** Syeril tengah duduk di balkon kamar, lebih tepatnya di kursi goyang. Ia melamun di sana, seakan-akan dinginnya angin malam yang menyapu kulit tak ia rasakan. Pikirannya sedang tak tenang akhir-akhir ini, apalagi setelah Adel siuman. Rasa bersalah itu terus menghantuinya. Reval datang. Dia ragu, harus mendekat atau malah menjauh sementara waktu. Sebab, dua hari ini Syeril sedikit jutek dan tak seriang biasanya. Namun, pemuda ini tak punya pilihan lain. Dia terpaksa harus mengajak Syeril bicara, apa pun risikonya. "Syeril," panggil Reval lirih. Merasa namanya dipanggil, Syeril menoleh. "Kamu marah ya sama aku?" tanya Reval kemudian. Syeril tersenyum. Ia menarik lengan Bisma agar mendekat. "Enggak. Emang lo salah apa sampe gue harus marah? Gak ada, 'kan?" "Tapi, sikap kamu agak

