Ponsel Jihan berdering tanda telepon masuk ketika dia hendak melangkah mendekati kedua presensi itu. Dia menatap layar ponselnya.
"Yoongi?"
Jihan segera menerima panggilan telepon dari Yoongi.
"Haㅡ"
"Neon eodiya?" tanya Yoongi tanpa basa-basi, bahkan sebelum Jihan selesai bicara. Sukses membuat Jihan kesal. (Kau dimana?)
Jihan berbalik arah membelakangi Jimin yang terlihat sedang mengobrol dengan seorang pria.
"Kenapa tidak balas pesanku?" tanya Jihan balik, dapat dia dengar Yoongi menghela napas.
"Masih bersama Jimin?" baiklah. Alih-alih saling memberi jawaban justru mereka malah saling melempar pertanyaan. "Kapan kau pulang? Aku di depan rumahmu," lanjut Yoongi.
"Benarkah? Kenapa tidak masuk saja? Aku dan Jimin sedang di depan kedai bibi Shin, setelah makan aku akan segera pulang," sahut Jihan.
"Tidak usah buru-buru. Sudah larut, sebaiknya aku pulang saja." Yoongi melirik sekotak macaroon yang dia letakkan di jok sebelahnya kemudian menyalakan mesin mobilnya. "Jalja."
(Selamat malam)
"Haㅡ Ya!" Jihan berteriak kesal.
"Dasar pangsit rebus, seenaknya saja mematikan telepon!" ucap Jihan sambil mencak-mencak.
"Jihan-ah, geogiseo mwohae? Ppalli wa!" panggil Jimin. (Sedang apa di sana? Cepat kemari!)
Jihan berbalik dan segera berlari kecil ke arah Jimin.
"Loh? Di mana pria yang tadi bicara denganmu?" tanya Jihan.
"Oh, Taehyungie? Sudah pergi tuh," jawab Jimin santai.
"Taehyung? Sepertinya aku pernah dengar," sahut Jihan sambil menelengkan kepala bingung.
"Jelas saja. Dia kan teman SMAku. Tadi kami kebetulan bertemu," ucap Jimin.
Jihan ber-oh ria. "Sudahlah lupakan. Ayo kita masuk saja. Aku sudah lapar sekali." Jihan menarik tangan Jimin dan membawa pria itu memasuki kedai. Jimin tersenyum.
Mereka duduk di meja yang berdekatan dengan pintu.
"Aku ingin makan ramyeon saja," ucap Jihan. Jimin mengangguk kemudian bergegas memesan dua ramen.
___
"Sudah sampai. Masuklah! Terimakasih sudah menemaniku hari ini." Jimin mengelus puncak kepala Jihan.
"Menginap saja lagi di sini. Kau pasti lelah, flatmu kan belum kau rapikan," ucap Jihan.
Jimin tersenyum dan menggeleng. "Tidak apa-apa. Kau masuk dan istirahatlah. Sampaikan terima kasihku pada ibumu," sahut Jimin.
"Baiklah. Hati-hati di jalan Jiminie," ucap Jihan.
Jimin mengangguk, "Oh iya. Besok kita berangkat ke kampus bersama, oke?"
"Baiklah. Tapi kau sudah harus siap begitu aku sampai ke flatmu yah. Kalau tidak kau ku tinggalkan!" ucap Jihan dengan nada mengancam.
"Baiklah. Aku akan pulang setelah melihatmu masuk ke rumah," sahut Jimin.
Jihan tersenyum. Apa-apaan sih, seperti di drama saja, pikirnya.
"Jalja Jiminie." Jihan melambaikan tangan sebelum berbalik.
"Jalja, saranghae hanie." Jimin balas melambaikan tangan. Jihan terkikik geli mendengar perkataan Jimin. Manis sekali, pikirnya.
(Aku mencintaimu)
Setelah memastikan Jihan masuk ke dalam rumah, Jimin pun pergi. Jimin bersyukur hari ini dia dapat menghabiskan waktu bersama Jihan tanpa gangguan, dia ingin dapat bersama Jihan selama mungkin yang dia bisa. Jimin menghentikan langkahnya dan berbalik memandangi rumah Jihan.
"Jika nanti kau tau kebenarannya, apa kita masih bisa seperti ini, Ji?" ucap Jimin lirih. Teringat alasan sebenarnya mengapa dia kembali ke Korea membuatnya dihantui rasa takut. Berharap dapat memutar kembali waktu agar semua yang dia takutkan tidak perlu terjadi.
___
Yoongi memarkirkan mobilnya sembarangan di depan apartemen Namjoon, keluar dari mobil dengan wajah cemberut dan membanting pintunya keras. Melirik sekilas pada kotak yang dia pegang. Tadinya sih untuk Jihan, tapi tidak jadi karena Yoongi kesal. Mengingat kenyataan bahwa seharian Jihan bahkan tidak menghubunginya dan menghabiskan waktu sampai selarut ini dengan Jimin. Dia menghela napas frustrasi, lantas berjalan memasuki gedung apartemen dengan gontai seperti orang yang habis dipukuli puluhan preman saja.
Flat yang Namjoon sewa memang terbilang kecil, tapi bagi Yoongi itu adalah tempat yang tepat untuk dijadikan sebagai pelarian di saat dia sedang kesal. Sebelumnya dia sudah menghubungi Namjoon mengatakan bahwa dia akan berkunjung. Pria berlesung pipi itu langsung saja mengiyakan. Karena selain Yoongi itu hyung panutannya, dia juga tidak pernah datang dengan tangan kosong. Lumayan, pikirnya.
Yoongi meletakkan sekotak macaroon tepat di sebelah Namjoon yang duduk melantai kemudian beralih ke kasur dan merebahkan dirinya di sana.
Namjoon memandangi kotak itu sejenak. "Bukannya tadi kau bilang membeli ini untuk seseorang, Hyung?" tanya Namjoon.
"Tidak. Untukmu saja. Makanlah," sahut Yoongi lemas, masih membaringkan tubuhnya di atas kasur. Namjoon yang duduk di lantai dengan memeluk lutut pun melongo, ada apa dengan hyung satu ini? Pikirnya. Daripada pusing, dia memilih membuka tutup kotak itu dan langsung saja meraih satu buah macaroon dan memakannya.
"Mm.. Hyung ini enak sekali. Terimakasih ya, Hyung," ucap Namjoon sambil mengunyah.
Yoongi tak menyahut lagi, hanya menghela napas pelan dan memejamkan mata.
Setelah beberapa menit mereka berdua tidak ada yang saling berbicaraㅡhanya suara kunyahan Namjoon yang terdengarㅡYoongi pun bersuara.
"Namjoon-ah."
Namjoon pun menoleh pada hyungnya itu. "Ne, Hyung?" jawab Namjoon. (Iya)
Hening sesaat.
"Tidak jadi." Yoongi berbalik badan mencari posisi yang nyaman untuk tidur, "aku akan menginap malam ini," ucapnya.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi. Meskipun Namjoon tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Yoongi, setidaknya dia dapat merasakan bahwa hyungnya sedang tidak baik-baik saja. Tidak dapat banyak membantu, tapi dia berusaha menjadi adik yang baik dengan bersikap pengertian dan tidak banyak bertanya, menunggu sampai Yoongi sendiri yang bercerita padanya. Maka dia akan siap mendengarkan.
___
Tidak terasa sudah dua minggu lebih Jimin berada di kampus itu. Dia pun sudah dapat beradaptasi dengan baik. Sebenarnya, Jimin adalah tipe orang yang gampang bersosialisasi, tidak heran dia sudah akrab dengan mahasiswa lain. Termasuk Yoongi. Yah, walaupun terkadang mereka seperti Tom & Jerry.
Dan ketika perkelahianㅡadu mulut lebih tepatnyaㅡmulai terjadi, maka Jihan akan berganti peran menjadi seorang ibu beranak dua dimana kedua anak itu adalah anak yang sangat nakal. Dia akan menjewer telinga keduanya. Kalau cara itu tidak mempan, maka Jihan akan melakukam kekerasan-kekerasan lainnya. Apa boleh buat? Mereka persis seperti anak-anak yang duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Bedanya hanya kau tidak boleh melakukan kekerasan pada anak di bawah umur. Tapi untuk mereka berdua? Sah-sah saja menurut Jihan. Toh badan keduanya badan orang dewasa.
"Hyung, jam berapa kelasmu selesai?" tanya Jimin.
"Jam 2 siang, kenapa?"
"Kalau begitu setelah selesai ayo kita pergi bersama. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Jimin menatap Yoongi, "Berdua saja. Penting! Hyung," tegas Jimin.
"Maaf aku harus menolak. Karena aku tidak tertarik dengan pria. Cari saja pria lain," ucap Yoongi.
"Ini bukan yang seperti itu hyung! Aku serius. Lagi pula menuduhku seperti itu padahal sendirinya sering berduaan dengan Namjoon hyung," ejek Jimin.
"Aku dan Namjoon punya tujuan yang ingin kami capai," jelas Yoongi. "Lagipula, kalau ingin, lebih baik kuhabiskan waktuku berasama Jihan. Daripada harus bersamamu. Kenapa juga kau terus mengikutiku sih?" ucap Yoongi dengan nada kesal.
"Dengar ya, Hyung. Aku tidak mengikutimu! Tapi menjaga Jihan darimu. Siapa tau kau punya maksud buruk padanya!" Jimin pun mulai kesal.
Yoongi menghentikan langkahnya. "Oh ya? Bung, dengar ya! Sejak pertama kali aku melihatmu, aku merasa kau menyembunyikan sesuatu. Akan lebih masuk akal jika dikatakan kau yang mungkin saja punya niat buruk padanya." Yoongi menatap Jimin dengan tatapan mengintimidasi.
Tapi dapat Yoongi lihat tatapan Jimin menjadi sendu.
"Justru itu, kita harus bicara, Hyung. Ini juga ada kaitannya dengan Jihan," ucap Jimin tidak kalah tegas dari sebelumnya.
Yoongi menghela napas.
"Sebaiknya kau tidak sekadar menipuku, Park Jimin!"
"Aku tidak akan menipumu. Datanglah ke flatku setelah kelas hyung selesai." Jimin melangkahkan kaki meninggalkan Yoongi. Tampak jelas kebingungan tergambar dari wajah Yoongi.
Yoongi menyipitkan mata, "Apa yang sedang kau rencanakan, Park Jimin?"
___
Yoongi segera meninggalkan ruangan ketika kelas selesai. Sedari tadi dia tidak dapat fokus di dalam kelas. Seluruh atensinya ada pada Jimin. Bertanya-tanya apa yang akan pria itu katakan. Mengapa perasaannya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi?
Yoongi bergegas menuju mobilnya, lantas melajukan mobilnya dengan tujuan flat Jimin.
Sampai di sana, Yoongi menekan bel. Pintu terbuka, Yoongi di sambut Jimin yang memasang wajah begitu serius.
"Masuk, Hyung." Jimin membuka lebar pintu dan membiarkan Yoongi masuk.
Yoongi melangkah masuk dan duduk di sofa. Menoleh ke arah Jimin yang sedang menutup pintu.
"Jadi. Apa yang menjadi alasan pertemuan ini? Katakan," ucap Yoongi mencoba untuk sedikit relaks.
Jimin menoleh, masih dengan ekspresi yang begitu serius. Membuat Yoongi menelan ludah.
Ada apa sebenarnya? Kenapa firasatku buruk untuk ini? Batin Yoongi.
"Sebelum itu, Hyungㅡ" Jimin menggantungkan kalimatnya. Dia melangkah mendekat pada Yoongi.
"Mau minum apa?"
Yoongi menghela napas. Setengah lega, setengah kesal. Kau pasti tau rasanya saat kau sedang nonton Variety Show di televisi dan di saat-saat yang menegangkan pembawa acaranya malah mengatakan "Setelah pesan-pesan berikut ini!" Sedikit banyak mirip dengan yang dirasakan Yoongi saat ini.
"Apapun," sahut Yoongi. Jimin sedang mempermainkannya, pikir Yoongi. Ingin rasanya dia menendang p****t Jimin hingga dia tersungkur. Jika saja dia tidak sedang dalam keadaan sangat penasaran mungkin dia sudah merealisasikan niat baiknya itu.
Jimin muncul dengan membawa beberapa kaleng bir dingin dan satu botol besar soda beserta dua buah gelas.
Yoongi mengangkat satu alisnya, "Bir?" tanyanya, dengan tatapan kau serius?
Jimin mengedikkan bahu. "Aku membutuhkannya. Lagi pula tadi hyung kan bilang apapun," jawab Jimin santai. Yoongi mendecih.
Jimin membuka satu kaleng bir. "Lagi pula di sini ada soda juga. Untuk berjaga-jaga, siapa tau hyung tidak kuat minum." Jimin tersenyum meremehkan.
"Kau bercanda? Toleransi alkoholku sangat tinggi." Yoongi meraih satu kaleng bir.
Jimin meneguk birnya. "Ini akan memakan waktu yang lama, ku harap kau akan mendengarkan dengan baik, Hyung," ucap Jimin begitu serius.
Yoongi membenarkan posisi duduknya, mencari posisi ternyaman. Siap mendengarkan.
"Baiklah. Katakan!"
***