07. Confession

1422 Kata
"Itu hanya masa lalu, Hyung. Sekarang kau sudah terlambat." "Terlambat atau tidak, kita sama-sama lihat saja nanti," tantang Yoongi. Yoongi bangkit dari duduknya berniat untuk pulang. "Meski kau lebih lama berteman dengan Jihan daripada aku, tapi aku juga mengenal Jihan dengan baik. Mengatakan yang sebenarnya memang akan membuatnya terluka. Tapi dia akan lebih terluka jika tau kau merahasiakan ini darinya bertahun-tahun." Yoongi memandangi wajah Jimin dari arah pintu, menunggu tanggapan apa yang akan diberikan Jimin untuknya. Jimin menoleh padanya. "Kau benar-benar ingin melihat Jihan terluka?" "Aku benci melihat Jihan terluka, tapi itu masih lebih baik. Setidaknya sekarang ini kalian hanya berteman. Jika dia mengetahui kebenarannya setelahㅡjika kau behasilㅡdia mencintaimu dan kau menjadi kekasihnya, bayangkan sendiri, akan sehancur apa dia? Terlebih jika kebenaran itu dia ketahui dari orang lain?!" Yoongi memberi penekanan pada setiap kalimat yang dia ucapkan, kesal karena Jimin begitu keras kepala. "Bagaimanapun, aku akan tetap pada pendirianku. Aku akan tetap membuat Jihan menjadi kekasihku, dan dia tidak akan pernah tau kebenarannya bagaimanapun caranya!" tegas Jimin. Dia bangkit dari duduknya, dia dan Yoongi saling menatap dengan tajam satu sama lain. "Aku tidak pernah ingin melampaui batasan antara aku dan Jihan, tapi jika seperti itu maumu, tidak ada alasan bagiku untuk tetap mempertahankannya juga. Aku tidak akan mengalah! Tidak akan kubiarkan kau mendapatkan Jihan dengan mudah!" "Baiklah. Mari kita bersaing secara adil, Hyung," ucap Jimin. "Tentu saja," Yoongi bergerak membuka pintu, "dan jangan mengganggu saat salah satu dari kita sedang bersama Jihan. Adil, kan?" Yoongi tersenyum miring kemudian menutup pintu. ___ Drrt... Drrt... Drrt... Drrt... Ponsel Jihan tidak berhenti bergetar. Membuatnya berdecak sebal. Dia sedang mengerjakan laporan praktikum dan konsentrasinya buyar karena getaran ponselnya. "Harusnya tadi kumatikan saja sekalian," gerutunya. Dia meraih ponsel yang menampilkan nama si penelepon. Min Pangsit rebus. "Ada apa?" jawabnya ketus. Yoongi menghela napas kasar, "Tadinya aku ingin mengajakmu keluar, tapi tidak jadi." Jihan mengerutkan dahi, "Kenapa?" "Habisnya kau ketus sekali. Menghancurkan moodku saja," sekarang giliran Yoongi yang ketus. "Itu karena kau mengganggu konsentrasiku, aku sedang mengerjakan laㅡ" "Ayo berkencan!" potong Yoongi. "ㅡpoㅡran. Tunggu! A-apa?" Jihan memegangi telinganya. Mungkin dia salah dengar. Pikirnya. "Kubilang ayo berkencan!" jawab Yoongi. "Ayo pergi berkencan!" ulangnya. "Kau mabuk, ya?!" todong Jihan. Yoongi memeriksa napasnya, "Aku memang habis minum, tapi tidak mabuk tuh," jawabnya enteng. "Mau tidak?" Apakah ini kencan seperti yang ada di bayanganku? Batin Jihan. "Hey, Min Yoongi. Kau kerasukan apa sih?" Yoongi mematikan sambungan teleponnya. "Apa yang.. ughh menyebalkan sekali si pangsit rebus ini." Jihan membanting ponselnya ke atas kasur dengan kesal. Tok! Tok! Tok! Dia menoleh ke arah pintu, "Iya, Bu. Masuk saja, tidak dikunci." Dia terkejut ketika bukan ibunya yang membuka pintu. "Ya! Min Yoongi," pekiknya. "Sepuluh menit!" "Apa?" tanya Jihan bingung. "Kuberi kau waktu bersiap-siap sepuluh menit. Setelah itu turunlah!" Yoongi kembali menutup pintu, meninggalkan Jihan yang masih duduk melongo. Dia melangkah menuruni tangga dengan memijit pangkal hidungnya. "Gadis keras kepala! Apa sulitnya sih menurut saja!" gerutunya. "Yoongi," panggil ibu Jihan. Yoongi langsung menoleh ke arah dapur, tempat ibu Jihan memanggil. "Iya, Bi?" Ibu Jihan meletakkan jus dan kue kering di atas meja. "Sambil menunggu Jihan selesai, makanlah dulu ini." "Terima kasih, Bi," ucapnya. Wanita paruh baya itu mengangguk, "Bibi tinggal dulu, ya. Jaga Jihan baik-baik. Bibi percaya padamu," ucap ibu Jihan sambil menepuk pundak Yoongi. Yoongi hanya membalas dengan anggukan dan senyuman. Setelah ibu Jihan pergi, dia memandangi jus jeruk dan kue kering yang telah ibu Jihan siapkan untuknya. Dia terkekeh melihatnya. Jus jeruk, kue kering. Seperti yang biasa dilakukan ibunya dulu. Memori tentang ibunya berputar di kepalanya. Ibunya yang sering membuatkan kue kering untuknya, ibunya yang selalu memeluknya ketika dia bermimpi buruk, ibunya yang mengajarkannya bermain piano. Senyumnya semakin mengembang mengingat semua itu. Tanpa menyadari bahwa Jihan sudah berdiri di ujung tangga sambil memperhatikannya. "Sekarang kau memandangi jus jeruk dan kue kering sambil tersenyum. Yah, aku rasa dugaanku benar. Kau memang sudah gila," cibir Jihan. Yoongi memutar bola mata jenuh. "Kau mau mengajakku kemana?" tanya Jihan. Yoongi mengedikkan bahu, "Kemanapun. Ayo!" Dia meraih tangan Jihan dan menggenggamnya. Jihan yang tidak siap pun sedikit kaget. Selama mereka berteman, tidak pernah sekali pun mereka bergandengan tangan sebelumnya. Kalau bersama Jimin sih, sering. Tapi ini Yoongi, bukan Jimin. Min Yoongi. Jihan jadi curiga, barangkali kepala pria itu habis terbentur sesuatu. Karena baginya, sekarang Yoongi benar-benar berbeda dari biasanya. ___ Biasanya, jika seseorang mengajakmu berkencan, dia akan membawamu ke tempat-tempat romantis atau nonton film di bioskop, berjalan-jalan di taman mungkin? Baiklah, Yoongi benci ke bioskop, tapi setidaknya kan bisa berjalan-jalan di taman. Tapi sepertinya hal semacam itu tidak ada dalam kamus Min Yoongi. Alih-alih berjalan-jalan di taman, justru dia membawa Jihan ke gedung di mana studio musik miliknya yang dia beri nama Genius Lab itu berada. Atau mungkin Jihan yang salah mengartikan kata 'kencan' yang dimaksud Yoongi dengan kencan yang sesungguhnyaㅡyang orang-orang sering lakukan. Entahlah, yang pastinya Jihan sedang kesal. Merutuki diri sendiri karena sempat berpikir tentang kencan seperti pasangan kekasih. Mustahil sekali kalau orangnya itu Min Yoongi. Dia mencoba menghilangkan rasa kesalnya dengan memperhatikan sekeliling. Mendapati satu ruangan yang berhadapan dengan studio Yoongi. Membaca papan di depan pintunya yang bertuliskan Mons Studio. "Oh. Ini studio Namjoon seonbae?" tanyanya, menunjuk ruangan itu. "Eoh," jawab Yoongi datar. Cih. Apa-apaan sikapnya itu? Dia yang mengajakku kemari juga. Jihan membatin. Dia mengerucutkan bibir sambil melangkah masuk ke Genius Lab itu. Pemiliknya sama sekali tidak jenius tuh. "Duduk di sini." Yoongi memegangi kedua bahu Jihan dan menuntunnya duduk di sofa. "Mau minum sesuatu?" "Punya soju?" Yoongi langsung memelototi Jihan. "Sejak kapan kau berani minum alkohol?" Yoongi berkacak pinggang. "Aku kan sudah dewasa. Memang tidak boleh?" "Tidak!" jawab Yoongi tegas. Jihan mendengus kesal. "Ya sudah. Beri aku Cola!" Tanpa mengatakan apapun,Yoongi keluar dari studio. Dua menit kemudian kembali dengan dua kaleng Cola di tangannya. "Ini," dia menyodorkan satu pada Jihan. Jihan meraihnya, "Terimakasih." Yoongi berjalan menuju kursinyaㅡdi depan monitor besar dan semua peralatan yang tidak Jihan mengerti kegunaannya. "Jadi anak baik dan duduk di sana dengan tenang. Ini tidak akan lama," sahutnya kemudian. Yoongi memasang headphone di kepalanya lalu menekan-nekan tombol berwarna-warni di hadapannya dengan begitu serius. Jihan yang memperhatikannya tiba-tiba bergumam, "Sexy." Dia langsung menutup mulutnya dengan satu tangan kala dia menyadari apa yang dia katakan. Dia melirik Yoongi sejenak sambil menahan napas. Untungnya Yoongi tidak mendengarnya. Dia menghela napas lega. Tapi sungguh, saat sedang serius seperti itu Yoongi benar-benar sexy, kemana perginya Yoongi si motionless yang dia kenal selama ini? Sepertinya Jihan harus sering-sering berkunjung ke Genius Lab supaya bisa melihat sisi Yoongi yang seperti ini. Sungguh, Jihan tidak melebih-lebihkan. Sexy sekali. Yoongi melepas headphone yang dia kenakan, dan memutar kursinya berbalik ke arah Jihan. Dia menekan satu tombol dan suara musik mulai terdengar. "Dengarkan baik-baik," ucapnya. When you looked at me You wrapped around my heart A normal guy like me doesn't fit your standards Jihan mengangkat satu alisnya. Dia menatap Yoongi yang sejak tadi menatapnya dengan tenang. So I wore a friend mask Hiding my true feelings when I'm next to you Sliding into the comfortable category "Yoongi." "Dengarkan saja, Ji," ucap Yoongi lembut. Always high kicking the blanket At night in frustration You always entice me Yoongi mematikan musik itu. Pipinya bersemu merah sekarang. Dia bangkit dari duduknya dan mendekat pada Jihan. Berjongkok di hadapan gadis itu dengan menumpu kedua tangan di ujung sofa. "Dengar!" dia menunduk sejenak kemudian kembali menatap Jihan. "Aku bukanlah orang yang pandai menyatakan perasaanku, jadi aku tidak akan berbicara panjang lebar. Narang sagwillae?," Yoongi terdengar begitu tulus dan lembut. (Mau berkencan denganku?) "Narang sagwija, Jihan-ah," ucapnya lagi. Dia menatap penuh harap. Menunggu jawaban dari Jihan. (Berkencanlah denganku) "Y-Yoongi-ya." Jihan terlihat ragu. Tangan Yoongi bergerak menggegam tangan Jihan. "Apa kau ragu karena masa lalu?" tanya Yoongi. Jihan menggeleng cepat. Lidahnya kelu, dia tidak dapat mengatakan apapun. Dia tidak tahu apa yang sedang dia rasakan. Bahagia, gugup, sedih, marah, kecewa, dia tidak tahu. Semuanya terasa bercampur aduk. Membuat perutnya mual seketika, tangannya mendadak dingin. "Ji, aku tahu waktu itu aku bodoh. Aku tidak menyadari apapun karena obsesiku, aku egois pada diriku sendiri," Yoongi menghentikan perkataannya dan menghela napas. "Aku menyukaimu, Ji. Sejak dulu. Jinsimiya." (Aku serius). Mendadak mata Jihan memanas. Entah kenapa, tapi rasanya dia ingin menangis. "Yoongi, akuㅡ" seketika wajah Jimin muncul di kepalanya. "Beri aku waktu, Yoongi," ucapnya kemudian. Yoongi melepas genggaman tangannya. "Baiklah, aku akan menunggu," ucapnya. "Tapi tolong katakan ini semua bukan karena Jimin." Yoongi menatap mata Jihan, "Kau tidak ragu karena dia, kan?" Yoongi menahan napas menanti jawaban. "Aku tidak tahu," ucap Jihan lirih. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN