03. Cancel

1715 Kata
Harusnya mereka sudah berada di bioskop sejak tadi jika saja saat di pertengahan perjalanan Jihan tidak menerima teleponㅡentah dari siapaㅡdan membatalkan rencana secara mendadak. Yang ada sekarang Yoongi sedang duduk di ruang tunggu bandara, memasang ekspresi wajah sebenarnya apa yang kulakukan di siniㅡciri khasnya. Sedangkan Jihan? Yoongi bahkan tidak tahu-menahu kemana perginya gadis itu sekarang. Lima menit yang lalu dia hanya mengatakan, "Kau tunggu di sini saja yah, jangan kemana-mana. Oke?" yang hanya dibalas anggukan oleh Yoongi. Yoongi menuruti saja apa yang Jihan katakan. Selain karena tidak mengerti situasinya, Yoongi butuh waktu untuk mengatasi sisa keterkejutannya akibat kejadian satu jam yang lalu. Yoongi ingin menanyakan banyak hal, misalnya seperti kenapa harus Jihan yang datang ke bandara? Toh bisa bertemu nanti di rumah temannya itu. Merepotkan sekali Yoongi pikir. Belum bertemu saja Yoongi sudah kesal duluan. (Satu jam sebelumnya) "Yoongi putar balik mobilnya!" pekik Jihan membuat Yoongi terperanjat. Alih-alih memutar balik mobilnya, dia malah menginjak rem refleks. "Ada apa?" tanya Yoongi khawatir. "Kau gila? Tadi itu kita nyaris saja mati. Untung saja sedang sepi," ucap Jihan. "Kau yang gila! Kalau kau tidak berteriak tadi aku tidak akan kaget dan refleks menginjak rem!" seru Yoongi. "Maafkan aku, oke? Aku baru saja mendapat pesan. Teman lamaku sedang dalam perjalanan kembali ke Seoul dari Jerman. Dan dia mengirim pesan sejak tadi pagi, tapi baru ku cek sekarang," ucap Jihan panjang lebar, berusaha menjelaskan. Yoongi menghela napas. "Setidaknya katakan dengan pelan. Kau membuatku kaget tadi," ucap Yoongi lembut. "Maaf, aku panik." Jihan merasa bersalah. "Ya sudah, sekarang apa masih sempat kalau kita pergi ke bandara? Butuh waktu tiga puluh menit dari sini." Yoongi memutar balik mobilnya menuju arah bandara. "Eoh, dia mengirimiku pesan jam dua pagi. Dari Jerman ke sini memakan hampir dua belas jam perjalanan," Jihan melirik jam di ponselnya, "kita masih punya waktu satu jam." "Masih banyak waktu," Yoongi memperlambat laju mobilnya. "Tadi kau bilang teman lama?" tanya Yoongi. Jihan menoleh kepada Yoongi, "Eoh, sahabatku sejak kecil, kami dulu bertetangga waktu masih tinggal di Busan." Jihan tersenyum mengingat kembali saat dia masih tinggal di Busan. Yoongi mengangguk. "Kau tidak pernah cerita," ucap Yoongi datar. "Kau kan tidak pernah bertanya," jawab Jihan enteng membuat Yoongi mendengus mendengarnya. ___ "Yoongi," seru Jihan girang. Yoongi pun menoleh menatap Jihan, mendapati presensi lain yang berjalan tepat di samping Jihan sambil menarik koper, salah satu lengannya sedang di peluk oleh gadis itu, Yoongi mengerutkan dahi menatap kedua orang tersebut. Bukan, bukan karena pelukan Jihan pada lengan pria itu, melainkan tatapan pria itu pada Jihan sedikit tidak biasaㅡmengganggu bagi Yoongi. Menyadari tatapan aneh dari Yoongi pria itu lantas menoleh pada Jihan, "Nugu? Namchin?" tanyanya dengan senyum yang tidak hilang sedikit pun. (Siapa? Pacarmu?) Yoongi bangkit dari duduknya berniat memperkenalkan diri tapi Jihan sudah lebih dulu menjawab, "Bukan, dia sahabatku." "Min Yoongi," sahut Yoongi sembari mengulurkan tanganㅡsebenarnya malas sekaliㅡyang langsung di sambut oleh pria itu. "Park Jimin, sahabat Jihan sejak kecil," ucap pria itu masih dengan senyum manisnya. Jihan menatap kedua pria itu bergantian. Senyum terukir di bibirnya. Senang rasanya bisa mempertemukan dua sahabatnya itu. "Mulai sekarang Jimin akan tinggal di Seoul, jadi kalian berdua akrab-akrablah," ucap Jihan sembari menepuk punggung keduanya. Membuat mereka menoleh pada Jihan. "Kenapa?" "Baiklah." Keduanya berucap bersamaan. Jimin dan Jihan sontak menoleh pada Yoongi bingung. "Kenapa apanya? Kalian berdua kan sahabatku jadi harus akrab satu sama lain," jawab Jihan dengan wajah kelewat polos. "Ah! Dan juga Jimin akan pindah ke kampus kita, satu jurusan denganmu. Jadi yah, kalian pasti akan sering bertemu," tambah Jihan, membuat Yoongi ber-oh ria. Tapi entah kenapa Yoongi masih merasa presensi Jimin begitu mengganggu. "Hyung, senang mengenalmu." Jimin kembali memperlihatkan senyum manisnya, membuat matanya hampir tidak kelihatan. Di balas senyum singkat oleh Yoongi kemudian berbalik badan. (Kakak) "Kalau begitu sekarang kita pulang," ucap Yoongi. "Tidak mau makan dulu? Aku lapar," rengek Jihan. "Nado, Hyung." (Aku juga kak) Mendengar kata lapar membuat perut Yoongi bereaksi. Dia hanya sempat menyeruput Ice Americano tadi pagi dan belum makan apapun lagi. "Baiklah kita makan dulu. Dan berhenti sok akrab dengan memanggil aku hyung! Kapan ibuku melahirkanmu?" Jimin terkekeh, lucu juga hyung satu itu menurutnya. Sedangkan Jihan hanya bisa menggeleng. Kumat lagi. Batinnya. "Yoongi itu memang dingin, tapi sebenarnya dia baik," bisik Jihan pada Jimin. Di balas anggukan oleh Jimin. Jangan lupa dengan senyuman. Manusia satu ini memang paling hobi tersenyum sampai-sampai Yoongi sempat berpikir mungkin matanya bisa jadi hanya segaris itu karena dia keseringan tersenyumㅡtidak sadar diri kalau matanya juga hanya segaris. ___ "Jihanie, mau makan apa? Biar aku yang pesan untukmu," tanya Jimin dengan manis. Sontak membuat Yoongi melongo mendengarnya. Seperti anak kecil. Pikirnya. "Hmm.. cheese burger dengan cola saja. Kalau Jiminie?" tanya Jihan tidak kalah manis. Membuat Yoongi sukses bergidik ngeri. Belum pernah sebelumnya dia melihat tingkah Jihan seperti itu. Belum Jimin sempat menjawab Yoongi sudah buka suara, "Aku beef burger dan cola. Sana cepat pesan, aku sudah lapar!" suruh Yoongi pada Jimin. "Ya! Kenapa suruh-suruh Jimin?" bentak Jihan. "Kan dia akan jadi hoobae ku, jadi apa salahnya?" jawab Yoongi mengedikkan bahu. (Junior) Jimin terkekeh. "Baiklah aku pergi memesan dulu yah, Hanie, Hyung," sahutnya sembari bangkit dari kursinya. Dibalas anggukan dari Jihan serta lambaian tangan seolah mengusir dari yoongi. "Apa itu tadi? Ya! jangan kasar begitu pada Jimin. Dia itu hatinya lembut, gampang terluka," tegur Jihan. "Apa itu tadi? Jihanie? Jiminie? Cih, kalian pasangan yang sedang kasmaran atau apa?" Yoongi balik bertanya. Jihan menaikkan satu alisnya. "Cemburu?" "Jangan bermimpi," jawab Yoongi dengan senyum sinis. Jihan memajukan bibirnya kesal. Oh, tunggu sebentar. Kenapa juga dia harus kesal mendengar jawaban Yoongi tadi. Tiba-tiba dia terpikir tentang perasaannya pada Yoongi empat tahun lalu. Dia lekas menggelengkan kepala bermaksud menyingkirkan pikirannya itu. Melirik Yoongi sejenak yang sudah memasang ekspresi khasnyaㅡyang seperti orang kelaparan berhari-hari ituㅡtidak punya tenaga. Jihan menghela napas melihatnya, bertanya pada diri sendiri bisa-bisanya dulu dia berpikir Yoongi keren. Maldo andwae. (Tidak mungkin) "Maaf menunggu lama, antriannya panjang sekali tadi," ucap Jimin. Dia mengerutkan kening, menatap Yoongi dan Jihan bergantian. "Kenapa kalian diam?" Yoongi hanya mengedikkan bahu, meraih makanannya dan mulai makan dengan khidmat. Jimin beralih menatap Jihan bingung. "Tidak apa-apa, Jiminie, aku hanya terlalu lapar untuk berbicara dengan Yoongi. Bicara dengannya menguras tenaga, asal kau tahu saja." Mendengar itu Yoongi hanya memutar bola matanya malas. Jimin terkekeh  "Kalian ini lucu sekali sih. Kenapa tidak pacaran saja?" tanya Jimin. Sontak membuat keduanya berseru, "TIDAK!" secara bersamaan. Sukses membuat Jimin tertawa sambil memegangi perutnya. Wajah Yoongi mendadak memerah. Jihan sendiri terlihat begitu heran dengan Jimin. Bisa-bisanya dia menganggap hal itu lucu. Mungkin daun yang jatuh dari pohon pun akan di anggap lucu baginya, bertahun-tahun di luar negeri sepertinya membuat otaknya sedikit bergeser. Pikir Jihan. Setelah mereka makan Yoongi langsung mengantar Jihan pulang, berharap dia dan Jihan akan berpisah dengan Jimin di restoran dan Jimin juga akan segera pulang ke rumahnyaㅡsendirian. Tapi realita memang tidak seindah ekspektasi. Sekarang ini di dalam mobil Jihan sudah tertidur di bangku depan di samping Yoongi, sedangkan di bangku belakang ada Jimin yang tengah duduk manis seperti anak kecil sambil mendengarkan musik lewat earphonenya. Yoongi tidak habis pikir kenapa pria itu masih mengikuti mereka, harusnya setelah melakukan perjalanan panjang dia harusnya lelah. ___ Setelah sampai di depan rumah Jihan, Yoongi pun membangunkan gadis itu. "Jihan-ah, sudah sampai. Ayo bangun." "Eung? Sudah di rumah ya?" tanya Jihan sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Dibalas anggukan oleh Yoongi. Mereka berdua turun dari mobilㅡJihan dan Jimin. "Hyung tidak ikut masuk?" Tanya Jimin. "Iya, tidak mau masuk dulu? Untuk makan malam bersama, sebentar lagi ibu pulang." "Tidak, aku sudah ada janji dengan Namjoon. Sampaikan saja salamku pada Bibi, ya," sahut Yoongi. Dia melirik Jimin, "Kenapa kau ikut turun? Tidak mau pulang? Jangan ganggu Jihan dia lelah!" ucapnya Ketus. "Oh. itu, Jimin akan menginap di rumah ku dulu sementara waktu. Besok kami akan pergi mencari apartemen untuknya," Jihan menjelaskan. "Ya! Kan ada hotel. Kenapa harus menginap di rumah orang hah?" seru Yoongi pada Jimin. "Aku dan Jihan kan sudah bersama sejak kecil, jadi kami sudah seperti keluarga," sahut Jimin sambil merangkul pundak Jihan. Jihan hanya mengangguk karena masih mengantuk. Ingin ini cepat selesai dan masuk ke kamarnya melanjutkan tidurnya. Jimin mengeluarkan kopernya dari bagasi mobil Yoongi. "Aish." Yoongi turun dari mobilnya. "Katanya ada janji dengan Namjoon seonbae?" tanya Jihan heran. (Senior) Yoongi melipat kedua tangannya di depan d**a. "Siapa yang bisa menjamin kalian tidak akan melakukan hal yang iya-iya jika tidak ada yang mengawasi?" Bagus. Sekarang Yoongi terdengar seperti seorang ayah yang sedang mencoba melindungi anak gadisnya. Jimin terkekeh mendengarnya. Menarik. Bantinnya. Jihan yang biasa akan melayangkan protes pada Yoongi. Tapi sekarang dia masih terlalu mengantuk untuk itu. "Ya sudah masuk saja dulu," ucapnya sambil berbalik berjalan membuka pagar rumah. "Ayo, Hyung." Satu tangan Jimin menarik lengan Yoongi satunya lagi menarik kopernya. Yoongi hanya balas menatap Jimin dengan malas. "Lakukan apa pun yang ingin kalian lakukan. Anggap rumah sendiri. Tapi jangan di jual!" ucap Jihan sambil berlalu. "Mau kemana?" tanya Yoongi. "Melanjutkan tidurku," sahut Jihan. Dia sama sekali tidak merasa khawatir membiarkan Yoongi dan Jimin berada di dalam rumahnya tanpa pengawasan. Toh Yoongi memang sudah sering berkunjung, lebih-lebih Jimin yang sudah seperti keluarga baginya. "Kalau kalian ingin istirahat naik saja ke kamarku, aku akan tidur di kamar ibu," tambah Jihan. "Eoh," jawab Yoongi. "Baiklah, terimakasih, Hanie," Jimin ikut menyahut. Yoongi memilih duduk di sofa ruang tengah dan menyalakan TV. Sedetik kemudian bangkit kembali dan beralih ke dapur untuk mengambil minum. Jimin yang berdiri di dekat tangga memperhatikan gerak-gerik Yoongi dengan wajah datar. Sadar sedang di perhatikan, Yoongi menoleh pada Jimin, mengerutkan dahi. "Apa?" "Hyung, kau menyukai Jihan?" Tanya Jimin to the point. Langkah Yoongi sontak terhenti. Dia terdiam, terlihat berpikir sejenak. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya. "Tidak," jawabnya singkat. Dia membuka kulkas, meraih sebotol air mineral dan langsung meminumnya. Jimin tersenyum miring. "Baguslah kalau begitu. Berarti aku tidak perlu menganggapmu saingan, kan?" Yoongi tidak merespon. "Salah satu alasanku kembali ke Korea adalah Jihan, kalau hyung ingin tahu," ucap Jimin penuh semangat. Yoongi berbalik dan menatap Jimin dengan tajam, "Apa yang kau inginkan dari Jihan?" Jimin mengedikkan bahu, "Menjadikan dia milikku?" Jimin tersenyum miring. Kemudian berbalik dan menaiki tangga menuju kamar Jihan. Sempat melirik pada Yoongi yang masih berdiri di tempatnya, terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Ini semakin menarik. Dia terkekeh. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN