Bab 8. Perkara Handuk

1004 Kata
Hari ini adalah hari terakhir dirinya belajar untuk melakukan ulangan nanti. Angel kini belajar di sebuah balkon rumahnya. Dirinya tidak mau jika tidak masuk ke dalam kampus favoritnya. Maka dari itu dia harus giat belajar. “Makan dulu, nanti kamu sakit loh, Angel.” Seorang pria itu meletakkan sebuah piring yang berisi sushi dan kimchi di samping Angel. Tidak lupa dengan orange juice. “Letakin saja Om. Nggak usah ganggu Angel dulu.” “Ya kan kesehatan kamu juga penting Angel. Saya tidak mau kalau kamu sakit nantinya.” Xavier duduk di sebelahnya. Angel menoleh ke samping dan menghembuskan napas pelan. “Dasar Om-Om pemaksa.” “Bukan ke pemaksa, tapi ke perhatian ke kamu.” Angel memutarkan bolamatanya sekilas. Dia mengambil sushi untuk dimakan sesekali membaca buku yang dibawanya. Xavier mengusap rambut Angel lembut. “Kalau sudah waktunya makan, langsung makan. Saya tidak mau tau, nanti mama kamu marah lagi. Apalagi ... sekarang kamu sudah menjadi kewajiban saya buat jaga.” Ya, kini mereka sudah berada di rumah barunya. Angel menoleh ke samping. “Banyak omong Om ini, mending Angel keluar deh kalau kayak gini.” Xavier melepaskan tangannya itu dari kepala Angel. “Oke, saya minta maaf. Kalau begitu ... saya ke dalam dulu. Maaf kalau ganggu kamu.” Pria itu beranjak dari tempat duduknya. Baru saja melangkahkan kakinya. Namun Xavier berhenti lagi. “Ah ya ... habis ini adik kamu sama papa kamu mau ke sini. Jadi, kamu harus siap-siap dulu sebelum mereka ke sini,” kata pria itu sebelum pergi. Angel melirik dari sudut mata. Dia menghela napas kasar. “Sialan! Nggak om gila itu nggak mereka sama-sama penggangu!?” Angel mengambil piringnya itu dan memakan sushi dan kimchinya itu barengan sambil menatap pemandangan dari lantai atas. “Lagian kenapa mereka masih ke sini? Kan sudah ada anak kesayangannya juga kan? Lama-lama aku muak sama mereka,” gumamnya. Dia mengambil minumannya untuk diminum. Kemudian meletakkan kembali. “Huftt ... demi apa kenyang banget,” gumamnya sambil menyandarkan punggungnya di tembok dan memegang perutnya yang sudah membuncit. “Angel! Bisa ambilkan handuk di luar tidak?!” “Sedetik aja nggak ngerepotin orang aja gabisa tuh om tua,” gerutunya. Angel segera mengambil sisa piring, gelas dan juga beberapa buku untuk ujian nanti dan masuk ke dalam. “Baru aja Angel baru selesai makan loh Om! Masa iya Om lupa bawa handuk?! Om beneran udah tua kayaknya, makanya cepat pelupa?!” Tidak ada respon dari sana. Angel meletakkan di meja sana dan mengambil handuk milik pria itu. Angel mengetuk pintu kamar mandi. “Buka pintunya Om?! Mau letakkan di mana handuknya?!” teriaknya. “Sebentar, saya buka pintunya dulu.” Angel menggerutu terus sedari tadi. Tak lama pintu itu terbuka dengan menongolkan satu tangan di sana. “Sopan Om kayak gitu?” Kepala Xavier dikeluarkan sedikit. “Mana, cepat saya tidak pakai baju sekarang.” Angel menautkan alisnya. Senyumannya penuh arti. Di meletakkan sampiran yang ada di depan. “Nih ambil saja sendiri. Kan Om sudah tua kan? Kalau sudah tua, harus mandiri dong.” “Angel ... ini waktunya tidak bercanda. Cepat bawa ke sini.” Angel bersedekap d**a sambil memainkan kukunya dan menyandarkan tubuhnya di tembok. “Ambil saja kalau mau.” Xavier menghembuskan napas kasar. “Oke, kalau kamu tidak mau mengambilkan handuk buat saya. Saya bisa mengambilnya sendiri.” Mata Angel hampir saja keluar saat mendengar suara pintu. Sontak dia menjajarkan tubuhnya dan mengambil handuk untuk Xavier. “Nggak usah macem-macem! Nih, ambil aja! Cepat!” Angel memunggungi pria itu. Sedangkan Xavier hanya tertawa kecil saat melihat gerak-gerik istrinya itu. “Kenapa diem hah! Cepat ambil, Om! Angel belum siap-siap ini ih! Nanti papa sama adik Angel sampai di sini!” Tiba-tiba saja tangan Angel terseret dan masuk ke dalam sana. “Aaaa ... Om gila!” teriaknya sambil menutup matanya. Melihat itu Xavier hanya tertawa kecil. Angel berbalik badan. “Awas aja ya Om nanti!” “Awas? Memangnya saya kenapa Angel? Kenapa kamu menutup mata kamu? Bukannya kita sudah menikah?” ucap Xavier berbisik ke telinga Angel. Angel sontak bergidik ngeri, di segera menghindar dan mencari pintu. Nahasnya, dia terbentur pintu yang sudah tertutup di sana. “Aws!” Matanya terbuka lebar. “Astaga, kenapa pintunya ditutup sih!” ucapnya kesal. “Kan kamu harus mandi dulu Angel. Biar mereka tidak bisa mencium bau tidak sedap di tubuhmu.” “Ya nggak gini juga Om! Angel bisa sendiri, aku sudah besar. Ngerti nggak sih!” “Mau mandi bareng?” kata Xavier nampak mengalihkan obrolan barusan. Benar-benar omnya itu membuat kesabarannya habis. Angel berbalik arah, hampir saja mau memukul wajah pria itu. Namun, di cekal oleh Xavier. “Why? Princes?” Tangan gadis itu diikat keatas. Senyuman Xavier terukir disudut bibirnya. Angel membulatkan matanya kembali dan melihat tangannya yang sudah terkunci di sana. Bahkan tidak bisa bergerak. “Om lepasin nggak, hah! Jangan sampai mereka ngerti kalau kita se ....” Angel melihat ke bawah, keningnya sempat mengerut saat pria itu susah memakai celana pendek dan kaus hitam. “Wait ... bukannya Om nggak bawa handuk?” Kening Xavier dikerutkan. “Kenapa?” pria itu melihat ke bawah. “Om boongin Angel yak?!” Angel menatap tajam pria itu. “Tidak, kan saya hanya bilang tidak membawa handuk saja. Bukan pakaian saya.” “Bener-bener ya? Kalau Om nggak tua, udah Angel ajak berantem?!” “Kenapa sih kamu selalu marah? Kamu kecewa tidak bisa lihat tubuh aku?” Xavier mengangguk kecil dan melepaskan tangan Angel. “Oke, saya buka kaos saya ya?” “S–” “Angel! Kamu di dalam kah?” Ucapan Angel terpotong ketika mendengarkan suara pria yang berada di luar sana. Pandangan mereka saling beradu di sana. “Awas! Gara-gara Om kan ini!” Angel segera mendorong tubuh Xavier dan kekuar dari bilik kamar mandi. Sedangkan Xavier hanya tertawa kecil di sana saat melihat tingkah lucu sang istrinya itu. “Memang boleh selucu itu?” gumamnya ambil ketawa kecil dan ikut keluar dari bilik kamar mandi. “Siapa, Angel?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN