Bab 3 PEWARIS VS PERINTIS

1060 Kata
Papa mereka pulang dengan langkah tenang, tanpa tahu bahwa ruang tamu rumahnya sudah berubah jadi arena gladiator emosional. Jas masih rapi, tas kerja masih tergantung di bahu, dan wajah lelah seorang kepala keluarga yang sama sekali belum siap menerima berita bahwa dua putranya baru saja mengacak tatanan hidup satu sama lain. “Ada apa ini?” tanyanya singkat. Tidak ada yang langsung menjawab. Ibu mereka berdiri lebih dulu, meraih tas Papa dan meletakkannya di kursi. “Duduk dulu. Ini… pembicaraan keluarga.” Nada itu cukup membuat Papa menurut. Begitu Papa duduk, Dimas langsung menegakkan badan, Selvi di sampingnya dengan wajah tegang tapi penuh perhitungan. Pramasta bersandar santai, satu kaki disilangkan, sementara Ayu duduk kaku antara ingin terlihat dewasa atau ingin lenyap jadi vas bunga. “Papa,” buka ibu mereka akhirnya, “Pramasta meminta izin, katanya mau menikah dengan Ayu.” Papa mengangguk pelan, lalu menoleh ke Ayu. Tatapannya tajam tapi tidak menghakimi. “Kamu mantannya Dimas, kan?” “Iya, Pak,” jawab Ayu lirih. Papa menarik napas panjang. “Kalian saling mencintai?” Ayu mengangguk pelan lalu menoleh pada Pramasta. "Pram, nikah bukan main-main, kamu yakin?" Pramasta mengangguk tegas. "Yakin, Pa." Papa menghela napas panjang. "Sebenarnya, papa juga heran kamu mau menikah dengan mantan kakakmu tetapi karena Dimas bilang, dia sudah putus lama dan juga sudah move on, maka harusnya tidak akan ada masalah di masa depan." Alis Ayu terangkat sedikit, fakta bahwa Dimas mengatakan telah putus lama darinya sedikit membuat hatinya merasa ditipu. Namun, dia sama sekali tidak memberikan reaksi karena sudah tidak penting dibahas saat ini. "Baik, papa setu..." Dimas langsung menyambar, “Aku juga mau nikah, Pa. Sama Selvi. Kami duluan!” Papa menatap Dimas, agak shock. Satu alisnya terangkat. “Kalian mau nikah… barengan?” Ibu mereka langsung menggeleng cepat. “Nah itu masalahnya.” Papa menyandarkan punggung. “Di keluarga kita, kita semua tahu adatnya. Setahun nggak boleh ada dua pernikahan dalam satu keluarga.” Pramasta mengangguk. “Aku tahu.” “Nah,” lanjut Papa, menatap Pramasta, “jadi kamu nunggu giliran. Kakakmu dulu.” Hening. Ayu menahan napas. Pramasta menegakkan badan. Wajahnya tetap santai, tapi sorot matanya berubah—tajam, percaya diri, dan sama sekali tidak berniat mengalah. “Oke,” katanya pelan. “Kalau Papa yakin bisa nanggung malu lihat cucu lahir duluan sebelum punya kartu keluarga, ya nggak apa-apa.” Pupil mata semua orang, termasuk Ayu, ikut melebar. Prastama tersenyum dengan angkuh. “PRAMASTA!” bentak ibu mereka. Selvi tersedak udara. Dimas berdiri. “Kamu paham yang kamu omongin nggak sih?!” Papa menatap anak bungsunya lama. “Kamu serius?” “Sangat,” jawab Pramasta tanpa ragu. “Aku nggak main-main sama keputusan nikah.” Ayu memejamkan mata. Ya Tuhan, kenapa mulutnya nggak punya rem. Dimas tertawa sinis. "Jangan sok dewasa, Pram. Ingat, kalau Ayu hamil dan kamu menikah dengannya sebelum aku, kamu harus tahu resikonya.” Pramasta menoleh. “Apa?” “Kamu nggak bisa jadi pewaris perusahaan Papa kalau menikah duluan dan bikin skandal keluarga.” Hening lagi. Kali ini berat. Papa tidak menyangkal. Semua mata tertuju ke Pramasta, menunggu reaksinya. Ayu refleks mengepalkan tangan di pangkuannya. Pramasta tersenyum. Bukan senyum terdesak melainkan senyum orang yang sudah siap dengan jawabannya sejak awal. “Oh itu?” katanya ringan. “Sejak awal, aku kan perintis, bukan pewaris.” Dimas mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?” Pramasta berdiri. Entah kenapa, saat ia berdiri, ruangan itu terasa lebih kecil. "Aku emang lebih muda, tapi lebih ganteng darimu,” katanya santai. “Juga, lebih kaya dan mandiri. Aku punya perusahaan sendiri.” Selvi terbelalak. “Masih rintisan,” lanjut Pramasta, “tapi jalan. Aku punya rumah sendiri meski masih KPR, mobil dan gaji tahunan hampir satu miliar.” Ayu nyaris tersedak ludah. Dia tidak menyangka adik menyebalkan dari mantannya ternyata tidak seplenga plongo dugaannya. Papa menegakkan badan. Ibu mereka membeku. “Secara kemapanan,” Pramasta menatap Dimas lurus-lurus, “aku lebih layak buat Ayu.” “Apa?” Selvi spontan bersuara. Pramasta menoleh ke arahnya, ramah tapi menusuk. “Nah, Kakak ipar nggak tahu ya?” Selvi menelan ludah. “Tahu apa?” “Aku meski masih muda,” lanjut Pramasta tanpa dosa, “jauh lebih berbakat bisnis daripada kakakku yang manja ini.” “PRAMASTA!” teriak Dimas. “Dan Kak Ayu,” Pramasta menoleh ke Ayu, suaranya melembut sedikit, “seorang bidan. Profesi stabil, empatik, dan grounded.” Ayu ingin masuk ke lantai. “Jauh lebih cocok jadi istriku,” lanjutnya, “daripada kak Selvi, wanita karier yang sibuk dan terlalu fokus status.” Selvi mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah, bukan karena malu dan marah. “Sombong banget, sih,” desis Selvi. Pramasta mengangkat bahu. “Orang ganteng bebas.” Dimas hampir melempar bantal sofa. "Kamu tuh nggak mikir sebelum ngomong!” bentaknya. “Enggak,” jawab Pramasta jujur. “Yang ada di kepala langsung keluar.” Ayu mengusap wajahnya. Zodiak Leo banget. Ego jalan dulu, otak nyusul. Papa akhirnya berdiri. “Cukup.” Satu kata itu membuat semua orang terdiam. Papa menatap Pramasta lama. “Kamu sadar konsekuensinya?” “Sadar,” jawab Pramasta mantap. “Kamu siap kalau keputusan ini bikin kamu kehilangan posisi di perusahaan keluarga?” “Iya.” “Kamu siap kalau masyarakat ngomong macem-macem?” “Iya.” Papa lalu menoleh ke Ayu. “Kamu?” Ayu terdiam sejenak. Jantungnya berdetak kencang. “Saya nggak sempurna, Pak,” katanya akhirnya. “Tapi saya nggak mau nikah karena terpaksa. Saya juga nggak mau menunggu hanya demi menjaga citra.” Hening. Papa mengangguk pelan. Dimas mencibir. “Pa—” Papa mengangkat tangan. “Diam.” Ia menatap dua putranya bergantian. “Satu ini pewaris. Satu ini perintis. Dua-duanya keras kepala.” Ibu mereka menghela napas panjang. Papa duduk kembali. “Aku belum ambil keputusan hari ini.” “Pa,” kata Pramasta. Papa menggeleng. “Tapi satu hal jelas.” Semua menahan napas. “Kalau kalian mau menikah, kalian tanggung sendiri akibatnya.” Dimas terdiam. Selvi menggenggam tangan Dimas lebih erat. Pramasta mengangguk. “Deal.” Ayu menoleh padanya, panik. DEAL apaan?! Pramasta melirik Ayu dan tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, senyum yang tidak tengil, terkesan tulus. Di detik itu, Ayu sadar kalau pria di sampingnya ini menyebalkan, arogan, ceplas-ceplos, dan ego setinggi langit. Akan tetapi juga berdiri paling depan ketika semua orang ragu. Entah kenapa, itu lebih menakutkan daripada semua kekacauan hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN