Malam semakin larut, sampai jarum jam menunjukkan angka sebelas lewat tiga puluh menit pun Syeril belum bisa memejamkan mata. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk. Rafael : Aku ada di depan rumah kamu. Tolong temui aku, ini penting! Gadis ini menyernyitkan alis, ia beranjak menuju jendela kamarnya. Disibaknya tirai jendela itu, dan ia melihat dari balik kaca. Benar! Ada seseorang di bawah sana. Ponsel Syeril berdering kembali, dan sebuah pesan kembali masuk. Rafael : Please, temui aku. Aku janji ini yang terakhir. Aku mohon! Meskipun telah disakiti, Syeril juga masih punya hati. Ia ke bawah dan menemui Rafael diam-diam. Syeril memperhatikan sekitar, berharap tak ada yang melihatnya keluar rumah. Lagi pula, untuk apa Rafael d

