebuah proyek," jelas Yoongi.
"Yah. Yoongi akan menjadi produser untuk lagu baruku," imbuh Suran.
Produser? Lagu baru? Itu artinya si Suransuran ini adalah seorang penyanyi? Bagaimana aku bisa tidak mengenalnya? Jihan membatin. Dia mengutuk diri sendiri karena telah berpikiran begitu sempit dan bertindak bodoh. Tapi mengingat bahwa sebelumnya Suran memanggil Yoongi dengan begitu manis membuatnya tidak merasa bersalah ataupun takut.
"Oh seperti itu. Aku tidak tau kalau anda seorang penyanyi. Eonni, kan?" Jihan memberi penegasan di setiap kata yang dia ucapkan.
"Ah. Aku memang masih tergolong penyanyi baru, wajar kau tidak mengenalku. Dan yah, sepertinya kau memang lebih muda dariku karena tampaknya kau begitu sembrono." Satu serangan telak. Suran mengatakannya begitu lemah lembut tapi terdengar begitu penuh penghinaan di telinga Jihan. Dia berusaha keras untuk tidak tersulut amarah. Mencari-cari kalimat yang tepat untuk membalas, tapi sebelum dia dapat melakukannya Yoongi sudah menyela terlebih dahulu.
"Baiklah. Aku akan mengabarkan kepada Noona perkembangan selanjutnya," sahut Yoongi, sukses membuat perhatian kedua wanita di hadapannya beralih padanya.
Suran tersenyum. "Baiklah. Kita bertemu lagi nanti yah. Kalau begitu aku pergi dulu." Suran melambaikan tangan pada Yoongi dan Jihan dengan senyum penuh kemenangan. Membuat Jihan semakin kesal.
"Aku tidak menyukai Eonni itu," ucap Jihan begitu Suran sudah pergi. "Dan apa itu tadi? Kenapa kau di sini? Apa salah aku mengunjungi pacarku? Haruskah aku punya alasan untuk mengunjungimu?" serang Jihan.
"Tentu saja," jawab Yoongi singkat sebelum berlalu meninggalkan Jihan.
"Kau masih marah? Serius? Hanya karena hal sepele?"
Yoongi menoleh. "Sebaiknya kau pulang. Sudah malam, maaf tidak bisa mengantar. Aku sedang sibuk."
Setelah berkata begitu dingin Yoongi pun masuk ke dalam studionya dan menutup rapat pintu. Jihan yang diperlakukan seperti itu merasa tidak percaya dan tidak terima. Dia tidak menyangka Yoongi akan bersikap sedingin itu hanya karena pertengkaran mereka beberapa hari lalu. Dia datang ke sana berniat untuk berbaikan, tapi malah diperlakulan begitu dingin, membuat hatinya begitu sakit.
Akhirnya dia berjalan meninggalkan studio Yoongi dengan perasaan campur aduk. Matanya terasa panas, dia berusaha untuk tidak menangis.
Dia berhenti untuk merogoh ponsel di kantong jaketnya.
Incoming call...
Jiminie
Jihan langsung mengangkat telepon dari Jimin. "Syukurlah kau menelepon. Aku butuhㅡ"
"Butuh teman minum?"
___
"Jihan-ah. Hanie-ya. Berhentilah minum. Kau sudah begitu mabuk," Jimin mencegah Jihan untuk meneguk kembali segelas soju di genggaman gadis itu.
"Kau tau bagaimana perasaanku saat dia mengabaikanku? Padahal aku datang untuk berbaikan dengannya," ucap Jihan sesenggukan.
"Sudahlah, Ji. Berhentilah minum. Kuantar kau pulang, yah?" bujuk Jimin.
"Aku tidak mau pulang," rengek Jihan. "Kalau begitu ke flatku, oke? Pertama, kau harus berhenti minum. Astaga!" pekik Jimin begitu tubuh Jihan ambruk ke samping. Dia bergegas mengangkat tubuh jihan dan membopongnya.
"Ahjumoni, uangnya ku taruh di meja," teriaknya kepada pemilik kedai sebelum beranjak meninggalkan tempat itu. (Bibi)
"Tindak kusangka kau akan seberat ini," Jimin terkekeh.
Di perjalanan pulang, karena begitu hening Jimin buka suara.
"Jihan-ah. Kenapa Yoongi Hyung? Kenapa bukan aku?
Aku berjanji tidak akan pernah membuatmu terluka. Aku akan menjagamu lebih baik dari siapapun. Geuronikka, wae nan aniya?" (Jadi, bukan kenapa bukan aku?)
Jimin berhenti sejenak dan memandangi wajah Jihan, berakhir menghela napas frustasi. "Bodoh sekali aku bicara pada orang mabuk."
Begitu dia akan kembali melangkah, Jihan bangun dan bergerak-gerak gelisah. Dia terus-terus menggumamkan nama Yoongi.
"Ji, jangan banyak bergerak, nanti kau jatuh," tegur Jimin.
"Min Yoongi jahat!" Jihan memukul d**a Jimin.
"Aw, Yoon Jihan! Sakit! Aku bukan Yoongi Hyung, ini aku.. Jimin. Jimin!"
Jihan tidak berhenti memukuli Jimin dan menendang-nendang udara. Karena kewalahan, akhirnya Jimin menurunkan Jihan. Ponsel Jihan terus berdering sejak tadi membuat Jimin yang kelelahan dan kesakitan menjadi kesal. Dia merogoh ponsel Jihan dan langsung menonaktifkannya tanpa melihat siapa yang menelepon terlebih dahulu.
Dia menarik tangan Jihan. "Ayo kita pulang."
Jihan menghempas tangan Jimin. "Aku tidak mau pulang. Aku tidak mau bertemu Min Yoongi, aku tidak mau melihatnya.
Jimin jadi mengutuk dirinya sendiri karena telah menawarkan kepada Jihan untuk minum. Dia tidak menyangka Jihan akan menjadi sangat kuat ketika mabuk.
Akhirnya dia mengalah. "Baiklah. Kita ke flatku saja, ya," bujuknya. Jihan mengangguk, membuat Jimin menghela napas lega.
___
Yoongi tidak dapat berkonsentrasi sama sekali pada pekerjaannya. Pikirannya terus dipenuhi dengan Jihan. Ada rasa bersalah dan menyesal di dadanya setelah memperlakukan Jihan begitu dingin.
Apa aku keterlaluan? Apa Jihan datang untuk berbaikan? Apa yang harus kulakukan? Batinnya.
"Arrghh," dia mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia terus berperang dengan pikirannya sendiri tentang tindakan apa yang harus dia lakukan. Egonya mengatakan untuk tetap tinggal dan mengabaikan saja, tapi hatinya tidak tenang dan terus merasa bersalah.
Kenapa tidak kutelepon saja? Batinnya.
Dia meraih ponselnya dan segera menelepon Jihan. Dia mencoba menelepon beberapa kali tapi tidak satu pun yang diangkat. Akhirnya dia beranjak dari duduknya berniat mendatangi rumah Jihan.
___
"Jihan belum pulang, nak. Bukannya tadi dia bilang ingin menemuimu?"
Setelah mendengar perkataan ibu Jihan, Yoongi pun bergegas pamit dan menuju suatu tempat. Flat Jimin. Hanya itu satu-satunya tempat yang terlintas di kepalanya saat ini.
Dia tidak sedang dan tidak ingin memikirkan hal-hal negatif, dia hanya terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Jihan menemui Jimin untuk menenangkan diri.
Begitu sampai di flat Jimin, Yoongi merasa lega ketika menemukan Jihan yang membukakan pintu untuknya. Tapi rasa lega itu perlahan berubah menjadi kecurigaan. Jihan berdiri di depan pintu, terlihat berantakan dan menggunakan baju berbeda dengan yang dia kenakan sebelumnya. Terlebih ketika Jimin ikut keluar tanpa mengenakan atasanㅡhanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangㅡsetelah mandi.
"Siapa, Ji?" tanya Jimin. Jihan yang sejak tadi mematung kini menoleh kepada Jimin.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" rahang Yoongi mengeras.
"Oh.. Hyung," sapa Jimin dengan santai. "Masuk dulu."
Jihan yang menyadari perubahan ekspresi Yoongi pun akhirnya angkat bicara.
"Akan kujelaskan," dia lalu meraih tangan Yoongi. Yoongi menepis tangan Jihan dan pergi begitu saja. Baginya terlihat begitu jelas apa yang telah dia lihat, terlebih dia mencium bau alkohol dari tubuh Jihan. Yoongi langsung saja tersulut api cemburu, dia terus berjalan meninggalkan flat bahkan mengabaikan mobilnya.
Jihan yang sejak tadi mengejarnya pun tidak dia hiraukan.
Dengan napas terengah-engah Jihan berhasil meraih tangan Yoongi. "Yoongi dengarkan aku dulu,"
"Lepas! Pergi!"
"Yoongi-ya! Kau salah paham!" teriak Jihan.
Yoongi menghentikan langkahnya dan berbalik. "Salah paham? Lalu bagaimana kau akan menjelaskan ini?!" dia memegangi kerah baju yang dikenakan Jihan kemudian melepasnya dengan kasar.
"Makanya dengarkan aku dulu. Aku mohon," bujuk Jihan.
"Kau! Jangan pernah menemuiku lagi!" Yoongi pergi setelah mengatakan itu.
Jihan yang mendengarnya hanya dapat berdiri kaku. Dia benar-benar tidak menyangka Yoongi akan mengatakan hal semacam itu. Air matanya jatuh begitu saja melihat punggung Yoongi semakin menjauh.
Apa ini? Apa kita berakhir? Batinnya.
***