08. First Love

2503 Kata
Orang-orang bilang, cinta pertama tidak akan pernah berhasil. . . . Seperti yang Jihan minta, Yoongi memberi waktu baginya untuk berpikir. Dua hari terakhir perkataan Yoongi selalu terngiang di kepalanya. Sempat berpikir untuk menerima Yoongi begitu saja, tapi dia merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya, membuat sesak dan gelisah. Sudah hampir satu jam dia berada di balkon kamarnya, menatap hamparan bintang seolah di sana tersimpan jawaban atas kegelisahannya. Sebuah pelukan hangat datang dari belakang sukses membuyarkan lamunannya. Jimin menopang dagunya di puncak kepala Jihan. "Bukankah udaranya dingin? Kenapa berdiri di luar?" tanyanya begitu lembut. Jihan tersenyum. "Aku hanya.. sedang butuh udara segar," jawab Jihan. Jimin mengeratkan pelukannya. "Jimin," panggil Jihan pelan. "Hm?" "Kenapa waktu itu kau pergi tanpa mengatakan apapun?" Jimin terdiam, matanya bergerak-gerak gelisah mencari jawaban yang tepat untuk dia katakanㅡlebih tepatnya sebuah alasan. "Maaf." Hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya. Jihan melepas pelukan Jimin dan menoleh pada pria itu. "Bukan jawaban itu yang kucari, Jim. Kau tau itu," ucapnya. Menatap dengan tatapan sendu pada Jimin. Dibalas sama oleh pria itu. "Aku punya alasan tersendiri untuk itu, Ji. Bisakah kau tidak menanyakannya? Aku mohon." "Apa waktu itu aku berbuat kesalahan? Apa kau membenciku?" Jimin menggeleng cepat sebagai jawaban. "Tentu tidak, Ji. Hanya saja... saat itu situasinya sedikit rumit. Percayalah!" bujuk Jimin. Seketika air mata Jihan jatuh. Membuat Jimin panik dan langsung memeluk gadis itu. "Kenapa menangis? A-pa aku salah bicara? A-aku salah! Maafkan aku, Ji." Jimin mengelus kepala Jihan pelan. "Kau meninggalkan Busan tanpa mengatakan apapun! Saat aku pindah ke Seoul kau malah pindah ke Jerman dengan begitu tiba-tiba. Aku pikir kau menghindariku karena aku berbuat salah. Aku pikir kau membenciku." Jihan terisak. "Demi Tuhan! Tidak pernah sedetik pun aku membencimu. Ini semua murni kesalahanku. Maaf," bujuk Jimin. Jihan mendongak menatap Jimin. "Kalau begitu berjanjilah tidak akan meninggalkanku lagi! Kali ini kau harus menepatinya!" "Aku janji, Ji. Aku tidak akan pernah lagi meninggalkanmu. Demi apapun." "Aku kehilangan ayahku. Lalu setelahnya aku kehilangan saudaraku, kau tahu bagaimana perasaanku saat itu?! Aku kacau!" Perkataan Jihan menembus tepat pada jantung Jimin. Saudara? Begitukah Jihan menganggapnya selama ini? Mendadak dia kehilangan tenaga, pelukannya terlepas begitu saja. Dia mundur dua langkah memberi jarak antara dirinya dan Jihan. Jihan yang masih sesenggukan menghapus air matanya. "Apa selama ini... kau menganggapku saudara?" tanyanya memastikan. Dengan masih sesenggukan Jihan menjawab, "Tentu saja. Kita sudah bersama sejak bayi. Tentu saja kau seperti saudara kandungku sendiri." Jimin tersenyum berusaha menyembunyikan rasa kecewanya. "Begitu ya." Jihan menghela napas panjang. "Sekarang aku lega. Kekhawairanku sudah terjawab." Jihan tersenyum lega. Jimin ikut tersenyum dan mengelus puncak kepala Jihan, tapi jauh di dalam hatinya dia sedang terluka. "Ayo masuk! Di sini dingin sekali," ajak Jimin. Jihan mengangguk dan berjalan masuk lebih dulu, sementara Jimin masih berada di posisinya menatap punggung Jihan. Tapi bagiku kau cinta pertamaku, Ji. ___ Yoongi duduk di depan pianonya. Jemarinya bergerak menyentuh tuts piano dengan lembut. "Oraenmaniya," sapanya. (Lama tidak berjumpa) "Maaf karena pernah meninggalkanmu." Yoongi bermonolog. "Aku datang karena rindu ibu, juga denganmu." Yoongi mendongak, menghela napas dan memejamkan mata mencoba mengingat kembali segala kenangannya saat masih tinggal di rumah tua itu bersama orang tuanya dan juga piano tua itu. "Apa ibu baik-baik saja di sana? Apa dia bertemu dengan ayah kembali?" Yoongi kembali menatap piano tua itu sambil tersenyum. Saat di hadapan piano tua itu, Yoongi berubah menjadi orang yang dapat dengan mudah menunjukkan ekspresi dan perasaannya. "Akan kuceritakan sesuatu," ucapnya. Dia membenarkan posisi duduknya. "Kau ingat gadis yang waktu itu? Gadis yang empat tahun lalu datang kemari, yang dengan begitu berani merebut korek di tanganku. 'Merokok itu tidak baik' katanya." Yoongi terkekeh. "Gadis itu... sekarang... berhasil menggantikan posisimu. Hey, jangan cemburu. Dulu aku mengabaikan dia karena kau, jadi sekarang mengalahlah untuknya," ucapnya sambil tertawa, "aku sungguh tidak sabar menunggu jawabannya. Gugup sekali." Yoongi menghela napas kemudian berdiri dari duduknya. "Tidak bisa begini. Ini terlalu lama. Aku yang akan menjemput jawaban itu. Kau tunggulah, aku akan mempertemukan kalian lagi setelah itu. Oke?" Dia mengangguk. Puas bermonolog, dia akhirnya memutuskan meninggalkan rumah itu. Berniat menemui Jihan, tapi dia mengurungkan niat setelah menyadari bahwa sekarang sudah pukul 2 pagi. "Nanti siang saja," gumamnya, kemudian berlari kecil menuju mobil, meninggalkan rumah itu. Sejak berumur 17 tahun, Yoongi sudah meninggalkan rumah. Hidup sendirian di studio kecil miliknya, Genius Lab. Kecintaannya terhadap musik mengharuskan dia meninggalkan rumah. Dia anak satu-satunya, sehingga ayahnya tidak setuju dia bermain musik. Ayah Yoongi bersikeras agar kelak dia menjadi seorang pegawai negeri sipil dengan gaji dan posisi menjanjikan. Tapi buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Yoongi dengan keras kepala menolak dan bersikukuh ingin menjadi seorang produser musik, sehingga terjadi pertengkaran hebat yang berakhir dengan kepergian Yoongi dari rumah itu. ___ Siang ini Yoongi berniat menjemput Jihan, maka sejak pukul sepuluh dia sudah mandi dan bersiap dengan rapih kemudian bergegas menuju rumah gadis itu. Begitu sampai, Yoongi tidak langsung keluar dari mobil. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Jihan terlebih dahulu. "Halo?" "Keluarlah. Aku di depan rumahmu." Dia langsung mematikan sambungan telepon setelahnya. Tidak butuh waktu lama Jihan pun keluar dari rumahnya. Yoongi turun dari mobil dengan memasang senyum terbaiknya tapi senyum itu pudar ketika dia mendapati presensi lain yang berada di belakang Jihan memandangnya dengan raut wajah sangat tidak bersahabat. "Selamat pagi, Hyung," sapa Jimin. Yoongi hanya menatapnya lurus. "Mau apa kemari?" tanya Jimin. "Menjemput Jihan," jawab Yoongi tanpa memandang lawan bicaranya, padangannya fokus pada Jihan. "Aku tidak ada kuliah kok hari ini," sahut Jihan bingung. "Aku ingin membawamu ke suatu tempat," ucap Yoongi. Jimin mengerutkan kening. "Hyung, bukankah kau ingat peraturannya?" Jimin menimpali. "Peraturan? Peraturan apa?" Jihan yang bingung menatap kedua pria itu secara bergantian. Yoongi menarik lengan Jihan mendekat padanya. "Bukankah harusnya kau kuliah sekarang ini, Jimin-ah?" ucap Yoongi. Jimin tidak menjawab, hanya menatap tajam ke arah Yoongi dengan rahang mengeras. "Baiklah. Kau menang!" Jimin menoleh ke arah Jihan, "Aku pergi dulu, Hanie." Dia mengelus pipi Jihan singkat sebelum pergi. "E-eoh, hati-hati di jalan." Jihan melambaikan tangannya. "Kaja!" (Ayo) "M-mau kemana?" "Bertemu cinta pertamaku," jawab Yoongi enteng. "Apa?!" Jihan berteriak. Bukankah itu tidak pantas dikatakan pada orang yang baru kau beri pengakuan cinta beberapa hari yang lalu? Apa Yoongi lupa ingatan? Atau itu semua hanya permainan? Jihan berpikir dengan keras. "Masuk saja dulu ke mobil, Nona," sahut Yoongi lembut. Jihan akhirnya mengalah dan masuk ke mobil dengan wajah cemberut. Yoongi yang melihat itu hanya bisa terkekeh geli. Yoongi duduk di depan kemudi. "Oke. Kita berangkat," serunya antusias. Selama dalam perjalanan mereka tidak banyak bicara. Terutama Jihan yang memilih terus menatap keluar jendela dengan satu tangan menopang dagu. "Kau akan menyakiti lehermu jika terus seperti itu," komentar Yoongi tanpa menatap Jihan. Gadis itu tidak bereaksi sama sekali membuat Yoongi menghela napas pelan. Kalau dia jadi pacarku, sepertinya aku harus ekstra sabar menghadapinya. Pikirkan kembali Min Yoongi! Ini belum terlambat. Yoongi membatin. Dia akhirnya memilih diam dan fokus menyetir. Sia-sia bicara pada Jihan yang sedang marahㅡmeski dia tidak tau kenapa gadis itu harus marahㅡhanya akan membuat lelah sendiri. Jihan adalah tipe gadis yang ketika sedang marah, maka dia harus didiamkan karena jika terus dibujuk dia akan semakin marah. Jihan menoleh ke arah Yoongi ketika mobil berhenti. Mendapati Jihan menatapnya penuh tanya Yoongi pun bertanya, "Apa?" "Kau serius membawaku kemari?" "Kenapa? Bukannya dulu kau sangat senang datang kemari?" Jihan hanya mendengus kesal. Apa sulitnya sih bagi Yoongi untuk memberi tahu maksud dan tujuan semua ini? Yoongi keluar dari mobil lebih dulu, kemudian berputar ke sisi mobil lainnya dan membuka pintu untuk Jihan. Serius? Batin Jihan. Dia benar terheran-heran dengan tingkah Yoongi itu. Yoongi mengulurkan tangan pada Jihan. "Ayo," katanya lembut, tapi Jihan malah mengabaikan uluran tangan Yoongi dan melangkah mendahului pria itu. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun karena Yoongi tak kunjung menjelaskan apapun. Yoongi menutup matanya dan menghela napas kasar. "Sabar, Min Yoongi!" gumamnya. Kemudian dia kembali memasang senyum dan beranjak menyusul Jihan masuk ke dalam rumah lamanya. Dia meraih tangan Jihan, "Ayo kemari, duduk di sini." Dia menuntun Jihan untuk duduk di depan piano coklat tua miliknya, kemudian ikut duduk di samping gadis itu. "Aku akan menceritakan sebuah kisah. Kau hanya perlu mendengarkan dengan tenang sampai cerita ini selesai." Dia tersenyum lembut pada Jihan kemudian kembali menatap pianonya. "Eman belas tahun lalu, seorang bocah berusia enam tahun bertemu dengan cinta pertamanya. Mungkin terlalu cepat untuk usianya, tapi ketika itu... ketika dia menyentuhnya, untuk pertama kalinya jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Bersama cinta pertamanya itu, dia akhirnya tau apa yang dia sukai. Musik. Bocah itu terus berlatih, bermain musik, membuat lagu. Sampai akhirnya ketika dia berusia tujuh belas tahun, dia akhirnya menemukan mimpinya. Menjadi seorang komposer musik. Di matanya, tidak ada yang lebih keren dari itu. Tapi pada akhirnya ayahnya menentang mimpinya itu, membuat mereka bertengkar hebat dan berakhir dia meninggalkan rumahnya. Meniggalkan ibunya beserta cinta pertamanya. Dia hanya akan datang mengunjungi ibunya ketika ayahnya tidak berada di rumah. Setiap harinya ketika dia berjalan pulang dari sekolah ke rumah ibunya, akan selalu ada seorang gadis yang akan mengikutinya diam-diam. Dia tahu gadis itu mengikutinya, tapi dia memilih mengabaikan gadis itu. Toh dia sudah punya cinta pertamanya." Jihan yang sejak tadi menyimak dengan serius cerita Yoongi pun merasa ada yang aneh. Kenapa rasanya gadis itu familiar sekali? Batinnya. Yoongi melanjutkan ceritanya. "Hari itu, ketika dia sampai di depan rumahnya sudah berkumpul banyak orang. Dia mendapati ibunya menangis di depan sebuah pigura. Ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Seketika hatinya terasa hancur. Mengingat kembali pertengkarannya dengan sang ayah, dia sangat menyesal. Sesaat setelah ayahnya dimakamkan, gadis penguntit itu datang menghampirinya dan menggenggam tangannya. "Aku juga kehilangan ayahku dalam sebuah kecelakaan. Aku tahu perasaanmu. Bersabarlah, kau harus kuat." Setelah mengatakan itu, gadis itupun pergi meninggalkannya yang mulai terisak dengan segala penyesalan di dalam dadanya. Selang beberapa bulan setelah kematian sang ayah, ibu remaja itu pun ikut menyusul sang ayah. Wanita paruh baya itu sangat terluka karena kepergian suami tercintanya, sehingga akhirnya jatuh sakit dan menyusul sang suami. Meninggalkan remaja itu sebatang kara. Dia hancur berantakan. Berakhir menghancurkan diri sendiri dengan rokok dan alkohol. Tanpa dia sadari, gadis penguntit itu selalu memperhatikannya dari kejauhan. Suatu hari, karena tak tahan lagi. Akhirnya gadis itu pun dengan nekat masuk ke dalam rumahnya. Merampas korek api di tangannya dan berteriak, "Merokok itu tidak baik untuk kesehatanmu bodoh! Sampai kapan kau akan menghancurkan dirimu?" Seperti sebelumnya setelah mengatakan apa yang dia mau, gadis itu meninggalkannya dengan membawa serta korek api yang dia rebut itu. Sedikit banyak perkataan gadis penguntit itu mempengaruhi hidupnya. Dia berhenti merokok, tidak lagi bergantung pada alkohol dan yang terpenting dia kembali bermain musik. Untuk kedua kalinya, dia jatuh cinta. Namun saat itu dia sama sekali tidak menyadari itu. Dia larut dalam obsesinya, terfokus pada mimpi yang ingin dia kejar, sehingga dia memilih mengabaikan perasaannya. Dan hari ini, remaja itu bertumbuh menjadi pria dewasa yang akhirnya menyadari... bahwa sejak saat itu, perasaan yang pernah dia berikan pada cinta pertamanya telah beralih kepada gadis itu. Danㅡ" "Kau terus saja menyebut cinta pertama, cinta pertama. Sebenarnya siapa cinta pertama pria itu? Lalu apa hubungannya dengan ini semua?" potong Jihan. "ㅡdan di sinilah pertama kali bocah enam tahun itu bertemu cinta pertamanya. Tepat di tempat kita duduk saat ini," sambung Yoongi. "Aku tidak mengerti. Sungguh. Berhenti bermain teka-teki Min Yoongi!" Yoongi menghela napas frustrasi. "Bagaimana mungkin kau tidak mengerti bahkan saat aku menceritakannya dengan begitu jelas? Gadis penguntit itu kau. Remaja laki-laki yang meninggalkan rumahnya itu aku!" "Lalu cinta pertamanya siapa?! Aku hanya mempertanyakan cinta pertamamu! Kenapa kau terus menyebut cinta pertamamu di depanku, yang beberapa hari lalu sempat kau beri pernyataan cinta?!" Jihan berteriak sampai dia kehabisan napas. "Kau sedang duduk di depannya, Ji." "Mana? Aku tidak melihat manusia lain di sini selain aku dan kau. Apa aku buta? Atau cinta pertamamu itu hanㅡ" Yoongi tiba-tiba meraih kepala Jihan dan membuatnya menoleh menatap piano coklat tua itu, "ㅡtu... Pi-iano?" Yoongi melepas tangannya. "Bukankah sudah pernah kukatakan sebelumnya?" "Kapan?" tanya Jihan heran. "Intinya seperti ini, Ji. Pertama kalinya aku jatuh cinta adalah pada piano ini. Tapi pada akhirnya kau menggantikan posisinya. Aku mencintaimu Yoon Jihan. Mengerti?" "Aku berusaha menjelaskan dengan singkat, tapi kau masih tidak mengerti. Yang ingin kukatakan adalah. Aku memiliki perasaan yang sama dengan perasaanmu empat tahun lalu. Hanya saja saat itu... seperti yang kau tahu, aku baru saja bangkit dari keterpurukanku, aku sedang berusaha mengejar apa yang sempat aku abaikan. Kau tahu musik adalah mimpiku. Saat itu satu-satunya yang kupikirkan hanyalah... bagaimana aku dapat meraih mimpiku. Tapi sekarang aku sadar. Aku terlalu fokus pada satu mimpi dan mengabaikan mimpiku yang paling berharga," ucap Yoongi panjang lebar. "Dan apa itu?" tanya Jihan. "Kau. Kau adalah mimpi baruku. Membawamu bersamaku, berjalan beriringan menuju mimpi kita masing-masing, membuat mimpi baru dan mewujudkannya bersama-sama." Yoongi meraih tangan Jihan dan menggenggamnya. Ini adalah hal paling romantis yang pernah dia lakukan sepanjang sejarah kehidupannya. Dan itu hanya dia lakukan pada Jihan. "Aku tidak dapat menjanjikan selamanya, Ji. Aku hanya bisa berjanji akan selalu bersamamu sampai aku mati. Aku tidak akan mengulangnya lagi, ini yang terakhir. Hari ini, di hadapan cinta pertamaku, aku hanya ingin mengatakan... Narang sagwillae?" Yoongi menatap Jihan lekat, menanti jawaban dengan sabar. Kali ini, dia berharap tidak mendapat penolakan lagi. (Mau berkencan denganku?) Meskipun sempat terlihat ragu, akhirnya Jihan pun mengangguk pelan. "Aku mau," ucapnya pelan. Senyum terukir di wajah Yoongi. Begitu lega dan bahagia. "Mau apa?" godanya. Jihan mendongak dengan cepat menatap Yoongi. "Hah? I-itu... a-aku mau. Jadi pacarmu." Dia kembali menunduk malu. "Hari ini hari pertama kita. Sekarang kau resmi milik Min Yoongi!" Dia meraih satu tangan Jihan dan mengecupnya singkat. Membuat wajah gadis itu menjadi memerah seketika. "Hey. Aku kan hanya jadi pacarmu, bukan istrimu. Kau tidak punya hak kepemilikan atasku," protes Jihan. Yoongi mengangkat kedua bahunya. "Pada akhirnya juga kau akan menikah denganku," jawabnya enteng. Jihan menyipitkan mata sambil berdecak. Menunjukkan kesal yang dibuat-buat. Sangat berbanding terbalik dengan wajahnya yang sekarang sudah semerah tomat. "Neo jeongmal TMI-guna!" ejek Jihan. (Kau ternyata terlalu TMI/Too Much Information) "Geugo mwoya?" tanya Yoongi bingung. (Itu apa?) "Kau terlalu banyak mengungkapkan informasi, tuan." Yoongi kembali mengangkat bahu. "Aku hanya ingin semuanya jelas." "Dan kau harus belajar memanggilku Oppa mulai sekarang," imbuhnya. "Kenapa harus?" protes Jihan. "Ck. Aku kan pacarmu! Lagi pula aku lebih tua darimu!" "Hanya setahun juga." Jihan mengerucutkan bibir dan melipat kedua tangannya di depan d**a. "Meski begitu kau tetap harus memanggilku Oppa. Titik! Masih baik aku tidak menyuruhmu berbahasa formal padaku!" Jihan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Yoongi, sukses membuat pria itu melongo. "Baiklah. Oppa," sahutnya. "Yaa. Yoon Jihan jjinja. Neo... berani sekali, eoh?" Yoongi memegangi pipinya. Membuat Jihan terkikik geli. (Hey. Benar-benar. Kau) "Apa aku salah?" tantang Jihan. "Tidak juga. Aku suka. Bagaimana kalau di sini?" dia menunjuk bibirnya sendiri. "Jangan bermimpi!" tolak Jihan. "Kalau begitu aku saja." Yoongi memajukan badannya mendekat pada Jihan. "Yak!" pekik Jihan. Berakhir dengan adengan saling kejar-kejaran di antara mereka. "Min Yoongi bodoh! Masa cinta pertamanya sebuah piano?" ejek Jihan. Dia berhenti berlari ketika Yoongi berhasil meraih tangannya. "Lalu kau? Siapa cinta pertamamu?" tanya Yoongi. Mereka saling menatap lekat untuk beberapa saat. Jihan tersenyum dan menjawab, "Kau." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN