"Mba Ulfa gimana, mba Ulfa diapain oleh pak Rio sampai wajah mba Ulfa merah begitu?" tanya Intan kepada Ulfa setelah Ulfa Kirana turun kembali ke lantai dasar.
"Iiiii itu Rio bikin hambur kamarnya, semua yang di meja dia jatuhkan!"
"Yang sabar ya mba Ulfa, walaupun pak Rio suka ngamuk tapi bapak ganteng, pandangin terus saja bakalan lupa kelakuan buruknya."
"Jadi kamu sering mandangin calon suamiku ya?"
"Yah Tuhan keceplosan, gak gitu mba, ini trik saja agar tidak benci sama bos sendiri!"
"Awas yah jaga mata, dia punyaku!"
"Ambil aja mba sekalian jinakin, wong intan punya cowok kok!"
"Jinakin kira calon suamiku hewan liar?" Kata Ulfa sambil menahan tawa berniat mengerjai Intan.
"Intan gak ngomong gitu yah mba!"
Salah seorang pelayan senior mendengar celoteh Intan, langsung menarik Intan.
"Kamu yah Intan gak bisa rem-rem dikit yah itu omongan?"
"Gak apa-apa Bu Sutina, Intan cuman bercanda kok, paling kalau di dengar Rio langsung di pecat!" kata Ulfa menimpali.
"Mba Ulfa jangan gitu dong, Intan lagi nabung buat nikah bantuin ayang kita mau bangun rumah, jangan hancurkan mimpi kami dong dengan kata dipecat"
Ulfa Kirana hanya bisa tersenyum melihat celoteh asistennya yang paling lugu plus ceplas ceplos itu.
"Intan sudah sana kebelakang tugasmu masih banyak yang belum kamu selasaikan!" kata ibu Sutina pelayan senior di rumah Rio Wijaya.
"Iyya Bu, mba Ulfa Intan pamit dulu yah!"
"Bentar dulu temenin aku dulu di taman, ada kue banyak kita habisin dulu yuk! aku juga udah mau balik nih cuman lapar pengen makan kue itu aku liat ada di kulkas banyak!" bisik Ulfa pada Intan.
"Tapi nanti Intan di omelin Bu Sutina!"
"Intannya saya pinjam dulu yah Bu, tiga puluh menit aja!"
"Iyya Mba Ulfa, tapi Intan jangan dimanjakan nanti ngelunjak mba!"
"Sekali-kali Bu!"
Keduanya pun segera memboyong kue-kue yang tampak cantik dan lezat itu ke taman belakang tempat favorit Ulfa Kirana.
Sementara itu di tempat lain, di sebuah hotel ada seorang pria asing yang tampak sangat terpuruk dengan berita bahagia pernikahan Ulfa Kirana. Kenzo segera meraih telpon genggamnya dan menghubungi seseorang.
"Oui Halo, ça va Kenzo ?
"Oui ça va merci, et toi ?"
"Ça va, ada perlu apa tiba-tiba menelponku?" Tanya Ayunda Sucipto.
"Aku mau bertanya sesuatu!"
"Tentang apa?"
"Ayunda apa kamu sudah tau rencana pernikahan Ulfa dan Rio?"
"Iyya sudah tau emang kenapa?"
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
"Aku gak kepikiran, emang kenapa?"
"Ituuuu ...!!!"
"Itu apa Kenzo? jangan bilang kamu menyukai Ulfa?"
"Iyya aku suka sama Ulfa!"
"Telat kamu, kenapa baru sekarang ngomongnya?"
"Aku juga tidak tau kenapa, hari ini aku ketemu dia dan baru sadar kalau aku menyukainya!"
"Aneh banget kamu Kenzo, udah-udah itu bukan cinta mungkin cuman suka biasa aja, masih banyak ikan di lautan cari yang lain banyak cewek-cewek yang suka muka kayak boy band Korea kayak kamu jangan khawatir bakalan banyak yang berbaris buat dapetin cintamu !"
"Tapi aku maunya Ulfa!"
"Ya Tuhan, Tu es fou ? (apa kamu gila?), kamu pikir Ulfa permen asal mau bisa dibeli !"
"Tapi aku yakin mereka tidak saling mencintai!"
"Cinta atau tidak, tetap tidak ada yang bisa kamu lakukan, jangan berpikir macam-macam yah!"
"Tapi aku harus memperjuangkan cintaku!"
"Trop tard Kenzo!!" (Sangat terlambat Kenzo).
"Akan aku coba!"
"Kamu mau coba apa Kenzo?"
"Aku akan berbicara dengan Ulfa dan Rio!"
"Astaga ini bulek ngadi-ngadi!"
"Namaku Kenzo bukan bulek!"
"Jangan lakukan apapun Kenzo, mereka sudah hampir menikah, persiapan mereka sudah hampir 100 persen!"
"Aku harus mencoba dulu Ayunda!"
"Ya Tuhan Kenzo, kamu itu seperti anak remaja yang baru puber saja, itu tidak benar Kenzo kamu akan membuat Ulfa mendapat kesulitan!"
"Siapa yang akan mempersulitnya calon suaminya? kalau itu benar yah berarti Rio memang tidak pantas untuk Ulfa!"
"Ya Tuhan kamu sudah membuat aku darah tinggi, pokoknya jangan lakukan apapun!"
"Aku hanya akan menanyakan alasan mengapa mereka tiba-tiba memutuskan untuk menikah."
"Rio ini bukan negara tempat lahirmu banyak yang pacaran sampai punya anak tiga tapi belum siap untuk mengikat komitmen, pernikahan tiba-tiba sudah biasa di sini!"
"Aku paham Ayunda tapi tetap akan kucoba dulu!"
"Terserah kamu, leherku sudah tegang karena kelakuanmu, nanti kita lanjut anak aku nangis nih."
" Ok à plus !"
Akhirnya perdebatan antara teman lintas benua itu pun berakhir, Ayunda sekarang mempunyai tiga anak, dia mempunyai dua anak kembar cowok yang usianya sedang aktif-aktifnya tapi juga tetap perhatiannya tidak pernah berubah kepada Khadijah sang anak sambung dari suaminya dr. Arya.
"Dasar bulek gila!" umpat Ulfa Kirana,dia berjanji akan segera membahas hal ini dengan Ulfa Kirana, setidaknya Ulfa Kirana tidak shock jika tiba-tiba Kenzo datang menemuinya.
Sementara itu dikediaman Rio Wijaya. Ulfa sudah siap-siap mau pulang, sementara Rio kembali sibuk dengan pekerjaannya, dia lagi-lagi mengurung diri di ruang kerjanya. Ulfa pun berniat untuk pamit dulu kepada Rio setidaknya suasana hati Rio sudah baik jadi Ulfa tidak mau merusaknya dengan pulang tanpa pamit dulu.
Setelah mengetok pintu Ulfa pun segera masuk ke ruang Kerja Rio.
"Rio aku pamit yah!"
"Hmmm!"
"Rio mungkin sebaiknya kita dipingit!"
"Maksudmu kamu tidak akan keluar rumah? kalau aku memang jarang keluar rumah!"
"Iyya, tapi aku masih harus ngajar dulu beberapa hari lagi baru kemudian cuti nikah, tapi aku gak bisa kesini lagi sampai hari H!"
"Kenapa begitu, dipingit dari aku doang begitu ceritanya!" kata-kata Rio yang mulai ada penekanan.
"Rio apa yang kita lakukan tadi itu sudah pelanggaran terhadap aturan agama kita, jujur aku bukan manusia tanpa dosa tapi apa yang telah terjadi membuat aku merasa telah mengkhianati Tuhan, apalagi aku wanita berhijab tidak sepantasnya kita melakukan hal demikian sebelum pernikahan!"
"Maafkan aku Ulfa, seharusnya akulah yang menjagamu dan membimbingmu tapi justru aku yang membuka jalan untukmu berbuat itu, maaf yah aku akan belajar menjadi lebih baik lagi."
"Kamu tau aku tidak marah Rio, semoga kedepannya kita jadi lebih baik lagi!"
"Aamiin!" kata keduanya kompak dan saling melempar senyum.
"Aku balik yah!"
"Iyya hati-hati di jalan, kamu akan diantar oleh supir!"
"Tapi aku kan bawa motor!"
Rio Wijaya tidak menanggapi kata-kata Ulfa dia tampak kembali fokus ke pekerjaannya. Melihat hal tersebut Ulfa tidak mau lagi mengganggu pekerjaan Rio, diapun segera keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintu dengan pelan.
Ulfa berjalan dengan suasana hati yang tidak karuan, membayangkan apa yang terjadi antara dirinya dengan Rio hari ini, walaupun jelas Rio memaksanya dan Ulfa selalu berusaha menolak tapi ciuman membabi buta Rio membuat jantung Ulfa Kirana seakan meledak, badan dan naluri manusianya pun sangat menginginkan ciuman itu, tapi akal sehatnya masih sanggup melawannya. Akhirnya Ulfa sampai di garasi depan dimana dia memarkir motor maticnya, tapi betapa kagetnya ketika melihat kondisi motornya yang sudah terpisah beberapa bagian, Ulfa Kirana yakin tidak ada bengkel di dunia ini yang bisa memperbaikinya lagi.
"Calon suami jahat!!!" Teriak Ulfa Kirana dan disusul dengan air mata yang mulai menetes, suasana hatinya berubah hanya dalam hitungan detik.
'Kreditnya baru lunas bulan kemaren, tega sekali kamu Rio!' batin Ayunda, dia berusaha untuk tidak mengomel atau mengeluarkan kata-kata yang ada dibenaknya ketika sedang menangis, karena itu namanya meraung dan itu dilarang dalam keyakinannya.
'Pantas dia mengatakan aku akan diantar sopir ternyata motorku sudah dia eksekusi, awas yah akan kubalas!' batin Ulfa.
Setelah menuntaskan tangisnya, Ulfa Kirana segera berjalan menuju depan jendela ruangan kerja Rio Wijaya di lantai dua, Ulfa yakin Rio masih ada disana. Dengan langkah yang bercampur emosi dia memantapkan niatnya.
Ulfa Kirana membuka salah satu sepatunya dan melempar jendela ruang kerja Rio, dia tidak peduli jika Rio akan membatalkan pernikahannya, Ulfa hanya sangat marah. Tentu saja Rio Wijaya sedang berada di jendela sejak tadi, jika Ulfa Kirana akan pergi Rio Wijaya selalu berada di dekat jendela menatap calon istrinya sampai menghilang dari pandangan.
Lemparan Ulfa membuat suara yang cukup keras tapi tidak merusak kaca jendela rumah Rio yang sangat tebal itu. Melihat tingkah gila Ulfa Kirana membuat Rio Wijaya tersenyum. Apalagi setelah melihat sepatu tersebut nyangkut, Rio Wijaya semakin bahagia.
"Ahhh malah nyangkut lagi!" kata Ulfa emosi.
Untuk meredakan emosinya Ulfa mengucapkan banyak istigfar dan duduk selonjoran di depan rumah Rio Wijaya diatas rumput hijau. Setelah beberapa saat supir yang bertugas mengantarnya menghampiri.
"Mba Ulfa mau balik sekarang? saya antar mba yah!"
"Saya mau pulang naik ojek saja pak!"
"Jangan mbak entar saya dipecat oleh pak Rio, gaji disini tidak setara ditempat lain, anak istri bisa hidup stabil kalau saya dipecat bakalan susah hidup kami." Pada akhirnya sang sopir curhat yang membuat Ulfa hanya pasrah.
'Apakah harus seperti ini jadi bagian dari hidup Rio?' batin Ulfa Kirana.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk.
[Sekarang kamu tidak bisa lagi naik motor apalagi berboncengan dengan pria lain terutama Kenzo, hari ini motormu yang kupatahkan lain kali mungkin kakimu].
[Astaga Rio, aku gak sengaja ketemu Kenzo di jalan dan dia minta tolong diantar kekantor polisi karena dompetnya hilang, aku gak bilang itu ke kamu kerena gak penting juga untuk dibahas bukan maksudku apa-apa]
Tak ada balasan dari Rio tapi Rio cukup legah dengan jawaban yang diberikan oleh calon istrinya, walaupun begitu dia tidak menyesal telah memtahkan motor kesayangan Ulfa dengan begitu yidak ada lagi lain kali kesempatan Ulfa berboncengan dengan pria lainnya. Ulfa kembali kerumahnya dengan jiwa dan raga yang letih.
"Assalamualaikum!"
"Walaupun salam nak, motor kamu mana Fa?"
"Rusak Bu, gara-gara tadi rusak di jalan Ulfa telat fitting bajunya untung designer nya baik mau nungguin Ulfa."
"Tapi tidak ada kendala kan nak?"
"Aman Bu semua lancar dan terkendali!"
"Alhamdulillah nak!"
"Ibu mau makan apa buat makan malam Ulfa masakin!"
"Terserah kamu aja nak!"
"Bu kata Rio, setelah kami menikah ibu ikut tinggal bareng kami."
"Janganlah nak apa kata orang, ibu gak mau dibilang numpang hidup sama menantu yang ada ibu tambah sakit membatin."
"Ibu kok gitu masa Ulfa tinggal ibu sendiri, suami kak Tantri juga sudah lama ngajak ibu tinggal bareng mereka pilih salah satu dari kami atau ganti-gantian!"
"Jangan khawatir nak Ibu sudah nemu asisten buat jagain ibu, namanya Ratna, dia juga lulusan kesehatan tapi nasib apa mau dikata, usianya sudah 45 tahun tapi belum mempunyai pekerjaan tetap, dia janda anak satu anaknya perempuan usianya 10 tahun."
"Kasian ya Bu!"
"Iyya makanya kalau dia tinggal bareng ibu dan anaknya dia gak perlu ngontrak lagi, mereka tinggal disini aja!"
"Yah udah nanti biar Ulfa yang bayar gajinya mba Ratna ya Bu!"
"Tapi ibu masih punya gaji nak!"
"Ibu kenapa gak kasi jalan anaknya buat berbakti sih? sebel!"
"Ngambek yah? ya udah terserah kamu saja ya nak!"
Malam harinya Ulfa susah memejamkan mata dia teringat motor kesayangannya.
"Kejam banget sih si Rio, pengan jitak tapi kasian nanti gantengnya hilang." Ulfa yang mulai bicara sendiri, tidak lama kemudian bunyi pesan masuk.
"Ahhh sepatuku!" kata Ulfa sambil menatap layar telpon genggamnya. Rio mengirimkan foto sepatu Ulfa yang nyangkut di jendela lantai dua rumah Rio.
Follow me on instagr*m @voilaayunda