06. The Truth

2202 Kata
Busan, 2012 Jimin Aku selalu berjalan kaki saat pergi dan pulang sekolah karena sekolahku tidak begitu jauh dari rumah. Berbeda dari hari biasanya, hari ini aku harus berjalan sendirian. Jihan sedang demam, jadi tidak masuk sekolah. Aku menggenggam erat bungkusan berisi penuh banana milk yang aku beli untuk Jihan. Aku dan Jihan memang bertetangga, rumah kami tepat bersebelahan. Ibu Jihan sedang berada di Seoul karena tuntutan pekerjaan, jadi aku berencana menjenguk dan menemani Jihan sampai ibunya pulang, tapi ketika hendak berbelok ke rumahnya aku melihat mobil ayah terparkir di depan gerbang rumah. Tidak biasanya ayah pulang secepat ini. Karena penasaran, aku melangkahkan kakiku melewati rumah Jihan. Sebaiknya aku pulang dulu, pikirku. Bungkusan di tanganku terjatuh begitu aku membuka pintu. Aku terperangah, pandanganku menyapu tiap inci ruang tamu, semuanya begitu berantakan. Aku meneguk saliva. Apa yang terjadi? Batinku. "I-ibu, A-ayah!" Tidak ada yang menjawab. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Keadaan rumah tampak begitu kacau, seolah telah terjadi badai di dalamnya. Aku melangkahkan kakiku kedalam rumah dengan ragu. Langkahku terhenti ketika samar-samar ku dengar isak tangis seorang wanita. Meski samar-samar, aku yakin suara yang ku dengar berasal dari lantai dua. Aku segera berlari menaiki tangga. PRANG!! Aku berhenti ketika mendengar suara vas bunga yang dijatuhkan. "Kenapa kau lakukan ini padaku!" Itu suara ayah. Keringat berjatuhan dari pelipisku. Dengan napas terengah aku berusaha mendekat pada pintu kamar orang tuaku. Hal pertama yang dapat kusimpulkan adalah mereka bertengkar. Pertama kali dalam hidupku aku menyaksikan hal semacam ini. Orang tuaku tidak pernah bertengkar sebelumnya. Hal ini membuatku sangat terkejut. "Jawab aku! Kenapa kau lakukan ini padaku!" Ayah berteriak. Dapat ku dengar isakan ibu semakin menjadi. "Aku salah, aku salah. Maafkan aku. Sayang maafkan aku." Aku dapat mendengar suara ibu memohon. Mataku menjadi perih. Sebenarnya apa yang terjadi? Ingin rasanya aku masuk ke dalam dan mempertanyakan semuanya. Tapi tubuhku seakan terkunci di tempatnya berdiri. Aku tak dapat bergerak, dapat kurasakan tanganku bergetar hebat. PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi ibu. "Hanya itu yang dapat kau katakan, hah! Setelah kau berselingkuh di belakangku? Bersama sahabatku?" Suara ayah semakin meninggi. "Sejak kapan? Hah? Sudah berapa lama kau bermain di belakangku? HAH? JAWAB!" bentak ayah. "Maafkan aku, maaf." Ibu terus menangis dan meminta maaf. Berselingkuh? Ibu? Tidak dapat ku percaya apa yang baru saja aku dengar. Aku menutup mulut dengan kedua tangan agar isakanku tidak terdengar. Sebentar lagi aku akan berumur lima belas tahun, tidak mungkin aku tidak mengerti apa itu perselingkuhan. Aku berbalik dan berlari keluar rumah. Langkahku terhenti ketika menemukan Paman Yoon berdiri di depan pintu. "Paman," ucapku lirih. Dia berlutut di hadapanku. Seakan telah mengerti apa yang terjadi, dia berkata, "Jimin-ah, pergilah ke rumah paman dan temui Jihan. Apapun yang terjadi jangan keluar rumah. Tetaplah di sana bersama Jihan. Mengerti?" Aku mengangguk. "Sekarang pergilah," ucapnya. Aku menurutinya dan berlari menuju rumah Jihan. Aku menoleh sejenak. Melihat punggung paman Yoon memasuki rumahku. Setelahnya, aku tidak tahu lagi apa yang selanjutnya terjadi. Aku melangkah masuk ke kamar Jihan. "Jiminie?" ucap Jihan. Aku berlari dan memeluk Jihan. "Ada apa Jiminie? Kenapa bersedih?" tanyanya. Aku hanya menggeleng masih dalam pelukannya. Jihan mengelus punggungku, berkatnya aku menjadi lebih tenang. Aku memejamkan mata dan mempererat pelukanku. Meskipun sedang sakit, Jihan sama sekali tidak keberatan malah balas memelukku, terus mengelus punggung dan kepalaku bergantian. Perlakuannya itu membuat mataku menjadi