Bab 5 Di-ACC

973 Kata
Ayu berpikir Pramasta bakal berhenti di pagar depan rumahnya. Normalnya, orang yang baru saja ikut mengacaukan hidup seseorang akan berhenti di pagar, menurunkan penumpang, bilang hati-hati, lalu pergi dengan sopan untuk memberi ruang bagi pemilik hidup untuk mencerna kekacauan masing-masing. Ayu jelas lupa, Pramasta jelas bukan orang normal. Dia mungkin sebuah anomali. Mobilnya berhenti tepat di depan rumah. Mesin dimatikan. Sabuk pengaman dilepas lalu—seolah itu hal paling wajar di dunia—ia turun, membuka bagasi, dan mengeluarkan satu plastik besar berisi rambutan merah segar dan tujuh bungkus nasi Padang. Ayu mengira saat dia diajak makan, Pramasta hanya membayar makanannya. Dia tidak mengira kalau pesanan sebanyak itu, dibeli dan dipesan untuk dibawa ke rumahnya, bukan untuk dibawa pulang atau dibagi-bagi ke orang lain. “Pram,” kata Ayu panik sambil setengah bangkit dari kursi, “kamu ngapain?” “Silaturahmi,” jawabnya santai, seperti sedang membicarakan beli galon. “Calon menantu harus sopan.” “Aku belum bilang kamu calon menantu keluargaku!” Pramasta sudah menutup bagasi dan melangkah lebih dulu ke arah pintu rumah. “Aman,” katanya tanpa menoleh. “Nanti juga mau.” Ayu ingin pura-pura pingsan di teras atau minimal pura-pura muntah biar bisa kabur. Sayangnya, kakinya justru ikut melangkah. Karena entah sejak kapan, hidup Ayu memang punya kebiasaan buruk: selalu mengikutinya ke arah masalah. Begitu mereka masuk halaman, pintu rumah terbuka. Ayah Ayu keluar lebih dulu. Rambutnya masih sedikit basah, seperti baru selesai mandi. Di belakangnya, ibu kandung Ayu menyusul dengan ekspresi waspada khas perempuan yang sudah terlalu sering menyaksikan drama anaknya lalu ibu tirinya. Dengan daster bunga dan senyum yang selalu terasa sedikit terlalu jujur. Sisanya anggota keluarga yang lain menyusul seperti konser dadakan. Total: Ayah. Ibu kandung. Ibu tiri. Dua adik kandung Ayu yang langsung berbisik-bisik. Satu anak ibu tirinya yang berdiri sambil memeluk guling. Bocah laki-laki itu mungkin berumur sepuluh tahun dan langsung duduk di tangga, menatap Pramasta penuh rasa ingin tahu, seperti sedang menilai mainan baru. Ayu ingin menangis, kabur atau pindah negara. Namun, itu jelas tidak mungkin. Pertemuan ini sulit ditunda. Pramasta melangkah maju dengan tenang. Rambutan di satu tangan, nasi Padang di tangan lain. Senyumnya lebar, sopan, nyaris terlalu percaya diri untuk situasi sekacau ini. “Selamat malam semuanya,” “Selamat malam juga,” jawab mereka hampir bersamaan, suaranya campur aduk antara penasaran dan siaga. Ayah Ayu menatap Pramasta beberapa detik, lalu menoleh ke Ayu. “Kamu ganti calon suami, Yu?” DETIK ITU JUGA AYU INGIN MASUK GOT. “Pa—” “Saya Pramasta,” potong Pramasta cepat, suaranya mantap. “Calon menantu idaman.” Sunyi yang berat. Perkataan narsis itu membuat semua orang termute tanpa tapi. Plastik rambutan di tangan Ayu hampir jatuh. Ibu kandung Ayu mendekat, mengamati Pramasta dari ujung rambut sampai sepatu. Tatapan ibu-ibu yang sudah berpengalaman membaca niat manusia. Tatapan itu berlangsung cukup lama sebelum akhirnya ia menoleh ke Ayah Ayu. “Tapi… agak mirip Dimas ya?” Ayu menutup wajah dengan kedua tangan. “Cuma ini versi di-upgrade,” lanjut ibunya santai. “Kayak paket premium.” Ayah Ayu mengangguk pelan. “Iya juga.” Ibu tiri Ayu tiba-tiba nyeletuk dengan nada datar tapi mematikan, “Lebih ganteng ini sih. Rambutnya juga lebih gondrong kayak anak teknik ya.” Semua menengok mendengar komentar jujur itu. “Yang kemarin,” lanjut ibu tirinya tanpa dosa, “rada nggak simetris mukanya.” “BU—” Ayu hampir menjerit. Pramasta terkekeh kecil. “Terima kasih, Bu.” Ibu tiri Ayu mengangguk puas. “Sama-sama. Saya objektif.” Bocah laki-laki di tangga tiba-tiba berdiri. “Om ini kaya?” Pramasta langsung jongkok sejajar dengannya. “Cukup buat beliin kamu PS.” “HOREEE!” “AKU SETUJU!” teriak si bocah sambil mengepalkan tangan. Dua adik Ayu langsung mengerubungi. “Bang, kerja apa?” “Bang, beneran mau nikahin Kak Ayu?” “Bang, nasi Padangnya buat kita semua?” “Iya,” jawab Pramasta mantap. “Semuanya.” Ayu memejamkan mata. Ini mimpi. Pasti mimpi. Harga dirinya serasa dilucuti tanpa perlawanan. Mereka masuk ke rumah. Pramasta meletakkan nasi Padang di meja makan dan mulai membaginya dengan cekatan, seolah sudah hafal formasi keluarga Ayu: siapa yang biasanya makan banyak, siapa yang suka rendang, siapa yang pasti minta sambal lebih. Ayu memperhatikannya diam-diam. Orang ini… keterlaluan, terlalu santai dan cepat menyatu. Sialnya, dia juga mudah diterima. Ayah Ayu duduk di kursi utama. “Kamu tahu kan kalau Ayu baru putus?” tanyanya datar. “Tahu, Pak,” jawab Pramasta tanpa ragu. “Kamu tahu dia sempat patah hati?” “Tahu.” “Kamu tahu hidupnya nggak sederhana?” “Tahu.” Ayah Ayu menatapnya tajam. “Terus kenapa masih mau?” Pramasta tersenyum kecil. “Karena saya juga nggak hidup sederhana, Pak.” Hening. Ibu kandung Ayu tersenyum tipis. Ibu tirinya bertepuk tangan pelan. “Jawaban bagus.” Ayu menghela napas panjang. “Kalian serius nggak ada yang mau nolak ini?” Ayah Ayu menepuk bahunya. “Yang penting kamu bahagia.” Ibu kandungnya mengangguk. “Calon yang ini kelihatannya lebih niat dari yang kemarin cuma nganterin kamu sampai pagar rumah.” Ibu tirinya menambahkan tanpa ragu, “Juga ini lebih royal dan ganteng.” Ayu menatap Pramasta lama. Pramasta mengangkat bahu. “Bonus.” Setelah makan, Pramasta pamit. Di depan rumah, ia berhenti sebentar. “Keluarga kamu rame,” katanya. Ayu mendengus. “Dan brutal.” “Aku suka.” Ayu menatapnya lelah. “Kamu tuh masuk hidup orang tanpa ngetuk pintu, tahu nggak?” Pramasta tersenyum. “Kalau ngetuk, takut keburu disuruh pulang.” Ayu ingin marah, tapi malah tertawa. Malam itu, sambil menutup pintu rumah, Ayu sadar satu hal yang mengerikan kalau Pramasta bukan cuma masuk ke hidupnya. Dia langsung diterima. Hal itu… jauh lebih menakutkan daripada semua chaos sebelumnya. Sebab, pernikahan yang dibicarakan Pramasta mungkin akan segera terwujud tanpa menunggunya untuk siap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN