“Apa jika aku katakan, kalau kamu adalah sumber kegalauanku, kamu tak akan menganggapku gila?” Kata-kata itu hanya sanggup ditanyakan dalam hati. Evan masih belum ingin jujur betapa dia sangat mencintai perempuan yang kini sudah menjadi istrinya. Nanti yang ada dia justru dikira gila karena berani mencintai calon adik iparnya, dulu. Hingga malam itu terjadi, seolah menjadi titik balik di mana Evan dan Kayla dipersatukan dalam sebuah janji suci setelahnya. Takdir memang tidak ada yang tahu, apalagi jika Tuhan sudah berkehendak maka yang tidak mungkin, pasti bisa terjadi. Seperti halnya hubungan Kayla dan Evan sekarang. “Bang!” Kayla menyentuh bahu kanan Evan. “Eh, oh, iya, Kay. Ada apa?” Evan terlihat linglung. Bibir perempuan itu mencebik. “Bang Evan gak denger sama apa yang aku