berat, sampai pada akhirnya akupun tertidur. Ketika aku membuka mata, aku sudah berada di rumah. Di kamarku. Aku mengubah posisiku menjadi duduk ketika Ayah masuk ke kamar. Dapat ku lihat matanya sembap sehabis menangis. Ingatan tentang kejadian siang tadi pun kembali berputar di kepalaku. "Nak," ucapnya lembut. "Kemasi barang-barangmu, kita akan pindah ke Seoul." Dia mengelus kepalaku. "Malam ini juga?" tanyaku. Dia mengangguk. "T-tapi, Ayahㅡ" "Kita akan berangkat malam ini juga, nak. Kemasi barang-barangmu," ucap ayah memotong perkataanku. Dia berdiri dan melangkah keluar. "Bagaimana dengan ibu?" aku memberanikan diri untuk bertanya. Ayah terdiam sejenak lalu berbalik ke arahku dan tersenyum. "Tentu saja dengan ibu nak. Kita bertiga akan pindah. Kenapa bertanya begitu?" sahutnya. Aku hanya menunduk dan menggeleng. "Ku tunggu di bawah, ya," ucap ayah sebelum dia meninggalkan kamarku. Kami pergi tanpa memberitahu siapa pun. Ayahku melarangku berpamitan bahkan pada Jihan. Saat di perjalanan, ketika aku bertanya kenapa, ayah hanya menjawab, "Mulai sekarang jangan pernah menghubungi keluarga Dongshik lagi, tak terkecuali Jihan! Tidak ada satupun dari anggota keluarga ini yang boleh berhubungan lagi dengan mereka!" tegas ayah. "Tapi kenapa, Ayah? Beritahu aku alasannya," ucapku. "Tanyakan saja pada ibumu," jawab ayah. Aku tidak mendapat jawaban apapun. Yang di lakukan ibu sedari tadi hanya diam. Benarkah ibu berselingkuh? Lalu dengan siapa? Batinku. ___ Seoul, 2014 Aku mendapat kabar bahwa ayah Jihan meninggal dalam sebuah kecelakaan. Aku dan ibu pergi ke Busan untuk menghadiri pemakamannya tanpa sepengetahuan ayah. Bibi Han dan ibu saling memeluk satu sama lain. Entah kenapa, pemandangan itu terlihat sedikit janggal. Mengapa ibu terlihat lebih bersedih dan terpukul daripada bibi Han? Jangan-janganㅡ Aku segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir segala kecurigaan di kepalaku. Ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal yang tidak-tidak. "Jimin," panggil Jihan. Aku menoleh padanya. Dapat kulihat dia berusaha untuk tetap kuat dan menahan diri agar tidak menangis. Aku mendekat padanya dan memeluknya. "Menangislah hanie, menangislah. Tidak apa-apa. Aku ada bersamamu." Dia mempererat pelukannya dan mulai terisak. Aku mengelus kepala dan punggungnya bergantian. "Appa. Appa." Air mataku ikut terjatuh mendengar Jihan memanggil ayahnya. Ku peluk dia semakin erat. Kukecup keningnya berkali-kali. (Ayah) "Jim. Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku," ucap Jihan sesenggukan. Dia mendongakkan kepala menatapku. "Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku. Jika kau pergi juga, bagaimana aku bisa bertahan?" Aku mengusap air mata di kedua pipinya dengan ibu jariku. "Aku janji tidak akan meninggalkanmu. Lagi." ___ Setelah kematian paman Dongshik, ibu Jihan memutuskan untuk pindah ke Seoul. Dia merasa tidak lagi sanggup bernapas jika masih tinggal di Busan. Semua kenangannya bersama sang suami terukir jelas di sana. Sehingga dia memilih meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan hidup. Masih ada Jihan yang membutuhkannya, dia masih harus bekerja untuk masa depan Jihan. Maka dia tidak boleh terpuruk sekarang. Jika bukan karena adanya Jihan di sisinya, mungkin bibi Han tidak akan dapat bertahan lagi. Dia teramat mencintai sang suami. Rasa penyelasan hadir di dalam dirinya. "Harusnya aku lebih sering bersamamu. Harusnya aku lebih mementingkanmu dari pekerjaanku. Maafkan aku, sayang. Maafkan aku." Hanya itu yang terus dia katakan di hadapan pigura hitam sang suami. Di sudut lain, kudapati ibu menunduk dan terisak. Memukul-mukul dadanya berharap nyeri di hatinya dapat menghilang. Sesegera mungkin ku tepis kecurigaan yang muncul di kepalaku. Ibu hanya sedang bersedih karena kehilangan sahabatnya. Batinku. Ketika aku mendekat kepadanya, aku dapat mendengar ibu bergumam, "Ini semua salahku." Aku menghentikan langkahku. Tidak. Ku mohon jangan seperti ini. Aku membatin. Aku berbalik menatap Jihan dan Ibunya. Bagaimana jika semua dugaanku benar? Air mataku kembali terjatuh. "Apa yang harus aku lakukan?" ucapku lirih. ___ Setelah kepindahan Jihan dan ibunya ke Seoul, aku dan Jihan kembali akrab. Meski berbeda sekolah, aku dan Jihan kembali sering bertemu. Tentu saja tanpa sepengetahuan ayah, Jihan sendiri tidak tahu bahwa ayahku melarangku untuk menemuinya. Terkadang aku yang mengunjunginya di sekolahnya, terkadang juga sebaliknya. Jihan sering bercerita banyak hal padaku. Termasuk tentang seorang seonbae di sekolahnya yang dia sukai. Aku merasa cemburu, tapi ketika ku lihat mata Jihan selalu berbinar bahagia saat bercerita tentangnya aku hanya bisa tersenyum, aku turut bahagia melihatnya bahagia. Syukurlah! Jihan yang dulu sudah kembali. Pikirku. Tapi, kebahagiaan itu tidak berlangsubg lama. Ketika aku akan beranjak naik ke kelas dua sekolah menengah atas, ayah pun mengetahuinya. Ayah marah besar. Dia pun memutuskan untuk mengirimku ke Jerman. Tentu aku menolak. Baru saja setahun aku bertemu Jihan kembali, aku tidak ingin meninggalkannya lagi. Aku, Mencintai Jihan. "Aku tidak ingin pergi, ayah! Kenapa kau bersikeras melarang aku bertemu Jihan? Aku tidak akan pergi, tidak akan!" Aku berusaha melawan. Ayah bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang. "Bagaimana jika kukatakan alasan yang sebenarnya. Apa kau akan pergi?" tanyanya. "Lalu apa alasannya?" tantangku. Ibu yang sejak tadi hanya diam pun angkat bicara. "Sayang, jangan lakukan itu," ucapnya. Ayah menatap ibu. "Diam kau! Ini semua karena salahmu!" bentak ayah. "Apa maksudnya ini semua salah ibu?" tanyaku. Ayah kembali menatapku. "Ibumu ini, berselingkuh dengan Dongshik. Ayah Jihan!" Seketika aku merasa ribuan belati menghujam jantungku. "A-apa? J-jadiㅡ" aku berhenti dan menarik napas. "Alasan pertengkaran kalian dua tahun lalu karena a-ayah Jihan? Jadi, semua dugaanku selama ini ternyata benar?" tanyaku memastikan. Ayah dan ibu terkejut. "B-bagaimana kau tau itu?" Kali ini ibu yang bicara. Aku memilih tidak menjawab pertanyaan itu. Apa itu penting sekarang? Pikirku. "Terlebih lagi, bahkan sampai detik sebelum Dongshik mati pun, ibumu masih menemuinya. Mereka masih bertemu diam-diam di belakangku. Ya tuhan! istriku dan sahabatku sendiri mengkhianatiku," sambung ayah. Dapat ku lihat rasa sakit yang teramat dari tatapan matanya. "Benarkah itu, Bu?" tanyaku lirih. Aku menatap ibu, berharap menemukan penjelasan atas semua ini. Tak mendapat jawaban apapun, aku beralih menatap ayah. Air mataku jatuh ketika tidak ku temukan sedikit pun kebohongan di mata ayah. Jadi semua itu benar? "Lalu, bagaimana dengan bibi Han dan Jihan? Apa mereka mengetahui ini?" tanyaku. Diam-diam aku mengucap do'a semoga Jihan dan ibunya tidak mengetahuinya. Tidak bisa ku bayangkan akan seperti apa hubunganku dengan Jihan jika sampai dia mengetahui segalanya. "Tidak. Mereka tidak mengetahuinya. Mereka tidak perlu tahu apa yang Dongshik dan ibumu lakukan di belakang mereka. Cukup ayah. Cukup ayah yang merasakan sakitnya." Ayah menatap ibu yang kini mulai terisak dengan sinis. "Asal kau tau, nak. Dongshik, kecelakaan di saat dia berniat menemui ibumu. Dua orang yang sangat aku sayangi mengkhianatiku. Bisakah kau mengerti perasaanku sekarang? Jika iya, turuti perkataanku. Ayah mohon," ucap ayah lirih. Aku terduduk lemas di lantai. Menangisi apa yang telah terjadi. Hatiku sakit, aku tidak tau siapa yang harus ku salahkan untuk ini. Siapa yang harus ku benci sekarang? Aku menyeka air mataku. "Aku. A-ku akan menuruti keinginan ayah. Aku akan pergi sejauh mungkin dari hidup Jihan dan ibunya," ucapku. "Maaf, Ji. Sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Akan sulit bagiku untuk menatap wajahmu dan bibi Han mulai saat ini. Aku malu. Aku takut," ucapku dalam hati. ___ Seoul, 2019 Yoongi menghela napas. Mencoba mencerna semua yang baru saja dia dengar. Memijit pangkal hidungnya. Tidak dia sangka semuanya akan serumit ini. Jimin tersenyum kecut. "Sudah ku bilang, ini akan sangat panjang. Dan juga rumit, Hyung." "Lalu, apa tujuan kau menceritakan ini semua padaku?" tanya Yoongi. Dia merasa frustrasi, merasa bingung tindakan apa yang harus dia ambil untuk masalah ini. Dia menghela napas, membuka satu kaleng bir dan meneguknya sampai habis. "Aku mengatakan semuanya padamu karena aku tidak sanggup lagi menyimpannya sendiri, Hyung." Jimin menatap Yoongi dengan tatapan sendu. "Kau tidak berniat untuk mengatakannya pada Jihan?" tanya Yoongi. "Kau gila? Kau ingin hubunganku dan Jihan hancur? Begitu?" Seketika suara Jimin meninggi. Yoongi terperangah. Mengusap wajahnya kemudian berkata, "Jadi kau berniat menyembunyikan fakta ini dari Jihan?" "Iya. Aku akan menyembunyikannya selama mungkin. Jika bisa, untuk selamanya," tegas Jimin. "Kau egois Jim." Yoongi menggelengkan kepalanya. "Iya. Aku egois. Bagiku, lebih baik menyembunyikan ini semua darinya. Aku tidak ingin dia terluka, Hyung! Terlebih lagi, aku tidak akan pernah sanggup jika Jihan membenciku." Jimin terisak. Sebenarnya Yoongi sedikit banyak dapat mengerti posisi Jimin. Dia takut kehilangan sahabatnya. Di sisi lain, itu juga bukan kesalahannya. Tapi pria malang itu harus menanggung semua akibat dari kesalahan orang tuanya. "Jika bukan karena ingin mengatakan semuanya pada Jihan, lalu apa alasanmu kembali kemari? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?" "Aku kabur dari rumah. Aku tidak sanggup lagi mendengarkan pertengkaran orang tuaku. Akan lebih baik jika mereka bercerai saja. Tapi aku tidak habis pikir kenapa mereka masih bertahan dalam sebuah hubungan yang hancur," sahut Jimin lirih. "Selain itu, aku ingin mencari kebenaran tentang kematian ayah Jihan," tambah Jimin. Yoongi mengernyit bingung. "Ada apa dengan kematian ayah Jihan?" tanya Yoongi. Dia menatap Jimin lama. Mendapati raut wajah Jimin yang terlihat sulit untuk di artikan. Iris Yoongi melebar ketika sesuatu muncul di pikirannya. "Jangan bilangㅡ" "Aku mencurigai ayahku sebagai dalang di balik kematian ayah Jihan," ucap Jimin memotong perkataan Yoongi. Yoongi meneguk salivanya. Perkataan Jimin benar-benar sukses membuatnya hampir gila. "Tapi itu hanya kecurigaanmu saja, kan?" tanya Yoongi memastikan. Berharap Jimin akan mengatakan 'ya'. Berharap semuanya tidak semakin rumit. Selain karena mengkhawatirkan Jihan, dia juga mengkhawatirkan Jimin. Ada rasa iba di hatinya. Dia merasa apa yang terjadi pada Jimin dan Jihan begitu tragis. Dia berusaha untuk tersenyum. Menanti dengan napas tertahan jawaban apa yang akan di katakan olehㅡyang bagi Yoongi adalah pria malangㅡJimin. Jimin balas tersenyum, "Ku harap juga begitu, Hyung." Senyum Yoongi luntur. Cukup sudah. Tidak ada lagi yang dapat dia katakan. Karena semakin dia bertanya, semakin dia mendapati jalan buntu. Dia tidak dapat lagi memikirkan solusi untuk masalah ini. Dia memejamkan mata sambil bersandar di sofa. "Tapi, asal kau tau saja," ucap Jimin. Yoongi membuka matanya. "Apa?" Suara Yoongi mendadak menjadi parau. "Apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskan Jihan ataupun menyerahkannya kepada pria lain. Termasuk kau, Hyung," tegas Jimin. Yoongi tidak menjawab. Hanya menatap Jimin tajam. "Aku mencintai Jihan," imbuh Jimin. Hening sejenak di antara mereka. "Perlu kau tau, Jimin" Yoongi tersenyum miring, "Seonbae yang Jihan ceritakan padamu itu, adalah aku." Mendadak suasana dia antara mereka jadi menegang. Jimin menatap Yoongi begitu tajam dan mengepalkan tangannya. "Itu hanya masa lalu, Hyung. Sekarang kau sudah terlambat." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN