Aku merinding, dua orang berbadan besar di sampingku semakin mendekat. Kedua kakiku sedang sakit, jangankan lari, berjalan saja tidak bisa. Mataku memelas kepada Jexeon, meminta supaya membawaku pergi dari sini. "Kau cantik sekali, enak buat dicium." Jexeon diam saja, malah menelengkan kepalanya. Bibirnya sedikit terangkat, menunggu reaksiku. Menggoda seakan tidak akan menolongku dari situasi ini. Mungkinkah dia berniat meninggalkanku? Aku menggeleng, tidak mau ditinggal. "Tolong," ucapku lirih. Jexeon malah menyinggungkan senyum. Semakin mengejek. Dia jahat sekali, seharusnya sebagai suami melindungiku dong. Istrinya sedang digoda di depan mata, dia malah diam saja dan menonton. Tidak berperikesuamian sekali. "Cantik, sini cium." Aku menoleh, melihat bibir cumi yang begitu dekat

