Melihat foto sepatunya yang nyangkut entah Ulfa Kirana harus membalas apa pesan dari calon suaminya itu, dia meletakkan telepon genggamnya dan berbaring menenangkan pikirannya.
Karena pesan yang dikirim oleh Rio tidak mendapatkan balasan apapun, dia pun langsung menelepon gadis yang sudah membuatnya emosi seharian ini.
"Assalamualaikum!"
"Walaikum salam, ada apa aku dah ngantuk nih?"
"Kamu marah?"
"Oh enggak tuan kaya raya lakukan apapun yang anda mau, itu cuman motor kredit yang baru LUNAS bulan kemaren!"
"Maaf Fa, aku hanya ingin kamu jangan naik motor lagi!"
"Ada kenangan pada motor itu Rio, ya sudahlah anda tidak akan faham!"
"Itu karena kamu gak denger sih!"
"Iyya tuan kaya raya ini salah aku!"
"Bukan begitu maksudku Fa!"
"Trus mau anda apa?"
"Fa please jangan menguji kesabaranku!"
"Iyya tuan, yang diizinkan menguji kesabaran cuman anda!"
"Fa itu hanya motor!"
"Rio kamu gak akan paham percuma minta maaf, enteng banget mulut anda itu cuman motor!"
"Jadi aku harus bagaimana, aku hanya tidak mau melihat kamu berboncengan dengan laki-laki lain, apa itu salah?"
"Apa maksud kamu, kamu nuduh aku? katakan yang jelas!"
"Aku liat kamu bersama bulek jelek itu di jalan, itu kan yang menyebabkan kamu terlambat tapi kamu mengatakan ban motor kamu kempes!"
"Astaga Rio, kan sudah aku jelaskan, tadi siang itu aku hampir nabrak Kenzo di jalan gara-gara dia nyebrang sembarangan dia panik kehilangan dompetnya, habis itu aku antar ke kantor polisi, itu doang! Setelah itu aku langsung menuju rumah kamu tapi dijalan ban motor aku kempes."
"Kamu yakin hanya itu?"
"Emang ada apa lagi?" Tanya Ulfa balik.
"Mungkin ada yang belum selesai diantara kalian?"
"Ya Tuhan Rio, apanya yang belum selesai? memulai pun gak pernah! Tidak ada yang spesial diantara kami, sudah berapa kali aku harus bilang sih, perasaan aku ketemu Kenzo itu hanya beberapa kali dan itupun ada kamu juga disitu."
"Ya karena ada aku, makanya tau tatapan matamu kepada Kenzo udah kayak liat setann, udah mau lepas tuh biji matamu!"
"Hahahaha!" Tawa renyah Ulfa Kirana yang tidak sanggup mendengar kata-kata Rio.
"Malah ketawa apanya yang lucu?"
"Itu karena dia mirip idolaku."
"Jadi sekarang kamu ngaku kan jika kamu mengidolakan Kenzo!"
"Bukannya mengidolakan Kenzo tapi mirip sama artis idolaku dan itu dulu udah berapa tahun yang lalu kemarin ketemu dia udah gak gitu."
"Pokoknya jangan berani lagi mengidolakan orang lain!"
"Aku gak pernah mengidolakan Kenzo!"
"Ulfa aku peringatkan yah jangan dekat-dekat Kenzo lagi, jangan sampai bukan hanya motor kamu yang aku hancurkan, kariernya Kenzo pun bisa aku hancurkan, aku tau dia kerja apa dan tugasnya apa di tiga negara Singapura, Malaysia dan Indonesia."
"Asli kejam banget kamu Rio, Kenzo itu teman kita!"
"Aku gak pernah merasa berteman dengan dia."
"Astaga Rio aku gak tau gimana harus jelasinnya, aku gak pernah dekat-dekat sama Kenzo, tadi siang itu kebetulan aku ketemu dia dijalan!"
"Kan bisa kamu abaikan!"
"Jahat banget sih!"
"Kamu yang jahat udah tau bentar lagi nikah masih boncengan dengan laki-laki lain!"
"Itu kepepet Rio!"
"Makanya sekarang lebih baik motornya rusak gak bisa dipake lagi, jadi tidak akan ada lagi kesempatan terjadinya kepepet!"
"Terserah deh, capek aku jelasinnya pokoknya jangan berpikir macam-macam soal Kenzo gak ada apapun diantara kami!"
"Baik aku pegang kata-katamu!"
"Iyya pegang jangan sampai lepas!"
"Tentu saja, tidak akan!!! Apalagi kamu jangan berharap bisa lepas dari pantauanku!"
"Udah ah capek kalau kamu gini yang ada aku bisa mimpi buruk malam ini habis telponan sama kamu!"
"Jadi kamu capek telponan sama aku? kamu gak suka?"
"Hadeh Rio kenapa kamu berubah kayak gini udah kayak anak perawan ngambek terus, yang harusnya ngambek itu aku, motorku kamu hancurkan, ada sejuta kenangan disana, motor itu adalah tungganganku yang mengantarkan aku setiap hari mengasah mimpi sampai akhirnya bisa lulus S2, kamu harusnya paham paling tidak merasa bersalah kek!"
"Maaf tapi aku gak suka kamu dekat sama si bulek jelek itu!"
"Siapa yang dekat sih sama Kenzo? "
"Masalah motor atau tunggangan aku akan ganti, aku yang akan jadi tunggangan kamu tapi sabar gak lama lagi kok!"
"Ternyata kamu mesumm juga yah?"
"Masa sih?"
"Udah aku ngantuk, Assalamualaikum!" Sebelum sempat Rio membalasnya, Ulfa Kirana lebih dulu mematikan panggilan telponnya.
Wajah Ulfa menjadi memerah setelah mendengar kata-kata Rio yang terakhir yang menurutnya cukup Vulg*r apalagi mengingat ciuman Rio Wijaya yang membuatnya kehabisan nafas tadi siang, deru jantungnya bisa terdengar ke telinganya dan serasa ada kupu-kupu menggelitik di perutnya.
"Ahhhh sadar Ulfa sadar! kalau gini bukan mimpi buruk jadinya tapi malah mimpi jorok!" Ulfa segera bangkit untuk wudhu sebelum tidur agar dijauhkan dari mimpi yang tidak-tidak.
Sementara kondisi Rio Wijaya juga tidak beda jauh dengan Ulfa, rasa bahagia dan semua rasa bercampur jadi satu. Rio Wijaya yang sudah berbaring di ranjang bersiap-siap untuk tidur itu tiba-tiba memegang bibirnya, mencoba mengingat bagaimana manisnya bibir Ulfa Kirana. Sangking gemesnya Rio Wijaya sampai melayangkan tinjunya ke kasur empuk miliknya, kasur yang tak berdosa itu jadi sasaran kegemesannya.
"Sepertinya benar kata Ulfa kami harus dipingit, jadi aku baru tau ini tujuan dipingit sebelum menikah ternyata untuk meredam rasa yang sudah tidak sabar." kata Rio pada dirinya sendiri sebelum memejamkan mata bersiap ke dunia mimpi.
Esok harinya keduanya disibukkan dengan aktivitas masing-masing, Ulfa Kirana yang sibuk mengajar dan Rio Wijaya yang disibukkan dengan meeting virtual juga tumpukan berkas-berkas penting perusahaan yang harus dia kerjakan. Bahkan untuk makan siang mereka berdua agak kesulitan untuk makan bersama. Di siang harinya setelah jam makan siang Rio Wijaya tiba-tiba kedatangan tamu dirumahnya.
"Permisi pak Rio!"
"Iyya ada apa?" Tanya Rio kepada kepala pelayan.
"Kata penjaga di depan ada tamu pak yang ingin bertemu sama bapak!"
"Tamu? bukankah selama ini saya tidak pernah mau menerima tamu.
"Iyya pak, udah disuruh pulang tapi gak pergi-pergi udah hampir dua jam pak dia berdiri di depan gerbang!"
"Siapa namanya?"
"Katanya namanya Kenzo pak."
"Apa Kenzo? Ngapain bulek jelek itu nemuin aku? Yah Udah suruh masuk sepuluh menit lagi saya tunggu di ruang tamu!"
"Baik pak!"
Rio pun bergegas ke ruang tamu menunggu Kenzo dia juga penasaran apa yang Kenzo inginkan.
"Perasaan kami tidak sedekat itu untuk saling kunjung mengunjungi!" Cicit Rio yang sudah ambil posisi duduk sempurna di sofa bahkan dia meminta salah satu pelayanan untuk menyingkirkan kursi rodanya, dia tidak ingin Kenzo melihatnya di atas kursi roda, dia akan benci di tatap dengan tatapan kasihan atau bisa jadi tatapan meremehkan. Berbagai pikiran negatif berkecamuk di otak Rio Wijaya.
Setelah beberapa saat seorang pria yang tampak seperti salah satu personil KPop itu berjalan dengan elegan, ditambah dengan setelan pakaian yang digunakannya sudah seperti akan menghadiri Grammy award dan sejenisnya. Membuat para pelayan muda di rumah Rio Wijaya tak bisa berkedip.
'Sial kenapa bisa dia seganteng itu!' Batin Rio.
Kenzo dengan senyum hangat langsung duduk sebelum dipersilahkan duduk.
"Terimakasih sudah mengizinkan saya masuk setelah hampir dua jam!"
"Maaf saya sedang sibuk, dan petugas di depan tidak memberi info jika ada tamu, mereka tidak ingin mengganggu pekerjaan saya."
"Ok tidak masalah, apa kabar Rio?"
"Baik! Ada perlu apa, kenapa tiba-tiba datang?"
"Hmmm welll...Saya tidak tau harus mulai dari mana tapi ini ada kaitannya dengan Ulfa."
"Apa maksud kamu bawa-bawa nama calon istri saya, kamu tau kan sebentar lagi kami menikah?"
"Iyya kemarin Ulfa sudah mengatakannya kepadaku."
"Trus sekarang apa yang ingin kamu sampaikan soal Ulfa?"
"Saya ingin bertanya apa alasan kamu menikahinya?"
"Pertanyaan macam apa itu, dan anda bukan ibuku tidak pantas bertanya demikian!"
"Saya minta maaf sebelumnya saya hanya ingin memastikan kamu benar-benar mencintai Ulfa."
"Terus apa hubungannya denganmu tentang perasaan saya, juga pernikahan saya?"
"Saya jatuh cinta pada Ulfa dan baru menyadarinya sekarang!"
"Degggg!"
"Terus apa peduliku dengan perasaan kamu, kamu punya rencana apa datang untuk mengatakan perasaanmu kepadaku, apa kamu punya niat mengacaukan rencana pernikahan kami?"
"Tidak begitu, aku hanya ingin memastikan Ulfa menikah dengan orang yang benar-benar mencintainya."
"Jadi menurutmu saya tidak mencintai Ulfa begitu?"
"Ya karena itu saya datang untuk memastikannya!"
"Kamu aneh, ingat kamu sedang tidak berada di negara kamu sangat lancang sekali menginterupsi rencana pernikahan orang lain!"
"Saya tidak peduli dimana saya berada, saya hanya mengikuti kata hati saya."
"Saya mencintai Ulfa Kirana karena itu saya ingin menikahinya, terus kamu mau apa sekarang?"
"Apa kamu yakin akan membahagiakannya, saya tau kalian tidak pacaran ini pernikahan tiba-tiba."
"Ternyata kamu benar-benar lancang Kenzo, apa kamu tau masalah yang bisa kamu hadapi jika cari masalah denganku?"
"Saya sedang tidak mencari masalah Rio, saya hanya ingin memastikan wanita yang kucintai bersama dengan orang yang tepat!"
"Tutup mulutmu Kenzo, jangan katakan cinta pada calon istri orang lain apa kamu mau mati hah? ini bukan Eropa sana, di sini ada aturannya, dan hukum rimba masih berlaku jika kami merasa terdesak!"
"Santai Rio, saya hanya ingin memastikan saja, saya mau Ulfa bahagia."
"Kamu pikir saya tidak bisa membahagiakannya, restoran kecil milik orang tuamu di Prancis sana saja bisa saya hancurkan apalagi kariermu disini!!!"
"Inilah yang saya khawatirkan Ulfa menikah dengan orang yang sombong, bahagia itu bukan soal harta dan uang tapi perasaan dan sikap, bagaimana kamu bisa mencintainya jika kamu dipenuhi amarah!"
Ternyata Kenzo sudah mencari tau tentang Rio Wijaya, kecelakaan yang menimpa Rio juga perubahan sikap dan rencana pernikahan dadakan Rio. Walaupun sedemikian Rio Wijaya menutup kehidupannya tapi pengejar berita justru semakin tertantang untuk mengulik jadi dengan mudahnya Kenzo mendapatkan semua informasi hanya dalam 1x 24 jam.
"Sialan kamu Kenzo kamu datang bertamu hanya untuk memulai peperangan denganku, saya tegaskan sekali lagi padamu, saya mencintai Ulfa dan tidak akan membiarkanmu orang lain mengusiknya ingat itu!"
"Baiklah kalau begitu saya sudah mendapatkan jawaban, tapi ingat jangan pernah menyakiti Ulfa ataupun membuatnya kecewa, saya tidak akan segan-segan untuk mengambilnya darimu jika kamu melakukan hal itu!"
"Berani sekali kamu mengancamku Kenzo!"
"Saya hanya ingin kamu menjaga Ulfa dengan baik itu saja, kalau begitu saya permisi. Kamu harus membahagiakannya Rio!"
Rio tidak membalas kata-kata Kenzo, dia hanya menatap Kenzo dengan wajah permusuhan. Entah kenapa Rio merasa telah terusik dengan kehadiran Kenzo, seandainya dia tidak lumpuh dia pasti sudah mendaratkan satu pukulan di wajah Kenzo yang kinclong dan licin itu. Lagi-lagi Rio Wijaya merasa jika dia benar-benar tidak berguna karena kakinya yang lumpuh.