Rio Wijaya merasa waktu begitu cepat ketika bersama Ulfa Kirana, dia masih menikmati duduk berdua di ruang tamu yang luasnya tak seberapa itu, dan tiba waktunya pak Putra akhirnya datang menjemput Rio Wijaya.
"Aku balik dulu, salam sama ibu yah!"
"Ok, hati-hati yah ganteng!"
"Hmmmm!"
Ulfa Kirana juga telah mendapatkan pesan dari perancang baju pengantin mereka, besok adalah jadwal mereka fitting baju pengantin, karena seperti biasa Rio Wijaya tidak mau keluar rumah jadi perancangnya yang harus datang kerumahnya dan juga tentu saja dengan membawa pula gaun pengantinnya. Dalam waktu tiga minggu semua sudah dirampungkan, tentu saja layanan yang cepat dan seeksklusif ini harus mengeluarkan biaya hingga ratusan juta rupiah.
"Besok kita ada fitting baju nikah, jam tiga sore, aku akan datang lebih cepat!"
"Hmmm!"
"Sampai jumpa besok!" Kata Ulfa Kirana sambil memberikan tanda love di kedua tangannya. Rio Wijaya terlihat kaku harus membalasnya bagaimana, dan akhirnya cuman bisa ngacir dengan kursi rodanya.
Malam harinya sebelum tidur Ulfa mengirimkan pesan kepada Rio Wijaya.
[Selamat malam ganteng mimpi yang indah." Bukan hanya itu dia juga mengirim foto selfienya yang lagi-lagi tangannya membentuk simbol cinta.]
[Malam juga.]
Walaupun balasan pesan Rio terkesan pendek tapi tanpa sepengetahuan Ulfa, Rio Wijaya memandangi foto Ulfa Kirana hingga iya tertidur dengan telpon genggam di tangannya.
Pagi harinya Rio disibukkan oleh banyaknya proposal yang harus dia baca walaupun ini hari minggu, Rio Wijaya dengan setelan santainya tampak begitu segar, walaupun demikian Rio Wijaya sangat dongkol, ternyata dari sekian banyak proposal untuk proyek perusahaan mereka berikutnya, tapi menurut Rio Wijaya tak ada satupun yang layak untuk diajukan. Setelah memeriksa semua proposal saat itu juga Rio Wijaya mengirimkan email komplain kepada para karyawannya yang bertanggung jawab dengan proposal-proposal tersebut berharap esok pagi mereka sudah bisa mengetahui kesalahan dalam tugas mereka.
Rio Wijaya membuka kacamatanya dan memijit batang hidungnya bagian atas yang berdekatan dengan keningnya, dengan ibu jari dan telunjuknya. Kepala Rio sedikit mumet karena proposal-proposal tadi. Karena merasa semuanya harus diperbaiki secepatnya, Rio pun berniat untuk meninjau langsung lokasi proyek yang proposalnya bermasalah tersebut, Rio segera menghubungi pak Putra yang sebenarnya libur tapi untuk pak Putra dia tidak ada jam kerja khusus tapi dua puluh empat jam ketika Rio membutuhkan dia harus datang, tentu saja karena bayaran yang pantas pak Putra menjalani tugasnya dengan senang hati, karena walaupun pak Putra harus siap 24 jam tapi pak Putra juga bisa bebas kemana saja di jam berapa pun jika tenaganya sedang tidak dibutuhkan. Di hari Minggu pagi jalanan yang biasanya padat merayap di hari kerja sekarang cukup lengang, Rio Wijaya tetap memilih kerja di saat orang lain libur. Setelah meninjau langsung lokasi proyek, Rio Wijaya dengan cepat mengetahui kesalahannya di mana, dan meminta pak Putra untuk menyusun jadwal untuk meeting besar-besaran bagi setiap tim esok pagi di hari senin setidaknya Rio akan memberikan pemahaman yang lebih detail dan kendala-kendala yang mungkin bisa di hadapi terkait lokasi, struktur jalan dan lingkungan sekitar. Sehingga semuanya bisa lebih paham kesalahan dan kekurangan proposal yang telah mereka buat. Sementara itu Ulfa Kirana berencana akan ke rumah Rio Wijaya lebih cepat dari waktu yang ditentukan dia hanya tidak ingin terlambat dan tentu saja karena ia ingin berlama-lama berada di dekat calon suaminya yang wajahnya bagai candu itu. Ulfa Kirana menolak untuk dijemput entah kenapa dia lebih menyukai mengendarai motor maticnya kemana-mana. Panas kota Jakarta di siang hari tak membuat Ulfa Kirana merasa tidak nyaman untuk berkendara dengan motor. Ulfa Kirana selalu berkendara dengan kecepatan yang aman tapi entah kenapa ada orang yang menyebrang tiba-tiba tanpa liat kiri kanan dulu.
Nyittttttttt.....bunyi suara motor Ayunda yang direm mendadak membuat ban belakangnya agak oleng untung saja Ulfa masih bisa mengendalikan motornya hingga tidak terjatuh itu juga karena kecepatan motornya yang masih cenderung pelan.
"Ya Tuhan orang itu kenapa nyebrang gak noleh kanan kiri dulu!" Gerutu Ayunda.
"Saya minta maaf!"
"Tapi anda sebaiknya liat-liat jalan dulu kalau mau nyebrang!"
"Are you Ulfa?"
"Kenzo!!!"
"Yes, it's me!"
"Yeahh It's me I'm the problem!"
"Saya minta maaf saya tidak sengaja!"
"Kamu udah fasih ngomong bahasa Indonesia?"
"Sedikit aku sekarang sering di Indonesia tapi tinggal di Singapore."
"Ok! Trus kenapa nyebrang gak hati-hati?"
"Dompetku hilang, tadi aku dari sana." Kata Kenzo menunjuk ke seberang jalan.
"Hadeh kasian juga ini bulek udah kayak anak ayam hilang." Lirih Ulfa Kirana, ia yakin jika Kenzo tidak paham dan tidak mendengarnya.
"Ulfa don't call me bulek itu gak sopan!"
"Aku minta maaf, tapi manggil orang asing dengan panggilan itu gak bermaksud tidak sopan loh."
"Ok terserah kamu, tapi tolong antar aku ke kantor polisi ya! aku gak punya uang sama sekali buat naik ojek."
"Kamu beneran udah fasih berbahasa Indonesia."
"Iyya dong!"
"Ok aku antarin tapi kita cari-cari dulu di seberang sana bertanya pada security siapa tau ada yang temukan dompetmu!"
"Ok!"
Mereka berdua pun menyisir sekitar lokasi dan bertanya pada beberapa orang dan security. Tapi tidak ada yang tau hampir tiga puluh menit mereka mondar mandir dan akhirnya mereka memutuskan untuk ke kantor polisi terdekat. Ulfa Kirana mengecek terlebih dahulu melalui handphonenya lokasi kantor polisi terdekat kemudian dia memutuskan untuk mengantar Kenzo dengan motor matic kesayangannya.
"Udah ayo aku yang bonceng, aku anterin sampai kantor polisi!"
"Kamu cocok jadi tukang ojek!"
"Bisa-bisanya kamu bercanda ketika dompetmu hilang yah?"
"Aku gak bercanda itu jujur."
"Jadi kamu ngomong jujur?" Tanya Ulfa yang agak shock mendengar kata-kata Kenzo.
"Ya udah buruan naik dan pakai helmnya aku gak mau kena tilang karena bonceng orang asing yang gak pakai helm." Kata Ulfa Kirana yang sebenarnya agak emosi dibilang cocok jadi tukang ojek oleh Kenzo.
"Ulfa kamu udah punya pacar, kalau tidak ada pacar, jadi pacar aku saja?"
"Emang kamu mau pacaran sama perempuan mirip tukang ojek?"
"Mau, cewek bisa naik motor itu keren di negara aku, tidak banyak yang bisa naik motor!"
"Maaf yah aku udah mau nikah bulan depan."
"Seriously?"
"Iyya aku akan menikah dengan Rio."
"Aku terlambat dong, aku sibuk ngejar karier."
"Gak usah seolah-olah sedih gitu aku tau kamu gak serius."
"Beneran Ulfa kamu itu lucu."
"Iyya makasih, I'll take that as a compliment!"
"Kamu betul mau menikah?"
"Iyya, nanti aku kirim ke email mu undangannya yah!"
"Aku sedih!"
"Iyya wajar kamu sedih dompetmu hilang, udah turun aku anterin ke dalam kantor polisi.
Mereka berdua pun segera melapor jika Kenzo kehilangan dompetnya, dan untungnya masih ada orang baik di Jakarta, ada seseorang yang menemukan dompet Kenzo dan membawanya ke kantor polisi tersebut. Keduanya merasa sangat legah karena dompet Kenzo ditemukan.
"Terimakasih banyak sudah udah bantu!"
"Sama-sama, Kenzo maaf yah aku harus pergi, aku buru-buru, mau fitting baju pengantin."
"Jadi beneran kamu akan menikah?"
"Yup, ok sampai jumpa yah, jangan lupa datang di hari pernikahanku bulan depan." Kenzo hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan kecil, tanpa sepengetahuan Ulfa Kenzo benar-benar merasa kecewa dengan berita pernikahan Ulfa yang akan dilaksanakan bulan depan, dia menyesali dirinya yang tidak pernah berusaha mendekati Ulfa Kirana awalnya dia berfikir itu perasaan yang wajar menyukai Ulfa gak ada hal yang istimewa menurutnya Ulfa itu cantik unik dan sangat menyenangkan tapi ini tidak berarti dia menyukainya tapi setelah pertemuan hari ini Ulfa terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya dan ternyata berita pernikahan Ulfa membuat hati Kenzo benar-benar terluka. Kenzo menatap Ulfa yang mengendarai motornya dengan perasaan yang tidak ingin melepasnya, dia menatap Ulfa Kirana hingga ia menghilang di ujung jalan. Dengan langkah yang berat Kenzo berjalan menuju tepi jalan untuk menunggu taxi dia ingin kembali ke hotel tempatnya menginap. Jadi Kenzo sekarang ditugaskan oleh perusahaannya menangani tiga negara Singapura, Indonesia dan Malaysia tapi Kenzo lebih banyak menetap di Singapura. Kenzo ke Jakarta terkadang hanya beberapa hari dalam tiga bulan.
Rio Wijaya yang dalam perjalan kembali dari meninjau proyek terbarunya, dia memandang keluar jendela untuk melihat jalan, memang Rio sangat jarang keluar rumah kecuali sangat penting. Ketika menatap jalan tiba-tiba Rio melihat Ulfa Kirana sedang berkendara tapi yang membuat Rio Wijaya kaget dan tersulut emosi dia melihat Ulfa Kirana membonceng seorang pria, setelah Rio Perhatikan lebih lama ternyata pria tersebut adalah Kenzo teman Ayunda, Kenzo berdarah campuran Prancis dan Jepang. Dan satu lagi Kenzo adalah pria yang selalu bisa membuat Rio Wijaya cemburu melihat kedekatan pria tersebut dengan Ulfa Kirana. Sama seperti Ulfa, Rio pun mengenal Kenzo sekitar tujuh tahun yang lalu ketika Rio dan Ulfa mengunjungi Ayunda di Prancis. Kenzo adalah teman Ayunda yang mempunyai kampus yang sama dan tinggal di daerah yang sama dengan Ayunda sahabat Ulfa, yang dulu pernah ditaksir Rio.
Rio Wijaya yang masih belum bisa percaya dengan apa yang dilihatnya. Kedua tangannya iya kepalkan, emosi dan cemburu bercampur menjadi satu.
Disarankan baca juga "Ditinggal Nikah Tetanggaku, Cinta Pertamaku.