Bab 1
Ting...
Suara notifikasi dari aplikasi hijau memecahkan kesunyian kamar Airin. Tanpa menunda, gadis itu segera membuka pesan yang masuk, berasal dari Yura, sahabat karibnya.
"Tumben pagi-pagi dia kirim foto," gumam Airin dalam hati. Namun, begitu membuka pesan itu, jantungnya serasa berhenti sejenak; Yura mengirim sebuah tangkapan layar foto dengan caption "Menantu Idaman".
"Ini suami kamu kan, Rin?" tulis Yura di balik foto itu.
"Nggak nyangka banget! Kamu dapat darimana foto itu, Ra?" balas Airin, berusaha menenangkan diri.
"Dari status w******p milik ibu mertuamu. Waktu itu kita saling tukar nomor saat dia pesan tas sama aku, ingat kan?" balas Yura.
"Oh, ya, aku ingat," jawab Airin, seraya berusaha mengingat kembali kejadian itu.
"Coba deh kamu cek status w******p ibu mertuamu," usul Yura.
"Tunggu sebentar, aku cek dulu." Airin segera bergegas membuka aplikasi w******p dan memeriksa status milik ibu mertuanya, namun sia-sia; tak ada tanda-tanda foto tersebut ada di sana.
Airin langsung menelepon Yura, dia fikir lebih efektif kalo telepon dari pada mengirim pesan.
"halo Rin," sapa Yura
"Kok nggak ada, Ra?" jawab Airin
"Berarti kamu di-privasi, Rin," jawab Yura ringan.
Deg! Hatinya seolah jatuh terpuruk. Airin menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk tidak terlalu terbawa emosi.
"Ra, kamu tahu nggak kapan acara itu berlangsung?" balas Airin, suaranya serak oleh kekecewaan.
"Tepatnya kapan, aku tidak tahu. Tapi, status itu baru dikirim pagi ini," jawab Yura dengan nada sedih.
"Kalau memang itu benar-benar suamimu, sungguh kejam keluarga mereka. Apakah mereka melupakan bahwa anak mereka sudah menikah denganmu, Rin?" ujar Yura, berusaha memberi dukungan pada sahabatnya.
"Iya, Yang, di foto itu memang suamiku, Ra," kata Airin dengan suara bergetar.
"Kamu harus tetap kuat ya, Rin," pesan Yura sambil mencoba menyemangati Airin. Namun, Airin menjawab perkataan dari sahabatnya. Hancur hatinya saat melihat foto pernikahan suaminya dengan perempuan lain yang malah diresmikan oleh ibu mertuanya sendiri.
panggilan pun di matikan.
Beberapa waktu yang lalu, Reza - suami Airin - mengatakan bahwa ia harus keluar kota selama seminggu karena ada pekerjaan dari kantornya. Ternyata, kata-kata itu hanyalah kedok untuk menutupi rahasia terlarang yang kini memecahkan hati Airin hingga serpih-serpihnya.
'Jahat sekali kamu, Mas, berbohong padaku. Jadi ini yang kamu bilang tugas dari kantor?' ujar Airin sambil merasakan pedihnya air mata yang jatuh dari kedua pelupuk matanya. Tangisnya pecah, mengekspresikan kepedihan hatinya, meratapi nasib yang tak ia duga sebelumnya. Setelah puas menangisi kesedihannya, Airin menegaskan tekadnya, 'Aku harus membuat mereka merasakan apa yang mereka perbuat kepadaku. Mereka sudah melukai hatiku, dan aku tidak boleh lemah!' Airin melanjutkan, 'Mungkin mereka lupa, tanpa uang dariku, apa daya mereka. Akulah yang membiayai kehidupan mereka.'
Airin segera mengirim pesan kepada Yura, sahabatnya, "Ra, kita bisa ketemu? Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
Tak lama, Yura membalas pesannya, "Ayo, kamu mau kapan ketemu sama aku?" "Sekarang Ra, kita ketemu di tempat biasa," balas Airin dengan penuh harap.
"Oke Rin, aku siap-siap dulu," balas Yura. "Oke, kita ketemu setengah jam lagi," jawab Airin sembari bersiap.
Dalam keadaan tertekan, Airin akan menemui sahabat terdekatnya, Yura, untuk meminta nasihat tentang apa yang sebaiknya dilakukan terhadap keluarga suaminya yang telah menghancurkan hatinya. Airin bertekad untuk membuat mereka menyesal dan merasakan penderitaan yang telah mereka goreskan di hati seorang istri yang tulus mencintai suaminya.
Setengah jam kemudian, Airin dan Yura sudah berkumpul di café langganan mereka. Suasana yang nyaman dan hangat di café ini selalu membuat mereka merasa betah berlama-lama.
"Ra, kamu mau pesan apa?" tanya Airin, ingin langsung memulai pembicaraan penting dengan sahabatnya ini.
"Aku mau jus alpukat saja," jawab Yura, tak ingin memikirkan pesanan yang rumit. Mereka harus fokus pada misi yang lebih penting saat ini.
"Oke," sahut Airin, dan segera memanggil pelayan café. "Ada yang bisa saya bantu, Kak?" tanya pelayan café dengan ramah dan sopan.
"Saya mau pesan jus alpukat dan jus stroberi," kata Airin singkat, ingin segera menyelesaikan pesanan. Ada misi yang harus dia bicarakan dengan Yura.
"Baik, Kak. Mohon tunggu sebentar," ujar pelayan café itu, lalu meninggalkan mereka berdua.
"Aku harus bagaimana, Ra?" tanya Airin, wajahnya yang tadinya banjir air mata kini terlihat tegas. Dia siap untuk mengambil tindakan.
"Kita harus bikin mereka kapok, Rin," jawab Yura, tatapannya tajam. Keduanya sama-sama muak dengan perlakuan yang dialami Airin.
"Kamu akan bantu aku, kan?" Airin memohon, matanya bersinar penuh pengharapan.
"Pasti. Aku akan membantumu sampai akhir," kata Yura, berniat memenuhi janjinya. Mereka berdua akan melawan keluarga mertua yang begitu menyiksa hati sahabatnya. Kebersamaan dan solidaritas mereka akan jadi senjata terkuat untuk menghadapi masalah ini.
Tiba-tiba ponsel Airin berbunyi, mengisyaratkan adanya panggilan masuk. "My Husband" tertera di layar ponselnya. Yura langsung memandang Airin dengan tajam. "Siapa?" tanya Yura penuh curiga. "Mas Reza," jawab Airin dengan suara berat. "Angkat saja. Beri tahu dia bahwa kamu sama sekali tidak mengetahui tentang pernikahan diam-diamnya itu," perintah Yura. "Baiklah," sahut Airin, lalu mengangguk seolah berjanji. Jantung Airin berdegup kencang ketika dia menerima panggilan tersebut, sambil mengatur teleponnya menjadi mode speaker. "Halo, Mas," sapa Airin dengan suara cemas, berusaha menyembunyikan kesedihannya. "Halo, Sayang. Kamu sedang sibuk?" tanya Reza dengan suara lembut yang tak merasakan salah apa yang telah ia perbuat. "Enggak, aku lagi makan siang bareng Yura," jawab Airin singkat. "Sayang, bisakah kamu transfer aku lima belas juta sekarang juga? Ada urusan penting yang harus kuuruskan di sini. ATM dan M-bankingku keblokir," ujar Reza. "Tapi nanti aja, ya, Sayang. Lagi nanggung nih," Airin mencoba menahan getaran di suaranya. "Sayang, ini sangat penting. Bisa segera?" pinta Reza dengan nada mendesak. "Ooh, baiklah. Aku transfer sekarang," sahut Airin sambil menelan pil pahit ini. "Terima kasih banyak, ya, Sayang. Muach," ucap Reza sebelum menutup panggilan. Telepon terputus, dan Airin terdiam. Hatinya hancur, namun Yura merengkuh tangannya, memberikan kehangatan persahabatan untuk menopang luka yang mendalam itu. Di saat itulah, Airin sadar betapa dia tidak sendirian menghadapi dunia yang kejam ini.
"Ini aku transfer atau tidak, Ra?" Tanya Airin dengan ragu, meminta pendapat dari sahabatnya. "Gak usah, Rin," jawab Yura tegas. "Kalau dia tanya, aku jawab apa?" Airin masih merasa cemas. "Kamu bilang aja saldonya gak cukup, soalnya kamu habis investasi di perkebunan Kalimantan tempat abang kamu," Yura memberikan saran dengan tangan di pinggang. "Oke, Ra," kata Airin mengangguk, mempercayai keputusan sahabatnya. "Tapi jangan lupa, kamu harus bicara sama Bang Razaq dulu, siapa tahu suamimu kontak abangmu buat cari tau kebenarannya," Yura menambahkan. "Iya, aku juga udah berencana cerita semuanya ke abang. Dia kan satu-satunya keluargaku," sahut Airin bersemangat. "Baiklah. Sekarang dengarkan baik-baik, mumpung suamimu gak di rumah, kamu pasang CCTV di setiap sudut rumah. Beli yang paling bagus," ujar Yura, serius. "Tapi aku gak ngerti soal CCTV, Ra," keluh Airin dengan ekspresi bingung. "Tenang aja, Rin, aku punya kenalan yang jago urusan itu," sahut Yura dengan senyum misterius, lalu memegang tangan sahabatnya. "Percayalah sama aku." Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba. "Silakan, Kak," ucap pelayan sambil tersenyum, menaruh pesanan di meja mereka. Airin dan Yura pun larut dalam obrolan, merencanakan masa depan mereka dengan hati-hati dan penuh semangat.