Yoongi jelas mengerti maksud dari perkataan Jimin, yang Yoongi tidak mengerti adalah kenapa dia harus merasa tidak nyaman dengan itu. Dia menghempaskan diri ke atas kasur, menghela napas kasar dengan dahi berkerut. Hanya karena sebuah percakapan singkat dengan Park Jimin tadi siang sukses membuatnya tidak bisa tidur.
Dia bergerak gelisah mencoba untuk tidur. Tapi setiap kali dia mulai menutup mata, perkataan Jimin kembali mengusiknya.
"Menjadikan dia milikku?"
"Salah satu alasanku kembali ke Korea adalah Jihan, kalau hyung ingin tahu."
"Arggh."
Yoongi mengacak rambutnya frustrasi. Dia bangkit dan duduk di tepi ranjangnya. Meraih ponsel dan mencari nama Jihan di kontak lantas mengirim pesan.
___
Yoon Jihan
Tidur?
Orang tidur tidak akan
bisa membalas pesan.
Mwohae?
(Sedang apa?)
Mengobrol dengan Jiminie
Read
___
Yoongi melemparkan ponselnya ke kasur.
"Jiminie? Cih, iya dia itu memang manusia mini. Lagi pula apa sih yang mereka bicarakan sampai selarut ini? Jangan-janganㅡ"
Dia bangkit dari duduknya dengan tiba-tiba. Tapi sedetik kemudian duduk kembali, menggelengkan kepalanya. "Jika Jimin benar-benar serius dengan ucapannya dia tidak mungkin mengatakannya secepat ini juga, setidaknya dia butuh waktu yang tepat. Yah benar sekali. Dia butuh timing, timing."
Dia mengangguk mantap. Puas dengan monolognya sendiri akhirnya membaringkan kembali dirinya di atas kasur.
"Hah nyamannya. Sekarang aku akan tidur, monolog ini sedikit melelahkan," ucapnya sambil merapatkan selimut ke tubuhnya. Setidaknya dia benar-benar terlelap kali ini.
___
Jihan menatap ponselnya, Yoongi sudah tidak mengirim pesan hanya membaca balasan yang Jihan kirimkan padanya tadi. Sukses membuat Jihan mendecih kesal.
"Ada apa?" tanya Jimin.
Jihan menoleh. "Eoh? Tidak ada apa-apa." Dia tersenyum, di balas anggukan oleh Jimin.
"Hanie," panggil Jimin.
"Hm?" sahut Jihan.
"Yoongi hyung ituㅡ" dia mengantungkan kalimatnya, menoleh pada Jihan dan menatapnya lekat.
"Yoongi wae?" sahut Jihan. (Kenapa)
Jimin tersenyum sembari menggelengkan kepala pelan. "Tidak apa-apa," jawabnya.
Jihan menaikkan satu alisnya, Jimin terkekeh kemudian bangkit dari duduknya.
"Sudah larut, lebih baik kau tidur. Besok kita kan akan berkencan." Ucapnya sembari mengelus kepala Jihan lembut.
"Kencan kepalamu! Sana tidur, ingat! Jangan telat bangun, banyak hal yang harus di lakukan besok," sahut Jihan.
"Jangan ajak Yoongi hyung besok," ucap Jimin.
"Ya, terjadi sesuatu antara kalian saat aku tidur tadi, kan? Kalian bertengkar? Iya, kan?" tanya Jihan. Jimin dengan cepat menggelengkan kepala.
"Tidak kok. Kalau bawa Yoongi hyung bukan kencan namanya," jawabnya, dia tersenyum lebar.
Jihan menghela napas, dia sudah terbiasa dengan Jimin yang seperti ini. Walaupun Jimin itu tampan, dia belum pernah berkencan sama sekali, mungkin itu sebabnya dia jadi seperti iniㅡkesepian. Maklumi saja, pikirnya.
"Jangan lupa surat keterangan pindah kampusmu, juga berkas lainnya. Jangan ada yang tertinggal besok," ucapnya pada Jimin yang sudah berjalan menuju pintu, berniat kembali ke kamarnyaㅡkamar tamu.
"Aye captain!" sahut Jimin.
"Jalja, Jiminie." Jihan melambaikan tangan.
"Jalja, Hanie," balas Jimin sebelum menutup pintu kamar Jihan. (Selamat tidur)
___
"Yoongi."
Yoongi menoleh, mendapati Jihan sedang melambaikan satu tangan padanya, satunya lagi di genggam oleh Jimin. Yoongi mendengus melihat itu.
Ayolah bung! Ini masih pagi.
"Berani taruhan orang-orang akan berpikir kalian ini pasangan kekasih," sahut Yoongi ketika keduanya sudah sampai di hadapannya.
Jimin semakin mempererat genggaman tangannya. "Kami sudah biasa seperti ini, Hyung. Sejak dulu."
"Kenapa kemari?" tanya Yoongi pada Jihan, mengabaikan Jimin.
"Menemani Jimin mengurus kepindahannya," jawab Jihan santai.
Dasar bocah manja. Yoongi membatin.
"Kau sendiri sedang apa? Bukannya harusnya kau ada kelas yah sekarang?" tanya Jihan. Yoongi melirik jam tangannya.
"Ah iya, kalau begitu aku ke kelas dulu," sahut Yoongi. Sebelum beranjak pergi dia menatap Jimin. Dibalas tatapan tunggu apalagi? Sana pergi! Dari Jimin.
Yang Yoongi tangkap, sikap Jimin sangat berbeda dari yang ia lihat kemarin. Kemarin pria itu bersikap sangat ramah, sebaliknya hari ini dia menatap Yoongi begitu dingin. Tapi Yoongi tidak mau kalah. Jadilah perang tatap-tatapan di antara mereka. Anehnya Jihan bahkan tidak menyadari sama sekali apa yang sedang dilakukan kedua pria ini.
Orang ini berkepribadian ganda atau bagaimana? Pikirnya. Jika saja Yoongi tidak ingat sedang ada kelas, maka dia rela tinggal di sana dan melanjutkan aksi saling menatap dengan tajam itu sampai salah satu dari mereka mengibarkan bendera dan mengaku kalah. Atau sampai salah satu dari mereka tersayat-sayat dan mengeluarkan darah.
Setelah Yoongi pergi, barulah Jimin merenggangkan genggamannya pada tangan Jihan.
"Setelah ini mau makan ice cream?" tanya Jimin, senyum kini kembali terukir di bibirnya.
"Okey." Jihan berseru dengan bersemangat.
___
Jihan sedang memeriksa setiap sudut ruangan apartemen yang Jimin pilih, hanya sebuah flat sederhana. Jimin memilih flat yang sedikit jauh dari kampus, Jihan sempat melayangkan protes padanya karena akan lebih baik jika tempat itu berdekatan dengan kampus, lebih efisien. Tapi Jimin menolak dengan alasan tidak masalah jauh dari kampus, yang penting dekat dengan rumahmu. Kalau jauh, kalau aku rindu padamu bagaimana?.
Jihan hanya bisa mengangguk pasrah, Jimin itu keras kepala. Baru saja ketika mereka hendak meninggalkan flat itu, masuklah seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah sang pemilik flat.
"Bagaimana? Apa kalian tertarik? Aku akan beri diskon untuk pengantin baru," tawarnya.
Jihan sudah akan membantah jika saja Jimin tidak lebih dulu merangkul pundaknya lalu berkata, "Kami ini memang pengantin baru, mata anda jeli sekali yah." Dia terkekeh.
Jihan sontak menoleh padanya dengan mata melotot. Tapi seperti biasa, hanya dibalas dengan senyum kelewat manis.
"Kalian ini serasi sekali, hatiku jadi senang melihatnya. Baiklah akan ku beri diskon untuk kalian," seru wanita paruh baya itu.
"Gamsahamnida, Ahjumoni," ucap Jimin sambil menundukkan badan yang di ikuti pula oleh Jihan. (Terimakasih bibi)
Wanita paruh baya itupun mengangguk kemudian pergi meninggalkan flat terlebih dahulu. Jimin yang berniat menyusul pun mendapat satu pukulan keras di lengannya.
"Aw, sakit hanie." Dia mengelus-elus lengannya yang nyeri karena pukulan Jihan.
"Siapa suruh kau berbohong! Nanti juga ketahuan kalau dia melihatmu pindah ke sini sendirian!" ujar Jihan kesal.
"Tidak masalah, yang penting kan dapat diskonnya dulu," sahut Jimin di sertai cengiran khasnya.
Jihan mendengus sebal. "Pokoknya itu urusanmu yah kalau ketahuan. Aku tidak mau tau!" Jihan melipat kedua tangannya di depan d**a.
Jimin menganggukan kepala. "Tenang saja hanie, mana tega ahjumoni itu marah pada Jimin yang manis ini," dia terkekeh.
Jihan yang kesal memilih berlalu meninggalkan Jimin untuk menyusul sang pemilik flat.
Setelah presensi Jihan sudah benar-benar tidak terlihat, Jimin pun memilih mendudukkan diri pada salah satu sofa di dekatnya. Dia menundukkan kepala dan menghela napas, menutup matanya dengan telapak tangan.
Semenit kemudian dia kembali mengangkat kepala, membuka matanya yang terlihat berkaca-kaca. "Aku lelah berpura-pura," gumamnya. Tak lama kemudian dia bangkit dari duduknya dan memejamkan mata sesaat, menghela napas kemudian beranjak meninggalkan flat.
___
Mereka tidak lepas dari tatapan mata setiap orang yang lewat, berbisik tentang betapa serasinya pasangan kekasih itu. Meski begitu masih dapat terdengar jelas di telinga kedua pasangan tersebutㅡJihan dan Jimin.
Senyum bangga terukir jelas di bibir sang pria, sedangkan sang wanita hanya bisa memutar bola mata jengah. Bagaimana orang-orang tidak akan berpikir demikian jika tangannya terus-terusan di genggam dengan erat.
Jihan tidak bisa menolak karena pada dasarnya dia merasa nyaman setiap Jimin menggenggam tangannya. Hanya saja dia tidak dapat menahan lebih lama ditatap dan dibicarakan oleh orang-orang. Kenapa juga Jimin harus mengajaknya ke taman yang di penuhi banyak orang seperti ini. Taman yang sama saat dia menyatakan perasaannya pada Yoongi.
Tunggu dulu. Apa?
Yoongi?
Tiba-tiba Jihan teringat pria itu. Jika di ingat-ingat, seharian ini dia tidak menghubungi Yoongi setelah mereka berpisah di koridor kampus tadi. Itu hal yang sangat jarang terjadi, biasanya dia akan menghabiskan waktu hampir seharian dengan pria itu. Jihan sampai lupa karena seharian terus bersama Jimin.
Jihan merogoh tasnya berusaha mencari ponselnya.
"Ada apa?" tanya Jimin.
Jihan menoleh padanya sejenak. "Eoh, mau menghubungi Yoongi dulu," jawabnya enteng. Jimin pun melepas genggaman tangannya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket dan mendengus pelan.
Jihan yang menyadari itu menoleh pada Jimin. "Ada apa?" tanyanya bingung.
"Sebenarnya untuk apa menghubungi Yoongi hyung? Ada yang penting?" Jimin balik bertanya.
"Mm.. tidak sih. Hanya saja aku tidak menghubunginya sejak tadi. Aneh juga dia tidak menghubungiku. Biasanyaㅡ"
Kalimat Jihan terpotong saat tiba-tiba Jimin menariknya kedalam pelukannya, membuat Jihan sedikit terkejut.
"Jim?"
"Bisakah kita habiskan waktu berdua saja hari ini? Kita sudah tidak bertemu untuk waktu yang cukup lama," sahut Jimin pelan.
Merasa bersalah, Jihan pun membalas pelukan Jimin. "Jim, apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Jihan lembut. Dia mendongak untuk menatap mata Jimin yang lebih tinggi darinya.
"Gwaenchana?" tanyanya lagi. (Kau baik-baik saja?)
Jimin hanya tersenyum. Dan kembali memeluk Jihan, lebih erat.
An-gwaenchana. Jimin membatin.
(Aku sedang tidak baik-baik saja)
"Ayo, ku antar kau pulang." Dia melepas pelukannya pada Jihan. "Atau kita makan dulu? Astaga! Pasti kau lapar sekali kan? Ayo kita makan."
Jihan hanya mengangguk. Menatapi raut wajah Jimin yang terlihat baik-baik saja membuatnya tersenyum. Meskipun beberapa menit yang lalu dia sempat yakin dan berpikir bahwa Jimin menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku jadi lupa waktu kalau sedang bersamamu. Jadi tidak sadar kalau dari tadi kita belum makan. Maaf yah membuatmu kelaparan," ucap Jimin.
Jihan sedikit berjinjit untuk mengelus puncak kepala Jimin. "Tidak masalah," sahutnya.
Jimin malah memasang wajah mengejek. "Apanya yang tidak masalah. Kau kan tukang makan, bagaimana bisa jadi tidak masalah? Pokoknya makanlah yang banyak. Akan ku traktir," ucap Jimin mantap.
Mendengar kata traktir membuatnya kembali teringat Yoongi. Pria itu belum melunasi hutangnya untuk mentraktir Jihan selama sebulan. Jihan mendengus. Melirik sebentar ke arah Jimin kemudian berkata, "Jim, aku ke toilet dulu yah. Kau duluan saja, nanti aku menyusul. Oh iya sekalian pesankan untukku juga yah," ujarnya sambil berlari kecil menuju ke toilet umum.
Sebenarnya dia tidak sedang butuh untuk pergi ke toilet, hanya saja dia merasa tidak enak menghubungi Yoongi jika ada Jimin. Melihat reaksi pria itu tadi membuatnya sedikit merasa bersalah menghubungi Yoongi di hadapannya. Dia kembali merogoh ponselnya dan segera mengirimkan pesan pada Yoongi.
___
Min Pangsit Rebus
Ya! Kau belum melunasi
hutang traktirmu!
Tidak ada balasan.
Neon eodiya? Mwohae?
(Kau dimana? Sedang apa?)
___
Karena Yoongi tidak kunjung membalas, akhirnya Jihan memutuskan untuk kembali dan menyusul Jimin.
Tapi saat sampai di sana, Jihan mendapati presensi lain sedang berdiri berhadapan dengan Jimin.
"Yoongi?"
***