Di malam yang dingin dan berselimut kabut ini, Syeril duduk di teras lantai dua rumahnya. Pikiran gadis itu masih kacau, untuk sekian kalinya ia melamun, meratapi diri. Betapa bo'dohnya ia sampai bisa terjerat cinta semu Rafael. Meskipun belum pacaran, tetapi itu adalah hal yang paling bodoh dan memalukan buatnya. Pasalnya, dia sudah mati-matian berjuang, berharap, bahkan waktu itu pernah hampir saja kehilangan nyawa dan kehormatan. "Aku benci kamu, Kak!" decak Syeril sambil memukulkan kepalan tangannya ke lantai. Sejak tadi pemuda ini memperhatikan gerak-gerik Syeril. Dia mendekat ketika gadis itu mengusap air mata. Reval kemudian duduk di sebelah Syeril. Karena tidak mau ketahuan menangis, gadis ini segera menghapus air matanya. "Ngapain lo disini?" tanya Syeril jutek ketika menyada

