Bab 4 Tidak Salah Alamat

1152 Kata
“Pram, antar Ayu pulang,” kata Papa akhirnya, suaranya tegas tapi tidak meninggi. Tatapannya beralih dari Ayu ke Pramasta, lalu berhenti sejenak di sana, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak diucapkan. “Kamu kelihatan pusing.” Ayu refleks mengangguk. Kepalanya memang berdenyut. Sejak tadi, dari ruang tamu yang terlalu sunyi, dari tatapan Selvi yang terlalu dingin, dari kenyataan bahwa dalam satu hari hidupnya seperti dipaksa meloncat beberapa tahun ke depan tanpa aba-aba. “Kamu juga,” Papa menoleh ke Dimas, nadanya sama datarnya, “antar Selvi pulang.” Tidak ada yang membantah. Tidak ada salam penutup atau basa-basi lanjutan. Keputusan itu jatuh seperti palu sidang—sekali ketuk, selesai. Di teras, dua mobil terparkir bersebelahan. Lampu sorot halaman menyinari mereka dengan cahaya kekuningan yang membuat bayangan setiap orang tampak lebih panjang dari biasanya. Udara malam lembap, dan canggungnya terasa nyata, menempel di kulit. Selvi berjalan lebih dulu. Ia membuka pintu mobil Dimas dan masuk tanpa menoleh sedikit pun ke arah Ayu. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, juga tidak kecewa—justru terlalu tenang. Tatapan orang yang sudah berhenti berharap, dan mulai menghitung. Mobil Dimas melaju lebih dulu, meninggalkan suara mesin yang cepat menghilang di tikungan. Ayu berdiri kaku beberapa detik sebelum Pramasta membuka pintu mobilnya. “Masuk,” katanya singkat. Nada itu bukan perintah, tapi juga bukan permintaan. Ayu menurut. Pintu tertutup, dan mobil melaju perlahan keluar dari halaman rumah yang pernah terasa seperti tempat aman—tapi malam ini berubah menjadi arena keputusan yang tidak ia minta. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Jalanan sore menjelang malam itu padat. Entah kenapa terasa sunyi. Lampu kendaraan berbaris seperti aliran cahaya tak berujung. Kepala Ayu semakin berat. Pusingnya tidak berkurang, justru seperti berpindah dari pelipis ke dadanya. “Kita makan dulu,” kata Pramasta tiba-tiba, memecah keheningan. Ayu menoleh. “Aku mau pulang.” “Perut kosong bikin sakit kepala makin parah,” balasnya santai, matanya tetap ke jalan. “Tenang. Aku nggak nyulik ke hotel lagi.” Ayu ingin membantah. Ingin bilang ia hanya ingin sendiri, ingin mengurung diri di kamar sempitnya dan pura-pura semua ini tidak pernah terjadi. Namun perutnya berkhianat—berbunyi pelan, nyaris malu-malu. Pramasta melirik sekilas, senyum kecil tersungging. “Nah. Lapar, kan? Kita makan dulu.” Mereka berhenti di warung makan sederhana di pinggir jalan. Lampu neon putih, meja kayu panjang, dan aroma masakan rumahan yang tidak mencoba mengesankan siapa pun. Tidak romantis atau mewah. Terlalu biasa untuk situasi yang luar biasa kacau. Justru itu yang membuat Ayu sedikit tenang. Setelah makanan datang, Ayu menatap piringnya lama sebelum akhirnya bicara. “Pram.” “Hm?” “Kok kamu bisa yakin banget aku bakal hamil?” Pramasta mengangkat alis, lalu mengunyah pelan sebelum menjawab. “Kenapa?” “Kita cuma… sekali,” suara Ayu menurun. “Ini baru beberapa hari. Secara medis… nggak masuk akal kalau kamu seolah yakin.” Pramasta menyuap lagi, tenang sekali. “Aku nggak yakin.” Ayu mendongak. “Terus?” Ia menyeka sudut bibirnya dengan tisu. “Kalau nggak hamil,” katanya ringan sambil melirik Ayu, “kita bisa coba lagi bulan depan.” Sendok Ayu langsung jatuh. Bunyi logam beradu dengan lantai terdengar terlalu keras. “PRAMASTA!” Ia tertawa, bahunya bergetar kecil. “Bercanda.” “Kamu tuh—” Ayu menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang naik seperti air pasang. “Aku serius. Ini nikah. Bukan pacaran. Kamu beneran yakin?” Pramasta berhenti makan. Sendoknya ia letakkan perlahan. “Iya.” Jawabannya terlalu cepat dan mantap. Tidak ada keraguan yang biasanya muncul saat seseorang dipaksa mengambil tanggung jawab sebesar ini. Ayu menelan ludah. “Kamu beneran sayang sama aku… atau cuma kasihan? Atau ini dendam pribadi ke Dimas?” Pramasta menatapnya lama. Untuk pertama kalinya sejak mereka duduk, wajah tengil itu menghilang. Tidak ada senyum atau senyum penuh godaan. “Ayu,” katanya pelan, hampir hati-hati, “Aku naksir kamu sejak pertama kali kakak datang ke rumah.” Ayu membeku. “Kamu inget nggak,” lanjutnya, “setiap ulang tahun kamu selalu ada kado yang nggak pernah pakai nama pengirim datang ke tempat kerjamu?” Ayu mengernyit, kenangan itu muncul perlahan. “Yang… selalu dititipin ke satpam?” “Iya.” “Juga ingat bunga anggrek tiap Minggu yang datang ke kamu?” “Iya.” Jantung Ayu berdegup keras, ritmenya tidak beraturan. “Itu dariku,” kata Pramasta. Ayu menatapnya tak percaya. “Kamu… bercanda?” “Enggak.” Pramasta tersenyum kecil, kali ini tanpa main-main. “Aku tahu kamu suka anggrek putih. Kamu pernah bilang itu bunga paling tenang. Bukan mau nguping, nggak sengaja terdengar saat kamu ngobrol sama Dimas di taman rumah.” Tenggorokan Ayu mendadak kering. “Aku bangun usaha sendiri,” lanjut Pramasta, suaranya stabil, “KPR rumah, kerja kayak orang gila… bukan buat ngalahin Dimas, agar suatu hari saat kamu sadar kalau dia tidak cukup pantas, mungkin kamu bisa mempertimbangkanku.” Ia menatap Ayu lurus-lurus. “Aku selalu ingin setara dengan Dimas. Tidak, mungkin lebih tinggi.” Jemari Ayu meremas serbet. “Aku tahu,” kata Pramasta, “anak pertama bakal selalu lebih diunggulkan. Pewaris. Harapan keluarga.” Ia tersenyum miring. “Aku? Aku cuma cadangan di keluarga, karena itu perlu banyak usaha agar kamu melihatku.” “Pram…” “Jadi aku bersyukur karena kamu mabuk dan kita tidur bersama,” lanjutnya. “Sekarang, aku berdiri setara dengan kakakku sebagai calon suamimu.” Sunyi menyelimuti mereka. Ayu merasa dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. “Ini bukan dendam,” kata Pramasta pelan. “Ini pilihan.” Ia sedikit mencondongkan tubuh. “Dari dulu, aku memilihmu.” Mata Ayu panas. Ia tertawa kecil dan getir. “Kamu tahu nggak,” katanya lirih, “betapa nggak adilnya kamu ngomong gini sekarang?” Pramasta mengangkat bahu. “Zodiakku Leo. Timing bukan keahlianku.” Ayu mengusap sudut matanya cepat-cepat. “Kamu menyebalkan.” “Sering dibilang.” “Terlalu percaya diri.” “Bakat.” Ayu mendengus, lalu menatapnya lama. “Aku takut.” Pramasta mengangguk tanpa ragu. “Aku juga.” Jawaban itu membuat Ayu terkejut. “Tapi aku lebih takut kehilangan kesempatan,” lanjutnya. “Daripada takut gagal.” Ayu menahan napas. Pramasta terlalu mendominasi dan tiba-tiba. Setelah makan, Pramasta mengantar Ayu pulang. Mobil berhenti di depan kosnya yang sederhana, lampu teras menyala redup. “Terima kasih,” kata Ayu pelan. Pramasta membuka sabuk pengaman. “Kepala masih pusing?” “Sedikit.” Ayu membuka pintu, lalu berhenti. Menoleh. “Pram.” “Hm?” “Kalau nanti aku bilang aku belum siap…” Pramasta tersenyum kecil. " Aku akan menunggu.” Ayu mengernyit. “Papa kamu bilang—” “Bukan nunggu karena adat,” potongnya lembut. “Tapi karena kamu. Selama kamu siap, aku akan gas meski harus melawan papa.” Ayu tahu dari sorot mata Pramasta selalu kuat dan berani. Tidak ada yang bisa dikatakannya lagi. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kekacauan ini dimulai, ia tidak merasa sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN