Setelah sampai di rumah. Angel segera keluar dan masuk ke dalam rumahnya sendiri. Diikuti dengan Xavier.
“Ma ... Angel beliin Mama makanan nih! Katanya Maman nitip?!”
“Letakin di meja dulu, Mama lagi bersihin kamar adik kamu?!”
Angel berdecak pelan, kemudian meletakkan bingkisan itu di meja.
“Harusnya kamu senang adik kamu akan balik, Angel.”
Angel melirik dari sudut mata, dia mendesis pelan. “Habis ini aku pasti diabaikan?”
“Wajar tidak sih? Kan sekarang kamu sudah ada saya?”
“Saya ... saya. Bodoamat, Angel nggak peduli,” ucapnya, kemudian dia berjalan ke kamarnya.
“Mending aku cari kampus yang pas buat aku,” gumamnya. Dia mengambil laptop di atas laci dan membukanya. Kemudian duduk di tengah-tengah ke kasur.
Xavier mendekat kearah Angel tanpa gadis itu sadari. “Mau cari kampus?”
Angel menoleh ke samping sekilas. “Ya, aku mau masuki tiga kampus sekalian. Aku nggak yakin kalau daftar di salah satu universitas.”
“Kalau kamu tidak masuk, saya akan membantumu.” Xavier duduk di tepian kasur.
“Angel nggak akan ngambil itu. Lagian semua itu butuh usaha.”
Xavier mendesis kecil seakan pria itu tidak percaya apa yang dikatakan oleh Angel.
Angel melirik ke samping. “Why? Kenapa Om malah ketawa sih?”
“Apa kamu yakin kalau mereka jalur luar?”
Angel mengangkat bahunya. “I don't know. Itu urusan mereka.”
Xavier menggelengkan kepala cepat. “Delapan puluh persen mereka curang Angel, bahkan orang yang cerdas kalah sama mereka.”
“Hem ... tapi Angel mau masuk ke universitas karena jalur prestasi Angel sendiri. Lagian ada ulangannya kan?” Angel menoleh ke samping, menatap pria yang kini sedang menunggu di sampingnya.
Xavier mengangguk paham. “Yasudah, kamu ambil saja yang kamu mau. Saya cuma mau menawarkan jika kamu benar-benar tidak masuk di situ.”
Angel menghela napas kasar. “Jangan bilang gitu dulu bisa nggak sih Om? Kalau ngerusak mood aku mending Om enyah dari sini,” ucapnya dengan wajah ditekuk dan mengotak ngetik laptopnya kembali.
Xavier tertawa kecil, pria tersebut mengacak rambut Angel dengan gemas. “Makin sayang sama kamu deh.”
“Astaga ... Om ....!?!” Angel memejamkan matanya seakan menahan amarahnya di sana.
“Peru kecilku mau marah ya? Marah saja, saya akan mendengarkannya dengan senang hati,” ucap pria itu dengan kekehan kecilnya.
Angel tidak merespon pria itu. Bukannya diam, pria itu makin jadi.
Xavier mendekat ke arah Angel, tepatnya di belakang untuk melihat apa yang dilakukan oleh gadis tersebut.
Xavier tersenyum-senyum menatap Angel dari samping. Dia sengaja untuk mencium pipi gadis itu.
“Astaga, Om!” Angel membulatkan matanya seketika dan menoleh ke samping.
Shock bukan main saat wajah pria itu sangatlah dekat dengan wajahnya. Napas mereka saling bersahutan, bahkan mata mereka saling terkunci di sana.
“Why? Apa saya sangat tampan?” ucap Xavier kemudian.
Angel sempat diam kembali, kemudian memalingkan wajahnya ke sembarang arah. “Astaga, om satu ini memang bahaya banget,” batinnya.
Wajahnya bersemu merah. Xavier yang melihat itu hanya tertawa dan memundurkan tubuhnya sendiri. “Santai saja bisa? Kamu ini seperti melihat setan saja.”
Angel mengatur jantungnya yang berdetak cepat. Lalu, menatap tajam ke Xavier. “Lebih tepatnya setan beneran Om?! Udah sana ish!”
Angel memukul pria itu. Namun, Xavier segera mencekal tangannya.
“Udah dong Sayang, jangan marah terus. Nanti wajah kamu berkerut mau? Seperti nenek-nenek?” Kening Xavier di naik-turunkan untuk menggoda Angel.
“Ya, nggakmaulah!” Angel menepis tangan pria itu. Kemudian dia tiduran dengan telungkup.
Angel melirik pria itu dari sudut mata. Ternyata pria tua itu masih memandanginya sambil tersenyum. “Ini om tua bisa nggak sih sekali aja nggak bikin sinting,” batinnya.
“Om, perasaan tadi Om sakit deh? kenapa jadi sehat total? Mending om minum obat sana, daripada senyum-senyum gajelas kayak gitu. Nanti dikira orang gila,” kata Angel.
“Serius kamu ngusir saya? ya kan ada kamu di sini, makanya saya sedikit ada tenaga.”
Angel bergidik ngeri. “Ya, menurut Om gimana?”
“Kalau kamu yang mengambilkan obat sama minuman buat saya sih ... saya mau minum.”
“Nggak usah mempersulit Angel. Angel lagi nyari kampus dulu.”
“Hum ... oke. Saya minum obat dulu.” Xavier seger beranjak dari tempat sana.
Angel melihat pria itu mengambil minuman yang berada di meja dan meminum obat tadi. “Sudah nggak pusing kan Om?”
“Sudah agak mendingan.”
Angel mendesis pelan. “Ya jelaslah mendingan soalnya dipegang sama dokter cantik,” sindirnya.
“Saya baru saja ketemu temanku perempuan saja sudah cemburu? Apalagi mantanku dulu heum?”
Ucapan pria itu membuat dirinya menoleh dan menatap serius. “Mantan? Terus? Sekarang masih berhubungan?”
“Sudah tidak. Dia sibuk di luar negeri, sepertinya dia juga sudah mempunyai pria lain.”
“Memangnya Om putus karena apa sih? Kenapa Om nggak ngejar cewe itu aja, daripada nikah sama Angel?”
“Dia ketahuan selingkuh. Makanya saya memilih untuk pergi dari kehidupan dia. Kemudian ... saya kenal kamu sewaktu kecil. Orangtuamu yang mengenalkan saya dengan kamu.”
Angel menganggukkan kepalanya pelan. “Sedih banget sih ceritanya Om. Jadi terharu.” Dia sok mengusap matanya yang tak ada air mata di sana. “Sudahlah, nggakusah dilanjutin. Mending Om tidur, nanti kalau Om sakit Mama aku marah sama aku,” ucapnya.
Angel beranjak dari kasur itu dan mengambil segelas air putih untuk diminum.
“Saya harap kamu bisa memberikan hati untuk saya. Meskipun sedikit.”
Angel sontak tersedak saat mendengarkan ucapan Xavier barusan. “Uhuk ... uhuk ....”
Dia meletakkan minuman di meja dan memicingkan matanya menatap pria itu.
Angel menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”
Xavier mengangguk kecil, pria itu menarik lembut tangan gadis itu ke pangkuannya. “Saya tidak peduli jika umurmu masih muda. Itu lebih baik. Daripada sepantaran, tapi membuatku sakit.”
Angel terdiam, sesekali melihat tubuhnya yang sudah duduk manis di pangkuan pria itu. Ucapannya sangat tulus, sepertinya om ini mengalami trauma?
“Om? Mending Om tidur aja. Dari pada Om terus ngelatur seperti ini. Kepala Om habis kejedot soalnya,” ucap Angel sedikit gugup dan segera bangkit dari pangkuannya.
Xavier menghela napas pelan. Seperti ada rasa kecewa di wajahnya.
Angel berjalan cepat ke kamar mandi. Sesekali melirik Xavier dari sudut mata sebelum masuk. “Kasihan juga om itu. Karena satu perempuan saja membuat om itu hilang semangat? Apa aku harus membuka hati buat om Xavier?” batinnya sambil menggigit bibirnya sendiri.