Walaupun demikian Rio Wija masih berusaha untuk mengontrol emosinya dia menarik nafas panjang dalam-dalam, dia berpikir melupakan emosinya sekarang tidak akan membawa hasil apa-apa untuknya.
'Mana janjimu kemarin? Fa...kamu mengatakan akan menjaga pandanganmu tapi apa yang aku lihat sekarang, bahkan kamu berkendara dengannya, kalian berboncengan. Aku tau kamu orang yang ramah tapi ini sudah kelewatan!' Kata Rio dalam hati.
Yang melihat Ulfa Kirana di jalan tadi hanya Rio Wijaya sementara pak Putra fokus mengemudikan mobilnya. Mobil mereka melaju membelah kota Jakarta yang suhunya panas disiang hari, sepanas hati Rio Wijaya. Setelah sampai di rumahnya Rio Wijaya memilih untuk berendam untuk menghilangkan rasa penataannya juga emosi di dadanya. Dia berharap dia bisa tenang menghadapi Ulfa Kirana karena dia sama sekali tidak berniat membahas hal tersebut dengan Ulfa Kirana, dia hanya tidak punya tenaga dan kata, bagaimana dia harus memulainya jika dia ingin membahas hal tersebut.
Ulfa yang tadinya berencana datang lebih awal justru terlambat ternyata setelah dari kantor polisi, ban motornya bocor dan harus ditambal mana dia harus berjalan jauh untuk sampai di bengkel. Rasa lelah dan khawatir karena terlambat menyatu membuat penampilan Ulfa sangat tidak karuan. Setelah Sampai di rumah Rio Ulfa memberi salam walaupun Rio Wijaya masih menjawab salamnya tapi Rio sama sekali tidak menatap wajah Ulfa Kirana. Ulfa sendiri tidak menyadari hal tersebut, Ulfa Kirana telat tiga puluh menit padahal orang yang akan dia temui bukan perancang sembarangan. Dia merupakan perancang yang sangat sibuk sangat sulit untuk mengatur jadwalnya.
"Mohon maaf saya terlambat, saya ada halangan di jalan."
"Iyya anda sangat terlambat, tapi demi menghormati calon suami anda saya bersedia menunggu dan membatalkan janji yang lain."
"Kenapa kamu sangat keras kepala Ulfa? saya sudah mengatakan kamu akan di jemput malah memilih naik motor." Kata Rio yang memang tidak dengan nada yang tinggi tapi tetap ada penekanan di sana.
"Rio aku minta maaf, ban motorku bocor tadi." Mendengar ucapan Ulfa Kirana membuat Rio tertawa kecut, Rio merasa Ulfa telah berani membohonginya hati Rio semakin kecewa dan marah tapi tetap berusaha diredamnya.
"Ya udah mba Ulfa ikut dengan aku kita coba gaunnya, kita liat apanya yang kurang!" Ulfa pun menurut mengikuti perancang tadi dan juga beberapa orang lain yang merupakan asisten perancang dan juga pelayan di rumah Rio Wijaya. Rio Wijaya terlihat menghubungi seseorang setelah lima menit Rio tampak ke halaman depan, tampak beberapa orang yang seperti pekerja bengkel yang didatangkan buru-buru. Ternyata Rio Wijaya meminta orang untuk memotong motor matic Ulfa Kirana hingga beberapa bagian. Setelah puas melihat motor Ulfa Kirana dihancurkan, Rio pun kembali ke dalam rumah karena dia juga akan mencoba baju pengantin sama seperti Ulfa Kirana.
Sebenarnya Rio Wijaya sempat ingin membakar motor itu dengan tangannya sendiri tapi dia tidak ingin menarik perhatian jika ada kobaran api, jalan terbaik adalah memotong motor matic tersebut hingga beberapa bagian. Dia ingin Ulfa berhenti menggunakan motor tersebut, apa yang dilihatnya tadi di jalan membuat akal sehat Rio Wijaya hilang, dia benar-benar emosi dan sakit hati, ia merasa Ulfa Kirana telah berbohong dan tidak benar-benar tulus kepadanya. Ini adalah hari penting buat mereka kenapa sempat-sempatnya Ulfa Kirana malah berboncengan dengan orang lain. Sebesar apapun Rio berusaha berpikir positif tetap saja Rio Wijaya tidak habis pikir kenapa Ulfa bisa setega itu. Kata-kata Ulfa kemarin itu apakah hanya kebohongan belaka atau hanya ingin menenangkan Rio atau hanya demi uang satu milyar yang buat Rio itu bukan apa-apa, dia bisa memberikan berkali-kali lipat dari itu. Banyak tanya yang berputar di kepala Rio Wijaya.
Sementara itu di ruangan lain, sang designer meminta Ulfa untuk mandi dulu, dia memberikan waktu lima belas menit kepada Ulfa, dia tidak mau baju pengantin yang dibuatnya terkena keringat Ulfa Kirana, Ulfa pun sangat setuju dengan permintaan sang designer tersebut, karena jujur badannya terasa gerah dan lengket.
Ulfa hanya diberikan waktu lima belas menit untuk mandi, Ulfa pun tidak menyia-nyiakan waktu tersebut untuk mandi, untung tadi pagi dia sudah keramas jadi rambutnya tidak terlalu lepek karena panas-panasan hari ini. Ulfa pun diantar ke kamar tamu dan para pelayan yang bekerja di rumah Rio dengan sigap membantu Ulfa, segala kebutuhannya disiapkan.
"Ayo cepetan mba Ulfa, mba udah telat banget pak Rio sepertinya udah menahan marah dari tadi, handuk semua sudah ada di dekat bathtub, guyur aja mba yah badannya gak usah berendam!" kata Intan setengah berbisik kepada Ulfa, Intan adalah pelayan yang paling muda yang bekerja di rumah tersebut dan paling suka berkata ceplas ceplos walaupun sebenarnya di rumah itu ada aturan untuk tidak bergosip karena tuan muda mereka sangat menyukai ketenangan.
"Makasih Intan!"
"Iyya mba!" Sesuai perkataan Intan Ulfa mengguyur badannya dan segera memakai sabun yang telah disediakan, aroma dari perlengkapan mandi tersebut hampir membuat Ulfa ingin berlama-lama tapi untung saja wajah emosi Rio masih terbayang di wajah Ulfa, jika tidak dia sudah pasti ketiduran di bathtub, Ulfa Kirana menghabiskan sepuluh menit untuk mandi dan mengeringkan badan, tiba-tiba suara Intan mengetuk pintu dan menerobos masuk ke kamar mandi untung Ulfa sudah menggunakan daleman dan handuk jubah atau bath robes.
"Cepat mbak Ulfa semuanya sudah nunggu di kamar ini!"
"Ok!" Ulfa pun keluar dari kamar mandi dan langsung disambut boleh para asisten dari designer tersebut, mereka semua bergerak cepat memakaikan baju pengantinnya, setelah baju pengantin tersebut sudah terpasang di badan Ulfa sang perancang baju pun mulai bergerak dengan telaten memeriksa sudut mana yang kurang pas.