Tuduhan

1546 Kata
"Tenang saja mba Ulfa, dalam tiga hari saya bisa menyelesaikannya, mba Ulfa langsung ke butik saja yah!" "Terimakasih banyak atas bantuannya!" "Sama-sama mbak, memang begitu terkadang banyak ketegangan menuju hari H!" kata sang designer sambil memberikan senyum pada Ulfa, tentu saja sang designer tersebut sedikit banyak sudah mengetahui karakter Rio Wijaya. Ulfa Kirana juga memberikan senyuman tanda terimakasih. "Ok saya permisi dulu yah mba, kalau gaunnya udah jadi kami akan segera menginformasikan!" "Iya, sekali lagi terima kasih banyak atas segala bantuannya!" Ulfa Kirana mengantar sang designer hingga ke pintu depan. "Mba Ulfa, pak Rio menunggu anda di kamarnya!" Kata Intan. "Dia mau apa yah?" "Ya mana Intan tau mba, udah cepetan mba nanti pak Rio marah lagi!" "Temenin yah!" "Gak bisa mba, kami dilarang naik ke lantai dua mba, tadi aja saya berani karena takut gaunnya keseret-seret!" "Intan aku kok agak takut sama Rio hari ini!" "Iyya mba tadi pagi dia kalem-kalem aja, habis dari luar langsung marah-marah gak jelas, udah-udah mba cepetan!" Ulfa Kirana pun mempercepat langkahnya dengan perasaan yang deg-degan, hari ini tatapan Rio sangat berbeda padanya. Tok-tok, suara ketukan pintu "Rio ini aku!" "Masuk!" Ulfa pun masuk berdiri tidak jauh dari pintu, dia tampak takut untuk mendekat ke arah Rio. Bahkan Ulfa dibiarkan berdiri di sana beberapa saat, tampak jelas jika Rio mengabaikannya, karena sudah tidak tahan menunggu akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya. "Rio ada apa?" "Kamu dari mana hari ini kenapa bisa terlambat untuk hari penting semacam ini?" "Aku gak kemana-mana Rio, ban motor aku bocor tadi di jalan!" "Aku masih memberikan kamu kesempatan bicara jujur!" "Beneran Rio tadi ban motor aku bocor!" "Bohong!!! kata Rio dan langsung menghamburkan barang yang ada di dekatnya, membuat Ulfa kaget, Ulfa sama sekali tidak paham yang Rio katakan jika dia berbohong memang kenyataannya ban motornya bocor. "Tapi kenapa Ulfa kamu harus berbohong?" "Apa maksud kamu Rio, aku tidak berbohong silahkan sana bertanya sama tukang bengkel yang di dekat klinik, aku nambal motor di sana!" "Kamu memang paling bisa menjawab!" "Ya Tuhan Rio, apa yang kamu inginkan, kamu bertanya aku menjawab!" "Tapi kamu tidak jujur!" "Jujur bagaimana maksud kamu, aku sudah katakan apa yang terjadi di jalan!" Mendengar ucapan Ulfa Kirana yang berani membantahnya membuat Rio mendekatkan kursi rodanya ke arah Ulfa Kirana. "Kamu sudah berbohong dan tetap berani menjawab yah, bibirmu paling jago memutar kata sepertinya memang harus dihukum!" Kata Rio yang kemudian dengan cepat menarik Ulfa hingga terjatuh dalam pangkuannya. Tidak hanya itu Rio langsung menarik dagu Ulfa Kirana dan mencium bibir Ulfa Kirana tanpa izin, ciuman yang cukup kasar dan intens, semakin Ulfa bergerak untuk melepaskan tautan bibir mereka, Rio Wijaya semakin kuat mengungkung Ulfa Kirana dengan kedua lengannya. Bibir seksi Rio seakan tidak pernah puas mencium bibir Ulfa Kirana sampai keduanya kehabisan nafas, di saat yang sama air mata Ulfa Kirana menetes, hatinya sangat terluka diperlakukan demikian. Setelah bebas dari kungkungan lengan kokoh Rio, dengan cepat tangan Ulfa Kirana melayang, satu tamparan mendarat di pipi Rio Wijaya, Rio cukup kaget dia tidak pernah berfikir Ulfa Kirana akan berani menamparnya hanya karena ciuman. "Pak Rio Wijaya anda sudah keterlaluan, ini bukan pertama kali anda menciumku dengan kasar tanpa izin, apakah anda memang seorang b******n?" "Apa maksudmu bukan pertama kali? kapan aku pernah menciummu? ini yang pertama jangan asal bicara kamu, mungkin bibir orang lain bukan bibirku!" "Rio!!!" Ulfa Kirana berteriak sekencang-kencangnya karena merasa Rio benar-benar telah menghinanya. Ulfa Kirana tidak bisa menahan emosinya dengan amarah yang sudah di ubun-ubun dia menyerang Rio Wijaya memukul d**a Rio Wijaya sekuat tenaganya dia tidak peduli Rio sekarang menggunakan kursi roda, tapi tentu saja pukulan Ulfa sama sekali tidak dirasakan oleh Rio, sekarang Rio kembali menangkap kedua tangan Ulfa Kirana dan mengungkungnya kembali dalam pelukannya. "Lepaskan aku calon suami jahat!" "Apa ulang lagi!" "Kamu jahat Rio!" "Bibir kamu itu suka berbohong makanya harus diberi pelajaran!" Ulfa Kirana sudah kehabisan tenaga. Ternyata menangis, emosi dan bicara dengan berteriak membuat Ulfa serasa kehabisan tenaga, dia tidak bisa lagi memberontak, lengan Rio terlalu kuat untuk dilawan akhirnya Ulfa berhenti memberontak. "Rio kenapa kamu jahat sekali padaku?" kata Ulfa Kirana yang masih berada di pangkuan dan kungkungan kedua lengan Rio Wijaya. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja, Rio Wijaya sangat menikmati menatap dari dekat wajah calon istrinya yang merah karena emosi, nafas Ulfa masih tersengal-sengal sepertinya dia benar-benar meluapkan semua emosinya. "Aku tidak jahat aku cuman memberimu hukuman Ulfa, kamu yang sangat pandai berbohong!" "Sudah berapa kali kukatakan aku tidak berbohong Rio!" "Kenapa kamu mengatakan ini bukan pertama kalinya aku menciummu dengan paksa, kapan aku pernah melakukannya? "Itulah kamu melupakannya padahal itu ciuman pertamaku, kamu mencurinya!" "Katakan dengan jelas kalau tidak aku tidak akan melepaskanmu!" "Kamu ngancem aku?" "Iyya, trus mau apa, berani melawan?" "Berani, tapi tenaga kita gak seimbang ini bukan pertarungan yang seimbang!" "Gak usah bahas soal pertarungan yang tidak seimbang, yang penting itu katakan apa maksudnya kata-katamu tadi?" "Kata-kata yang mana banyak yang sudah aku katakan?" "Soal ciuman, Ulfa tolong jangan biarkan aku tambah emosi yah!" "Iyya kamu jahat, kamu selalu mencium ku dengan paksa!" kata Ulfa yang sekarang kembali memukul sekali lagi d**a CEO tampan itu, bukannya kesakitan Rio Wijaya merasa jika pukulan Ulfa adalah pukulan mesra. Rio Wijaya segera menangkap kedua tangan Ulfa lagi. "Bicara dulu kenapa sih! kapan dimana saya menciummu selain hari ini?" "Beberapa tahun yang lalu di atas mobil mu waktu itu kamu memintaku menemuimu di jalan menuju rumahku, mobilmu tidak bisa masuk gang rumahku karena ada tenda hajatan, jadi aku yang keluar menemui malam-malam sudah jam 11 malam, ternyata kamu mabuk parah dan tiba-tiba mencium bibirku dengan paksa mana mulutmu bau alkohol lagi jadi aku sundul saja hidungmu, kamu sampai mimisan, melihat hidungmu berdarah aku langsung kabur aku juga takut kamu kenapa-kenapa tapi aku juga sangat marah waktu itu, aku tau kamu dibawah pengaruh alkohol waktu jadi aku berusaha melupakannya, tapi sekarang kamu mengulanginya lagi dan parahnya sekarang kamu sedang tidak mabuk Rio." "Trus sekarang kenapa kamu gak sundul aku?" "Gak tega....aku gak tega sama kamu karena aku baik hati beda denganmu, kamu memperlakukan aku begitu buruk, kamu menuduhku macam-macam!" "Katanya tidak tega tapi dari tadi kamu mukulin aku Fa!" "Tapi kan pasti gak sakit, udah lepasin aku sekarang! aku sudah mengatakan semuanya kalaupun kamu tetap menganggap aku berbohong yah itu urusan kamu!" "Apa ada hal lain lagi yang tidak aku ketahui?" "Hal lain apa lagi Rio?" "Apa kamu menyukai orang lain?" "Gak ada!" "Apa kamu gak pernah punya pacar?" "Apaan sih tanya-tanya begitu?" "Jawab aja gak usah melawan terus!" "Gak pernah, puas?" Rio sedikit senang dengan jawaban terakhir Ulfa Kirana, tapi tentang menyukai orang lain entah mengapa Rio masih belum percaya, dia yakin jika Ulfa menyukai Kenzo, mengingat bagaimana tatapan Ulfa kepada Kenzo selama ini, udah seperti liat artis idola. Rio Wijaya melonggarkan kungkungan lengannya pada badan Ulfa, namun sekarang menarik badan Ulfa untuk duduk di pangkuannya dan memeluk Ulfa dari belakang. "Rio!" Ulfa Kirana mulai protes lagi. "Hush! aku mohon Ulfa jangan memberontak terus, biarkan aku begini sebentar saja!" Rio Wijaya merasakan desir kehangatan mengalir ke seluruh tubuhnya dengan memeluk Ulfa Kirana, Rio sekarang yakin jika dia benar-benar menyukai Ulfa Kirana tapi dia sendiri belum yakin apakah Ulfa Kirana telah menggantikan nama Zahra di hatinya, Zahra yang menorehkan luka di hatinya membuatnya tak pernah percaya pada wanita manapun bahkan Ulfa Kirana sekalipun walaupun demikian Rio Wijaya masih menaruh harapan kepada Ulfa agar bisa menemani hari-harinya yang sepi, kehadiran Ulfa saja sudah bisa membuatnya begitu tenang. 'Ini orang kenapa lagi? barusan ngamuk-ngamuk, sekarang jadi semanis ini? sebenarnya sejauh mana kerusakan otakmu Rio Wijaya? perasaan orang yang otaknya sakit jadi bego bukan jadi jahat seperti kamu!' batin Ayunda, dia masih sakit hati dengan sikap Rio kepadanya tapi juga tidak sanggup untuk marah lagi. "Fa maafkan aku jika selalu kasar kepadamu!" Ulfa hanya diam, dia jujur masih sakit hati dia merasa Rio sudah keterlaluan tapi di sisi lain dia juga sadar jika dia menyayangi Rio dan dari awal dia sudah berniat menerima segala kekurangan Rio juga segala sifat buruk Rio. "Fa apa kamu tidak mau memaafkan aku?" "Gak begitu Rio tapi aku gak suka kamu menciumku kasar begitu aku merasa seperti w************n!" "Jangan berkata begitu Ulfa aku tau kamu sangat berharga, hanya saja aku tidak bisa menahan emosiku, Fa tetaplah di sisiku walaupun aku begitu buruk!" Mendengar ucapan Rio Wijaya, Ulfa segera membalikkan badannya dan menatap wajah Rio Wijaya, sekarang posisi wajah Ulfa lebih tinggi dari posisi Rio. Ulfa bisa melihat dengan jelas ketampanan calon suaminya tersebut. Mata mereka saling terpaut ada bahasa cinta di sana. Posisi Ulfa masih tetap sama di pangkuan Rio Wijaya. "Rio aku sayang sama kamu, aku akan berusaha sabar menghadapimu tapi aku juga bukan gadis yang lembut, aku juga minta maaf yah jika selalu membuat kamu marah aku harap kita bisa saling memberikan kebahagiaan!" Ulfa kemudian mencium pipi Rio dengan lembut. Ciuman lembut di pipinya membuat Rio Wijaya berdebar padahal hanya ciuman di pipi. Ulfa yang merasa malu telah mencium Rio duluan segera bangkit dari pangkuan Rio. "Aku permisi!" kata Ulfa dan langsung keluar dari kamar Rio. Sementara Rio hanya tersenyum kecil melihat tingkah Ulfa yang menurutnya sangat manis itu. Lagi dan lagi dia merasa jika dia tidak salah pilih memilih Ulfa Kirana menjadi calon istrinya. Rio juga berfikir jika memang Ulfa pernah atau masih menyukai Kenzo, dia akan berusaha membuat Ulfa lupa dengan Kenzo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN