Mataku mengerjap perlahan, kelopak mataku menyipit saat netra coklatku mencoba menyesuaikan penglihatanku dengan ruangan ini. Tempat ini gelap, terasa lembab namun dingin disaat yang bersama. Memoriku kembali mengingat, mencoba memutar kejadian mengerikan yang kualami sebelumnya. Lean, permata, lelaki berambut putih, dan ... lari. Ya. Aku berlari sebelumnya, didalam hutan belantara yang luas. Namun mengapa aku berada disini sekarang? Keningku berkerut saat rasa pusing dikepalaku kembali melanda. Ini sungguh sakit, bahķan aku dapat merasakan sebuah benjolan yang muncul ketika aku menyentuh keningku secara perlahan. "Arghh." pekikku tertahan. Benjolan ini terasa ngilu dan berdenyut disaat yang bersamaan. "Sudah jelas keningmu terluka, masih juga kau sentuh" Aku menoleh kesumber suara, n

