Yah, itu tidaklah sepenuhnya buruk.
Setidaknya itulah yang dipikirkan Jihan dulu saat mengajak Yoongi berteman. Dia hanya anak kelas dua SMA saat itu. Dia begitu naif. Sekarang setelah empat tahun dia mulai berpikir bahwa dirinya gila saat meminta Yoongi menjadi temannya.
Bagaimana tidak, sekarang saja dia sedang berlari ke halte agar tidak ketinggalan bus. Semua itu gara-gara Min Yoongi. Seandainya semalam dia tidak mengirim pesan dan berkata akan menjemput Jihan pagi ini di rumahnya untuk berangkat ke kampus bersamaㅡtapi malah tidak kelihatan batang hidungnya sama sekaliㅡJihan tidak akan terlambat.
Jihan sangat benci terlambat. Terlebih lagi karena pagi ini adalah kelas Prof. Song. Dosen yang terkenal seantero fakultas dengan kekejamannya kepada mahasiswa. Disiplin luar biasa dan dosen killer tingkat dewa. Lima menit sebelum kelasnya di mulai dia sudah akan berada di dalam kelas, duduk dengan tangan dilipat di depan d**a. Sekali saja kau terlambat maka di pastikan kau akan mendapati tulisan C terpampang nyata di daftar nilai mu.
Jihan berhenti berlari begitu dia sampai di depan pintu kelas. Mengatur napas kemudian melangkah masuk kelas dengan kikuk.
"Permisi, Prof."
"Yoon Jihan kau terlambat sepuluh menit!" ucap Prof. Song.
"Joesonghamnida," sahut Jihat sambil membungkukkan badan. (Maaf)
Belum Jihan sempat memberi alasan atas keterlambatannya Prof. Song sudah berkata lagi, "Kau tidak perlu mengikuti kelasku hari ini. Juga tidak perlu repot-repot menemuiku di ruangan dosen setelahnya. Kau dapat nilai C semester ini!"
Demi Bikini Bottom dan segala isinya. Ingin rasanya mengutuk Min Yoongi jadi batu. Kalau bukan karena dia, Jihan pasti sedang duduk manis di dalam kelasㅡmeskipun sebenarnya tidak memperhatikan apapun yang dikatakan Prof. Songㅡdan dia tidak akan dapat nilai C.
Setelah keluar dari kelas dengan raut masam, Jihan memutuskan untuk mencari keberadaan Min Yoongi. Jihan dan Yoongi berbeda fakultas. Jihan kedokteran, sedangkan Yoongi berada di fakultas seni. Seingat Jihan, Yoongi tidak ada jadwal kuliah pagi hari ini dan biasanya jika tidak punya jadwal kuliah dia berada di ruang musik.
___
Jihan membuka pintu ruang musik dengan kasar membuat Yoongi terperanjat kaget.
"Ya! Min Yoongi!" pekik Jihan.
"Wow, wow, santai nona! Kau kesurupan setan apasih?" sahut Yoongi dengan tampang innocent.
"Kau! Gara-gara kau, aku jadi terlambat masuk kelas Prof. Song. Dan sekarang dia memberiku nilai C!" ucap Jihan sambil mencak-mencak.
"Loh? Kenapa itu jadi salahku?" sahut Yoongi bingung.
"Semalam kau yang bilang akan menjemputku!" bentak Jihan.
"Oh-ah. Ya ampun. Aku bangun kesiangan dan aku lupa." Sekarang Yoongi mulai panik menyadari kesalahannya.
Emosi Jihan semakin menjadi-jadi. "Terkutuklah kau dengan otakmu yang pelupa itu!"
"Ck. Aku lebih suka Yoon Jihan yang dulu. Diam-diam menyukaiku dan memanggilku Sunbae. Setidaknya dia lebih manis daripada Jihan yang sekarang. Memanggilku Oppa saja tidak, malah lebih hobi sekali mengutuk," cibir Yoongi. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a. (Kakak)
"Hei, tidak perlu ungkit masa lalu. Waktu itu aku hanya gadis labil yang jatuh cinta pada laki-laki sepertimu!" ujar Jihan.
"Hoo.. jadi kau jatuh cinta padaku yah?" ucap Yoongi sambil terkekeh geli.
"ITU SUDAH LAMA BERAKHIR!" pekik Jihan. Pipi dan telinganya memerah. Bercampur antara marah dan malu yang sukses membuat Yoongi malah terbahak.
"Sudahlah! Nilai C bukanlah akhir dunia. Masih untung kau tidak dapat E," ucap Yoongi dengan santai.
"Tapi itu penting untukku!"
"Sudahlah. Duduk dulu, tenangkan dirimu," sahut Yoongi sambil menepuk bangku kosong tepat berada di sebelahnya, tapi Jihan masih berdiri di dekat pintu dengan napas terengah setelah marah-marah. "Ck, nanti ku traktir kau selama seminggu."
"Tidak mau! Kau harus mentarktirku selama sebulan penuh," ucap Jihan.
"Ya.. ya.. Terserah kau saja," sahut Yoongi dengan malas.
"Serius?" tanya Jihan dengan mata berbinar. Yoongi yang melihat Jihan sudah melunak pun tersenyum.
"Serius. Sekarang sini duduk di sampingku!"
Jihan mendengus. "Tidak! Aku masih marah padamu," Jihan berjalan dengan menghentakkan kaki kemudian duduk sedikit jauh dari Yoongi.
Yoongi menghela nafas. Benar-benar mood wanita itu sulit sekali untuk di atasi. Kepala Yoongi jadi pening memikirkannya.
"Mian," ucap Yoongi lembut, "aku benar-benar lupa." (Maaf)
"Permintaan maafmu tidak akan mengubah nilaiku. Penuhi saja janjimu, traktir aku selama sebulan. Baru kumaafkan."
"Aigoo, kekanakan sekali. Iya iya akan kutraktir. Kau tenang saja. Sebulan penuh!" sahut Yoongi mantap. (Astaga)
___
Setelah Yoongi pikir-pikir lagi, sangat mudah membujuk seorang Yoon Jihan yang sedang merajuk. Cukup iming-imingi dengan makanan gratis dia sudah luluh. Contohnya saja sekarang. Jihan yang tadinya mengamuk seperti singa betina sudah makan dengan riang gembira di hadapannya. Sedangkan dia sendiri menyeruput Ice Americano sambil menopang dagu dengan satu tangan sambil memperhatikan Jihan makan.
"Ya, cheoncheonhi meogo, nanti kau tersedak makanan aigoo," ucap Yoongi. Sedikit heran dengan nafsu makan Jihan yang seperti belum makan selama tiga hari. (Hei, pelan-pelan makannya. Astaga.)
"Ck, diam! Aku sedang lapar dan sedang stress. Jadi aku harus makan banyak," sahut Jihan.
Yoongi menghela napas. "Ara, tapi kan bisa makannya pelan-pelan saja. Aku tidak akan mencuri makananmu!" (Tau)
Jihan mendecak sebal. "Cerewet sekali sih kau! Ini juga kan karenamu."
"Baiklah, baiklah. Aku akan diam oke? Berhenti menyalahkanku. Nafsu makanmu itu memang sesuatu," ujar Yoongi sedikit kesal. Membuat Jihan tersenyum puas.
"Jam berapa kelasmu selanjutnya?" tanya Jihan.
"Aku tidak ada kelas hari ini. Kelasku di liburkan," sahut Yoongi malas. Menyandarkan punggung pada kursi dengan tangan terlipat di depan d**a.
"Kalau begitu, setelah ini bagaimana kalo kita ke bioskop? Ada film yang ingin ku tonton."
"Tidak bisa. Aku sudah ada janji dengan Namjoon siang nanti," ucap Yoongi. "Lagi pula, berhenti mengajakku nonton film horror."
"Ck. Kau ini pria bukan sih. Takut film horror. Payah," cibir Jihan. "Lagi pula kali ini bukan horror. Percayalah, ini pasti akan seru. Mau yah? Heum?" ucap Jihan dengan wajah memelas.
Sial!
Jika saja Yoongi tidak ingat hari ini dia telah membuat kesalahan dan mengakibatkan Jihan marah besar mungkin dia akan tetap menolak. Lagi pula, lihatlah itu! Siapa yang sanggup menolak jika di tatap dengan wajah memelas seperti puppy yang kelewat lucu itu? Yoongi yang terkenal dingin pun bisa meleleh karenanya.
Pipi Yoongi jadi memanas. "B-baiklah. A-aku bisa batalkan janjiku dengan Namjoon hari ini." Yoongi memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Yeay." Jihan berseru riang. Melihat itu Yoongi ikut tersenyum.
Entah sejak kapan Yoongi juga tidak tahu. Tapi melihat Jihan tersenyum bahagia membuat hatinya menghangat, ikut bahagia. Empat tahun berteman dengan Jihan membuat perasaan ingin melindungi gadis itu muncul. Melindungi Jihan juga senyumnya.
Dia tidak suka ketika melihat Jihan sakit, mendapat kesulitan atau bersedih. Ada rasa yang asing di dalam dirinya yang dia sendiri tidak tau apa itu. Yang dia tau hanya Yoon Jihan yang bisa membuat dia merasakan hal itu.
***